
'Ayah dan anak lelakinya punya ikatan yang kuat bukan? Oleh karena itu pantas,jika ia bisa merasakanya.'
Sejuknya angin semilir dipagi hari,tak kunjung membuat pria yang masih bergemul dalam selimut tebal itu terbagun.Pening yang menyerang bagian kepalanya,membuatnya enggan tuk beranjak.Pukul Tiga dini hari tadi ia baru saja terlelap.
Tubuh dan pikiranya lelah saat ini.Ditambah hati yang tengah merana beberapa minggu ini.Sudah tiga minggu berlalu semenjak kejadian itu,Vano bukanya pasrah begitu saja.Namun memang ada sebagian dari hatinya yang ikut menyerah.
Sudah selama itu pula,Vano mencoba menyibukkan dirinya dengan berbagai pekerjaanya yang mulai menumpuk.
Pagi pulang petang,pulang dini hari.
Begitu selanjutnya,sampai pria itu tergolek lemah diapartemenya kini.
Tangan kirinya tergerak meraih benda pipih diatas nakas,mengecek apakah ada notifikasi yang masuk.
X Calling📲36
Mom Calling📲15
Erick Calling📲5
Mom Chatt💬55
X Chatt💬30
Erick voice note🗣10
Mom Voice note🗣 22
Deru napas lemah terdengar darinya,harapanya lenyap seketika.
Ia pikir wanita yang dicintainya itu akan benar benar memberinya kabar,barang bertanya kabar pun nyatanya tidak.
Sudah tinga minggu berlalu,dan selama itu pula Keevano tidak bertegur sapa dengan wanita berhijab syar'i tersebut.
Ia hanya bertemu dengan putranya saja seminggu yang lalu,saat ia menyempatkan diri untuk menjemput putranya itu pulang sekolah sebelum ia terbang ke-Qatar untuk perjalanan bisnisnya.
Sejak menyaksikan Kia yang dikhitbah (dilamar) Bara kala itu,entah mengapa Vano belum bisa bertemu dengan Kia secara langsung.Sebagian hatinya terasa mati rasa,lumpuh tak berdaya.
Sukma diraganya seakan akan tercàbut sebagian.Logikanya seakan akan terlalu takut untuk mendengarkan fakta jika wanita yang dicintainya telah menjadi milik pria lain.
Arrgghh
Rintihnya kecil,saat dirasa beban dikepalanya berdenyut hebat.Kerongkonganya terasa kering,namun ketika hendak mengambil air diatas nakas,jemarinya seakan akan melemas seketika.
Prangg
Bunyi gelas yang bukanya berhasil ia raih,malah terjatuh membentur lantai marmer dibawahnya.
Pria tampan bermanik jelaga itu diam sejenak,menerawang tentang penderitaanya kini.
Sendirian diapàrtemen besarnya,tanpa ada seorangpun yang mau mengurusinya.
Ia sakit,air putih saja ia kesulitan mengambilnya.Tetapi tidak ada seorangpun yang mau merawatnya.
Tanpa diduga,manik elang itu menitihkan air matanya.Manik jelaga yang biasa memancarkan keintimidasian itu melemah,meredup,pasrah akan keadaan.
Lelah......jiwa dan raganya tengah merasakan itu saat ini.
Ketika ia berharap wanita yang dicintainya ada disisinya,tetapi apa boleh dibuat.
Bibit yang dulu ia tuai,ia pula kemudian yang memetik hasilnya.
Dari perbuatanya dimasa lampau,apa yang dirasakanya saat ini adalah buahnya,buah dari tuaianya.
Penyesalan selalu datang terlambat bukan,supaya apa?
Supaya seseorañg yang telah melakukan perbuatan bodohnya,bisa merasakan efek jeranya.
Dalam diam,ia menangis.Baru ia tersadar,pengaruh wanita bermanik hitam teduh itu sangat besar dalam hidupnya.
Kini ia hanya bisa meratapi penyesalan dari perbuatanya.Ribuan kata maaf pun tak akan mengubah apa apa,jika tidak dibarengi dengan usaha yang memadai.
Lain tempat,lain pula keadaan hati.
Lain pula keadaan jiwanya yang terus menerus melayang kesatu tujuan.
Kia-wanita cantik yang mengenakan gamis berwarna gray tersebut,terlihat tengah termenung didepan sebuah unit apartemen.
Dengan ragu ia hendak menekan bel pintu unit tersebut,namun diurungkanya beberapa kali.Disamping kananya,ada sikecil yang menatap heran kearahnya.
"Nda....yayayhnya gak ada ya? Kok pintunya ditutup?"
Tanya sikecil yang terlihat sudah jenuh menunggu tersebut.
Bagaimana tidak jenuh,sudah hampir 40 menit lamanya mereka berdiri didepan unit mewah bernomor 4036 tersebut.
Diremasnya kembali jemari mungilnya yang salah satunya tersemat sebuah cincin emas disana.
Cincin yang menjadi tanda terikatnya ia dengan seorang pria yang tulus mencintainya.
"Ndaa....yayahnya kemana?"
Lirih sang putra,yang sukses membuatnya terlonjak.
"Iya sayang,ayah sepertinya tidak ada dirumah!"
Terlihat perubahan ekspresi yang nampak jelas diraut wajah putra tampanya tersebut.
Anzar-bocah tampan berusia tiga tahun itu,memang sudah beberapa hari ini merengek ingin bertemu ayahnya.
Bahkan Bara saja yang dipanggil Abi olehnya,tak bisa membujuk keinginañ sikecil yang satu ini.
"Tapi yayahh....pasti ada didalam nda!"
Kata sikecil Anzar,sambil menatap penuh minat kearah pintu platinum yang tertutup rapat tersebut.
"Sayang....ayah sekarang pasti lagi kerja.Makanya ayah gak ada dirumah.
Nanti kalau ayah udah pulang kerja,kita kesini lagi yah...."
Lirih Kia,sambil menyamakan tinggi badanya dengan sang putra.
Ditaruhnya sejenak barang bawaanya,yang berisi salah satu makanan kesukaan dua lelaki yang disayanginya itu.
"Ndakk...yayah...pasti ada didalam nda!"
__ADS_1
Kata sikecil bersikeras.
Wanita cantik itu menghela napasnya sejenak.Memang sulit membujuk bocah tampan satunya ini.
"Sayang.....Kita-"
Derrtt
Belum sempat ia selesai mengucapkan kalimatnya,sebuah pesan singkat sudah terlebih dahulu menyita perhatianya.
Dengan telaten,dibacanya bari demi baris kalimat yang membuat hatinya langsung menceos tersebut.
Dengan cepat,jemari mungilnya berselancar mengetikkan beberapa nomor dilayar interkom dihadapanya.Nomor yang siapa sangka,berasal dari tanggal lahir dirinya dan putranya.
"Ndaa...."
Lirih sikecil,saat pintu unit tersebut berhasil terbuka.
"Ayo sayang..."
Ajak Kia sambil meraih tangan mungil putranya terburu buru.
Dengan tergesa gesa dan hati yang berdebar tak karuan,wanita itu membuka knop pintu kamar yang ia yakini milik siempunya unit.Harap harap cemas ia rasakan saat ini,apalagi setelah membaca pesan singkat dari tangan kanan orang yang tengah dicemaskanya tersebut.
Krieett
Deg
Hatinya bergemuruh seketika,ketika iris matanya menangkap sosok pria yang tergolek tak berdaya diatas ranjang king size miliknya.
"Yayah....kenapa nda? Yayah cakit ya?"
Tanya sikecil penasaran.
Tangan mungilnya sudah bergerak menggapai lengan kekar ayahnya yang tengah terlelap.
"Yayah...panas nda,yayah cakiit!"
Komentarnya,menyiratkan kekhawatiranya.
Kini giliran tangan mungil wanita cantik yang berdiri mematung disampinya yang bergerak.Mendarat tepat dikening pria dihadapanya,yang tertutup oleh sebagian poni hitamnya.
"Ya Allah,mas Vano demam tinggi!"
Lirihnya dengan kecemasan yang tak dapat dipungkiri.
"Abang tunggu disini dulu ya,jagain ayah.Bunda mau ambil air hangat dulu,buat kompres ayah."
Anzar kecil menganggum kecil,sambil beranjak duduk diranjang kosong disamping ayahnya.
Dengan cekatan,wanita berusia 27 tahun tersebut mencari handuk kecil,dan mengambil air hangat untuk mengompres pria yang masih berstatus sebagai suaminya tersebut.
Tak lama,wanita cantik berhijab syar'i tersebut datang dengan baskom kecil berisi air hangat dan handuk kecil ditanganya.
Dikompresnya dengan telaten pria tampan yang terlihat meracau dalam tidurnya tersebut.
Setelah sempat mengubrak abrik unit mewah milik Vano,akhirnya wanita cantik itu menemukan kotak P3K yang cukup lengkap isinya,terlihat sekali tak pernah dipakai.
"38°celcios lebih."
'kamu kenapa sih mas,bisa sampai demam tinggi begini!' Batinya cemas.
Bukan tanpa sebab Kia cemas setengah mati ketika mendapatkan pesan singkat dari X.Tetapi ia juga seakan akan memiliki firasat buruk tentang pria yang masih berstatus sebagai suaminya ini.
Terlebih lagi,sang putra yang sudah dua hari ini selalu terbangun ditengah tidurnya.
Anzar kecil sering terbangun karena ia mimpi buruk tentang ayahnya.
Oleh karena itu,ia ngotot ingin menemui sang ayah yang sudah seminggu ia rindukan keberadaanya.
'Maaf mas,selama ini aku jahat sama kamu.
Maaf karena selama ini aku ngejauhin kamu,aku mengabaikan kamu.Maaf mas,tapi aku butuh waktu.Butuh waktu untuk sekedar menyembuhkan luka yang sering kamu torehkan untukku.'
**
Pria bermanik hitam jelaga itu mengerjap nerjapkan matanya.Diliriknya sekitar ruanganya,terang benderang.
Dari luar jendela ia bisa melihat hari sudah mulai petang.Alisnya bertaut seketika,jika ini sudah petang,lalu siapa yang menyalakan lampu kamarnya.
Disentuhnya dahinya yang tersa hangat,ada sebuah handuk kecil yang ia yakini untuk mengompres tertempel disana.Kini manik jelaganya berpindah kesiluet bocah kecil yang tengar terlelap sambil memeluknya,tepat disampingnya.
Deg
Wajah tampan yang telihat damai itu adalah milik putranya,darah daginya.Lalu manik jelaganya berpindah kearah pintu yang terbuka dengan pelan,menampilkan seorang wanita berhijab yang tengah berjalan kearahnya.Kedua tanganya membawa nampan berisi mangkuk dan sahabat sahabatnya.Dari aroma yang menguar diindra penciumanya,ia hapal betul ini adalah aroma makanan kesukaanya,bubur Manado.
"Mas sudah bangun,kalau gitu sekarang mas makan dulu ya! Setelah itu minum obatnya,tadi mas sudah diperiksa sama dokter kok.Katanya mas kecapean sama Anemia." Tuturnya lembut,sambil membantu Vano mengubah posisinya.
Belum sepatah katapun Vano berucap,ia hanya berniat menikmati apa yang tengah dilakukan 'istrinya' tersebut.
"Makan yang banyak ya,tadi Anzar mau dimasakin ini.Kayaknya dia punya kesamaan dari segi makanan kesukaan sama mas."
Celotehnya kecil,sambil menyuapi Vano dengan telatenya.
Sebenarnya Vano bingung sekaligus senang saat ini.Bingungnya,akan sikap sang 'istri' yang terkesan sangat janggal baginya ini.
Ingat bukan,tiga minggu lalu wanita itu bahkan menolak kontak apapun dengannya,cenderung menjauhinya malahan.
Dan sekarang ini,lihatlah??
Wanita itu melayaninya dengan penuh perhatianya.
Senang,tentu saja Vano senang bisa diperhatikan seperti ini oleh wanita yang selama ini ia perjuangkan.
Namun tetap saja,ada yang janggal disini.
"Sekarang mas istirahat lagi ya! Mas kan habis minum obat.Aku mau kebelakang dulu."
Ucapnya lembut.
Senyum hangatnya tak henti hentinya terpatri dibibir mungilnya.
"Tunggu...."
Lirih Vano,sambil menahan lengannya.
__ADS_1
"Ada apa mas?"
Tanyà Kia,sambil menghentikan langkahnya.
"Kenapa kamu melakukan semua ini? Bukanya kamu membenciku?"
Tanya Vano to the point.
Kia tersenyum kecil,diletakkan kembali nampan yang dibawanya kenakas.
"Aku lakuin ini,karena mas Vano suamiku,ayah dari putraku.Sudah sepatutnya aku seabgai seorang istri merawat suaminya yang tengah sakit bukan?" Katanya tulus.
Ditatapnya manik hitam teduh itu lekat,mencoba mencari kebohongan disana.Namun nihil,disana hanya ada kejujuran dari ucapanya.
"Kamu sedang bersandiwara bukan?" Tuding Vano.
Kia kembali tersenyum kecil,melihat reaksi suaminya itu.
"Buat apa aku bohong mas!"
Jawab Kia,sambil mengambil handuk kecil yang masih berada dikening suaminya tersebut.
"Panasnya sudah turun!" Katanya kecil.
Jemari mungilnya masih betah dikening pria dihadapanya,memastikan jika demam yang dialami suaminya itu sudah tubuh.
Grep
"Kenapa kamu lakukan ini ki? Bukanya kamu benci sama aku?? Bukanya kamu sudah tidak cinta lagi sama aku??"
Tanya Vano,manik hitam jelaganya mulai memanas.
Apalagi saat ia melihat ada cincin emas yang melingkar dijari manis 'istrinya' itu.
Ia tersenyum kecut,sambil mengalihkan pandanganya kearah lain.
"Kamu benci sama aku ki,jadi kamu gak perlu repot repot bersandiwara seperti ini."
Kia masih diam mendengarkan apa saja yang hendak dikatakan pria dihadapanya.
"Aku sadar ki,aku salah sama kamu selama ini.Aku nyakitin kamu,menyianyiakan kamu,aku menyesal telah melakukan itu.
Aku sadar ki,kamu tidak akan bahagia jika terus menerus terikat denganku."
Wanita berhijab itu mulai menyerngitkan alisnya,tak paham dengan apa yang dibicarakan pria dihadapanya ini.
".....Aku ikhlas ki,Aku ikhlas asal kamu dan Anzar bahagia.Aku akan lepaskan-"
Grep
"Gakk.....jangan diterusinn....Aku mohon..."
Pinta Kia menyela,dengan tubuh bergetar hebat,dipeluknya tubuh pria dihadapanya erat.
Memotong ucapan yang akan mengatakan kalimat yang akan menyakiti keduanya.
"A-aku mohon jangan dilanjutin.Aku....gak mau denger itu dari kamu."
Lirihnya dengan tubuh gemetarnya,air matanya sudah berjatuhan.
Sedangkan Vano,pria itu mematung seketika saat menerima rengkuhan tiba tiba tersebut.Sensor visual tubuhnya seakan berhenti seketika.Hanya jantungya yang berdetak tak karuan ditempatnya.
"Tapi ini demi kebahagiaanmu,Arkia."
Lirih Vano,sambil membalas pelukan Kia.
"Aku gak akan bahagia tanpa kamu,Anzar juga.Kami....kami butuh kamu!"
Katanya Final.
TBC
@@@
HUAHHH.......
Satu kata guys buat part ini???
Apa hayoooo??
Baper??
Sedihhh???
Terkedjott??
Apa gimana??
Cussd.....komen kome.....
😅😅😅
Alhamdulillah masih bisa up juga.
Diantara kesibukanku dihari terakhir pengayaan.Sama MUBAL (Musyawarah Ambalan) pramuka yang dilangsungkan tiga hari sama besok.Akuu.....lelah guys.....
Lelah badani dan hayatiii😪😪
Cuappeekkkkk
Semoga selalu fit,supaya bisa UP terus.
Sambil nunggu bagi raport jum'at nanti😅😅.
Pokoknya,jgn bosan bosan baca novelku.
Jangan bosen bosen dukung karyaku,jangan bosen bosen kritik dan komen karyaku.
Kutunggu.
Sampài jumpa lagi dipart berikutnya yoo🤗🤗
Selamat malam All people🖑🖑
Sukabumi 17/12/19
__ADS_1
19.48