
~Tidak baik untuk menunda nunda sebuah niat baik,lebih baik menyegerakanya sebelum timbul fitnah dari berbagai unsur~
Entah siapa yang tahu,hubungan yang dulunya terjalin dimasa putih biru kini membawa keduanya kepada status baru yang lebih mengikat mereka.Dulunya,Kia dan Vanya pernah satu SMP.
Walaupun Vanya lebih tua satu tahun dari Kia,ia memang sudah tertarik untuk bersahabat dengan Kia kecil yang terkenal ramah kepada semua orang tersebut.
Vanya semenjak bertemu Kia kecil yang menolongnya saat kesiangan kala itu,sudah tertarik untuk bersahabat dengan Kia kecil yang mencolok diantara siswi SMP lainya berkat hijab longgarnya.
Namun persahabat mereka tak berjalan lama,karena pada saat pertengahan semester Vanya pindah sekolah ke-Ohio,ketempat neneknya menetap.Semenjak itulah Kia maupun Vanya tidak pernah bertemu lagi.Belum lagi kecelakaan yang pernah dialami Kia,sempat membuat Kia melupakan sebagian ingatanya.Oleh karena itu,kini Kia masih abu abu kala mengingat persahabatanya dengan Vanya.
"Udah mbak,mbak cantik kok pakai baju itu!" Tutur wanita cantik yang mengenakan dress berwarna putih gading selutut tersebut.
"Apa gak berlebihan,kayaknya aku gak percaya diri kalau pakai pakaian ini va!"
Ungkap wanita berhijab syar'i tersebut.
"Mbak cantik kok pakai baju ini,jadi gak usah minder."
Ucap Vanya-wanita cantik berambut legam itu men-support.
"Tapi aku gak percaya diri pakai ini va!"
Lirih Kia,wanita cantik berhijab syar'i tersebut terlihat tak percaya diri dengan penampilanya saat ini.
Gamis berwarna putih bersih yang menjuntai hingga lantai,dengan aksen renda bunga dibeberapa bagian melekat pas membungkus tubuh mungil dengan perut buncitnya.Wajah cantik babyface nya terlihat sudah cantik dengan sapuan make up tipis hasil karya tangan adik iparnya tersebut.
"Tapi mbak kelihatan cantik sekali memakai ini!" Lanjut Vanya.
"Pasti mas Vano juga berpikir begitu,sampai sampai dari tadi ia hanya berdiri mematung diambang pintu." Lanjutnya sambil tersenyum menggoda.
Manik teduh wanita itu berpaling,menatap pria jangkung bersetelah formal diambang pintu.Wajah tampan dan matangnya terlihat sempurna,pesonanya terlihat menmancar dari segala sisi.
Senyum kecil namun tulus terbit dari bibir kissable-nya,mengurai keraguan yang sempat menghantui kepercayadiri sang istri.
"Kamu cantik pakai pakaian itu ki,aku jadi tambah sayang."
Ungkapnya menambahkan.
**
Diufuk lain,masih dibelahan bumi yang sama.
Naiknya sang fajar keatas garis khatulistiwa,menyambut iring iringan pengantin yang langsung memenuhi halaman rumah megah milik salah satu pengacara kondang tersebut.
Dengan balutan setelan formal mahalnya,pria tampan bermanik coklat itu melangkah mantap menuju rumah sang mempelai.
Hari ini bukan saja semua orang yang menjadi saksi bisu tersatunya dua insan dalam satu bahtera,namun seluruh semesta pun akan ia beritahu tentang kabar bahagia yang dibawanya hari ini.
Ketika sang fajar mulai meninggi,lautan manusia telah duduk dengan syahdu,setia mendengarkan lantunan ijab qabul dari pihak mempelai pria dan pihak wali dari mempelai wanita.
Tak ada raut keraguan setitikpun dari wajah tampanya.Yang terlihat hanyalah keyakinan dan kebahagiaan yang luarbiasa tak dapat dijabarkan.Dengan satu tarikan napas,pria tampan berprofesi sebagai lawyer itu berhasil melantunkan kalimat sakral yang ia ikrarkan didepan orang tua mempelai wanita-nya dan juga seluruh tamu undangan disana,dan jangan lupakan juga sang maha kuasa yang tentunya menjadi pengkehendak segala takdir rumit yang dialami oleh setiap mahluknya.
"Saya terima nikah dan kawinya Babyanza La~Susan Luthears dengan mas kawin tersebut,dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi,sah??"
"SAH"
"Alhamdulillahirobbil a'lamiin"
Puji dan syukur terpanjatkan dari banyak pihak,hamdalah turut dilantunkan berulang kali dengan bersatunya dua umat muslim yang baru saja sah merubah statusnya menjadi suami istri tersebut.
Tak lama kemudian,mempelai wanita yang bergamis putih bersih keluar meniti satu demi persatu anak tangga.Wajah cantiknya tak lagi terpanpang jelas,terbagi bagi untuk setiap mata yang memandangnya.Kali ini wajah cantik bermanik emerald itu terbingkai indah oleh hijab longgar dan cadar syar'i miliknya.
Ketika kedua manik berbeda warna itu bertemu,muncul perasaaan bahagia yang memumbuncah didada keduanya.Jika dipikir pikir kembali,mana mungkin Seorang Bara Pradipta akan menikahi 'gadis kecil' yang petakilan dan tak mau diam seperti dia.
Namun siapa yang tahu,jodoh,rizki,dan màut adalah rahasia-Nya.
Semuanya sudah tertata rapih dengan alur yang tentunya berbeda untuk setiap umatnya.
Kemudian tangan kokoh pria tampan itu terangkat,menyentuh sejengkal kulit mulus yang tentu saja sudah boleh disentuhnya menurut agama ataupun negara.Melakukan apa yang biasanya dilakukan seorang suami kepada istrinya berdasarkan sunah rasulullah.
ويسن للزوج الأخذ بناصيتها أوّل لقائها، وأن يقول بارك الله لكل منا في صاحبه
"Disunahkan bagi seorang suami untuk menggapai dan dan mengecup ubun-ubun istri saat pertama kali bertemu sambil berdoa bārakallah li kullin minna fi shahibihi (Ya Allah, berikanlah keberkahan pada kami satu sama lain untuk pasangan kami)."
Digapainya wajah cantik yang menutup hampir sebagian wajah cantiknya,kecuali dua manik emerald indah yang senantiasa menenduh dengan semburat merah yang Bara yakini telah menghiasi pipi mulus wanitanya ini.
Cup
Dengan perlahan dan lembut,pria tampan itu mengecup ubun ubun sang istri sambil melantunkan doa untuk kebaikan mereka berdua.
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
"Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan perempuan atau budak ini dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya. Dan aku mohon perlindungan kepadaMu dari kejelekan perempuan atau budak ini dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya."
Semua insan yang menjadi saksi bisu bersatunya dua insan tersebut tak juga tinggal diam ikut terlarut dalam haru biru kebahagiaan pernikahan putra putri kedua keluarga besar tersebut.
Aura kebahagiaan begitu terpancar dari pasangan yang terpaut usia 9 tahun lamanya tersebut.Sebuah cincin gold bertahtakan berlian melingkar manis dijari manis milik sang gadis,tangan lainya digenggam erat oleh tautan jemari kokoh pria tampan disampingnya.
Cup
"Mass....."
Lirinya kecil dengan wajah meronanya yang tertunduk.
"Iya,ada apa istriku!"
Goda pria tampan bermanik coklat tersebut,sambil merangkul mesra bahu mungil sang istri.
"Malu ihh....dilihatin banyak orang!"
Lanjut gadia bermanik emerald tersebut.
"Biarin,palingan mereka jones yang iri sama kita!"
Glak
Jawaban Bara itu tentu membuat Baby,sang istri semakin menunduk malu,namun senyum kecilnya terbit dari balik cadarnya.Lain Baby,lain dengan keluarga kecil yang baru saja menaiki pelaminan itu.
Kedua orang dewasa itu terasa akward mendengan setiap kata yang terucap dari pria tampan dihadapanya.
Keduanya seakan akan tak percaya pria seperti Bara baru saja maengatakan perkataan taersebut.
"Baby!"
__ADS_1
Lirih wanita cantik berhijab yang tengah hamil besar tersebut.
"Mbak Kia!"
Grep
Kedua pria yang berbeda manik itu menatap kedua wanita yang dicintainya dengan haru.
Keduanya terlihat tengah saling memeluk sambil melepas rindu yang menumpuk dipangkal hati.
"Subhanallah By,kàmu cantik sekali!"
Ucap wanita yang tengah hamil tua tersebut,sambil melonggarkan pelukanya.
"Alhamdulillah,mbak juga sama,cantik!"
Timpal Baby.
"Selamat ya by,buat pernikahan kamu dan Bara.Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohhmah."
"Amiiin,terimakasih buat do'a nya mbak!"
Jàwab Baby sambil tersenyum bahagia,aura kebahagiaan amat kentara tergambar dari wajah cantik nan sejuk perempuan bercadar tersebut.
Hidup memang penuh misteri,dengan lika liku takdirnya.Kita hanya perlu terus berjàlan,susuri tiap jalanya tanpa keraguan.
Toh,tiap lika liku sekalipun pasti memiliki akhir yang pasti akan terpecahkan.
**
"Sayang,Aurra mau apa sih? Ayah bingung lohh...."
Lirih pria tampan berjas dark blue tersebut.
"Mau itu dii....itu diii..."
Lirih sikecil yang terlihat cantik dan imut sekaligua dalam balutan mini dress berwana pastelnya.
"Mau apa sayang? Aurranya bicara yang jelas ya,biar Didi gak bingung sayang...."
Lirih pria yang menyandang status sebagai single daddy tersebut.
"Mau itu dii....hiks"
Lirih bocah mungil bermanik hazel yang mulai berair tersebut.
"Cup...cup sayang,iya iya....Aurra mau apa?"
Sabarnya,sambil meraih putri kecilnya yang mulai menagis tersebut.
Hidup Dimas memang tak mudah,semenjak meninggalnya Aurrin 4.5 tahun yang lalu.
Hidup seorang Dimas Barack Alhaidan memang tak pernah mudah lagi.
Menyandang status sebagai single daddy sekaligua perfect daddy,membuatnya seringkali dijadikan sorotan kaum hawa ketika tengah berada dihalayak umum dengan sang putri.
4.5 tahun mengurus dan membesarkan putrinya sendiri,tak membuat Dimas capek dan muak apalagi menyesal.
Ia malah menikmati statusnya selama menyandang status 'single daddy beranak satu'.
Bukanya Dimas tak manpu memberikan sosok ibu baru untuk Aurra,namun bagi Dimas untuk saat ini belum ada yang cocok saja dengan kriteria pilihanya.
"Ehh....dedek cantik mau ini ya!"
Ujar seorang perempuan yang mengenakan pakaian formal wanita jawa yang sudah terkena sentuhan modifikasi tersebut.
"Dididi....Aulla mau itu.....mau itu dii...."
Celoteh sikecil sambil meronta ronta dipangkuan sang ayah.
"Eh-"
"Iya,adek cantik mau ini ya?"
Lirih wanita berrambut hitam legam terasebut sambil mengacungkan sebuah lolipop berwarna calm kepada Aurra.
Dengan cepat,wanita berwajah ayu khas wanita asia itu memberikàn makanan manis yang sudah sedari tadi menjadi pusat perhatian Aurra kecil tersebut.
Senyumnya mengembang,memperlihatkan dua lesung pipi yang kian menambah kecantikanya.
"Putrinya cantik sekali pak,pasti ibunya juga cantik!"pujinya,sambil memainkàn rambut lembut milik Aurra kecil.
"Istri saya sudah meninggal."
Hening
Kala pernyataan datar itu keluar dari bibir pria tampan yang berprofesi sebagai dokter tersebut.
"Ahh....saya minta maaf,dan saya juga turut berduka atas meninggalnya istri bapak!"
Ucap perempuan bermanik hitam legam namun bening tersebut.
"Pelukk....pelukkk"
Ronta Aurra kecil,sambil mengangkatkan tanganya tinggi keudara.
"Pelukk mamm.....pelukkk"
Celotehnya lagi.
"Aurra mau apa sayang?"
Bingung Dimas.
Entah mengapa,hari ini bocah mungil tersebut banyak berceloteh dan merengek seakan akan menemukan sesuatu yang ingin dimilikinya.
"Aurra mau apa sayang? Didi tidak mengerti!"
Bingung Dimas,sambil berjalan kearah tangan sang putri menunjuk.
"Pelukk....mam..pelukkk"
Deg
Dimas diam sejenak,saat menangkap arti dari celotehan sang putri.Disana,dua langkah dari hadapanya berdiri perempuan cantik yang memiliki senyuman manis tersebut.
"Mungkin,putrinya mau saya gendong pak!"
__ADS_1
Lirihnya,takut takut.
"Hmm..."
"Pelukk....pelluuk..."
Celoteh Aurra lagi,sambil menggapai gapai perempuan cantik dihadapanya.
"Apà tidak merepotkan?"
Lirih Dimas,sambil melirik perempuan yang rambutnya disanggul mini tersebut.
Perempuan itu menggeleng,sambil merentangkan tanganya kembali untuk menyambut Aurra kecil kedalam pelukanya.
Karena respon sang putri yang luar biasa aktif,jadilah Dimas mau tak mau memberikan putri kecilnya untuk digendong oleh perempuan asing tersebut.
Lama,Dimas memandangi dengan penuh minat interaksi keduanya.Interaksi yang benar benar terjalin secara alamiah antar dua pemilik manik menawan tersebut.
Melihat intraksi keduanya,membuat Dimas sadar akan satu kekurangan yang ada padanya saat ini.
Mungkin benar ia sèorang pria tampan,mapan dan hebat.Segala kekayaan materi,lebih dari cukup ia memiliki hanya untuk menghidupi ibunya dan sang putri.Namun cuma satu yang kurang dan tentunya akan menjadi pelengkapnya suatu saat nanti.Dan kekurangan itu adalah pendamping,sehebat apapun seorang pria dalam mengurus hidupnya plus seorang putri kecil tentunya,ia juga membutuhkan peranan seorang wanita yang akan menjadi pelengkap segalanya.
Pernah dengar bukan “Dibalik seorang pria hebat,ada sesosok wanita hebat pula." Begitu kurang lebihnya.
Bukanya hidup Dimas tak tertata hingga saat ini,namun hanya kurang sebuah bumbu pokok yang sekaligus menjadi pelengkap.
Dihidupnya masih tersisa lubang besar yang dapat ditempati oleh seorang wanita hebat lain nantinya.
Melihat interaksi yang terjalin antara putrinya dan perempuan dihadapanya,mungkinkah untuk Dimas berharap.Interaksi keduanya terjalin secara alami,bukan tanpa sengaja.Keduanya bahkan tidak pernah bertemu sama sekali sebelum diacara ini.
Boleh mungkin utuk Dimas berkhayal sejenak untuk membayangkan interaksi tersebut akan ia lihat tiap hari jika saja ia memberikan Aurra seorang ibu baru.
4.5 setengah tahun hidup menyendiri tanpa sesosok wanita yang menemaninya,dalam artian wanita yang menyandang status sebagai istrinya,membuat Dimas terbiasa mengurus segalanya sendiri.Namun tak jarang,Risma-sang ibu mengingatkanya untuk segera mencari pengganti untuk ibu bagi Aurra.Bukan hanya untuk menemanik tumbuh kembang putrinya,namun untuk mengurusi hidup Dimas pula.
Dulu Dimas perna berpikir untuk mencari istri ditahun ke-tiga lahirnya Aurra.Namun semua itu urung dilakukan hingga kini diakarenakan belum adanya sosok yang cocok dengan kriterianya.
Dan semua kriteria itu,seakan akan kini tergambar jelas pada diri perempuan dihadapanya.
Mungkin,doa doa dari tiap sujudnya selama ini akan terjawab dengan dipertemukanya ia dengan perempuan dihadapanya.Namun,
"Say,aku udah cari kam dari tadi.Ehh....taunyà ada disini!"
Ucap seorang pria berpakaian batik formal dengan corak yang sama dengan yang dikenakan perempuan berlesung pipi tersebut.
"Eh,mas nyariin aku dari tadi?"
Jawab si-perempuan,sambil tersenyum ramah menyambut sambungan tangan pria tersebut dibahunya.
"Iya,mas sampe khawatir kamu hilang!"
Ucapnya sambil tersenyum jenaka.
Tergambar jelas bahwa hubungan keduanya sangatlah akrab.Dari interaksi keduanya,sekilas Dimas saja dapat melihat sejauh mana hubungan mereka.
Hufftt.....
Humbusan napas berat terdengar dari pria tampan berprofesi sebagai docter tersebut.
Baru saja ia ingin memngkhayal tentang mimpinya,namun tiba tiba khayalan tentang mimpinya itu hancur berkebing keping ketika ia tahu telah menargetkan objek yang salah.
"Mbak nyari kita berdua,katanya kita disuruh fhoto berdua!"
Lanjut pria yang Dimas yakini memiliki campuran darah blasteran tersebut.
"Iya,sebentar lagi ya mas!"
Jawab siperempuan,sambil melirik Aurrra kecil yang mulai mengantuk dalam pelukanya.
"Ini pak putrinya.Kayaknya tadi kecapean,makanya udah tidur!"
Lanjutnya sambill menyerahkan Aurra kecil kepada Dimas.
"Ah iya,maaf sudah merepotkan anda!"
Kata Dimas,sambil menerima sang putri yang sudah terlelap tersebut.
Perempuan itu kembali menggeleng sambil mempeŕtunjukkan senyuman manisnya.
"Tidak apa apa pak,kalau begitu kami pamit udur diri pak!"ujarnya lagi ramah,sebelum berlalu sambil meraih lengan pria disampingnya.
"Kita duluan pak!"
Tambah sipria,sebelum mereka benar benar berlalu.
Dimas tak berbiat beranjat barang sedetikpun.Netranya masih setia menatap kepergian dua insan yang tanpa sengaja telah merusak khayalan masa depanya tersebut.
Rasanya itu seperti diterbangkan setinggi tingginya,lalu dijatuhkan sejatuh jatuhnya.
Namanya rasa memang sulit dimengerti,apalagi jika tentang cinta.
“Cinta itu keikhlasan. Tak ada paksaan ataupun rasa pelampiasan,” – Bacharuddin Jusuf Habibie.
TBC
@Nengkarisma
Maaf tlattt selalu🙏🙏
Kalian tahu kan aku lagi PKL diBandung.
Makanya sulit buat nge-manage waktu kerja-pulang-istirahat-sama nulis.
Semuanya gak mudahhhh😣😣
Maafff pokoknya🙏🙏
Aku benar benar sering kecapean.
Makanya seuseut (sulit) buat nulis eps Baru.
Semoga Reades semua mau memakluminya😔😔.Dan buat yang masih setia menunggu,terimakasih.Jangan lupa dukunganya dan komentarnya ya....🤗🤗
Karena berkat kalian semua aku jadi bersemangat nulis.Ok,sekali lagi aku minta maaf dan terimakasih buat dukunganya selama ini.Semoga bisa terus bertahan dan makin meningkat,Amiiiin.
Ok,sampai jumpa dipart berikutnya🖑
Cicada,Bandung 26/01/201
__ADS_1
22.30
@nengkarisma02@gmail.com