Bukan Salah Khitbah (R1)

Bukan Salah Khitbah (R1)
Adik???


__ADS_3

'Rasa tersingi karena hadirnya anggota baru pasti akan ada.Namun rasa alami dari ikatan darah tersebut yang lebih dominan untuk membatasinya.'


Habis hujan datanglah terang.Itu jika umpama beberapa petuah buku,dan tentu saja itu benar adanya.Kenapa,bukanya habis sedih pasti senang,habis ada luka pasti ada penawar? Jadi jangan cepat putus asa jika tuhan memberi kita ujian,siapa tahu dibalik ujian itu ada sesuatu yang tengah menunggu kita.


Sesulit apapun ujian yang kita alami,percayalah jika Allah siap memberimu ganjaran yang pantas jika mampu melewatinya.


Begitu pula dengan berbagai kerikil kecil hingga badai besar yang terus selih berganti menerjang keluarga kecil ini,dengan cekatan mereka mencari jalan keluarnya dengan memecahkan teka tekinya bersama.Maka tak dapat dipungkiri lagi,kebahagian tengan menanti mereka dipenghujùng perjuangan.


Namun sekiranya masih banyak rintangan yang masih merintang,mereka akan bersama sama melewatinya.


Saling mengenggam dan saling menguatkan.Saling mengisi kekurangan dicelah masing masing.Hingga mereka menjadi kesatuan yang kompleks,sempurna dan kuat menahan goncagan dari luar.


"Assalamualikum...Umii....abii...."


Panggil riang bocah lelaki yang masih mengenakan seragam playground tersebut.


Pria dan wanita baya yang disapa itu menoleh bersamaan,sambil tersenyum ramah menyambut sang cucu.


Cucu pertama mereka,dari putri pertama mereka tentunya.


"Waalaikum salam warohmatullahi wabarakatu,cucu umiii!"


Senang Salma,wanita baya itu langsung menghadiahi ciuman gemas diwajah tampan sang cucu.


"Icchh....geli mii!"


Lirih sikecil.


"Biarin,habisnya cucu umii ini ganteng pisan (sekali)!"


Kedua orang dewasa yang baru memasuki ruang tamu itu ikut tersenyum geli melihat tingkah laku cucu lelaki pertama keluarga mubaraq dengan sang nenek tersebut.


"Assalamalaikum umi abi!"


Sapa ibu dari bocah tampan bermanik hitam jelaga tersebut.


"Waalaikum salam ki,ayo duduk.Ajak suamimu juga!" Perintah Salma yang masih sibuk memeluk sang cucu.


Siang ini Kia dan Vano memang sengaja mengunjungi rumah kedua orang tua Kia,setelah menjemput sanģ putra.


Kedatangan ketiganya tentu disambung hangat oleh Salma dan juga Halim yang tengah berada dirumah.


Keduanya kini bahagia dan senang bukan main,kala melihat putri kecilnya sudah mulai hidup bahagia dengan kedua lelaki yang melengkapi hidupnya.Vano dan Anzar tentunya.


"Umi senang,akhirnya kalian bisa bahagia."


Ungkap Salma sambil meremparkan pandanganya kearah pasutri yang terlihat harmonis dimatanya.


"Umi senang,sekarang putri umi sudah bisa tersenyum dengan wajah berseri seri."


Memang benar ada bedanya senyum Kia yang sekarang dengan yang dulu.Dulu,walaupun Kia tersenyum manis terasa ada yang janggal disana.


Sekarang senyuman wanita itu bebas,tanpa beban dan tentunya dari hatinya yang memang benar benar tengah bahagia.


Pria tampan itu kembali mengaitkan jemarinya dengan milik sang istri.Semua itu tentu tak luput dari manik hitam teduh Salma.


"Saya janji umi,mulai hari ini sampai kedepanya saya akan selalu membuat Kia dan Anzar bahagia."


Ucap Vano mantap.


"Umi bukan hanya mau janji,tapi juga bukti!" Ujar Wanita baya berkhimar dongker tersebut.


"Tentu,vano akan buktikan mi."


Lanjut Vano tak kalah mantap.


Ia memang sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk menjaga dan membahagiakan kedua permata miliknya.Ia tak akan pernah lagi menyia nyiakan keluarga kecilnya tersebut.


"Ok,umi pegang janjimu.Tapi entah dengan abi!"


Ucap Salma merendah,sambil menatap karah barat dimana suami dan cucunya tengah bermain dibawah pohon zaitun disamping rumah.


"Bi,boleh saya duduk disini!"


Izin Vano,ketika sudah betada disamping pria baya tersebut.


"Hm"


Deg


Vano sampai sampai dibuat dag dig dug ketika harus berhadapan dengan mertuanya ini.Bukan karena sipat pemarah atau frontal malah pria yang sudah berusia tengah abad ini terkenal sabar dan pemaap.


Saking sabarnya,orang yang berarguemen deñganya sampai sampai dibuat mati kutu dan kelimpungan olehnya.


"Bagaimana kabar abi hari ini,apa baik?"


Tanya Vano ragu.


'Bodoh,sudah tahu abi baik.Mengapa kamu malah menanyakan itu?....bodoh!'


Gerutu Vano,merutuki kebodohanya karena kegugupanya.


"Seperti yang kamu lihat,alhamdulillah.Saya sehat!" Ucap Halim datar dan berkesan dingin bagi Vano.


'Astagfirullahaladzim,perasaan pas pemilihan CEO baru tidak se-menekutkan ini!' Guman Vano lagi.


"Ada yang mau kamu sampaikan,Vano?"


Tanya Halim to the point.


Manik hitam yang lebih gelap dari milik istrinya ini,menatap intens kearah pria dihadapanya.


"Ahh...itu bi,jadi beginii saya sebenarnya-"


Bingung Vano seketika,kata katanya yang sudah dipersiapkan sedari tadi ternyata buyar seketika.


Otaknya langsung blank ketika berhadapan dengan mertuanya yang malah terkenal baik dan sabar ini.Vano memang payah,ia malah lemah jika sedang berhadapan dengan seseorang dengan tingkat kesabaran berkali kali lipat darinya.


"Jangat takut Vano,katakan apa yang hendak kamu utarakan?"


Halim kembali berujar,netra hitamnya menatap lurus kearah sang cucu yang tengah bermain tak jauh dihadpanya.


Vano menarik napasnya dalam dalam,lalu mengembuskanya secara kasar.


"Abi,saya mau minta maaf atas semua kesalahan saya selama ini.Saya salah bi,saya telah melakukan banyak dosa karena mengabaikan istri dan anak saya.


Sekarang saya sudah sadar bi,sekarang saya hanya meminta kepercayaan seutuhnya kepada abi untuk menjaga keluarga kecil saya."


Ucap Vano,akhirnya.


Pria yang sudah hampir berusia 60-an tahun itu tersenyum samar diantara pendengaranya.


"Saya janji bi,kali ini saya tidak akan berbuat gegabah yang akan membuat Kia atau Anzar terluka.Saya akan pastikan itu,jadi....saya mohon bi,beri saya restu dan ridho untuk memulai segalanya dari awal.


Saya janji,saya tidak akan menyianyiakanya kali ini." Ucap Vano to the point.


Vano tiba tiba dihampiri rasa takut seketika,kala pria baya disampingnya ini tak merespon perkataanya sedikitpun.


"Abi harap ini petama dan terakhir kalinya kamu berjanji.Seterusnya,kamu harus membuktikanya,nak!"


Ucap Halim sambil tersenyum.

__ADS_1


Deg


Vano sampai sampai dibuat terkesiap oleh kebaikan hati mertuanya ini.


"Terimakasih bi,saya pasti akan membuktikanya.Saya janji!"


Ucap Vano antusias,sambil memeluk tubuh mertuanya itu sangking antusiasnya.


"Tentu,kamu harus membuktikanya."


Ucap Halim dikala pelukan mereka.


Senyum bahagia juga merekah diwajah cantik wanita berkhimar maroon tersebut.


"Alhamdulillah,terimakasih ya-Allah"


Ucapnya bersyukur.


🐣🐣


"Broo....apa kabar man,long time no see!"


Sapanya sambil merangkul pria tampan bermanik jelaga dihadapanya.


"Baik,kamu apa kabar?"


"Verry good!" Jawab pria yang mengenakan pakaian formal tersebut.


"Anzar duduk disini ya!" Lirih pria bermanik jelaga yang datang sambil menggandeng putranya tersebut.


Manik pria bermata coklat itu beralih,kearah bocah tampan yang baru saja muncul dari berlakang tubuh sang sahabat.


'Ya-Rabb,ni bocah ganteng banget kayak bokapnya!' Kagum pria tersebut dalam hati


"Anak loe?"


"Heem!"


"Gila,Ya-Allah ni bocah ganteng bangek kayak bapaknya,cuek juga lagi." Komentarnya sambil mencolek colek pipi tembem Anzar.


"Kamu kenapa diem aja dek?"


"Icch....kata unda,gak boleh bicala cama olang asing.Aakut jahat!" Kata sikecil polos.


Jawaban itu tentu menerbitkan senyuman diantara kedua pria tersebut.


"Loe kenapa gak dateng kenikahan gue tahun lalu van?" Tanyanya to the point.


"Bahasanya,tolong difilter.Disini ada putra saya!" Komentar Vano tak suka.


"Hehe...maaf ya,lupa bro.Jadi kenapa gak dateng keIndo waktu itu van?"


Ulangnya.


"Saya tahun lalu masih sibuk pemulihan di Singapura,sekalian lagi gencar gencarnya mencari keberadaan istri saya." Ungkapnya bersalah.


Tahun lalu,tepatnya sudah dua tahun kebelakang Vano memang tengah sibuk dengan pemulihanya,dan juga tengah gencar gencarnya mencari keberadaan Kia.Oleh karena itu ia tak sempat utuk menghadiri pesta pernikahaan sahabatnya-Erick.


"Maaf ya Rick,saya tidak bisa datang waktu itu." Sesal Vano.


"Ck....come on,itu it's okay.Yang penting kamu sekarang bisa bahagia sama keluarga kecil kamu." U


ngkap Erick tulus.


Mantan pemilik Club ter-mewah dan ter-private dibandung ini sudah banyak berubah tentunya.Kekuatan cinta memang banyak merubah segalanya bukan?


Dua tahun lalu Erick memang menikah dengan seorang doktet obgyn berhijab.


Padahal Erick bukan suaminya guys?


Semenjak pertemuan itu,Erick yag terkenal player dari jaman SMA mati matian mengejar dokter obgyn berhijab tersebut.Demi menikahi sang pujaan,Erick rela melepas segala kontak dengan dunia haram yang juga telah membesarkan namanya.


Semua itu kini diceritakan kepada sahabatnya,Vano yang dulu juga mempunyai kisah kisruh rumit tentang percintaan.


"The power of love man,ternyata dapat mengubah segalanya." Ungkapnya sambil menyesap Amaricano coffenya.


"Kekuatan cinta siapa yang tahu,nyatanya kita bisa ditaklukkan oleh wanita berhijab juga." Ungkap Vano juga,sambil tersenyum kecil.


Erick kini tertarik melihat apa yang tengah dinikmati sahabatnya itu,hot chocolate.


Padahal ia juga tahu sahabatnya itu anti yang manis manis,namun lihatlah pesananya ini.Semuanya manis dan berbahan dasar coklat.Sedangkan sang putra sendiri hanya menikmati satu cup ice cream rasa vanila.


"Man,istri kamu lagi bunting lagi ya?"


Tanyanya to the point.


Uhukk Uhukk


"Kia gak lagi hamil,memangnya kenapa?"


Selidik Vano.


"Ya,aneh aja lihat loe makan yang manis manis.Kàyak bukan Keevano yang gue kenal gitu.Loe lagi nyidam kali?"


Vano terdiam sejenak,akhir akhir ini ia memang suka yang manis manis.Terlebih lagi setiap pagi dia serianģ mual dan muntah muntah.


"Loe ada muntah muntah tiap pagi?"


Tanya Erìck penuh selidik.


"Iya,hampir tiap pagi."


Jawab Vano jujur.


"Hmm,kapan terakhir kali loe ngelakuin 'anu' sama bini lo?"tanya Erick lagi.


"Anu apaan? Yang jelas bicaranya rick?"


"Lahh....tadi disuruh filter ngomongnya karena ada bontot loe,sekarang suruh frontal.Gimana sih loe van,labil kayak ABG tau gak!" Kesal Erick.


"Makaudnya hubungan suami istri ogeb!"


Jelas Erick yang langsung membuat wajah tampan pria dihadapanya bersemu merah.


"Kapan ce ilee,kitu kiti waè (gitu gitu aja).


Merona kayak ABG baru Bucin lo?"


Kekeh Erick.


"Hmm...sekitar dua bulan atau 7 minggu lalu." Kawab Vano pelan.


"Buat apa sih tanya tanya yang ķayak gitu rick? Aneh!"


"Aneh aneh,istri gue dokter obgyn ya,catet noh." Kesal Erick.


"Oh" Sedangkan yang diberi hanya ber-oh ria.


"Kalo gini ceritanya,berarti fix bener dugaan gue!" Tebak Erick.


"Dugaan apa?"

__ADS_1


Tanyà Vano sambil menatap horor sang sahabat yang tengah menampilkan evil smirk-nya tersebut.


"Dugaan apaan sih rick? Saya penasaran?"


Tanya vano lagi.


Erick bukanya mengubris perkataan Vano,ia malah memilih berkata pada putra sahabatnya tersebut.


"Kamu siap siap kedatengan temen baru ya boy!"


Ucapnya sambil tersenyum simpul.


"Nanti sore gue dateng sama istri gue,biar mastiin dugaan itu."


Ucapnya diakhir kalimatnya sebelum pergi meninggalkan Vano dan Anzar.


"Dugaan apaan sih?"


🌷🌷


Lain tempat lain suasana.Didalam sebuah mobil sedan silver tersebut terlihat memarkirkan mobilnya ditempat parkir disebuah kedai ice cream.Gadis mungil dihadapanya sudah berhenti terisak semenjak beberapa saat lalu.


"Kamu mau ice cream? Nanti saya belikan?"


Tawarnya dengan nada selembut mungkin.


"Kenapa sih bicaranya formal gitu,Baby gak suka tahu om!"


Gerutunya sambil mengembungkan pipinya,membuat ia semakin menggemaskan dimata pria tampan bermanik coklat tersebut.


"Iya iya by,kamu mau ice cream? Biar nanti aku beliin!" Ulangnya dengan kalimat yang non-formal.


"Gitu dong,kan romantis kayak orang orang yang pacàran."


Ucapnya sambil tersenyum manis.


'Kode keras itu Bar!' Batin Bara dalam hati.


"Jadi kamu mau pacaran sama aku? Om om yang sering kamu gangguin ini?"


Goda Bara sambil terkekeh kecil.


"A-apaan sih om,gak lucu tau."


Gugup gadis bermanik emerald tersebut.


"Aku memang lagi serius.Jadi kamu mau jadi pacar om om ini?"


Tanya Bara sekali lagi,sambil memusatkan perhatianya penuh pada gadis dihadapanya.


'Kyakk....by,om ganteng ini ngajakin kamu pacaran? Seriusan?? Ini gak mimpi kan?' Batin Baby dalam hati antusias.


"Gimana?"


"Kyakk....baby mau jadi pacar om!"


Teriak Baby histeris dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus.


'Lucu' Batin Bara sambil tersenyum kecil.


"Mulai saat ini,kamu pacar saya.Aku harap kamu jadi yang pertama dan terakhir untk aku." Ucap Bara serius,sambil menyematkan cincin berlian yang dari dulu memang harus tersemat dijari manis perempuan yang dikasihinya.



"Jadi,akù harap kamu siap jadi pendamping aku ketahap yang lebih serius suatu saat nanti." Ungkap Bara penuh cinta.


Baby yang mendengarnya sampai sampai dibuat terharu olehnya.


"Insaaallah,bakal Baby lakuin."


Jawab Baby pelan sambil tersenyum.


Keduanya kini terlihat sangat bahagia,sambil bergandengan tangan memasuki kedai ice cream tersebut.


"Baby!"


Namun belum sempat keduanya memasuki kedai ice cream tersebut,sebuah suara bass dari pria kemeja hitam tersebut menghentikan langkah keduanya.


Manik coklat vano memicing seketika,ketika netranya menangkap sosok yang familiar dimatanya.


"Kamu kenal dia?"


Tanyanya pada gadis yang baru saja resmi menjadi kekasihnya tersebut.


Gadis berambut bob itu mengangguk antusias.


"Kakak!"


Panggilnya melantun untuk pria yang kini berdiri tepat dihadapanya.


Deg


'Baby adik pria brengsek ini?' Batin Bara dalam hati.


"Dia siapa kamu by?"


Tanya pria bersuara bass yang terlihat sama sama terkejut akan kehadiran Bara tersebut.


"Kak kenalin,ini pacar baby.Namanya Kak Bara!"


Deg


"A-apa?"


Takdir memang aneh,dulunya rival sejati kini calon kakak ipar menanti.


TBC


@@@


**Huahhh.....maaf ya guys,tlat upload🙏🙏


Ini lagi kurang fit kondisi badan koh,jadi gak singkron antara hati yang pengen nulis tapi badan cuapek😔


Maaf ya,tlat upload pokoknya.


Nah jadi gimana,ada yang penasaran buat part ini?


Garing??


Atau monoton??


Cuss....dikomenlah🤗🤗


Jangan lupa dukungan dan komenya ya ,ditunggu😊😊


Ok,sampai jumpa dipart berikutnya🖑**


Sukabumi 25/12/19


15.46

__ADS_1


__ADS_2