
"Aku mencintaimu,ya-Zaujatii."
"Aku gak akan bahagia tanpa kamu,Anzar juga.Kami....kami butuh kamu!"
Katanya Final.
Deg
'Apa maksudnya ini?' Batin Vano bingung.
Justru ia sudah yakin jika wanita dalam pelukanya ini telah menerima pria lain untuk menjadi pendampingnya.
Lihat saja cincin yang bertengger dijari manisnya dengan apik.
"Ki.....bukanya,kamu dan Bara sudah...."
Vano tak lagi melanjutkan perkataanya,ketika telunjuk mungil istrinya itu berada tepat dibibirnya.
"Ssttt.....kamu gak tahu yang sebenarnya mas!" Kata Kia pelan.
Ia memang tahu pria ini menghindarinya selama tiga minggu ini karena salah paham.Karena ia tahu betul,keevano bèrdiri menyaksikan semuanya hari itu,dan ia pergi sebelum Kia mengutarakan jawabanya.
"Dia....sudah mengkhitbahmu bukan?"
Tanya Vano,penuh selidik.
Kia tersenyum kecil,sambil mengurai pelukanya.Manil hitam teduhnya menatap langsung kearah manik jelaga didepanya,intens.
"Kata siapa?"
Elak Kia.
"Cincin.....itu??"
Kata Vano hati hati.
Ia hafal betul waktu itu Kia tidak memakai cincin itu,namun setelah peristiwa itu cincin bertahtakan kristal tersebut bertengger apik dijari manis sebelah kirinya.
"Ini?"
Kata Kia sambil mengangkatnya tinggi.
Memperlihatkan cincin emas bertahtakan 12 permata berlian tersebut.
"Ini memang pemberian seseorang yang berarti.Dia pria yang aku cintai,pria yang akan menjadi imam dunia akhiratku.Pria yang akan menjadi ayah dari putraku."
Deg
Sungguh,hati vano menceleos mendengarnya.Bagaimana ia bisa mendengar wanita yang dicintainya,dan putranya akan menjadi milik pria lain.
Ia tak rela,namun apa boleh buat.
Setiap kata yang meluncur dari bibir Kia,mengambarkan kebahagian yang nyata.
Cinta dan kasih yang mendamba pula.
"Dia pria yang akan menjadi suamiku.Satu satunya pria dihidupku,namanya Keevano Radityan Khutbi,suamiku.Pŕia yang kucintai selama ini,tanpa lelah dan menyerah." Kata Kia lembut,sambil diiringi senyuman manisnya.
Pria itu bukan lagi terkejut,ia sampai sampai terbelalak dibuatnya.
"Mas lupa,ini cincin pernikahan yang mas kasih?" Tutur Kia sambi memperlihatkan cincin kebanggaanya.
Benda yang melambangkan jika is telah terikat dengan pria yang dicintainya.Pria yang mengucapkan ijab qabul tanpa cinta didepan penghulu dan saksi kala itu.
Namun Kia yakin,semua akan indah pada waktunya.Oleh karena itu ia selalu menjaga cincin pernikahanya itu.Seperti ia menjaga dan mempertahankan cintanya untuk Vano.
"Benarkah?"
Tanya Vano heran.
Ia memang ingat memasangkan cincin pada wanita dihadapanya pasca ijab qabul dulu,namun ia tak ingat dengan jelas rupa dan bentuknya.
"Mas pasti lupa,soalnya dulu mas terpaksa saat mengkhitbah Kia!"
Kata Kia lemah sambil menundukkan kepalanya.
Vano tertegun sejenak.Ia memang bodoh,sampai sampai cincin pernikahanya saja ia lupa bentuk dan rupanya.
Sruukk
"Maaf,aku lupa.Tapi aku tidak bohong,aku sayang kamu dan Anzar.Aku sayang kalian."
Ucapnya lembut,sambil menyentuh pucuk kepala Kia yang terbalut khimar syar'i-nya.
Wanita cantik itu mendongkrak,bertatap muka secara langsung dengan wajah tampan suaminya.
"Terimakasih."
Ucapnya lembut,mengalun sempurna ditelinga Vano.
"Harusnya aku yang bilang terimakasih.Kamu masih mau menerimaku,setelah apa yang telah kulakukan selama ini.Terimakasih,terimakasi banyak Kia." Kata Vano tulus.
Dengan pelan,disusurinya pipi mulus milik wanitanya itu.Bibir mungil wanitanya itu senantiasa tersunging membentuk sabit yang sempurna.
"Terimakasih,karena telah setia mencintaiku.
Terimakasih,karena telah menjadi wanita hebat untukku!"
Ucap Vano,sambil mengikis sedikit demi sedikit jarak diantara keduanya.
Cup
"Terimakasih,karena telah menjadi wanita tangguh yang telah membesarkan putra kita." Kata Vano sayang,setelah mengecup kening sang istri.
Cup
"Terumakasih,karena masih mau berjuang bersamaku untuk mempertahankan rumah tangga kita."
Lanjutnya sambil menghadiahi kecupan manis dipelipis sang istri.
"Terimakasih."
Katanya final,sambil merengkuh tubuh istri kedalam dekapanya.
__ADS_1
Malam itu keduanya larut dalam harmonisasi yang seharusnya terjalin sejak lama.
Kehangatan yang seharusnya ada sejak lama.
☉
Pagi mulai menjelang,cahaya sang surya mulai mengintip dari balik celah tirai jendela.Menganggu pemilik manik jelaga yang masih terlelap dengan nyamanya.
Perlahan kelopak matanya mengerjap,meloloskan manik hitam jelaga miliknya.Dipindainya sepintas seluruh penjuru ruangan tersebut,sebelum netranya terhenti diobjek mungil disampinya,Anzar-putranya.
Seulas senyuman tersungging dibibirnya,ketika ingatanya mengulas momen kemarin malam.Momen indah yang telah lama ditunggunya selama ini.
Kemudian,netra jelaganya kembali memindai seisi ruangan pribadinya ini.Mencari sosok yang kiranya malam tadi ia peluk erat hingga terlelap dipulau kapuk.Namun nihil,ia tak menemukan sosok cantik berhijab syar'i tersebut.
Turun dari ranjang king sizenya,ia memilih untuk melesat kekamar mandi terlebih dahulu.Badanya yang tak tersentuh air seharian kemarin,ini terasa lengket karena peluh yang mulai membancirinya.
Tak butuh waktu lama,pria tampan itu kini sudah terlihat fresh setelah mengguyur tubuhnya dibawah guyuran air hangat.
Langkahnya terhenti sejenak ketika memasuki area dapur.Aroma harum masakan khas Asia,menguar begitu kental diindra penciumanya.Aroma nikmat ini sudah pasti berasal dari satu sumber,siapa lagi kalau bukan dari wanita bergamis baby blue yang dipadukan dengan pasmina lebarya.
Berdiri tepat didepan pantry,dengan lihai mengendalikan spatula ditanganya.
Senyuman kecil tiba tiba berkembang merekan dibibir kissable pria yang hanya mengenakan bawahan panjang berwarna dongker tersebut.
Sengaja membiarkan bagian atas tubuhnya terekspose sempurna,memamerkan otot bisep dan perut kotak kotanya.
Grep
"Good morning ya-Zaujatii."
Sapanya hangat,sambil memeluk tubuh mungil dihadapanya.
Awalnya yang dipeluk itu mematug seketika,namun lama kelamaan tubuh mungil tersebut sudah mulai terbiasa.
"Morning too."
Jawab Kia singkat.
Manik teduhnya tak beralih sedikitpun dari prying pan yang berisi sayur tumis yang tengah dimasaknya.
"Ishh....mas,aku lagi masak loh.Kalau gosong gimana ?" Kesalnya,pasalnya bukanya melepaskan pelukanya,tetapi pria berponi tersebut malah semakin mengeratkan pelukanya.
"Biarin,orang aku masih belum puas."
Ujar Vano,sambil sesekali mengecup pucuk kepala istrinya yang teralut khimar tersebut.
"Mass...jadi susah masaknya!"
Lirih wanita cantik tersebut karena ruang geraknya yang menjadi terbatas.
"Iya iya,tapi habis masak aku mau peluk kamu lagi."
Pinta pria berambut jelaga tersebut,sambil menyilangkan tanganya didada.
Melihat suaminya yang merajuk,membuat senyum Kia kian merekah.
"Iya."
Katanya sambil kembali melanjutkan acara memasakanya.
"Molning...undaa..yayah...."
Kedua orang dewasa itu menoleh,kearah sumber suara itu berasal.Diujung pintu,berdiri putra kecil mereka yang baru saja bangun tidur.
"Sini sayang,duduk sama ayah dulu.Bunda belum selesai masak sarapanya."
Dengan telaten,Kia membawa sang putra kemeja makan.
Mendudukkanya dikursi dekat ayahnya,tak lama sarapan pagi yang dimasaknya pun siap.Sepanjang acara sarapan pagi itu berjalan,terdengan celotehan celotehan sikecil sembari senyuman bahagia dari kedua orang tuanya.
'Terimakasih ya-Rabb,karena telah melengkapi kembali keluarga kecilku ini.'
Batin Vano bersyukur.
Dalam hati ia amat bersyukur,telah dikaruniai seorang putra tampan yang pandan dan pendamping hidup yang tangguh.Bukan saja ketangguhanya,kesetiaanya dan keikhlasanya sering kali membuat Vano jatuh hati berlipat ganda.
Namun kebahagiaan itu sepertinya berbanding terbalik dengan pria yang satu ini.Pria tampan berambut coklat ini,terlihat amat memprihatinkan.Kantung matanya amat kentara,menghitam dibawah kelopak matanya.Raut mukanya mendung,tak berseri sedikitpun seperti biasanya.
Semua itu tak luput dari perhatian sahabat baiknya,Dimas.Pria beranak satu itu,terlihat begitu mengkhawatirkan keadaan sahabat satunya ini.Sudah lebih dari dua minggu ini,Bara-sahabatnya itu hidupnya bak mayat hidup.Kerja,kerja,kerja,tanpa mempedulikan kesehatan fisiknya.
Itu semua berasal dari hari dimana ia melamar wanita yang dicintainya,untuk kesekian kalinya.Namun sayang,penolakan kembali ia dapatkan.Ditengah tengah keterpurukan itu,tiba tiba ia mendapat telpon dari sang bunda,jika ia sudah dijodohkan dengan putri rekan sejawat ayahnya.
DAMM
Seketika itu pula,pria bermanik coklat itu pasrah akan hidupnya.Ia pasrah pada sang kuasa,belum tuntas masa gundahnya,permasalahan lain tengah datang menantinya.
Diliriknya berkali kali,cincin bertahtakan berlian tersebut.Cincin yang seharusnya terpasang dijari manis wanita yang dicintainya.Namun ekspetasi itu tak akan mudah terwujudkan rasanya,mengingat wanita itu telah menolaknya dengan pasti kali ini.Tak akan ada lagi kata nanti atau lain waktu.Sudah jelas Kia menolaknya secara terang terangan dan amat jelas pagi itu.
FLASHBACK
"Arkia Shalfira mubaraq,aku tahu ini entah lamarañ keberapa dalam tiga tahun ini.
Namun tanpa bosan aku bertanya,will you marry me ki.....?"
Tanya pria tampan tersebut,sambil berlutut disamping tempat Kia duduk.
Memperlihatkan sebuah cincin berhiaskan permata yang cantik dihadapanya.
Wanita cantik itu sampai menutup mulutnya,saking terkejutnya.
Bukan karena seringnya pria itu melamarnya,namun atas keberanian Bara yang melamar Kia,padahal masih ada Vano-pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut.
"Aku......."
Dengan mantapnya,pagi itu Bara kembali melamar Kia.Berbekal tekad dan rasa cintanya yang amat mendalam,ia mengesampingkan fakta jika ia sudah lebih
dari sering ditolak oleh wanita berhijab syar'i ini.
"Aku.......maaf."
Kata terahkir yang terlontar dari bibir tipis wanita itu,cukup membuat hati Bara kembali harap harap cemas.Wanita dihadapanya itu menunduk,menatap intens cincin emas yang sudah melingkari jari manisnya.
"Maaf mas,seharusnya mas tidak melakukan semua sampai sejauh ini."
__ADS_1
Katanya,sambil mendongkrak.
"Kia....Kia sudah menikah mas.Kia punya seorang suami yang Kia cintai.Terlepas dari banyaknya luka yang ia torehkan dimasalalu,biarlah berlalu.Sekarang Kia hanya ingin Anzar bahagia,keluarga Kia bahagia."
Tutur Kia pelan,yang mampu membunhkan Bara secara langsung.
"Terimakasih karena selama ini mas Bara sudah mau selalu ada untuk Kia.Tapi,Kia tidak bisa menerima perasaan mas.Karena bagi Kia,hanya ada satu pria dihidup Kia,yaitu Mas Vano-suami Kia." Kata Kia final.
Ia menangkap kesedihan amat mendalam dimanik Bara.Tapibapa boleh buat,dia tidak boleh mengantungkan perasaan orang lain dengan iming iming harapan.
Padahal ia tahu betul,jika ia sudah memiliki pria lain yang dicintainya.
"Maaf mas,mungkin selebihnya kita hanya bisa menjadi sahabat saja.Kia yakin,pasti akan ada wanita yang lebih baik dari Kia, yang akan menjadi pendamping Mas suatu saat nanti."
FLASHBACK END
Pagi itu adalah hari terakhir perjuangan seorang Bara.Dari dulu hingga Kia menikahpun ia tak pernah menyerah untuk meraih hati wanita berhijab tersebut.Namun apa daya,sepertinya tuhan punya rencana sendiri untuk jodoh Bara tersebut.
'Saya juga pernah berada diposisi kamu dulu Bar! sedih,patah hati,gundah,tak terima,namun apa daya,tuhan telah merencanakan segalanya dengan baik.'
Gumam pria tampan yang tengah sibuk menyuapi putrinya makan tersebut.
"Sore ini kita berangkat Bar,kamu sudah packing barang barang kamu?" Tanya,sedikit beralih kearah sahabatnya.
"Hm"
*Mùnic Internasional Airport-Jerman.
Tak mau terus menerus terlarut dalam kesedihanya,Bara memilih ikut serta ke-Jerman bersama sahabatnya-Dimas.
Disana,ia tinggal bersama Dimas,putri kecilnya,dan juga Risma-ibu Dimas.
Bersamaan dengan kedatanganya ke-Jerman,Bara juga memang memiliki seorang clint yant berkebangsaan Jerman.
"Dim,aku keluar sebentar ya.Aku mau bertemu dengan client."
Tuturnya santai,sambil meraih kontak mobil milik Dimas.
"Iya.Tapi jangan pulang kemalaman ya Bar,ingat kamu punya janji nonton pertandingan motor GP sama saya."
Pria tampan berambut coklat itu menyunggingkan senyuman tipisnya.
"Ok pak dokter,saya janji."
Katanya sambil berlalu.
"Bara pergi dulu tan,Assalamualikum."
"Waalaikum salam."
Jawab Risma menyahuti.
Ketika hendak pulang sepeninggalanya client Bara,pria tampan itu dibuat menyerngit dengan siluet mirip seorang gadis yang tergeletak tepat disamping mobil sahabatnya.
"Astagfirullah,hey....nona....nona....anda kenapa?"
Tanyanya dalam bahasa inggris.
Namun gadis yang bersurai sebahui yang tergeletak tak berdaya itu tak merespon sedikitpun.Pakaianya terlihat kusut dan robek dibeberapa bagian.Sudut bibirnya juga terlihat terluka dan sobek.
"To...tolong...ttolong...a..ku..."
Lirihnya sebelum kesadaranya kembali terenggut.
"Heyy....nona...nona bangun,bangun nona..."
Panggil Bara sambil menepuk nepuk pelan pipi yang lumayan chabi tersebut.
"Arrgghh....bagaimana ini?"
Katanya,frustati.
Ditengah kebingungan yang melandanya itu,Bara akhirnya memutuskan membawa gadis tersebut kerumah Dimas.Toh Dimas seorang dokter,dia pasti bisa menagani gadis ini,pikirnya.
TBC
@@@
Hiyaaaap.....UP,,,,UP,,,,PU.
Update lagi ya,sesuai perkataan akoooh😉😉Berhubung tadi pukul dua terakhir sidang,jadi aku punya waktu luang untuk nulis part ini.
Nah,jadi gimana udah kebayar penasaranya??
Apa tambah makin penasaran???
Hayooo....dikomen,apa gambaran buat part berikutnya dan tentang part ini.
Ahhh.....iya,aku juga mau berbagi cerita,dikiiiit saja😂😂.
Aku tuh suka nulis/ngarang dari kelas 5 SD.
Tapi berhenti karena lebih fokus sama OSN Dan O2SN maraton sama cergam (cerita bergambar).
Naik SMP,ehh....muncul lagi tuh hobi😅
Nah....selama tiga tahu itu,kurang lebih 28 judul cerpen dan novel kubuat.
Tapi dalam bentuk skip/lembaran dan buku,tulis tangan.
Dari hobi itu pas SMP aku dicap aneh loh😨
Entah kenapa coba?? Disebut autis-lah.
Lah...lah....nulis itu salah ya🤔🤔
Menurut kalian gimana?
Makanya tolong dimaklumi ya jika ada yang rumpang atau tabu dalam karya karyaku.
Maklum,akupun masih terus belajar sampai tahap ini.
Ok,see you dipart berikutnya ya🖑🖑
Jangan lupa dukunganya,kutunggu😋😋
__ADS_1
Sukabumi 18/12/19
17.39