Bukan Salah Khitbah (R1)

Bukan Salah Khitbah (R1)
Bangun Vano


__ADS_3

'Bangun dan kejarlah jika kamu masih mau meraihnya,selama dia belum pergi begitu jauh.'


*Vano pov


"Arkia.....maafkan saya.Maafkan saya Kia!"lirihku sambil berderai air mata.


Lihatlah,sepertinya tuhan belum puas menghukumku.


Aku sudah tidak punya apa apa sekarang tuhan,lalu apa yang akan kau ambil lagi tuhan.


Istri yang selama ini aku abaikan,kau telah menjauhkanya dari hidupku.


Nama yang selalu membesarkanku,telah membuangku sekarang.


Kakiku yang selalu kugunakan untuk melangkah menuju kemaslàhatan kini kau renggut kegunaanya.


Aku tak berdaya sekarang tuhan.


Aku miskin,tak berguna,lumpuh,tak bisa apa apa.


Lalu,bagaimana caranya diriku untuk mencari dia sekarang tuhan?


Jika untuk bejalan saja aku tak bisa.


Bagaimana caranya aku mencari dia sekarang tuhan?


Aku lumpuh,aku dibuang,aku tak berguna.


Ahhk......aku hanyalah sampah masyarakat.


Aku tak berdaya tuhan.


Lihatlah,aku menangis.Aku menangisi takdir yang mempermainkan hidupku.


Aku menangisi kisah cintaku yang selama ini kuabaikan.


Aku cengeng sekarang,aku lemah,dan aku tak pantas lagi bersanding denganya.


Dengan sosok wanita solihah yang selama ini kuabaikan keberadaanya.


Aku benar mencintainya,tanpa kusadari.


Aku merutuki kebodohanku atas apa yang aku lakukan kepadanya.


Jadi malam itu,aku benar benar berulah.


Aku menggagahinya tanpa sadar,tanpa cinta,tanpa perasaan.


Pastilah hatinya hancur,aku mengambil kesucianya secara paksa saat itu.


Pastilah dia amat hancur saat itu.


Saat benihku tumbuh dirahimnya pun aku tak mengetahuinya.Aku sibuk menyiapkan pernikahanku dengan wanita lain.


Padahal dia telah mengandung bayiku saat itu.Bodohnya diriku karena cemburu ketika pria lain ada disisinya saat ia ngidam saat itu.Pàdahal itu bayiku,dan aku tak bisa memenuhi keinginanya.


Bodohnya diriku ini tuhan.


"Vano..."


Lirih seoranģ wanita baya yang sangat kuhapal.


Air mataku kembali luruh saat melihatnya mendekat.Sungguh,aku lemah sekarang,aku rapuh.Aku butuh pelukanya.


Kurentangkan kedua tanganku,berharap dia mau memelukku.


"Mah...."


*Outhoor pov


"Mah...."


Wanita itu bergegas memeluk sang putra.


Air matanya luruh ketika melihat keadaan sang putra yang memilukan itu.


"Kenapa bisa sampai seperti ini nak?"tanyanya lirih sambil mengusap punggung putranya.


Silvia tahu,selama 29 tahun genap hidup seorang Keevano,saat ini adalah titik terberat dalam hidupnya.


Lebih berat dan parah ketimbang dulu saat ia ditinggalkan oleh Arrin untuk kuliah diluar negri.


"Mah....maafkan vano!"


"Maaf ma,Vano sudah keterlaluan.Vano sudah bohong kemama.Vano memalukan keluarga kita.Vano brengsek ma.Vano...kehilangan dia ma!"lirih Vano dalam pelukan sang mama.


Tak ada seorang ibu yang tega melihat putranya yang putus asa sampai seperti ini.


Dia putus asa,tidak memiliki semangat hidup.Silvia sedih,bagaimana bisa hanya karena seorang wanita hidup putranya ini hancur berantakan.


"Ma....vano rindu dia!"


"Vano sayang dia ma..."


Lirih vano terus menerus dalam isakanya.


"Ssttt....kamu harus kuat sayang.Kamu harus bisa bangun dari keterpurukan ini.Kamu kuat,kamu Keevano Radityan Khutbi,putra Ibra Radityan."hibur Silvia.


"Papa sudah membuang Vano ma.Vano bukan anak papa lagi.Vano cuma pria brengsek yang sekarang cacat ma!"sedih Vano.


Hati Silvia teriris,ia memang tahu tentang pertengkaran sang suami dengan putranya ini.Namun apa daya,dia tidak bisa menolong atau membela putranya karena sudah jelas jelas Vano yang salah disini.


Ibra juga sempat melarangnya untuk menemui Vano,namun Silvia tak kuasa menahan rasa rindunyi lebih lama laagi.


Terlebih lagi saat mendengar kabar jika putranya ini mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kedua kakinya lumpuh.


Sebagai seorang ibu Silvia tidak pernah tega melihat perderitaan yang datang bertubi tubi kepada sang putra.Bagaimanapun ia sangat menyayangi putranya.


"Kamu harus bisa bangun sayang.Jika kamu mau memperjuangkan pernikahan kamu dengan Kia,kamu harus berjuang.Kamu pasti bisa vano,mama yakin!"ucap sang mama menasehati.


"Terimakasih ma.Vano ingin memperjuangkan pernikahan vano dan Kia.Vano ingin memperbaiki semuanya."jawab Vàno mantap.

__ADS_1


Jauh dari fakta tentang perselingkuhan yang dilakukan oleh Vano,Silvia tahu jika putranya ini sudah mulai memendam rasa untuk menantu solihahnya.


Oleh karena itu ia berani untuk menentang secara halus perintah sang suami.


Bagaimanapun Vano putranya,ketika ia terpuruk sebagai ibu yang baik Silvia akan selalu ada disisinya.


"Istirahatlah sayang,kamu harus sembuh jika ingin mencari Kia."kata sang mama lembut.


Vano mengangguk,keberadaan wanita yang telah melahirkanya ini tentu membuatnya jauh lebih baik.


Setelah memastikan sang putra terlelap,Silvia beranjak menuju tempat menantu keduanya itu dirawat.


Ia tahu jika menantunya itu juga sakit.Awalnya Silvia berpikir mungkin itu adalah azab tuhan untuknya,namun bagaimanapun juga kini dia masih berstatus sebagai istri Vano.


Jadi bagaimanapun caranya,dia harus bisa mengesampingkan dendam itu sejenak.


Krieet


Bunyi pintu yang terbuka.


Ketika memasuki ruangan yang didominasi warna putih itu,Silvia tersentak atas apa yang dilihat pertama kali oleh matanya.


Begitu juga dengan dua insan yang terkejut akan kehadiranya.


"Mama!"lirih siwanita.


Bukanya iba akan keadaan memprihatinkan menantunya itu,Silvia malah jijik melihatnya.


Bagaimanapun juga lima tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengenal seorang wanita bernama Aurrin Anastasya James yang pernah bertunangan dengan putranya.


Namun ya,awalnya Silvia menyayangi wanita ini namun setelah Vanya putrinya memperlìhatkan bukti keburukan tunangan putranya ini,Silvia muali merubah sudut pandangnya.


Dulu Arrin memang wanita baik baik,namun siapa sangka ketika pindan ke Jerman dia berubah drastis.Suka minum minum,pergi ke-club,dan itu semua membuat Silvia ragu akan kebaikan wanita yang digadang gadang cinta mati sang putra ini.


Lihatlah saja buktinya saat ini,ketika suaminya tengah terpuruk dan frustasi,dia malah asik asikan berpelukan dengan dokter muda ini.


"Bisa kita berbicara sebentar?"ucap Silvia datar.


"Bisa mah."jawab Arrin singkat.


Seakan mengerti arah pembicaraan keduanya,Dimas pun pamit undur diri.


"Ada apa ma,kenapa mamah mau menemui Arrin?"


Wanita itu mempernaiki duduknya sejenak.Wajah cantiknya terlihat pucat dan sayu,dengan perut membuncit disana.


"Tinggalkan Vano jika kamu mencintainya!"kata Silvia to the point.


Deg


Hati Arrin berdenyut nyeri,ia tahu ini pasti akan terjadi,namun ia tidak pernah berpikir akan secepat ini terjadi.


"Ma...."


"Jika kamu mencintai Vano,seharusnya kamu bisa melepaskan dia.Apa kamu pikir dengan terus menjerat vano dengan cintamu dia akan bahagia?"


Silvia tersenyum sinis.


"semenjak kamu pergi beberapa tahun lalu,saya rasa cinta kamu sudah mulai berkurang.Perasaan diantara kalian ini bukan cinta,itu hanya ego dari kenangan dimasalalu.Buktinya sekarang Vano terpuruk karena kepergian Arki.Karena apa,karena Kia adalah wanita yang berhasil mengisi kekosongan dihati Vano setelah kamu pergi."


Arrin mulai menitihkan air matanya,ia tahu jika perkataan wanita baya ini benar adanya.Hati Vano bukan untuknya lagi,cinta Vano bukan miliknya lagi.


"Tinggalkan vano,biarkan dia mengejar Arkia untuk meraih kebahagiaanya."pinta Silvia diakhir kalimatnya.


"Dan untuk bayi itu....."


Jeda Silvia sejenak.


"Mama tenang saja,Arrin akan meninggalkan mas Radith.Dan bayi ini....."jeda Arrin dikala ucapanya.


".......bayi ini akan tetap menjadi milik Arrin.Bayi ini akan jadi bukti bahwa diantara kami pernah ada cinta yang begitu besar sehingga menlahirkan sebuah nyawa."


Lanjutnya sambil berderai air mata.


"Baiklah,saya sudah bawa dokumenya.Silahkan tanda tangan disini!"


Deg


Dengan gemetar,Arrin menggoreskan tanda tanganya diatas kertas berlogo pengadilan agama tersebut.Tanpa melihatpun,ia sudah tahu apa isi dari kertas tersebut.


"Terimakasih,setidaknya dengan ini kalian bisa lepas dari hubungan penuh keegoisan ini."


Ucap Silvia sebelum meninggalkan ruangan Arrin.


Kembali,harus wanita bermanik hazel ini rasakan pukulan dihatinya.Hatinya terasa hancur sekarang,disana sebelum paraf miliknya sudah ada paraf milik suaminya.


Berarti pria itu telah setuju untuk bercerai darinya.


Sesingkat itukan hubungan pernikahanya dengan pria yang sangat digilainya itu.


Empat bulan,dan itupun sudah tak dapat ditolerir dengan banyaknya masalah yang menyertai.


Jika boleh Arrin jujur,ia pun ingin melepaskan vano agar pria itu bahagia dan agar dirinya bisa membahagiakan vano diakhir hidupnya.Tetapi tak pernah terbayangkan sekalipun olehnya,jika akan terasa sesakit ini ketika berpisah denganya.


Mulai saat ini,mereka akan hidup masing masing dan meraih jalan kebahagianya masing masing.


'Semoga saja dengan jalan ini kamu bisa bahagia mas Radith.Sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu.'


Semenjak hari dimana ia menandatangani surat itu,Arrin tak pernah lagi menemui vano.Yang ia lakukan hanyalah fokus kepada pengobatanya dan bayi dalam kandunganya.Jikapun bertemu,itu hanya dimeja hijau untuk menyelesaikan perkara perceraian mereka.


Kabar yang terakhir ia dengar,Vano dirujuk kerumah sakit disingapura untuk memaksimalkan penyembuhan kakinya.


"Bayimu perempuan."


Ucap pria yang berpakaian snelli dokter tersebut,sambil menggendong bayi cantik ditanganya.


Wanita itu tersenyum ditengah tengah ketidak berdayaanya.Rambut hitamnya sudah tidak tersisa satu helaipun dikepalanya.Manik hazelnya yang bersinar memukau kini meredup dan sayu.


Wajah cantik blasteranya kini dipenuhi wajah yang seakan akan menua sebelum waktunya.


Wanita itu membuka tanganya,tanpa kata ia mengisyaratkan agar bayinya itu disimpan dipelukanya.

__ADS_1


"Kamu yakin?"


Tanya pria itu.


Wanita yang sudah amat sulit berbicara itu mengangguk,sambil tersenyum kecil.


"Dia masih terlalu lemah,tetapi dia pasti ingin dipeluk ibunya untuk pertama kalinya."


Hibur dokter tampan tersebut.


Disimpanya bayi cantik nan mungil itu diapelukan sang ibu.Manik hazel yang mulai meredup itu seakan akan melihat sinarnya kembali.Air matanya mengalir tanpa diintruksi.


Setengah berjuang mati matian,akhirnya ia bisa melahirkan putri cantiknya ini.Tak ada sedikitpun warisan dari pria itu,karena memang bayi ini bukan miliknya.


'Kamu sangat cantik malaikat mama.Tumbuhlah jadi gadis yang baik dan solihah seperti wanita itu.Dan ingat,jangan ikuti perilaku mama yang egois akan cinta.'


Bayi ini miliknya dan milik pria tanpa nama yang pernah bermalam denganya saat di Jerman dulu.Kesalahan satu malam yang tak disangka membuat sebuah nyawa hadir dirahimnya.


"Dia cantik,seperti ibunya."


Ungkap Pria yang sedari tadi menjadi saksi moment mengaharukan itu.


"Te_rima_ka_sih da_n t_olo_ng ja_ga di_a untuk_u."


Akhir kata sebelum bulir terakhir air matanya,dihembusan terakhir napasnya pula.


'Mama sayang kamu Aurra Putri Haidan'


Tin......Tin......Tin.....


Oeekkk


Oeekkk


Oeekkk


"Arin....Arin....heii....bangun!!"


Panggil pria bername tage Dr.Dimas Barack.A tèrsebut cemas.


Seakan akan tahu apa yang terjadi dengan ibunya,bayi mungil yang baru berusia beberapa jam lalu itu menangis dengan kencangnya,menyayat hati tiap perawat dan dokter yang mendengarnya.


Nyawa ibunya tak lagi dapat ditolong,tuhan telah memanggilnya.Diakhir akhir hidupnya pun tuhan masih memberinya penderitaan berupa penyakit ganas yang diidapnya.


"Innalillahiroujiun"


Hening seketika,cuma suara suara tangisan bayi yang terdengar disina.Bayi cantik yang mewarisi kecantikan sang ibu yang masih sempat memeluknya diakhir hayatnya.


'Istirahatlah yang tenang disana.Aku pasti akan menjaga putri cantikkmu ini.'


Ucap Dimas sambil meraih putri kecilnya itu.


Aurra Putri Haidan putri cantik titipan wanita yang rela melepaskan cintanya,agar pria yang dicintainya itu bahagia.


'Selamat datang didunia,putri ayah yang cantik.'


Gumam Dimas sambil mengecup kening bayi mungilnya.


Walaupun bayak argumen tak menyenangkan tentang asal muasal putrinya ini,namun tetap saja ia akan menyayangi putrinya ini sepenuh hati.


'Selamat tinggal dan selamat jalan.'


Kini pria tampan berdarah campuran itu terlihat tengah berdiri didepan gundukan tanah merah yang masih basah.Semerbak bunga bunga yang masih segar menyambutnya.


Oeekk


Oeekk


Oeekk


Tangis bayi mungil dalam gendonganya,kembali mengalihkan fokusnya.Senyuman kecil terbit dibibir kissable-nya,lalu bibirnya teranggkat untuk menghibur sang putri.


"Aurra rindu bunda ya?"celotehnya kecil.


Siapapun yang melihat interaksi keduanya,pasti akan menyangka jika dia adalah suami almarhumah.


"Suaminya kelihatan sedih sekali ya bu?"


Ucap salah seorang ta'ziyyah yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Iya.Mana putrinya masih kecil.Kasih ya bu!"


Timpal ibu ibu lainya.


Tanpa menggubris apapun perkataan orang,yang Dimas lakukan saat ini adalah membuat sang putri terdiam dari tangisnya.


"Cup....cup cup,putri ayah gak boleh nangis ya! Nanti bunda sedih diatas sana."


Hiburnya,sambil memainkan pipi gembul sang putri.


Untunglah bayi yang diperkirakan akan lahir dengan keadaan memprihatinkan ini mampu mematahkan prediksi dokter.Setidaknya,Aurra kecil lahir dengan kondisi stabil walaupun dengan kelainan jantung yang diidapnya.


'Terimakasih telah mempercayakan putri cantik ini kepadaku,selamat jalan Aurrin.Tenanglah disisi tuhan sana.'


@@@


Bangun Vano📣


Huahhh.....up lagi guyss😊😊


Alhamdulillah,ternyata gak ngelanjutin nulis cerita Vano dan Kia itu lebih susah dari pada ngerjain UTS pagi tadi😅😅


Kalau masih ada waktu luang abis UAS,aku pasti up kok buat para readers setia.


Gimana, buat part ini??


Seru,sedih,puas,apa bingung??


Jawab ya🤗🤗


Jangan lupa dukunganya ya readers😊

__ADS_1


Besok UAS lagiii😥😥


Sukabumi 02/12/19


__ADS_2