
'Kamu menitipkan seorang putri kepadakua.Yang ternyata dia adalah putri selama ini yang kucari keberadaanya.'
~Dimas Barack Alhaidan~
"Kamu duduk disini ya sayang,pakai dulu seatbell-nya!!" Ucap pria tampan bersnelli dokter tersebut.
"Di....ddi...di..."
Celoteh bayi cantik berusia sembilan bulan tersebut.
"Iya sayang,ini ayah didi."
Jawabnya sambil memasangkan seathbelt nya sendiri.
Ini adalah rutinitas Seorang Dimas Barack Alhaidan yang baru dipagi hari.
Menyiapkan sang putri yang akan dibawanya bekerja bersamanya.
Bayi cantik bermanik hazel itu berceloteh riang sambil tersenyum kearah sang ayah,yang tengah sibuk mengemudi.
"Ddi....dzii...di..." Celotehnya riang.
Dimas tersenyum,hatinya menghangat kala melihat putri tercintanya itu begitu bersemangat.Walaupun didalam tubuh mungilnya,ada penyakit ganas yang bersarang.
Terkadang rasa takut menyelimuti hati pria berusia 25 tahun tersebut.Ia takut suatu saat nanti putrinya itu akan dibawa pergi karena penyakit ganas yang bersarang ditubuhnya.
Dimas tidak rela,Aurra adalah hidupnya,semangatnya,napasnya.
Bagaimanapun caranya,dia akan terus mencoba yang terbaik untuk pengobatan sang putri.
"Dek Aurra....aduh cantiknya."
"Iya.Ihh...cantik banget sih kamu,ngegemesin tau gak!"
Riuh para perawat yang selalu berebut untuk merawat putri singel daddy tampan satu ini.Ya,Dimas dan Aurrin sempat menikah waktu itu.Sehari saat hendak melahirkan,Dimas menikahi Aurrin agar putrinya ini lahir dengan status yang halal dimata agama dan negara.
Berapa pun banyaknya cibiran orang,Dimas tetap menikahi Aurrin karena semua ini ia lakukan untuk putrinya.Ternyata Aurrin telah memikirkanya dari jauh jauh hari,agar putrinya tidak menjadi bahan bullyan dimasa depan,maka ia meminta Dimas untuk menikahinya.
Walaupun itu hanya sekedar pormalitas.
"Aduhh...ngemesin deh kamu sayang!"
"Iya,pagi pagi udah cantik ama wangi.
Udah siap nemenin ayah kerja ya?"
Pria tampan itu tersenyum kecil sambil memegang dorongan stoller sang putri.
Putri kecilnya ini memang selalu saja menjadi seleb,ketika ikut kerumah sakit bersamanya.
"Di...dzi...diii...." Celoteh Aurra sambil tetsenyum manis.
"Yaampun manisnya...."
"Iya ya-Allah,cantik banget kamu tuh."
Riuh para suster sambil sesekali mencium dan mencubit gemas pipi Aurrin.
"Permisi,saya harus pergi bekerja sekarang."
Ucap Dimas lembut yang langsung diangguki oleh para suster yang selalu mencegatnya itu.
"Silahkan dokter dimas."
"Dadah Aurra..."
"Bye....sayang..."
Bagi Dimas membawa Aurra bekerja bersamanya,membawa kesenangan sendiri untuknya.Celotehan kecilnya seakan akan memberi suplay tenaga saat ia merasa letih.
Aurra adalah penyemangatnya.
Aurra adalah tujuan dibalik kerja kerasnya.
"Aurra tunggu disini ya,didi mau periksa pasien Didi dulu!"
Ucapnya lembut sambil mencium pipi gembul sang putri.
"Di...dzi...dii"
Celoteh Aurra sambil merentangkan tanganya,meminta agar sang ayah mau menggendongnya.
"No,sayang.Didi harus kerja,supaya didi dapat uang buat beli kebutuhan Aurra.Aurra yang baik ya,jangan rewel sayang.Didi harus kerja sekarang."
Katanya kembali berucap lembut.
Entah mengapa ada perasaan tak tega untuk menigalkan putrinya kali ini,namun apa boleh buat.Profesionalitas menuntut Dimas untuk meninggalkan sang putri.
Walaupun diusianya kini Aurra belum mengerti apa yang diucapkan oleh Dimas,namun bocah kecil itu seakan mengerti ucapan sang ayah.Kemudian tawa kecilnya mengudara,mengisyaratkan bahwa ia tidak akan merengek lagi.
"Anak pintar.Nanti Aurra sama suster Risa dulu ya."
Selama bekerja,Dimas memang kerap menitipkan putrinya itu pada Risa.
Seorang perawat yang dulu juga berteman sejak SMA denganya,oleh karena itu Dimas mempercayakan Aurra pada Risa.
Oeekk
Oeekk
"Ehh....kamu kenapa sayang?"
__ADS_1
Lirih wanita cantik berseragam suster tersebut saat mendengan baby Aurra menangis dengan kencangnya.
"Aurra haus ya? Kalau gitu tante buatin susu dulu ya."
Ucapnya lembut,setelah berhasil menenangkan bayi cantik bermata hazel tersebut.
Tak lama setelah kepergian Risa,pintu ruangan kerja Dimas terbuka dan menampilkan dua orang pria yang masuk tanpa diundang.
"Loe yakin ini bayinya?"
Tanya pria berkepala plontos tersebut.
"Iya ini,gue gak salah kok.Orang tadi disana tertulis Dr.Dimas Barack Alhaidan."
Ucap pria satu lagi,sambil melirik plang yang terpasang diatas pintu masuk tersebut.
"Yaudah,berarti bocah ini yang siboss maksud!"
"Ho'oh,yaudah yuk bawa aja!"
Timpal sipria berambut jabrik tersebut.
"Dasar o'on siijot mana? Dia kan yang bagian bawa nih bayi.Masa iya kita yang bawa,nanti ketahuan ******!" Sela sipria plontos.
"Mana bayinya?" Sela seorang wanita yang datang dengan stroller bayi tersebut.
"Lama bener!" Sijabrik angkat bicara.
"Biasa,harus cari properti dulu!!"
Cengenges siwanita yang baru tiba tersebut.
"CCTV udah aman?"
"Udah beres,si-X ada diruang kendali."
"Kalo parkiran?"
"Tenang,Si-G ada disana."lanjut siwanita.
"Bagus.Sekarang waktunya kita beraksi.
Setengah jam lagi pesawat kita lepas landas."
"OK"
"Dedek bayi yang cantik,ikut tante dulu yuk!"
"Di...dzi...dzi...."
"Iya,yuk ikut tante."
###
"AURRA.....AURRA....dimana kamu sayang?"
Ketika kembali dari pantri untuk membuat susu untuk Aurra,bayi mungil itu sudah tidak ada distoller bayinya.
"Ya Allah,Aurra kemana ya? Gak mungkin dia pergi sendiri kan?" Gumamnya cemas.
Ia memang tadi teledor meninggalkan Aurra sendirian.Karena air galon didispenser sudah habis,wanita itu berinisiatif untuk mengambil air panas dipantry.Ketika pulang pulang,stoller bayi Aurra sudah kosong melongpong.
"AURRA....AURRA...." Panggil Risa cemas.
"Suster Ani,tadi lihat orang yang bawa bayi Aurra tidak?" Tanyanya pada rekan sejawatnya.
"Bayi Aurra? Saya tidak lihat suster Risa.
Memangnya dedek Aurra kemana?"
"Aurra hilang!" Tutur Risa cemas.
"Hi-hilang? Bagaimana bisa?"
"Sa-saya juga tidak tahu suster Ani,pas saya sedang membuat susu buat Aurra,pas saya pulang lagi dia sudah tidak ada."
Jelas Risa mulai terisak ditengah kecemasanya.
Kabar hilangya bayi putri pria terpopuler si Rumah sakit Gelora Bandung itu membuat gempar seisi rumah sakit.Terlebih lagi sikecil Aurra yang sudah menjadi selebritis dirumah sakit itu,membuat banyak orang cemas dan sedih akan kehilanganya.
"Dimana putri saya Aurra?"
Tanya pria bersuara bass yang terdengar amat khawatir tersebut.
"A-aurra hilang dokter dimas."
Lirih Risa yang merasa bersalah atas hilangya Aurra.
"Hilang,bagaimana Aurra bisa hilang perawat Risa?"
Tanyanya intens.
"Tadi saat saya tinggal membuat susu kepantry,Aurra sudah tidak ada saat saya kembali.Maaf dokter Dimas,saya ceroboh menjaga Putri anda."
Lemas Risa sambil menunduk.
Dimas menghela napasnya kasar.
Ini sudah lebih dari satu jam semenjak putrinya hilang.
"Arrgg....kamu kemana bayang?"
Batinya frustasi.
__ADS_1
Dia sudah melihat camera CCTV namun nihil,karena semua camera CCTV ditempat kejadian telah dinonaktifkan.
Ia ingin melaporkan kepihak yang berwajib tentang penculikan ini,namun ini belum 24 jam setelah kehilangan sang putri.
'Ya Allah,tolong jaga putri kecilku dimanapun ia berada.'
Doanya dalam hati penuh harap.
Derrt
Derrt
Fokus Dimas kini teralih,kepada handphonenya yang baru saja bergetar.
Dilihatnya nomer privat yang tertera dilayar handphonenya.
'Mungkin ada seseorang yang menemukan Aurra?'
Batinya sumringah.
"Hallo"
'Hallo Dokter Dimas Barack Alhaidan?'
Sapa suara bariton berat dari sebrang sana.
"S-siapa ini?"
Tanya Dimas to the point.
'Anda tidak mengenali suara saya dokter.Kalau suara ini,anda pasti mengenalinya.'
'Dzi....di....dzi...'
Deg
"A-Aurra....Aurra....ini ayah Didi sayang?" Panggil Diimas tak kuasa menahan kekhawatiranya.
'Kamu hafal sekali suara putri saya ya!' Kata pria disebrang sana,mencibir.
"Putri anda? Dia putri saya.Aurra putri saya tuan!" Kekeuh Dimas pada pendirianya.
'Sejak kapan dia jadi jadi putri kamu.Karena saya dia lahir didunia ini,tentu saja saya adalah ayahnya.Bukan Anda!'
"Saya ayah kandung Aurra tuan Keevano!"
Akhirnya Dimas tahu siapa penelpon tak bernama ini.Dia keevano Radityan Khutbi,pria yang tengah mengklaim putrinya sebagai miliknya.
'Dia putri saya.Dia lahir dari rahim wanita yang pernah menjadi istri saya.Apa saya perlu katakan dulu kami sering melakukanya tiap malam sebelum menikah.' Tutur pria disebrang sana,mencibir.
"Tidak.Aurra putri saja.Jauh sebelum dia kembali keindonesia,kami pernah melewatkan malam bersama diJerman.
Dan....."
Jeda sebentar dikalimat Dimas.
"......Saya adalah pria pertama untuknya."
Deg
"...."
Hening sejenak,dapat Dimas predikasi jika pria disebrang sana itu pasti tengah terkejut.
"Aurra adalah putri saya.Sehari setelah malam itu dia menghilang,dan ternyata dia kembali ke-Indonesia untuk bertemu dengan anda."ucap Dimas meyakinkan.
"...."
Hening kembali.
"Tuan?" Panggil Dimas.
'Kamu punya waktu dua jam untuk datang kesini untuk menjelaskan semuanya.Setelah itu saya akan mempertimbangkan semuanya!' Ucap pria bersuara bariton ìtu final.
"Saya-"
Tut.......Tut.......Tut
'Arrg.....Aurra....tunggu ayah disana sayang.Ayah Didi akan menyelamatkan kamu sayang!'
Batin di Dimas dalam hati.
Derrt
JL.XXX.09.BLOK.03XX.SINGAPURA.
PUKUL : 20.30 MALAM.
TERLAMBAT SEDIKIT SAJA,JANGAN HARAP KAMU BISA MENEMUI AURRA.
TBC
@@@
Huh.....Gimana semua??
Ayah Didi kira kira bisa nyelamatin Aurra gak??
Apa Aurra malah dibawa Keevano pergi??
Jangan lupa komen tentang masukan kalian ya😊
yang punya aplikasi noveltoon bisa vote pakain poin.Tinggal update versi saja.
__ADS_1
Sukabumi 05/12/19
19.37