Bukan Salah Khitbah (R1)

Bukan Salah Khitbah (R1)
Namanya Keevanzar Radityan Alfaruq


__ADS_3

'Jika melaului banyak cara kamu tak luluh,maka akan kugunakan cara yang satu ini.


~Keevano Radityan Khutbi~


Malam itu,disebuah rumah megah yang dihuni oleh tiga orang,sepasang suami istri dan putri kecilnya.Dentingan sendok dan garpu,juga celotehan bayi perempuan menghiasi rang makan tersebut.Gurat gurat kebahagian terlihat dihati sang istri,namun entah dengan sang suami.


Rasa cemas yang melanda hatinya,membuat napsu makanya menguap entah kemana.


Dalam hatinya,entah apa yang akan terjadi namun firasat seperti pertanda akan ada yang terjadi malam ini.


Ingatlah kepekaan seorang anak kembar sangat tinggi,terlebih lagi terhadap kembaranya.


"Abi kenapa?"


Sapa sang istri yang tengah menggendong bayi cantik berusia sembilan bulan tersebut.


"Perasaan Abi tidak enak mi."


Jawabnya,entah mengapa hatinya seakan akan berdenyut nyeri saat ini.


Yang ingin ia pastikan cuma satu saat ini,yaitu kakaknya dan juga keponàkanya.


"Abi ingin lihat Kia sama Anzar,apa mereka baik baik saja?" Ucapnya pelan.


Wanita cantik berpasmina cream itu mendekat kearah sang suami.


"Kia sama anzar pasti baik baik saja.Lebih baik sekarang abi ambil wudhu terus shalat isya,supaya hati abi tenang."


Pria itu tersenyum,sambil beranjak menghadap sang istri tercinta.


"Iya,Zaujatii.Abi shalat dulu ya!"


Katanya setelah mengecup singkat pelipis sang istri,bergantian dengan pipi gembul putrinya.


Rasa cemas nan khawatir itu tak kunjung reda,ketika hari telah berganti lagi.


Dengan tergesa gesa,pria itu mengcancel jadwal meetingnya,demi menemui saudari kembarnya.


Semalam saja ia sampai mimpi buruk saking cemasnya.


"Ka,kamu mau kemana?" Sergah Bara yang tiba tiba muncul didepan rumah Ezka tersebut.


"Astagfirullah,Bar kamu disini?" Tanya Ezka balik,terkejut.


"Aku mau bilang kalau Dimas sama putrinya mau kesini,dia minta dijemput dibandara."


"Astagfirullah!"


Ezka kini teringat akan permintaan sahabatnya itu,untuk menjemputnya dibandara.Ia benar benar melupakan hal itu.


"Bara,aku minta tolong.Kamu tolong jemput Dimas dibandara,aku mau kerumah Kia sekarang."


Pinta Vano,sambil mengintrupsi sang iatri agar masuk kemobil terlebih dahulu.


"Ada pap ka? Kia gak apa apakan ka? Kok kamu cemas gitu?" Bara mulai penasaran saat menangkap raut cemas diwajah sahabatnya itu.


"Aku mohon bar,kamu jemput Dimas baru kerumah Kia!" Pinta Ezka memelas.


"Iya,tapi nanti aku langsung kerumah Kia."


"Ya."


Keduanya pun berpisah dengan arah tujuan yang berbeda,namun dengan rasa penasaran yang sama.


"Semoga kamu baik baik saja ki."


@@@


Sinar mentari yang muncul dari celah celah tirai jendela itu membangunkan tidurnya.


Tubuh atasnya yang kekar terokspos begitu saja,saat ia hendak beranjat.


Manik jelaganya terbuka sempurnya,menerawang ruangan asing yang ditenpatinya saat ini.


Ruangan yang didominasi warna calem putih dan peach,dengan beberapa figura fhoto yang tergantung didinding.


Ini bukan kamarnya? Batinya.


Kemudian manik jelaganya menatap pakaianya yang berserakan dilantai,dan tentu saja yang membuatnya menyerngit adalah adanya pakaian wanita disana.


Kemudian manik hitamnya beralih kelengan kokohnya,yang terasa tengah memeluk sesuatu tanpa penghalang tersebut.


Deg


Iya merutuki kebodohanya karena lupa akan malam mengairahkanya kemarin malam.


Ditatapnya wanita cantik yang tengah tidur dengan damai tersebut.


Ahh.......Ralat bukan tidur dengan damai,alisnya saja sampai bertaut saat ia tidur.Jalur bekas air mata tercetak jelas dipipi mulusnya,bibir ramun tipisnya terlihat membengkak karena ulah dirinya.


Pria itu meringis sendiri ketika melihat hasil dari perbuatan brengesknya,ditubuh wanitanya.Luka fisik yang diberikanya begitu kentara,belum lagi luka batin yang cukup dalam ditorehkanya.


'Maaf......'

__ADS_1


Lirihnya menatap wanitanya sendu.


Ia tahu kata maaf saja,tidak dapat mengembalikan apa-apa.


Namun ia kembali menelakukan dirinya,ia tidak menyesal telah melakukan ini.


TOK TOK TOK


"Unda....abang Anzal.....lapall...."


Kata bocah lelaki dari depan pintu yang kini tengah ditempati oleh Vano dan tentu saja wanitanya.


Deg


Vano sampai melupakan fakta jika kia sudah memiliki seorang putra.Dengan langkah tergesa gesa,pria itu masuk kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sejenak.


Krieeett


"Undaa...."


Lirih bocah tampan yang masih terlihat mengenakan piama tidurnya.


Pria yang baru saja keluar dari kamar mandi yang masih bertelanjang dada itu,menatap bocah tampan yang tingginya hanya sebatas lututnya.


Deg


Pria bermanik jelaga tersebut mematung sejenak,saat maniknya bertabrakan dengan manik yang sama percis dengan miliknya.


Selain bola mata yang memiliki warna sama denganya,rambut gelapnya,hidungnya,bibir mungilnya,rupa tampanya,semuanya kloningan dari wajah tampanya.


Untuk sejenak keduanya masih tetap dalam posisi saling menatap.


Lalu,bocah tampan itu angkat bicara saat yang didapatinya bukan sang bunda.


"Om,ciapa??"


Tanyanya,sambil menatap Vano lekat.


Pria yang hanya memakai celana hitam panjang itu terdiam sejenak,suara mereka bahkan hampir mirip.


'Heyy....apa apaan ini,kenapa anak pria sialan itu sangat mirip denganku?' Batin Vano bingung.


"Saya-"


Jeda Vano bingung.


"Om....itu- Ayahnya Anzal ya?"


Tanya bocah tampan tersebut antusias,sambil memeluk kedua lutut Vano.


Riangnya sambil memeluk kedua kaki Vano.


Deg


Hati pria bermanik jelaga itu berdenyut,seperti ada sensasi baru yang menjalar dihatinya saat bertemu bocah tampan satu ini.


"Anzar senang ayah...udah puyang...."


Celotehnya riang,sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya.


"Hm....bukanya Àyahmu itu pria yang kemarin?" Tanya Vano sedikit penasaran.


Pasalnya ia melihat dengan mata kepalanya sendiri,jika Kia dan bocah ini diantar pulang oleh Bara.


"Kemalin itu Abi Bala.Abi itu temenya unda!" Tutur Anzar kecil dengan nada cadelnya.


"Temen?"


"Iya.Unda mana yah,Anzal udah lapal mau salapan.Tapi uñda gak ada didapul,Unda macih tidul ya??" Tanya Anzar sambil melirik kedalam kamar dari celah pintu yang tidak tertutup oleh tubuh Vano.


"B-bunda,bunda lagi sakit sayang,makanya bunda masih tidur!" Elak Vano sambil menutup pintu kamar Kia rapat rapat.


Tidak mungkin ia membiarkan bocah mungil ini melihat keadaan bundanya yang memprihatinkan.


"Anzar lapar kan?"


Tanya Vano,yang langsung diangguki oleh bocah tampan tersebut.


"Ok,kalau gitu biar ayah yang buat sarapan buat Anzar ya?" Lanjutnya menawarnya


"Yeey...yayah mau masak buat Anzal!"


Antusianya.


"Tunggu disini ya,biar ayah masak sarapan dulu buat Anzar."


Katanya sambil menurunkan bocah tampan tersebut dari gendonganya.


Tak perlu waktu cukup lama untuk seorang Keevano untuk memasak makanan lezat.


Dua porsi sayur brokoli tumis dan omlet telur yang berisi kacang polong dan wortel sudah tersaji diatas meja.


Sebuah senyum tipis terbit dibibirnya,ketika bocah kecil yang memanggilnya 'ayah' itu sangat lahap menikmati masakanya.

__ADS_1


Namun ada yang membuat dahinya menyerngit disana,bocah itu terlihat memisah misahkan wortel dari omlet miliknya.


"Kenapa tidak dimakan wortelnya hm?"


Tanya penasaran.


"Anzal gak suka woltel.Woltel rasanya gak enak yah!" Katanya,sambil menyisihkan potongan wortel tersebut.


Pandangan Vano kembali beralih kepada piringnya sendiri,nasib wortel yang ada diomlet nya pun sama,terabaikan.


Vano sejak kecil memang tidak menyukai wortel,namun ia pikir bocah dihadapanya ini menyukainya,ternyata mereka memiliki kesamaan dalam hal ini.


Dilihat lihat dari sudut manapun,mereka sama percis.Batinya mulai menerka nerka,apa bocah tampan ini adalah anaknya.


Dilihat dari sudut manapun dirumah ini,netra jelaganya tak pernah menangkap fhoto pernikahan sedikit pun.


"Hallo!"


"...."


"X,tolong selidiki tentang tes DNA dari sampel yang saya kirimkan!" Titahnya diujung sambunganya.


"..."


"Saya igin hasilnya secepat mungkin."


Putusnya diakhir sambungan.


Ia baru saja mengambil sebuah sampel,dari rambut bocah yang mencuri perhatianya tersebut.


"Hm....nama lengkap kamu siapa sayang?" Tanya Vano penasaran.


Pasalnya yang ia tahu bocah kisaran tiga tahun ini selalu menyebut dirinya dengan 'Anzar'.


"Nama Aku Keevanzal Ladityan Alfaruq!"


Katanya cadel.


Walaupun belum fasih melafadzkan huruf R,namun ia bisa mendengar jelas nama Radityan tersemat ditengah tengah namanya.


Ya,bocah tampan bernama Keevanzar Radityan Alfaruq (Artinya : Putra Radityan yang tampan, penyayang,menyukai keindahan dan pandai) itu sempat membuat otak Vano pusing dibuatnya.


Mungkin Jika Kia tidak mengalami keguguran,anaknya itu pasti sudah sebesar Anzar.


'Apa dia itu......putraku?' Batinya bingung.


Namun,ketika tengah asik dengan pikiranya,sebuah jeritan histeris membuat Vano terjonjak kaget.


BRAK


"ArKia,ada apa?"


Manik hitam jelaga itu terbelalak saat membuka pintu kamar yang semalam ia tempati.Hatinya nyeri melihat kenyataan yang terjadi pada wanitanya,karena ulah dirinya.


"Ki....kamu kenapa?" Ujar suara bass tersebut,terkejut atas keadaan kembaranya ketika datang menerobos masuk.


"AHHK.....PERGI....PERGI....AKU BENCI KAMU!! PERGI......" Teriak wanita yang masih menangis histeris tersebut.


"Ki,ini aku....Ezka!"


"PERGI,AKU BENCI KAMU!"


BRUK


"Arkia!"


"Ki!"


Ucap keduanya bersamaan,terkejut.


TBC


@@@


Cukup?? Apa masih perlu lanjut???


Penasaran??


Cung yang setuju kalau vano itu bodoh??


O'on?? atau Egois??


Mangga dikomentar ya semua,ditunggu komentarnya.


Terimakasih untuk para readers yang sudah setia menunggu up dan sundah memberiku banyak support.Aku bisa sampai sejauh ini karena support kalian semua😊😊


TERIMAKASIH READERS❤


Kalian adalah suntikan semangat untukku.


Sampai jumpa lagi ya,dipart berikutnya.


Jangan lupa vote💯komen💬like👍dan share⛖

__ADS_1


Sukabumi 10/12/19


15.42


__ADS_2