
'Aku sudah merasakan semua kepahitan dalam hidup.Dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia'
-Ali bin Abi Thalib-
Semilir angin pagi menyapa seorang pria yang tengah bersantai digazebo rumah salah satu sahabatnya.Disela sela jemarinya tersemat sekuntung rokok yang masih mengepul.Sudah sedari tadi ia duduk sendiri disini,menikmati pemandangan sunrise yang terbit dari perbukitan yang tampak jelas terlihat dari gazebo tempatnya duduk.
Ia kembali menghisap tembakau kering tersebut.Padahal sudah lebih dari 4 tahun ia berhenti merokok,namun entah kenapa akhir akhir ini ia kembali kepada kebiasaan lamanya tersebut.
Buruknya sedang mood saat ini,maka tak ayal jika seorang pria yang notabenenya pria dewasa nan baik ini kembali ketitik titik terlemah dalam hidupnya.
Bara Pradipta,pria tampan itu kini tengah dalam keadaan yang tidak bisa dikatakan baik baik saja.Pria yang berprofesi sebagai lawyer ini tengah berada dalam titik terendah dalam hidupnya,lagi.Setelah penolakan keras terhadap keseriusanya minggu lalu,Bara memang sempat down saat itu.Namun ia kembali bangkit dengan tekad membara agar ia dapat memiliki gadisnya seutuhnya.
Namun kenyataan pahit harus kembali ia rasakan.Tepatnya saat orang kepercayaan ayahnya datang keunitnya,untuk menyampaikan perjodohanya dengan salah satu sahabat karibnya telah disetujui.
Karena campur tangan sang ayah pula,Bara harus kembali ketanah air.
Berhasil lolos dari kurungan sang ayah,Bara sempat lari ke puncak,tempat dimana beberapa sahabat sesama lawyer-nya bermukim disana.Dan,disinilah dia.
Menikmati indahnya mentari pagi,dari salah satu rumah sahabatnya-Anwar Rekashwari.
Teman sejawatnya sesema lawyer.
Untuk sejenak Bara ingin melupakan segalanya.Segala sesuatu yang membuat kepalanya pening,yang membuat hatinya bimbang.
Belum selesai masalah asmaranya dengan gadis manis bermanik emerald,kini Bara sudah dibuat pening dengan permintaan kedua orang tuanya yang ingin menjodohkan dirinya dengan putri rekanya.
Memangya ini zaman siti nurbaya? Ini sudah 2k19.Ingin sekali rasanya Bara berkata demikian.
Namun apalah daya,dia adalah sosok anak yang tak tegaan terhadap orag tua.Terutama sang bunda.Namun,apakah kali ini Bara harus merelakan kebahagianya demi kebahagiaan kedua orang tuanya?
Haruskah??
Ahhk,Bara bingung jadinya!
"Bro,kamu ngerokok lagi?" Teguran harus itu berasal dari pria berkumis tipis yang menggendong bayi mugil berusia 2 bulan dalam dekapanya.
"Matiin gih rokoknya,kasihan Rana!"
Lirihnya sambil melirik putrinya yang tengah menggeliat dari tidurnya.
Bara mengangguk kecil,lalu mematikan rokok yang sudah setengahnya terbakar tersebut.
"Masalahnya pasti seriusan ya,sampai sampai yang sudah berhenti ngerokok dari empat tahun lalu kambuh lagi!"
Kekehnya kecil.
"Hm,sampe gila aku rasanya war!"
Sahut Bara kecil.
Jemarinya terangkat,hendak mengelus pipi bulat bayi perempuan tersebut.Namun terlebih dahulu ditepis oleh si-empunya bayi.
"Hustt....tangan kamu habis pegang rokok,gak baik buat Rana.Cuci tangan dulu kalau mau pegang!" Kata Anwar mewanti wanti.
Bara tersenyum kecil,pria yang sudah menjadi ayah dua anak ini memang jauh lebih dewasa dari usianya sekarang.Anwar memang juniornya difakultas dulu,mereka terpaut satu tahun.Namun perbeďaan usia tersebut tak lantas membuat kedewasaan tertunda pula.
Terkadang Bara salut pada sosok Anwar.Dia pria yang berani ambil resiko.Ia juga tahu jerih payahnya pria berkulit sawo matang ini untuk mempèrsunting Rara-sang istri.
Bahkan,jika dipikir pikir perjalanan asmara Bara tak seberat Anwar,namun serumit simpul pionering dalam gerakan pramuka.
"Masih soal perjodohan itu Bar?"
"Hm"
"Kamu sebenarnya berat karena gadis yang niat kamu lamar,apa berat karena belum bisa move on dari Kia?"
Tanya Anwar to the point.
Bara mengalihkan pandanganya sejenak.Mendengar nama 'Kia' diucapkan,gomong ngomong kemana perginya debaran aneh saat melantunkan nama gadis berhijab tersebut?
Sudah menghilangkah?
Mungkin benar,Bara sudah mulai move on dan mulai membuka hatinya untuk perempuan lain.
"Ini soal Baby!"
Lirihnya menerawang.
Rindu.
Itulah satu kata yang mampu ia gambarkan saat ini.Karena jarak,ruang dan waktu yang memisahkan,bahkan kedua belah pihak dari kelarga masing masing juga saling memisahkan.Rumitnya takdir,terkadang bara berpikir seperti itu.
"Owalah,dipanggilnya sampai 'Baby' gitu mas,cinta mati ya mas sama si-mbak nya?"
Goda Anwar sambil tersenyum mengelitik.
"Namanya memang Baby.Babyanza La~Susan Luthears!" Tutur menjabarkan.
"Owhh....kukira panggilan sayang.Tapi namanya mirip lawyer senior internasional itu lohh....hm,siapa ya namanya? Luthears gitu sih!" Ungkap Anwar.
Bara tak peduli,masa bodo dengan nama mereka yang sama.Bagi Bara yang penting saat ini adalah membawa Baby-nya kesisinya.
"Memangya om Bram mau jodohin kamu sama siapa bar?"
"Anak dari sahabat karibnya papa!"
Kata Bara sendu.
"Terus kamu terima?"
Anwar kembali bertanya.
"Aku bingung war.Disatu sisi aku gak mau papa sama mama kecewa,disisi lain aku gak mau lepasih Baby!"
Anwar terdiam sejenak,ia mengerti alur permasalahanya disini.
"Kamu sudah dewasa Bar,aku yakin kamu bisa mengambil keputusan yang sekiranya baik untuk semuanya."
Ucap Anwar sambil menepuk bahu sang sahabat.
'Ya,aku tahu itu.Namun aku tetap saja kebingungan disini!' Batin Bara meremang.
"Bar,saya cuma mau mengingatkan,orang tua itu ada diatas segalanya.Allah saja tahu,betapa mulia hambanya yang memuliakan kedua orang tuanya.Wanita itu adalah rusuknya seorang pria.Ingat saja janji Allah,setiap manusia diciptakan berpasang pasangan."jeda sejenak.
"Jika gadis itu memang tulang rusuk yang Allah siapkan untukmu,pasti kalian akan bersatu.Jodoh pasti tak akan kemana!" Lanjut Anwar sebelum menepuk baha Bara untuk kedua kalinya,lalu berlalu sambil membawa sang putri yang sudah merengek.
__ADS_1
'Jodoh pasti tak akan kemana?'
🚗🚗🚗
Setelah bermalam selama tiga malam dirumah Anwar,Bara pamit kepada sang sahabat untuk kembali ke Bandung.
"Woke,hati hati dijalan bung!"
Ucap Anwar sambil merangkul pelan bahu sang sahabat.
Dari sampinya Rara-sang istri masih setia dengan senyumanya kala melihat interaksi keduanya.
"Pokoknya kalau ada apa apa keBogor aja,pintu rumah kami selalu terbuka untuk orang yang lagi galau seperti dirimu!"
Kata Anwar sambil terkekeh.
"Ck,iya insaallah!"
Jawab Bara pelan.
"Kalau gita aku berangkat dulu ya war,keburu kemalam nanti!"lanjut bara.
"Iya.Hati hati dijalan!"
"Siap boss!"
Jawab Bara jenaka.Lalu pandanganya beralih kepada Rara yang siapa sangka dulu juniornya di SMA,dan siapa sangka pula istri sahabatnya itu dulu pernah menembak seorang Bara Pradipta yang notabenenya adalah moswanted ter-haneut (hangat) seantero SMA-nya.
"Bole saya cium nih Rana nya?"
Tanya Bara pelan,ia memang suka melihat anak kecil.Apalagi jika anaknya nanti,bakal habis diciuminya nanti.
"***-"
Ucap Rara yang terpotong oleh suara Anwar.
"Ngak ngeroko kan tadi?"
Bara menggeleng pelan,lalu Anwar mengisyaratkan untuk persetujuanya.
Cup
"Gemes ya-Rabb!"
Ucap Bara pelan.
"Makanya cepet nikah,jadi cepet punya debay juga!" Sindir Anwar yang langsung diangguki persetujuan dari sang istri.
Tiga hari saja cukup membuat isi kepala Bara lebih baik.Belum lagi keadaan dipuncak tempat tinggal sahabatnya itu masih asri,membuat siapun betah tinggal disana.
Setiap bangun pagi Bara sudah dihadiahi dengan sejuknya embun pagi dan sunrise yang nampak cantik tepat dari gazebo rumah minimalis bertingkat dua tersebut.
Sepertinya Bara melarikan diri ketempat yang benar kali ini.Ketenangan yang didamba dambanya akhirnya didapatkan,plus pula dengan pikiranya yang lebih dingin sekarang.Setidaknya Bara juga tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
Ia tak akan pasrah lagi pada keadaan,setidaknya kali ini Bara harus berjuang untuk kedua kalinya kali ini.
Semua itu harus ia lakukan,setidaknya jika ia berusaha tidak akan ada yang terbuang percuma saja suatu saat nanti.
Setibanya diBandung,Bara langsung menghadap kepada kedua orang tuanya.
Deg
Kakinya terpaku seketika ditempat,ketika manik coklat madunya menangkap banyaknya orang diruang tengah keluarganya.
"Ada apa ini?"
Ia juga baru menyadari,jika ada bendera berwarna kramat berkibar tepat didepan berbang besar rumahnya.
'Siapa yang meninggal?'
Batinya menerka nerka,padahal dirumah besar mirip mansion itu,hanya ditinggali oleh kedua orang tuanya dan para pembantunya.
"Den,owalah....aden pulang juga?"
Sapa seorang wanita baya yang begitu familiar dimatanya.
"Mbok nem,i-ini siapa yang meninggal?"
Tanya Bara terbata bata.
"Yang sabar ya den,nyonya besar sudah dipanggil sama Allah subhahu'wataala!"
Deg
Dunia Bara seakan runtuh seketika,setiap poros dalam sendi sendinya terasa melunak seketika.Tubuh tegapnya luruh kelantai,bersimpuh sambil berderaian air mata.
"Den,den Bara bangun den!"
Wanita baya itu buru buru membantu sang putra majikanya untuk berdiri.
Ia tahu betapa terpukulnya tuan mudanya ini.Mengingat Bara sangat menyayangi Ranti-sang mama.
"Mah...."
Lirih Bara.
Dengan langkah gontai,pria tampan tersebut membelah kerumunan orang disana.
Berjalan sempoyongan dengan air mata yang sudah luruh tak karuan.Tubuhnya jatuh terduduk disamping jenazah yang sudah ditutupi oleh kain kapan dan kain jarit (batik) tersebut.
"Mam...."
Dengan tangan gemetar,pria muda itu membuka penutup yang menutupi wajah jenazah orang yang amat disayanginya tersebut.
Deg
"Mah,maafin Bara mah.Maafin Bara yang gak bisa ada disamping mama kemarin!"
Pertahana seorang lawyer muda,Bara Pradipta runtuh seketika kala manik coklatnya menemukan tubuh mama tercintanya yang sudah terbujur kaku tersebut.
"Mah,maafin Bara yang belum bisa jadi anak yang membanģgakan buat mama! Bara menyesal ma,Bara belum mau mama pergi!"
Sungguh Bara tak menyangka akan secepat ini sang mamah dipanggil menghadap sang pencipta.Padahal tiga hari lalu ketika ia pergi dari rumah,wanita tersebut masih segar bugar.Namun siapa yàng tahu,Rizki,usia dan jodoh adalah rahasia tuhan.
Begitupun dengan Ranti Riana Pradipta mama Bara yang menutup usianya diusia 50 tahun.Sungguh tiada yang menyangka,wanita yang sehari harinya bekerja sebagai pemilik 8 restoran tempat makan itu meninggal setelah menunaikan shalat isya.
__ADS_1
Dokter mengatakan,Ranti meninggal karena adanya pecah pembuluh darah diotak yang mengakibatkan nyawanya melayang karena terlambat ditangani.
Namun yang menjadi penysalan bagi Bara adalah dia yang mengabaikan firasat yang datang melalui mimpinya kemarin malam.
Dalam mimpinya,sang mama berdiri dibawah pohon rindang memakai kebaya putih dan khimar putih dengan kain batik sebagai roknya.Disana sang mama terlihat tersenyum kecil kepada Bara,lalu berajak tanpa mengatakan sepatah katapun.
Mamanya hilang dengan bau harum semerbak yang membawanya pergi.Itu juga yang menjadi alasan Bara pulang lebih awal dari Bogor,namun ketika dalam perjalanan ia pikir mimpi tersebut hanyalah bunga tidur saja.
Kini disinilah pria tampan tersebut,berdiri menghantarkan sang mama keperistirahatan terakhirnya.Diantarkan oleh kalimat tauhid.Dibarisan pembawa tandu jenazah ada sang ayah-Bram dan paman Bara adik dari sang mama.Dibelakangya ada Bara dan om herland adik tiri sang mama.
"Laa ilaaha illallah”
"Laa ilaaha illallah”
"Laa ilaaha illallah*”
Sepanjang jalan menuju pemakanan,kalimat tauhid itu turus dilantunkan.Menandakan jika salah satu daru umat rasulullah telah berpulang kesisi sang penciptanya.
Air mata Bara kembali menggenangi kelopak matanya,kala mendengar sang ayah melantunkan tiap kalimat demi kalimat adzan untuk menghantarkan jenazah sang istri keperistirahata terakhirnya.
Bara bukanya cengeng,namun ia merasa dijatuhi ribuan ton penyesalan karena tidak dapat berada disisi sang mamah ketika ia menghembuskan napas terakhirnya.
Air mata itu kembali hendak luruh ketika ia berjongkok didepan gundukan tanah merah basah yang baru saja ditaburi bunga bungaan tersebut.
Ribuan kalimat maaf sudah tak dapat ada artinya lagi.Penyesalan itu kini benar benar menggerogoti tiap relung hatinya.Satu persatu orang mulai meninggalkan area pemalaman,namun ia belum juga bergiat untuk beranjak dari tempat kini.
Pluk
Hingga sebuah tepukañ cukup keras mengumbulkan kesadaranya.Dilihatnya sang papa yang berdiri tegap disampingnya,pria baya berkoko putih tersebut terlihat tegar.
Tak ada sebutir air mata pun yang menetes dari matanya,namun Bara yakin betapa hancurnya hati sang papa ketika ditinggal sang belahan jiwa.
"Mamah tidak akan sedih jika kamu terus seperti ini.Come on,putra papa harus tegar!" Ucapnya sambil tersenyum kecil.
"Ikhlaskan mama,mama jauh lebih bahagia disisi Allah!" Lanjutnya.
Kini air mata Bara benar benar luruh.
Luruh sejadi jàdinya,ketika melihat ketegaran dimata sang papa.Barama-pria tengahan abad itu beranjak,meluk sang putra agar dapat lebih tenang.
Ia tahu putranya sedih karena kehilangan,iajuga sama.Ia sedih karena kehilangan istri tercintanya,namun ia tetap berusaha tegar.Karena kematian pasti akan datang menghampiri setiap manusia.
"Sayang lihatlah,putra kita yang sudah dewasa ini menangisi kepergianmu!"
Gumamnya lirih,sambil menatap gundukan tanan basah yang menjadi tempat peristirahatan terakhir sang istri.
'Selamat jalan istriku,pergilah dengan tenang.Aku dan putra kita mengikhlaskan kepergianmu.Dan ingat satu hal,tidak ada seorangpun yang dapat menggantikan posisimu dihati kamu berdua.!'
Batinya dalam hati,mengilhklaskan.
"Kita pulang nak!"
Awan kelabu itu masih belum berlalu hingga ketujuh harinya,meninggalnya sang mama.
Selepas tahlilah ketujuh hari wafatnya Ranti,Bara kini kembali menghadap sang ayah.
Ia telah mebulatkan tekadnya,memasrahkan segalanya kepada sang pencipta.
"Pa!"
Panggilnya lirih kepada pria baya berkoko coklat dengan peci hitam tersebut.
"Bara sudah yakin dengan keputusan Bara.Bara akan terima perjodohan itu!"
Ucapnya to the point.
Pria baya itu mengulum senyumnya senang,juga lega.Lalu ia beranjak memeluk bahu sang putra.
"Alhamdulillah,mama juga pasti senang disana!"
Bara kini membalas pelukan sang papa.Ia sudah membulatkan tekadnya,menerima dengan ikhlas perjodohan yang telah dipersiapkan oleh orang tuanya.
'Bismillah,saya ikhlas menjalani sumua ini ya-Allah.Jika pun dìa adalah jodoh saya,pasti engkau mendekatkanya.'
TBC
🚩🚩🚩
Huaahhh😄😄
Ada yang makin cinta sama Bara??
Baper??
Sediihhh??
Nyesekk??
Kasihan??
Apa B aja??
Monggo dijawab untuk kolom komentar dipart ini ya😊😊
**Terimakasih untuk para readers yang setia menunggu update😙😙
Aku senang waktu luang dihari libur akhir tahunku diisi dengan menyapa kalian🤗🤗
Berhubung jika PRAKERIN nanti aku sibuk kerja,jd insaallah aku banyakin up sekarang.
Mohon doanya juga untuk kelancaranku PRAKERIN/PKL dan mohon bantuanya juga agar aku bisa masuk kedaftar pemenang lomba nulis novel nasional antar pelajar😊😊.Lombanya ditutup tanggal 31 desember nanti.
Semua pencapaiku ini,tak ada apa apanya tanpa dukungan kalian semua readers🤗🤗
Jadi mohon bantuan dukunganya ya🖑🖑
Jika ada yang mau tanya tanya,mangga ke akun aku @Karisma0222 atau FB Karisma Yknp/ FB NKarisma.
Silahkan,ditunggu yaa🤗🤗**
Ok,sampai jumpa lagi dipart berikutnya.
Sukabumi 28/12/19
13.57
__ADS_1