Bukan Salah Khitbah (R1)

Bukan Salah Khitbah (R1)
Patah


__ADS_3

'Ketika ragu datang diantara kepercayaan yang telah membawa luka dihati banyak orang,apa yang akan kamu lakukan?'


'Ada apa ini? Siapa yang hamil? Apa Kia sedang hamil? Lalu....dia hamil anak siapa?'


Frustasi pria yang mengenakan tuxedo hitam tersebut.


Wajahnya yang tampan terlihat mengerikan dengan beberapa memar disudut wajahnya.


Baju formal yang tadinya menjadi saksi bisu akan hari sakralnya,kini sudah lecek disana sini.


Rambut hitamnya sudah tak tertata rapih lagi.Setengah jam lalu semuanya memang terlihat sempurna baginya,namun setengah jam kemudian semuanya hancur.


Ketika fakta yang sudah ia tutup rapat rapat akhirnya terbuka juga.Seperti pepatah 'sepandai pandainya tupai melompat,pasti akan jatuh juga' dan itu benar benar terjadi kepada Vano saat ini.


Seharusnya ini adalah hari bahagianya dengan wanita yang dicintainya.


Seharusnya ia bahagia,karena tanpa susah payah lagi hubunganya dengan sang kekasih tidak akan memiliki penghalang.


Namun kenyataanya tidak seperti itu.


Bukanya senang,hatinya malah merasa kehilangan,hatinya terasa kehilangan sebagian dari nyawanya.


Bukanya senang,ia malah merasa amat menyesal.


Lalu,apa benar Kia tengah mengandung?


Apakah itu bayinya?


Tapi.....kapan mereka melakukan itu?


Seingatnya mereka cuma pernah tidur bersama,tanpa melakukan apapun.


"Ahhk..."


Geramnya frustasi sambil menguyar rambut hitamnya.


Satu jam yang lalu,acara resepsi tersebut dibubarkan secara paksa.Oleh kareña itu,kini tempat itu sepi.


"Dith..."panggil wanita cantik bergaun putih tersebut.


"Kamu kenapa?"tanya lembut sambil mengusap rahang kokoh sang suami.


"Rin.....tolong aku butuh waktu sendiri sekarang."tepis Vano,sambil menjauhkan tangan yang mampir dirahangya itu.


Deg


Wanita itu tersentak,Radith tidak pernah menolak sentuhanya.Lalu.....apa ini,apa pria itu tengah meragukan rasa cintanya?


Tak dapat dipungkiri jika Arin saat ini kesal,namun ditutupinya itu dengan sangat apik.


"Iya"ucapnya lembut.


Pria itu berbalik lalu melangkah meninggalkan sang istri.


'Kamu gak bisa bersikap seperti itu kepada ku dith!'batinya tak terima.


Bruk


"Ahhk.....Ssakit....dith....tolong!"rintihnya tiba tiba,sambil menjatuhkan tubuhnya sengaja.


Mendengar rintihan itu,pria itu langsung berbalik dengan raut cemasnya.


"Rin.....kamu kenapa?"cemas Vano sambil meraih tubuh sang istri kedalam pelukanya.


"Maaf dith,kayaknya gaunku keinjek.Jadinya aku jatuh!"lirihnya sambil membenamkan wajahnya didada bidang sang suami.


"Gak apa apa,ada yang sakit gak?"tanya Vano cemas,sambil menurunkan tubuh wanitanya diatas ranjang.


"Perutku sedikit sakit dith ahhk!"ucap Arin agak merintih.


"Apa aku perlu panggil dokter pribadiku?"tawar Vano.


"Ah...tidak perlu dith,aku cuma butuh istirahat saja."tolak Arin.


"Yakin?"


Wanita bermanik hazel tersebut mengangguk.


"Kalau gitu kamu istirahat ya!"kata vano sambil menaikkan selimut sang istri hingga batas dada.


Lalu ia melangkah meninggalkan sang istri.


"Dith....kamu mau kemana?"panggil Arin.


"Aku tidur dikamar sebelah ya malam ini,aku butuh waktu untuk berpikir!"


"Hm....iya!"pasrah Arin.


Pria itu tersenyum kecil lalu berucap"selamat malam anak ayah!"ucapnya sambil berlalu dan menghilang dibalik pintu.


'Kamu ragu dith,kamu ragu sama keputusan kamu!'batin Arin lara.


Dia sudah berbuat sejauh ini,demi mendapatkan Vano sepenuhnya.Namun ketika ia sudah mendapatkan itu,vano seakan meragu.


Ragu akan cinta yang telah ia perjuangkan dengan mengorbankan banyak hati yang terluka itu.


'Kamu tidak akan pernah bisa meninggalkanku dith,karena anak ini adalah senjata untuk mengikatmu agar selalu bisa berada disisiku!'batin Arin culas.


Cinta telah membuatnya buta,sehingga membuatnya menghalalkan segala cara untuk meraih cinta yang dulu pernah ia sia siakan.


Keesokan paginya,keduanya menjalani rutinitas seperti biasa layaknya pasangan suami istri.


Arin sudah bangun pagi untuk menyiapkan sarapan untuk vano.


Mereka masih tinggal diresto milik Arin yang dilengkap dengan penthouse yang cukup luas sebagai tempat tinggal mereka.


Ketika tengah menikmati makananya dengan hening,namun tiba tiba suara gedoran dari arah pintu mengalihkan keduanya.


BRAK


BRAK


BRAK


"Siapa sih,ganggu pagi pagi!"kesal wanita yang tengah mengandung lima bulan itu.


"Biar aku yang buka!"sela Vano saat wanita itu hendak beranjak.


Dengan langkah santai pria yang mengenakan pakaian casual itu menuju pintu dimana suara gedoran itu berasal.


"Ada apa_"


Tanyanya tak usai sebelum sempat ia juga menghingar dari pukulan yang tiba tiba melayang kearahnya.


BUGH


"Come on man,bangun!"titah pria baya yang baru saja melayangkan tinjunya hingga Vano tersungkur kelantai itu.


"Pa,Vano_"


BUGH


BUGH

__ADS_1


Lagi,tinjuan itu dilayangkan sang ayah yang juga seorang mantan pelatih tinju dengan rekor kemenangan yang sudah banyak diraihnya,juga mantan anggota TNI angkatan darat RI.


"Bangun!!" Ucapnya keras,sambil menginjak lengan kiri sang putra.


Ibra-pria baya itu tetap saja memiliki kekuatan besar untuk memukuli sang putra membabi buta.


Bukan apa apa,namun sebagai orang tua dia amat kecewa atas apa yang telah dilakukan putranya itu.Ia dan sang istri yang tengah berada di Madrid dalam rangka perjalanan bisnis,dibuat terkejut oleh kabar pernikahaan kedua sang putra.Oleh karena itu mereka langsung memutuskan kembali ketanah air,namun sayang pesawat yang mereka tumpangi harus gagal flight karena delay yang diakibatkan cuaca buruk.


BUGH


"Bangun,apa kamu sudah menyerah hanya dengan pukulan kecil itu!"cibir ibra sambil meraih kerah baju vano.


Wajah tampan pria berusia 28 tahun itu sudah tak berupa.


Sudut bibirnya pecah,hidung bangirnya patah denan cairan kental berwarna merah itu mengalir deras.


Wajah tampanya dipenuhi luka lebam sana sini.


Tubuhnya seakan akan remuk ketika mendapat pukulan bertubi tubi dan membabi buta dari sang ayah.


"Pa,Vano_bisa_jelaskan!"kata Vano susah payah.


"Jelasin apa man? Papa sudah terlanjur kecewa dengan janji mu!!"ucapnya sambil melayangkan sebuah tamparan keras kepipi kanan putranya itu.


PLAK


"Ahhk..."jerit pano tertahan.


"Jika saja dulu papa nekad memaksamu masuk militer,kamu pasti tidak akan berperilaku sehina ini."


Bentaknya marah.


"Poligami itu boleh dilakukan jika kamu bisa berlaku adil.Jika kamu hanya menyakiti salah satunya,jangan pernah coba coba untuk berpoligami."lanjut Ibra murka.


"Ceraikan Arkia putri saya."katanya mantap.


Deg


Vano mematung seketika,bukan saja sekujur tubuhnya yang remuk dan nyeri,hatinya pun berdenyut nyeri dan remuk seketika saat mendengar kata 'cerai' terlontar dari mulut ibra.


Sungguh tak pernah sekailipun vano berpikir untuk menceraikan Kia.


Arkia miliknya,istrinya,haknys,tak ada seorangpun yang boleh memisahkanya dengan dia.


"S-sampai_kapanpun vano tidak akan menceraikan Arkia!"kekeuh Vano sambil menatap sang papa.


BUGH


"Dasar keras kepala.Sampai kapanpun,saya tidak akan membiarkan putri saya dan calon cucu saya menderita.Ceraikan Arkia secepatnya Keevano!"bentak Ibra.


Deg


'Cucu?'


"Pa_A-apa Kia sedang hamil?"tanya vano takut takut.


"MAS"


Teriak wanita yang tegah hamil lima bulan itu sambil berlari terpongoh pongoh.


Diraihnya tubuh sang suami yang sudah babak belur tak berdaya.Air matanya menetes menatap pria baya yang tengah balik menatapnya benci.


"Kamu tidak tahu itu? Setelah perbuatan bejatmu menggagahi istrimu dalam keadaan mabuk,kamu tidak ingat itu?"cibir ibra sinis.


Deg


Vano mematung,hatinya memburu,lidahnya kelu seketika.


Dan itu,bayiku....?'batinya bersalah.


'Ki-kia sedang hamil?'batin Arin sama sama terkejut.


"Ingatlah kamu!"tunjuk ibra kearah Arin.


"Didalam militer dan negara,cuma ada satu istri yang akan diakui,dan itupun istri pertama.Dalam keluarga Radityan tidak akan sudi menerima penghianat,apalagi status sebagai simpanan!"ucapnya dingin.


"Dan mulai sekarang,saya Ibra Radityan mencabut nama Radityan dari namamu Keevano.Kamu bukan lagi putraku,bukan lagi bagian dari keluarga Radityan.Bukan lagi pemilik RADITYÀN'S GROUP."


Katanya final sambil mengibaskan tanganya yang tadi digunakan untuk memukul tubuh vano,jijik.


"Jangan pernah lagi kamu menginjakkan kakì diahapan keluarga Radityan,karena kamu cuma aib bagi kami.Ingat itu KEEVANO!!"


Ibra benar saja membuktikan ucapanya,dia benar benar membuang putranya sendiri.


Pria baya itu telah berlalu,meninggalkan luka fisik dan fsikis untuk vano.


Hatinya nyeri,tubuhnya remuk.


Apakan sebegitu besarnya dosanya?


Sampai sampai semua orang yang menyayanginya menjauhinya,meninggalkanya,


mencemoohnya.


"Dith ....."lirih Arin sambil berderai air mata.


'Maaf'


lirih Vano merutuki kesalahanya.


Banyak hati yang tersakiti oleh keegoisanya,banyak luka yang ditorehkan olehnya.


'Maaf'


lirihnya lagi dengan sebutir air mata yang berhasil lolos dari manik elangnya yang mulai meredup.


Kesadaranya pun terenggut,membawanya pada pusat bawah sadar.


"Dith....."panggil Arin cemas.


"Tolong.....siapapu,tolong suami saya!"


Teriak Arin berharap ada yang mau membantunya membawa Vano kerumah sakit.


@@@


Wanita cantik berhijab instan berwarna biru itu terlihat sangat menyedihkan.


Mata hitamnya sayu dengan sebam disekitar kelopak matanya,bibirnya pucat pasi,tanganya tak henti hentinya terulur mengusap perut datarnya.


Disana ada nyawa yang tengah tumbuh.


Buah hatinya dengan pria yang tak pernah mencintainya.


Mungkin bayi ini juga tak pernah diinginkanya.Bahkan keberadaanya pun tak disadari olehnya.


'Yang kuat ya jagoan umi,walaupun abi tidak mengetahui keberadaanmu,tetapi umi akan selalu menyayangimu lebih dari siapun!'gumamnya lembut sambil menitihkan air matanya.


"Ki.."panggil lembut pria didepan sana.


Arkia tersenyum kecil menyambutnya.


"Pesawat kita berangkat setengah jam lagi.Kamu sudah siapkan?"tanyanya sambil mendekat kearah kia.

__ADS_1


"Iya!"


Cup


"Yang sabar ya ki!"ucap pria itu sambil mengecup ubun ubun Kia yang tertutupi oleh khimarnya.


"Iya ka,terimakasih buat semuanya!"jawab Kia sambil memeluk tubuh kembaranya itu.


"Iya,lagi pula kamu kakak aku,jadi sudah sepatutnya aku menjaga kamu."lirih ezka sambil membalas pelukan Kia.


Setengah jam lagi mereka akan meninggalkan tanah air mereka,untuk selamanya.


Sebelum itu,tanpa sepengetahuan Kia ezka telah mengajukan perkara perceraian kia dan vano kepengadilan agama.


Semuanya akan ezka sampaikan,hingga tuntas keakar akarnya.


●●●


"Bagaimana keadaan suami saya dok?"tanya Arin cemas kepada dokter muda dihadapanya ini.


"Suami ibu mengalami patah tulang dibagian hidung,pendarahan yang cukup parah dihidung,luka robek disudut bibir,dan lebam lebam yang hampir diseluruh tubuhnya."


Arin menutup mulutnya tak tahan akan isakanya,baru saja sehari menikah,vano sudah babak belur tak berupa.


Lalu.....apa jadinya nanti.


"Saat ini pasien belum siuman.Mungkin efek dari obat!"lanjut sidokter tersebut.


"Jangan lupa untuk menebus obatnya nyonya!"


"Baik dokter!"ucap Arin sambil pamit undur diri.


"Ah iya.....saya lupa mengatakan ini.Selamat untuk pernikahan kalian,nyonya Keevano."ucap pria itu sambil tersenyum.


Arin tersenyum kikuk,pikiranya dari mana dokter itu tahu tentang pernikahanya.


Ahh.....mungkin dia salah satu teman Radith.


"Iya,sama sama dokter!"


Ucapnya sambil berlalu.


"Ohhh....iya,saya juga punya kabar duka untuk tuan Keevano!"lanjut sidokter menahan langkah Arin.


"Kabar duka?"


Bingung Arin.


"Nona Arkia telah kehilangan bayinya."


Deg


Arin terkejut bukan main.


Hatinya entah mengapa langsung memburu tak karuan.


"Mungkin tuan Keevano perlu tahu tentang kabar ini!"lanjutnya.


"Ah_iya dokter.Nanti saya akan sampaikan!"gugup Kia sambil tersenyum kaku.


Pria muda bersnelli dokter itu tersenyum kemenangan setelah wanita hamil itu hilang dibalik pintunya.


'Hah....menyusahkan!'batinya.


Dimas Barack Alhaidan-nama dokter muda tersebut.Sahabat sekaligus sohib baik Ezka,Bara dan Kia.Ia harus membuat sebuah alibi demi melindungi wanita pujaanya.Bagaimanapun juga,ia sudah patah hati sejak mendengar rencana pernikahan Kia saat masih di Jerman.


'Selamat tinggal,kekasih hatiku.Arkia Shalfira mubaraq,semoga kamu bisa bahagia disana!'doanya setulus hati untuk wanita yang telah mengisi hatinya sejak bangku SMA tersebut.


●●●


"Tidak mungkin,tidak mungkin....?"racau pria berpakaian rumah sakit itu.


Ditariknya rambut hitamnya kasar.


Dia tidak bisa menerima kenyataan ini,belum sempat ia meyakini keberadaanya,namun tuhan telah merenggutnya kembali.


"Ahkk....kenapa aku membunuh anakku!!"teriaknya frustasi sambil melemparkan berbagai barang yang bisa ia lembarkan.


"Kembalikkan anakku!"teriaknya marah.


"Dith..."lirih Arin saat melihat perilaku suaminya itu.


Ia pikir setelah mengatakan berita tantang kematin bayi Kia,vano akan senang dan akan kembali menyayanginya dan calon bayinya.


Namun kenyataanya terbalik 180° bukanya senang,pria itu malah langsung marah marah dan berteriak teriak frustasi.


"Dith..."


"BRISIK.PUAS KAMU RIN,PUAS HAH?


BAYIKU MATI KARENA AKU?


INI KEINGINAN KAMU BUKAN?"bentak Vano.


Deg


Arin-wanita itu langsung tersentak,air matanya mengalir deras.


"Kamu bentak aku dith?"ucapnya gemetar.


"LIHAT,GARA GARA KAMU AKU MEMBUNUH ANAKKU!"teriaknya lagi keras.


Hatinya hancur saat mendengar berita kematian bayi yang belum sempat ia akui kebaradaanya itu.


"KAMU MEMBUAT AKU MEMBUNUH ANAKKU AURRIN!"histeris vano sambil melemparkan pisau buah yang ia dapatkan dari nakas.


BRAK


"suntik pasien dengan suntik penenang!"teriak Dimas yang datang bersama para suster.


Untunglah Dimas datang tepat waktu dan langsung menolong Kia dari amukan vano.


'Kamu....berubah dith,kamu berubah karena wanita itu!'batin Arin sakit hati.


●●●


Luka🍂


Huahhh.....maaf ya telat reader😔😔


Soalnya lagi sibuk nih sama sekolah.


Jadi mohon bantuanya ya,jangan lupa vote komen like dan share.


Karena apresì dari kalian adalah sumber semangatku😙😙


Aku sayang kalian readrs, terutama yang selalu support aku😊😊


Terimakasih untuk dukunganya untuk karya karyaku🤗


Sukabumi 29/11/19


11.57

__ADS_1


__ADS_2