
"Tidak halal bagi seorang wanita keluar rumah tanpa izin suaminya, jika ia keluar rumah tanpa izin suaminya, berarti ia telah berbuat nusyuz (durhaka), bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta layak mendapat hukuman.”(Hadist riwayat muslim)
Walaupun cinta itu belum tumbuh dan berkembang dihatinya,namun apa salahnya jika Kia mencintai suaminya sendiri.Dialah Keevano Radityan Khutbi,pria yang sedikit demi sedikit telah menempati relung hatinya.
Semenjak kecuriaan itu berlabuh dihatinya,Kia mulai merasa ada rasa sakit yang mulai menghampiri hatinya.Tak ada seorang pun wanita yang mau cinta suaminya terbagi,bagitupun denganya.Walaupun Vano tak mencintainya,Kia tetap tak rela jika suaminya itu melabuhkan hatinya untuk wanita lain.
Kecurigaan Kia makin bertambah,dengan bertambahnya bukti dari perselingkuhan Vano dan wanita simpananya.Dari mulai struk chak out hotel,Bekas lipstik dikemeja Vano,bahkan beberapa kali Kia melihat mòbil milik suaminya itu mangkir dibeberapa restoran.
Memang sampai sejauh ini,Kia belum pernah melihat atau bertemu secara langsung dengan kekasih Vano.Hingga hari itu tiba nanti,Kia akan menyiapkan hatinya sebelum tersakiti lebih dalam.
"Jam segini mas Vano kok belum pulang ya?"Gumam Kia.
Padahal ini sudah hampir pukul delapan malam.
Padahal Pria itu kemarin berkata akan makan malam dirumah,namun nyatanya sampai saat ini juga belum terlihat kedatanganya.
"Huft...apa mas Vano gak pulang ya?"batinya.
Sambil mengisi kejenuhanya,Kia pun memutuskan untuk peŕgi ketoko buku yang tak jauh dari kompleknya.
Lima belas menit telah berlalu,kini sudah dipeluknya beberapa novel islami incaranya.
Ketika hendak pulang,tak terasa rintik hujan mulai membasahi bumi.Lama kelamaan hujan tersebut semakin deras,dan memaksa Kia untuk berteduh didepan toko.
"Hujanya makin besar lagi.Gimana caranya aku pulang?"
Ketika hendak menelpon suaminya,ternyata Kia lupa membawa ponselnya.
"Astagfiŕullahaladzim,Kia lupa bawa handphone.Pasti ketinggalan dimeja makan!"
Ketika tengah merutuki kebodohanya,sebuah mobil SUV silver berhenti tepat didepan toko buku tersebut.
Belum sempat Kia menghilangkan kèbingunganya,seorang pria dengan payung hitam keluar dari kursi kemudi.
"Fira!"pañggilnya dengan sura bass khas miliknya.
Suara itu familiar ditelinga Kia,nama itu... nama panggilan untuknya sewaktu kecil.
Dalam cahaya agak remang dari kegelapan,wajah pria tersebut terlihat samar samar.Sampai akhirnya pria itu berada tepat didepan Kia.
Kini nampaklah wajah pria tampan yang tengah tersenyum manis itu.Iris birunya terlihat sejuk jika dipandang.Wajah tampan campuran Inggris-Jawa tersebut mampu menghasilkan kloningan pria tàmpan nan berkharisma yang enak dipandang.
"Kak Bara?"
"Apa kabar fira?"tanyanya lembut.
Setelah mengobrol beberapa saat,pria yang dipanggil Bara itu mengantarkan Kia pulang karena hujan yang tak kunjung reda.Awalnya Kia sempat menolak,namun dengan berbagai bujukan,akhirnya Kia menyerah juga,ia akhirnya mau menerima tawaran Bara.
Dilain tempat,seorang prìa tampan yang mengenakan kaos panjang berwarna putih dipadu padankan dengan celana bahan berwarna silver tersebut,terlihat tengah gelisah mencari seseorañg.
Ketika pulang keapartemenya sejam yang lalu,pria itu tak menemukan sosok gadis yang telah resmi menjadi istrinya dua bulan ini.Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam ia khawatir saat tidak menemukan istrinya itu. Namun,karena egonya yang besar,ia tepis jauh jauh rasa khwatir tersebut.
Ia-vano sudah mencoba menyibukkan dirinya,agar pikiranya tidak dipenuhi oleh kecemasan tak beralasan itu.Namun hujan deras diiringi gemuruh guntur diluaran sana,kembali lagi membuatnya resah.
__ADS_1
'Ck...kemana perginya gadis bodoh itu?'batinya mulai cemas.
Entahlah apa yang ia rasakan saat ini.Namun,hidup dua bulan bersamanya membuat Vano mulai terbiasa dengan keberadaanya.Walaupun keberadaanya sering vano abaikan.
Sapaan lembut dibarengi senyuman ramahnya,sudah biasa ia lihat ketika pulang kerja.Walaupun selalu ia acuhkan.
Sikap kepedulianya akan hal hal kecil menyangkut dirinya,yang sering ia acuhkan.
Keberadaanya dianggap tak ada.Namun wujudnya nyata.
Sekuat apapun ia mencoba,ketika raganya berada dengan wanita lain,namun hatinya merasa memiliki tanggung jawab terhadap gadis lain.Tanggung jawab yang perlahan namun pasti telah ia nodai.
Entahla,Vano juga bingung akan rasa kepedulianya yang mulai berlebihan ini.
Mungkinkah ia sudah mulai menci-
'Ah...mikir apaan sih?'
Akhirnya,setelah menahan egonya selama 2 jam lebih,ego setinggi langit sebeku gletser sekuat baja itu ia patahkan.
Bagaimanapun gadis itu istrinya,ia punya tanggung jawab untuk menjaganya atas nama tuhan.
Ketika melihat handphone milik gadis itu teronggok dimeja makan,keyakinanya untuk mencari gadis itu makin bertambah.
'Ck...menyusahkan!'
Pria dengan jaket hitam yang membawa payung hitam bersamanya,karena diluar sana tengah hujan lebat.
Ketika sudah berada didepan apartemen,manik hitam kelanya menangkap dua sosok manusia dibawah guyuran hujan.
Maniknya terpaku pada pemandangan dihadapanya.Gadis bergamis toska yang jelas ia kenal betul,tengah berada satu payung dengan pria asing,yang diartikan berbeda oleh Vano saat melihatnya.
'Menyebalkan.Untuk apa juga saya peduli dengan dia!'batin Vano merutuki kebodohanya.
Cklekk
"Darimana saja kamu malam malam begini?"tanya pria bersuara bariton berat tersebut sambil melipatkan tangan didada.
"Astagfirullahadzim,kamu sudah pulang mas?"tanya Kia lembut.
Bibir mungilnya terlihat pucat,mungkin efek kedinginan karena kelamaan diluar rumah.
"Tidak perlu mengalihkan pembicaraan Arkia?"katanya dingin.
"Maaf mas,Kia tadi gak izin dulu ke mas Vano.Tadi Kia pergi ketoko buku di sebrang komplek.Pas Kia mau pulang,hujan turun dengan lebat.Jadi kia berteduh dulu disana!"tutur Kia sambil memperlihatkan paper bag berisi novel yang dibelinya.
"..."
"Maaf ya mas,Kalau Kia gak izin mau keluar rumah."lirihnya.
'Dia tidak ada niatan untuk menjelaskan tentang yang tadi?'batin Vano.
Entah mengapa ada rasa kecewa saat gadis dihadapanya ini tak menyinggung pria yang telah mengantarkanya tadi.
Apa Vano sedang menunggu penjelasan kia?
__ADS_1
Ahh....tidak mungkin.
"Mas Vano sudah makan malam? Kalau belum biar kia panaskan dulu makan malamnya!"tawar Kia,diakhiri dengan senyuman manisnya.
"Tidak.Saya sudah makan,saya mau istirahat!"katanya sambil berlalu.
Hati kia berdesir nyeri.Sampai saat ini,Vano memang belum bisa menerima keberadaanya.
Apalangi menganggap semua perlakuan Kia ada.Ketika tengah melamun,suara bariton itu kembali mengintrupsi.
"Lain kali,jika kamu mau pergi keluar rumah izin terlebih dahulu kepada saya.Bagaimanapun juga,saya ini masih suami kamu.Bukanya Allah bilang keluar rumah tanpa izin suaminya itu termasuk durhaka?"
Kia tersentak setelah mendengar perkataan pria yang berstatus sebagai suaminya itu.Setelah mengatakan itu,Pria itu berjalan kembali menuju kamarnya.
Ada rasa senang ketika pria itu mengatakan itu,apalagi ia berkata 'saya ini masih suami kamu' itu artinya,secara tidak langsung ia telah menerima Kia sebagai suaminya.
Disisi lain,Kia juga merasa bersalah karena ia pergi keluar rumah tampa izin terlebih dahulu.Apalagi ia sempat bertemu pria lain yang bukan mahromnya,walaupun tanpa disengaja,tetap saja Kia merasa bersalah kepada suaminya.
♤♤
"Lain kali,jika kamu mau pergi keluar rumah izin terlebih dahulu kepada saya.Bagaimanapun juga,saya ini masih suami kamu.Bukanya Allah bilang keluar rumah tanpa izin suaminya itu termasuk durhaka?"
'Bodoh.....bodoh....apa yang baru saja kamu katakan Vano? Apa kamu baru saja mengakui gadis itu sebagai istrimu? Ck...ada apa dengan Keevano Radityan Khutby? Kenapa kau jadi aneh seperti ini hanya karena seorang gadi?'
Batin Vano bergulat dengan pikiranya,ketika merutuki ucapan yang terlontar dari bibirnya beberapa menit lalu.
'Bodohh.....bukanya membuatnya jauh dari mu,kau malah memberikan harapan padanya?'
Kesal Vano pada hatinya yang tak sejalan dengan pikiranya.Harusnya ia tak melakukan itu,namun logikanya kalah oleh ucapan yang terucap dari alam bawah sadarnya barusan.
'Tunggu....apa aku sedang cemburu kepada gadis itu?'
Batin Vano menerka nerka.
'Ah....tidak muñgkin.Untuk apa juga saya cemburu,toh kita tidak memiliki perasaan apapun!'
Ditepisnya jauh jauh pikiranya itu.
Bagaimanapun juga,cuma ada satu nama yang boleh menempati relung hatinya.Cintanya,Kekasih hatinya,wanitanya,calon ibu dari calon anaknya.Dia,,,,,Aurrin Anastasya James.
Cuma dia,dan tak ada yang lain.
■■■
Cemburu🍍
Huahhh......malam semuaaa🖑🖑
Gimana? Udah baper belom?
Kutunggu jawabanya dikolom komentar ya😊😊
Sukabumi 12/11/19
19.32
__ADS_1