
“Cinta itu keikhlasan. Tak ada paksaan ataupun rasa pelampiasan,” – Bacharuddin Jusuf Habibie.
Hidup menyendiri itu bukan sebuah keinginan,namun sebuah pilihan.
Pilihan dimana kita memilih untuk hidup mengarungi dan menerjang segalanya sendiri,tanpa ada peranan siapun disisi kita.
Sendiri itu pilihan yang real diinginkan hati yang memang notabene-nya lebih nyaman sendiri.
Bukan soal bisa atau tidaknya mencari penggantinya dengan yang baru,namun ini menyangkut rasa nyaman dan sebuah kepercayaan dengan tanggung jawab.
Ini bukan tentang satu hati,namun dua hati dua jiwa.
Sulit baginya untuk mencari sosok ibu yang tepat untuk sang putri.Percuma rasanya,jika wanita yang memenuhi kriterianya tak dapat memenangkan hati putri kecilnya.
4,5 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk Dimas.
Dalam kurun waktu tersebut,hatinya diuji dengan berbagai pilihan.Bukannya ia mencari yang sempurna difisik,melainkan sempurna dari segi agama dan segi keibuan.
Karena percuma sempurna difisik,hanya nampak tuk ditatap,bukan untuk menetap.
Menikah itu seperti mengendarai kano.
Sedikit saja kehilangan keseimbangan,sipengguna bisa terjatuh.Begitu pula jika salah mengayuh,maka kano yang kita tumpangi akan tumbang.
Menikah itu butuh dua orang yang sama sama solid,bukan yang tergantung satu sama lain pada pasanganya,bukan pula mencari yang sempurna untuk menutupi kekurangan kita.
Begitu pula dengan pertimbangan demi pertimbangan yang selalu direnungkan pria tampan bermanik coklat satu ini.
Kebiasaanya yang selalu sendiri,terkadang mengisi relung hatinya akan pikiran 'segalanya' bisa dilakukan oleh sendiri.
Ketika getaran hati yang sempat tertidur lebih dari 4.5 tahun itu kembali terasa,lalu apakah yang akan dilakukan duda tampan beranak satu tersebut.
"Dii....tante ntikk mana?"
"Tante ntikk mana di?"
Celotehan mungil balita cantik bermanik hazel itu kembali terdengar,ketika ia terbangun dari tidurnyà.
Sang ayah yang baru saja hendak memberi putrinya makan malaam,dibuat terheran heran dengan rengekan sang putri kala terbangaun dari tidurnya.
"Tante cantik siapa sayang? Ayah didi tidak mengerti?"
Bingung pri yang sudah berkepala tiga tersebut.
"Mamaa di,mama...."
Lirih sang putri dengan manik hazelnya yang muali berkaca kaca.
Pria tampan beriris coklat itu memijit pelipisnya sejenak,semenjak pulang dari acara pernikahan Bara dan Baby tadi,dirinya benar benar dibuat pusing tujuh keliling dengan celotehan sang putri.
"Aulla màu peyuk mamaa yang tadi dii..."
Lirih sang putri dikala isakan pilunyà.
"Aulla pen pelukk mamaa...."
Luruhan air mata yang luruh dari manik putrinya itu,tentu mampu menyayat hati pria yang berprofesi sebagai docter tersebut.Diraihnya tubuh mungil sang putri kedalam dekapanya,sembari memeluknya sayang.
"Cup cup cup.....iya,besok ayah Didi anterin Aurra ke mama ya..."
Lirihnya dengan tatapan sendunya.
Ia buaknya tak tahu,ia tak sebodoh itu menanggàpi permintaan sang putri.Kini Dimas cukup yakin,bahwa putrinya ini tengan mencari perempuan manis yang memiliki sepàsang lesung pipi diwajah orietalnyà.
Wajah cantik khas wanita Asia yang membingkai manis paras ayunyà.
Perempuan pertàma yang berhasil mencuri hati sang putri tetunyà.
Ketika sang putri kecilnya sudah kembali tenang,Dimas kembali berpikir bagaimana caranya untuk memenuhi keinginan sang putri.Ketika sang rembulan sudah menggantung penuh diatas langit pun,pria tampan tersebut masih kebingungan untuk memenuhi keinginan sang putri.
Namun,ketika manik coklat rusanya menangkap figur sesosok wanita cantik yang tersimpan apik didalam bingkai fhoto,ia akhirnya dapat menemukan cara untuk memenuhi permintaan sang putri.
Cup
"Besok kita bertemu mama ya sayang."
Lirihnya pelan setelah mengecup singkat pipi gembul sang putri.
**
Ketika sang fajar mulai meninggi,memberi sejuta sinar kepada tiap tiap penjuru semesta,pria tampan itu benar benar memenuhi perkataanya.
Ia memenuhi janjinya untuk membàwa sang putri kepada wànita yang disebutnyà 'mama ' tersebut.
Diatas gundukan tanah berumput hijau yang lebat tersebut,ia mendudukkan sang putri dipangkuangya yang berada diposisi tengah berjongkok.Sebuah nisàn bertuliskan AURRIN ANASTASYA JAMES terukir dengan huruf kafita disana.
Semerbàk harumnya kelopak bunga yang baru sàja ia taburkàn,mulai menyambut indra penciumanya.Untuk beberapa saat pria yang memakai koko putih plus dengan peci hitam tersebut melantunkan ayat ayat suci al~qur'an untuk memberikàn bekal kiriman kepada almarhumah diatas sana.
"Mamaaa.....mana di?"
Tanya Aurra kecil.
Jemari mungilnya masih dengan teratur memainkan kelopak bunga yang ditaburkan diatas tempat peristirhatan terakhir bundanya.
"Mama ada didalam sayang."
"Didalam? Kenapa maamaa....gak kelual di?"
Tanya Aurra yang muali bawel dengan celotehanyaa.
"Mama lagi bobok didalam sana,makànya Aurrà sama didi disini doain mama supaya tidulnya nyenyak!"
Tutur pria tampan tersebut,sàmbil membelai lembut pucuk kepala sang putri yang tertutup kerudung.
"Gitu ya dzi?"
Dimas tersemyum kecil,melihat kepolosan putri cantiknya tersebut.Dari penuturanya tersebut,ia mulai bisa mendengar putri kecilnya itu berceloteh kecil sekedar menyapa dan bertanya ala balita seusianya.
Inilah cara yang dimaksud Dimas,mempertemukan Aurra dengan ibu kandungnya.Dimas memang hampir lupa,kapan terakhir kali ia mengunjungi makam dari wanita yang pernah berstatus sebagai 'istrinya' tersebut.
Oleh karena itu,ketika Aurra merengek ingin bertemu dengan wanita yang kemarin ditemuinya dalam pernikahan Bara,alih alih mencari tahu keberadaan perempuan tersebut,Dimas lebih memilih untuk mengajak putrinya berta'ziyyah keperisirahatan terakhir bundanya.
"Ra,lihat....putri kita sudah tumbuh besar dan sehat.Dia....punya manik hazel yang sama persis dan cantik seperti milik kamu!" Lirih Dimas,disela sela lamunanya.
"Dia juga kuat dan tangguh,seperti kamu."
Lirihnya kembali.
Entah mengapa,rasa lara itu datang menghampiri kala mengingat betapa rumit kisah asmaranya.Ia sebelumnya memang belum terlalu yakin akan perasaanya,namun seiring dengan berjalanya waktu,rasa itu sempat ada dan menetap untuk wanita yang hanya menyandang status sebagai istrinya barang sehari saja.
Ibarat seperti pengharum ruangan,wujudnya memang tak nampak nyata,namun aromanya melekat kuat meninggalkan jejak.
__ADS_1
Begitupun sosok Aurrin,wanita cantik bermanik hazel yang sempat berhasil mengusik ketangguhan benteng seorang Dimas Barack Alhaidan.Lucu memang,jika perasaan itu hanya disebut simpati.Karena rasa simpati itu sipat alamiah seorang manusia.
Ketika Dimas meyakini adanya rasa yang mulai hadir,tuhan berkehendak yang lain.
Ia mengambil wanita yang kala itu tengah mengandung buah hati mereka.
Yang maha kuasa mengambilnya,memisahkan dirinya dengan Dimas dan putri kecilnya.
Dibalik semua skenario tersebut,Dimas masih meyakini adanya alur bahagia yang masih tersembunyi untuknya,untuk putrinya pula.
Tak mau larut begitu dalam,selepas berta'ziyyah ke makan Aurrin,Dimas memutuskan untuk kembali memboyong keluarga kecilnya untuk kembali kekampung halaman almarhum istrinya.
"Bang,ini Aurra kenapa ya? Kok ruam ruam gini!" Lirih Risma-wanita baya itu terlihat mulai cemas melihat keadaan sang cucu yang sedari tadi merengek.
Gadis mungil berusia 4,5 tahun itu terlihat tak nyaman,tubuh mungilnya terlihat dipenuhi ruam ruam kemerahan,dengan air mata yang mulai mengalir dari manik hazelnya.
"Sakit dii...hiks...hiks..."
Rintihnya sikecil,menyayat hati para penumpang yang menyaksikanya.
Kini,Dimas,Risma dan Aurra memang tengah mengudara menuju tempat tinggal mereka di Jerman.Para penumpang lain mulai menatap penuh tanya kearah mereka.Belum lagi keadaan sang putri yang mulai merintih dalam rengekanya.
Dengan sikap tenangnya,pria tampan berkepala tiga itu mulai meraih putri kecilnya.Ia tahu pasti apa yang tengah dialami putri kecilnya ini.Alergi terhadap kacang kacangan yang diidapnya sejak bayi pasti tengah kambuh saat ini.
Dari kecil,Aurra memang alergi terhadap kacang kacangan.Bukan sejak lahir,namun kisaran usia setahunan mulanya.
Dengan tenang,pria tampan berambut pekat itu menggendong sang putri,mengelus elus punggungnya pelan agar putrinya itu lebih relax.
"Ma,tolong ambilkan tas dokter abang!"
Pintanya pada sang bunda.
Sebagai dokter yang selalu standby,Dimas selalu membawa peralatan kedokteranya secara praktis didalam tasnya.
Bukan apa apa,karena ia selalu berpikir rasional akan adanya bahaya yang selalu mengintai,dimanapun kita berada.
"Ini bang!"
Risma-wanita baya itu terlihat mulai cemas,belum lagi saat melihat keadaan sang cucu yang mulai mengalami sesak napas.
Aritmia.
Dimas hafal betul jika sudah begini putrinya ini akan mengalami aritmia akibat kecemasan yang berlebihan.Alih alih mempedulikan puluhan penumpang lain yang mulai mengerumuninya,sangking penasaranya.Dimas lebih memilih fokus memberikan pertolongan pertama kepada sang putri.
Dengan tenangnya,pria yang berprofesi sebagai dokter umum terbaik disalah satu Rumah Sakit di Jerman itu memulai ritual medisnya.
Kerumunan penumpang yang mulai penasaran itu,tentu membuat para pramugara dan pramugari disana turun tangan.Mereka tahu saat ini Dimas tengah membutuhkan ketenangan untuk berkonsentrasi,sementara mereka hanya menonton,tanpa bisa bisa membantu apa apa.
"Apa dipesawat ini ada ruangan steril yang lebih tenang?" Tanya Dimas mulai bergegas.
"Dipesawat ini ada ruangan khusus untuk pilot dan co-pilot,saya rasa disana lebih tenang.Tapi saya tidak tidak terlalu yakin disana steril!"
Ucap seorang pramugari unjuk bicara.
"Baik,tapi-"
Dimas menjeda sejenak.
Tunggu,tunggu.....suara ini?
Dengan secepat kilat kilat,pria tampan itu mengalihkan pandanganya.Manik coklatnya langsung bertemu pandang dengan manil hitam milik perempuan yang kala itu ia temui dipernikahan Bara dan Baby.
Ini benar,dia perempuan kala itu.
Tak mau ambil pusing,karena bagi Dimas yang terpenting saat ini adalah kondisi sang putri.
"Tunjukan ruanganya kepada saya!"
Titah Dimas sambil berdiri,membawa sang putri dalam pelukanya.
Yang harus dilakukanya saat ini adalah tenang.Dalam merawat sang putri selama ini,Dimas sudah jauh lebih handal mengatur ketenangan dalam dirinya.Karena baginya tergesa gesa dan cemas berlebihan adalah sumber utama kesalahan fatal yang akan membahayakan sipasien.
"Aurra sayang,ini Didi.Tenang ya sayang!"
Lirihnya pelan,sambil menenangkan sang putri.
"Boleh saya minta bantuan nona?"
Tanyanya.
"T-tentu boleh,apa yang dapat saya bantu pak?"
Jawabnya.
Perempuan cantik yang mengenakan seragam pramugari yang melekat apik ditubuhnya itu terlihat gugup.
Mungkin ini pertama kalinya ia melihat kasus seperti itu.
"Tolong bantu gendong putri saya,saya mau memberikan obat kepadanya."
"Ba-baik"
Dengan sedikit ragu,perempuan bermanik hitam itu meraih tubuh Aurra yang sudah mulai lemas karena mengalami Aritmia.
Dipeluknya dengan penuh hati hati tubuh sikecil yang berada dalam pelukanya.Tanpa disadari olehnya,setitik air matanya jatuh membasahi pipi Aurra.
"Sayang,kamu pasti kesakitan ya?"
Lirihnya sambil mengecup sejenak pelipis sikecil,Aurra.
"Kamu bertahan ya sayang,kamu pasti bisa kok.Mama tahu itu!"
Deg
'Apa apaan itu?' Pikir Dimas.
Manik coklatnya seakan akan terkunci sejenak kala melihat interaksi keduanya.
Dengan segenap tekadnya,pria itu kembali fokus kepada sang putri.Dengan perlahan,ia menyuntikkan obat anti Alergen,itu adalah pertolongan pertama yang memang harus dilakukan jika alergi putrinya itu kambuh.
Soal Aritmia yang dialami Aurra,biasanya Dimas akan menenangkan sang putri hingga kondisinya kembali normal.Menangani serta merawat balita yang mengidap kelainan jantung itu membawa tantanga tersendiri baginya.
Dimas tidak tahu,kapan saja dan dimana saja Aritmia atau gejala lainya akan muncul,menyerang sang putri.
Kuncinya adalah sabar.
Bagi Dimas,dalam menghadapi semua itu hanya dibutuhkan sebuah kesabaran,karena ceroboh sedikit saja ia akan salah memberikan penangan dan itu akan berakibat fatal tentunya.
"Sayang,yang tenang ya.....mama ada disini!" Lirih perempuan cantik tersebut,sambil kembali menenangkan Aurra.
Utuk sejenak,Dimas dibuat terpana oleh ketulusan yang tersaji dihadapanya ini.
__ADS_1
Kebanyakan orang orang yang pernah melihat Aurra mengalami Aritmia,hanya merasa penasaran,ketakutan,simpati,tanpa mau mengulurkan tanganya tuk membantu.
Lain dengan perempuan satu ini.
Dengan sukarelanya ia mau mengulurkan tanganya untuk membantu putrinya,bahkan ikut menenangkanya pula.
"Pak,ini putrinya sudah lebih baik atau belum?"
Tanyanya dengan penuh kecemasan.
"Aurra sudah lebih baik,biasanya dia akan tertidur setelah obatnya bekerja."
Ucap Dimas sambil kembali membenahi peralatanya.
"Maaf sudah merepotkan nona,sekarang keadaan Aurra sudah lebih baik.Sebaiknya sekarang nona-"
"Apa boleh saya memeluk Aurra lebih lama lagi?" Sela perempuan tersebut.
"Tunggu,tapi-"
"Saya janji tidak akan membuat Aurra terganggu!"
Pintanya.
"Baiklah"
Jawab Dimas akhirnya.
Dengan senyuman yang membentuk lesung pipi dikedua sudutnya,perempuan itu kembali memeluk Aurra kecil penuh kasih.
30 menit lamanya,akhirnya Dimas keluar dari ruangan tersebut.Hadirnya dirinya disambut dengan hembusan napas penuh kelegaan.Setelah Aurra mencekam yang sempat melingkupi atmosfir kabin pesawat bussines class tersebut,kini semuanya kembali seperti semula.
Banyak dari mereka yang memberi Dimas support dan semangat untuk merawat putrinya.Ada pula yang mendoakan yang terbaik untuk ķesehatan sang putri.
Risma-wanita baya itu juga langsung mengucapkan terimakasih banyak kepada pramugari yang tadi ikut serta membantu putrinya.
Tepat pukul 22.00 waktu setempat,mereka sampai dibandara munic internasional.
Keadaan Aurra pun kini sudah jauh lebih baik.Setelah sampai nanti,Dimas tentunya akan langsung membawa sang putri untuk chakup ke Rumah sakit.
"Pramugari tadi baik ya bang,udah cantik,ramah lagi!"
Komentar sang bunda.
"Hm"
Entah sejak kapan tepatnya,namun sejak keluar dari pesawat tadi Risma hanya membicarakan topik itu itu saja,Dimas sampai bosan rasanya.
"Dia orang indo kan? Kelihatan banget ramahnya.Apalagi kalau lagi senyum gitu,manis banget ya bang?"
Ujar Risma kembali berujar.
"Hm"
Sedangkan Dimas,pria yang tengah mengendong putrinya itu hanya berdehem kecil untuk menjawab pertanyaan sang bunda.
"Kok abang jawabnya hm hm doang? Masa lihat perempuan se-cantik sama se-baik itu abang reaksinya kok gitu?"
Bingung Risma.
Benar benar,ekspresi putranya ini datar datar saja kayak ekspresi duda kurang piknik.
"Ya terus,abang harus jawab apa? Kita kan gak kenal dia ma,tahu namanya aja tidak!"
Tutur Dimas,santai.
"Tapi ya,gak gitu juga bang.Kalau respon abang gitu mulu sama perempuan,sampai kapan abang mau dapet mama buat Aurra coba?"
Jedduaarrr
Astagfirullah haladzim,ingin sekali rasanya Dimas jungkir balik saat ini juga.Bisa bisanya ibunya itu membicakan hal seperti itu disaat seperti ini.
Hufftt
"Hm,gini,abang itu-"
"TUNGGU!"
Panggil suara dari belakang sana,yang cukup keras dan menarik perhatian tentunya.
Dimas dan Risma pun berhenti dan berbalik sejenak.
"BANG DIMAS BARACK ALHAIDAN MAU TIDAK JADI SUAMI AKU?"
HAH
Dimas maupun Risma membeku seketika.
WHAT
THE
HELL???
TBC
@@@
Maaf,maaf maaf🙏🙏🙏
Aku minta maaf sebesar besarnya buat reades yang selama ini nunggu lama bangeeeetttt😯
Maaf,selama di Bandung aku sulit nulis.
Banyak yang harus aku pikirin selama Prakerin disana.
Semoga kalian semua mau ngertiin ya☹
Alhamdulillah,aku dah pulang kampung😅
Jadi udah bisa mulai on lagi nulisnya.
Selama itu gak ganggu waktu aku buat belajar sama sidang.
Ok,makasih juga buat readers yang masih setia nungguin aku update🤗
Makasih,berkat kalian semua aku jadi selalu cemangatt😘😘
Ok,see you next time🖑🖑
Pangumbahan 04 maret 2020
__ADS_1
12.43