
"Jika kamu percaya aku adalah tulang rusuk pilihan tuhan untukmu,makan janganlah pernah sedikitpun untuk meragu.Dan akupun tak akan sekalipun ragu akan rasa cintaku padamu."
-Arkia Shalfira Mubaraq-
**
Deru mesin mobil fajero hitam itu memelan,sejalan dengan terparkirnya kendaraan tersebut di tempat parkir.Dengan langkah seringan bulu dengan senyum se-cerah mentari,pria tampan berusia 35 tahun itu menyungingkan senyum mempesonanya separat jalan menuju ruanganya.Pemandangan langka bagi para karyawan RADITYAN'S CORP tentunya.
Keevano Radityan Khutbi-CEO yang. terkenal akan sikap dingin dan cuek bebeknya itu tersenyum cerah,nyaris setiap hari.Hampir seluruh karyawanya bersyukur,atas segala perubahan big boss mereka tersebut.Semenjak kembali hidup bersama sang istri,pria tampan itu kini terlihat lebih menata hidupnya.
Tak ayal,jika kini fans nya di kantor semakin meningkat.
Hampir seluruh karyawan wanita yang berasal dari tanah air atapun dari Turki sendiri banyak yang megidolakanya,walaupun mereka tahu Vano sudah beristri.
"Selamat pagi tuan,cuaca yang cerah bukan?" Sapa Leon-sekretaris pribadi Vano.
Pŕia tampan bermanik hitam tajam itu mengangguk kecil.Sungguh mood nya sedang baik pagi ini.
Namun,kondisi perusahaan yang tenang tidak bertahan lama.Ketika sampai didepan ruanganya,ia melihat meja milik sekreterisnya dipadati staf wanita dari berbagai divisi.
"Ada apa itu Leon?"
Tanya Vano penasaran.
"Saya juga tidak tahù tuan."
Vano dan sekretaris pribadinya pun berjalan mendekat,menerobos keramaian yang dipadati oleh staf wanita tersebut.
"Ada apa ini?"
Tanya Vano kaget dengan apa yang baru dilihatnya.
Semua mata langsung tertuju kepadanya,kemarahan nampak tergambar jelas diwajah tampan big boss mereka tersebut.
"Alana,apa yang terjadi di sini?"
Tanya Vano dalam bahasa Inggris,walaupun Alana itu salah satu karyawanya yang berasal dari tanah air.
"Pak Radit,tadi ada seorang wanita."
Cerita Alana-perempuan muda tersebut terlihat ketakutan dan shok,sambil memegangi pipi kirinya yang agak membiru.
"Wanita? Siapa maksud kamu?"
Tanya Vano bingung.
"Dia bernama Raylie,mantan sekretaris bapak satu bulan lalu."
Lanjut Alana.
Ah,Raylie-mantan sekretarisnya yang ia pecat satu bulan lalu.Bukan tanpa sebab Vano memecat wanita itu,tetapi karena wanita itu sudah berani beraninya menggodanya,bahkan ia peranah mencoba menambahkan obat perangsang kedalam minumanya.Untung saja Leon-sekretaris Vano memergoki rencana busuk Rayline.
Beberapa hari kemudian Rylin di pecat dari pekerjaanya.Tapi,Vano tak habis pikir dengan perlakuaan wanita itu kali ini.Apa apaan coba motif dari perbuatan brutalnya ini.
"Dia tadi datang kesini mencari bapak.Dia juga membuat kekacauan disini."
"Apa?"
Kaget Vano.
Pantas saja sekretarisnya itu tampak ketakutan dan shok.
"Apa lagi yang dia lakukan?"
"Dia hanya mencari bapak.Dia bilang...."
Potong Alana ragu.
"Bilang apa?"
Penasaran Vano.
"Dia..dia bilang s-sedang hamil anak bapak."
"WHAT THE...??"
umpat Al sanking terkejutnya.
Pria tampan itu memijit pelipisnya sejenak,apa maksud dari perbuatan mantan sekretarisnya tersebut.
"Hamil anak saya,apa maksud perkataan bodohnya itu?"
Vano berdecak kesal.
Vano benar benar dibuat pusing oleh berita ini,apa apaan coba wanita itu.Datang tiba tiba ke kantornya dan mengaku tengah hamil anaknya.
"Sekarang kemana wanita gila itu?"
Tanya Vano emosi.
"Tuan"
Lerai Leon-karena ia tahu jika bosnya itu mulai naik pitam.
"Dimana dia sekarang?"
Tanya Vano lagi.
"D-dia pergi kerumah bapak,untuk mencari bapak."
Ungkap Alana.
Vano memejamkan matanya sejenak,sungguh ia tak mendua akan mendapat cobaan dipagi yang cerah ini.
Wanita itu telah pergi kerumahnya.Tunggu,bagaimana jika ia bertemu dan menganggu dengan anak dan istrinya.
Deg
Manik hitamnya spontan terbuka,istingnya mengatakan akan ada hal buruk yang menimpa keluarga kecilnya.
"Leon,urus meeting dengan perwakilan Aldoardo's crop pagi ini.Dan kamu Alana,segera izin ke pìhak HRD jika kamu merasa kurang enak badab.Batalkan meeting yang sekiranya kamu tidak bisa ditunda hari ini."
Leon dan Alana mengangguk meng-iyakan.Sedangkan staf wanita yang tadi berkerumun sudah berlalu pergi satu demi satu karena takut terkena amukan big boss mereka.
"Saya harus pergi,keluarga saya dalam bahaya."
Ucap Vano di akhir kalimatnya.
Hatinya cemas,seluruh pikiranýa buyar entah kemana.Ia takut juga khawatir wanita gila itu akan menyakiti Kia-nya dan anak anaknya.Dan kemungkinan terburuknya adalah-mereka akan meninggalkanya jika percaya akan kebohongan wanita gila itu.
"Astagfirulallah haladzim,lindungilah keluarga kecilku ya-Rabb."
Doanya dalam hati.
30 menit lamanya pria tampan itu berkendara dengan pikiran kemana mana.Sesampainya dirumah miliknya,ia langsung bergegas masuk dan memanggil sang istri berulang kali.
"Assalamualaikum,sayang aku pulang..."
Salamnya,sambil berlalu masuķ keruang keluarga.
"Sayang,kamu dimana?"
"Kia,sayang...."
"Kamu dimana ki?"
Panggilnya mulai menggila,karena tak ada jawaban dari sang ìstri.
Bahkan tanda tanda keberadaan istri dan anaknya pun tak nampak.Pria itu langsung bergegas kelantai dua,menuju kamar utama.
Kamarnya dan sang istri itu kosong,tanpa adanya keberadaan Kia dan putra putrinya.
Dibukanya walk in closet miliknya dan sang istri,memastikan pakaian sang istri apakah masih ada disana.
Sedikit kelegaan menerpa hati Vano,baik pakaian dan surat surat penting masih ada disana.Berarti istri dan anaknya tak sampai pergi jauh seperti ketakutanya.Lalu,kemanakah gerangan perginya istri dan anak anaknya tersebut.
Pria tampan itu kembali bergegas.Dengan raut gelisah yang nampak nyata di wajah bak titisan dewa Yunani nya.Karena tak menemukan mereka di kediamanya,pria itu kembali memacu kendaraanya menjauhi kediaman mewahnya.
"Kamu dan anak anak kemana sayang?"
**
Semilir angin menyambut ibu muda yang tengah mendorong stoller bayi tersebut.Memasuki awal bulan Juni,merupakan awal musim panas(Summer) di Turki.Cuaca dipagi harinya masih cenderung hangat,dengan semilir angin tidak terlalu kencang.
__ADS_1
Sepeninggalan sang suami dan putra sulungnya tadi,wanita cantik itu memilih membawa bayi twins nya berjalan jalan santai sejenak.Disinilah mereka bertiga,di sebuah taman kota yang tidak terlalu jauh keberadaanya dari tempat tinggal mereka.
Pepohonan yang masih nampak asri dan rimbun,menyambut mereka bertiga dengan semilir sejuknya angin pagi.
"Subhanallah,sejuknya."
Ungkapnya penuh syukur kepada sang ilahi.
Wanita bergamis darkblue itu tersenyum kecil,sambil sesekali mengajak kedua buah hatinya bercengkrama.
Duk
"Astagfirullah haladzim,anda tidak apa apa nona?"
Cemas Kia,saat seorang wanita muda nampak terjatuh dihadapanya.
"Mbak Kia."
Lirih wanita tersebut,wajahnya terlihat penuh dengan derai air mata.
"Hey,ada apa denganmu? Kenapa kamu menangis Raylie?"
Kia berujar dengan ramah.
Ia sempat kenal wanita muda ini,Raylie Gracie Whithomsen-mantan sekretaris sang suami.Tetapi apa yang terjadi dengan wanita muda ini,kenapa ia sampai menangis tersedu sedu seperti ini?
"Tenanglah Raylie,kamu bisa menceritakanya pada mbak jika mau?"
Tawar Kia.
Wanita cantik bekhimar syar'i itu tersenyum lembut meyakinkan,agar wanita muda di hadapanya mau berbagi keluh kesah yang tengah di alaminya.Bukankah sudah sepatutnya,sesama wanita membantu wanita lainya.
"Aku-aku,hamil mbak."
Deg
Kia terkejut,sangat malahan.Yang ia tahu Raylie ini belum menikah,walaupun ia sudah bukan gadis lagi.Vano-sang suami juga pernah bercerita tentang perilaku buruk wanita satu ini.Tetapi bukanya kita tidak boleh berburuk sangka terlebih dahulu,siapa tahu Raylie sudah berubah bukan.
"Alhamdulillah,berarti kamu diberi kepercayaan lebih oleh tuhan agar menjadi seorang ibu."
Ujar Kua menyemangati.
"Hiks....hiks..."
"Hey,ada apa? Apa ada yang salah Raylie?"
Tanya Kia cemas,saat wanita berambut coklat keemasan sebahu itu kembali terisak.
"Apa suamimu tidak mau menerima bayi kalian?"
Tanya Kia pelan.
"Maaf mbak,maafkan aku!"
Lirih Raylie sambil mengenggam tangan Kia kuat.
Sebenarnya Kia bingung saat ini,apa hubunganya ia dengan kehamilan Raylie sampai sampai wanita itu minta maaf kepadanya.
"Minta maaf untuk apa Raylie? Aku tidak mengerti!"
Bingung Kia,mencoba mencerna perkataan wanita dihadapanya.
"Aku hamil bayinya mas Vano."
Deg
Kia mematung,lidahnya kelu seketika.Otaknya tiba tiba berhenti bekerja,namun tak sejalan dengan gemuruh menyakitkan dihatinya.
Apa yang ia barusan katakan,hamil bayi suaminya?
Maksudnya Vano berselingkuh dengan mantan sekretarisnya,selama ini?
Kia mencoba mengusir segala pemikiran negatif tersebut.Bacaan istigfar beberapa kali ia lantunkan,lalu manik teduhnya menatap wanita muda yang terpaut usia 5 tahun dibawahnya.
"Berapa usia kandunganmu Raylie?"
Tanya Kia lembut,tak ada nada kebencian atau emosi sedikitpun disana.
Raylie mendongrak,menatap wanita cantik pemilik manik teduh yang masih senantia memandanginya dengan lembut tersebut.
'Cih'
Jawabnya takut takut sambil meremas ujung rok yang dikenakanya.
Wanita pemilik manik teduh itu mengalihkan pandanganya sejenak,setidaknya kenyataan ini tengah mengguncangnya saat ini.Disana,sang putra dan putrinya tengah terlelap di atas stoller bayinya.
Hembusan napas gusar terdengar darinya,kemudian jemari lentiknya terulur.Meraih jemari mungil lainya yang terlihat menahan kegugupan.
"Kapan kalian melakukan itu?"
Kia kembali berujar,nada bicarana masih lembut nan bersahabat.
Tak ada se-titikpun air mata yang los dari iris cantiknya.Inilah keteguhan hati seorang Arkia Radityan Khutbi-sosok istri yang tak akan tergesa gesa meragukan suaminya,hanya karena pernyataan satu wanita asing.
"K-kita melakukanya saat pertemuan di istanbul,beberapa bulan yang lalu."
Jawabnya,masih dengan derai air matanya.
Raylie-ingat betul,malam itu ia menemani bossnya itu meeting di istanbul.Mereka sempat menginap di salah satu hotel berbintang disana.Disana pula ia mencampurkan minuman Vano dengan dua butir pil perangsang,oleh karena itu ia yakin jika Vano lah yang malam itu menghabiskan waktu denganya.Pasalnya ia melihat dengan mata kepalanya sendiri,jika Vano yang meminum minuman tersebut.
"Tapi Raylie,malam itu mas Vano tidak menginap."
Deg
Wajah wanita muda bermanik keemasan itu mendongrak,menatap si empunya suara yang baru saja berucap.
Kia tersenyum kecil,ia masih sangat ingat.Malam itu,pukul 11 malam sang suami pulang tergesa gesa dari Istanbul.Ketika ditanya,pria itu hanya bilang rindu akan sang istri yang tengah hamil besar,manis bukan.Jadi Kia yakin,suaminya itu bukanlah ayah dari bayi yang tengah di kandung oleh Raylie.Belum lagi,semenjak hamil 7 bulan pun Vano rela pulang larut malam demi menemui istri dan anaknya.
Vano tidak pernah lembur atau menginap semenjak itu.Jikapun di haruskan menginap,Vano akan meminta Leon-sekretaŕis pribadinya untuk menggantikanya.Kia percaya kepada suaminya,oleh karena itu ia bisa bersikap setenang ini.
"Ta-tapi,saya yakin itu mas Vano.Kami sama sama mabuk dan-"
'Ah,sialan.Aku sepertinya sudah terjebak!'
Batin wanita muda itu,picik.
"Malam itu Leon yang menggantikan mas Vano,karena mas Vano kembali untuk menemui aku."
Tutur Kia masih dengan nada lembutnya.
'Ck,Leon sialan.'
Geram Raylie kesal.
"Jadi Raylie,maaf.Sepertinya tipuanmu belum cukup kuat untuk menghamcurkan kepercayaanku terhadap suamiku."
Deg
"Asal kamu tahu saja,semenjak usia kandunganku 7 bulan,mas Vano tidak pernah lembur ataupun menginap.Ia selalu pulang,walaupun sudah tengah malam atau menjelang dini hari.Sanking perhatianya dia,mas Vano selalu menenlponku satu jam sekali hanya untuk menanyakan kabar kami."
Lirih Kia sambil melemparkan senyum kecilnya kearah putra putrinya.
Bagaimana ia bisa meragu,saat pria itu selalu mencurah limpahkan rasa cintanya tanpa jeda.Bagi Kia,Vano yang sekarang aďalah suami yang patut di idolakan.Pria itu benar benar berubah demi keluarganya.
Oleh karena itu,tugas Kia kini hanya menjaga cinta dan kepercayaanya untuk sang suami.Jangan sampai hanya karena sebuah keraguan,kepercayaan yang telah dibangun bertahun tahun runtuh seketika.
"Sepertinya kamu salah mencari mangsa Raylie.Awalnya tadi aku hampir percaya dengan tipu muslihatmu,tetapi Allah memberi aku kepercayaan lebih akan suamiku."
Lanjut Kia sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Maaf,Raylie.Aku lebih mempercayai mas Vano,suamiku."
Akhir Kia,sambil berlàlu mendorong stoller bayi miliknya.
"Astagfirullah haladzim,Kia sampai lupa."
Ucap wanita itu,menghentikan sejenak langkahnya.
"Sebaiknya kamu segera menemui ayah dari bayi dalam perutmu itu,jangan sampai karena kesalahan kamu,bayi dalam perutmu kamu salahkan.Bayi daĺam perut kamu tidak berdosa sama sekali.Assalamualaikum"
Pamit Kia sambil berlalu membawa turut serta putra putrinya.
Wanita muda berdress terusan selutut itu mencengkram perutnya keras.Hatinya tak terima dengan perkataan telak yang dilayangkan wanita yang sok suci menurutnya itu.
'Cih sialan,aku kalah telak.'
__ADS_1
Geramnya marah,sambil memukul perutnya berkali kali.
"Jadi kau bukan milik Vano-CEO yang kaya itu hah?"
Geramnya kesal,sambil berkali kali memukul perutnya yang memang masih datar,namun terdapat nyawa didalamnya.
"Kau,bayi sialan.Kau-"
Grep
Gerakan wanita yang terlihat memiliki kecenderungan itu terhenti seketika,ketika sebuah tangan kekar menahan tangannya.
"Jangan sakiti bayi itu,dia milik saya."
Deg
Raylie-wanita itu mematung seketika,seiring dengan berhentinya rotasi bumi ditempatnya berpijak.
Manik keemasanya seakan akan tenggelam,ketika titatap oleh manik biru laut dihadapanya.
"Hanya saya yang berhak atas bayi itu,saya ayahnya."
Deg
Tubuh Raylie bergetar hebat,seakan akan tubuhnya lemas seketika itu pula.Jadi benar,pemilik benih yang tengah tumbuh dirahimnya itu adalah pria ini.
"L-leon?"
**
"Sayang,kalian dimana?"
Gumam pria tampan bermanik hitam jelaga itu.
Wajah tampanya tak lagi lepas dari raut begitu risau.Jas hitam yang tadi melekat indah ditubuhnya kini sudah teronggok disamping kursi kemudi.Dasi dark blue yang tadinya terikat rapih,kini terlihat hendak lepas dari tempatnya.
Dengan perasaan penuh harap,pria itu keluar dari mobil pajero hitam miliknya.Berharap dengan segenap hati,saat membuka pintu kaca itu sang istri langsung menyambutnya dengan sapaan dan senyuman hangatnya.
Sudah seharian full,Vano mencari istri dan ketiga anaknya kesana kemari.Kini pencarian terakhirnya,yaitu rumahnya.
Cklakkk
Ketika pintu utama terbuka,pria tampan itu langsung disuguhi pemandangan yang amat melegakan baginya.
Senyumnya kembali terbit,saat pintu utama yang menghubungkan ke ruang tengah itu langsung menyuguhinya pemandangan ini.
Anzar,si putra sulung yang tengah duduk didepan televisi,sambil di temani si kembar yang terbaring di atas karpet bulu,dengan beberapa guling sebagai pematasnya.
"Ayah."
Lirih si sulung,menyadari keberadaan sang ayah dari ambang pintu sana.
"Ayah baru pulang?"
Tanya Anzar kecil,sambil berlalu menghambur ke pelukan sang ayah.
Cup
"Bagaimana kabar jagoan daddy?"
Tanya Vano lembut,sambil membawa sang putra masuk.
"Haii kesayangan kesayangan daddy?"
Celoteh Vano,sambil menatap penuh kasih bayi kembarnya.
Ingin sekali ia menciumi pipi gembul Keevan-Ar dan lunar bergantian,tetapi sang istri nanti pasti akan marah.Kia selalu mengingatkan Vano untuk cuci tangan dengan setelah pulang kerja atau dari luar rumah,baru boleh menyentuh si kembar.
Takut kuman dan virus yang dibawa dari luar rumah menganggu si kembar nantinya.
Setelah selesai urusanya dengan putra putrinya,Vano langsung berlalu ke arah pantry.Hatinya menghangat seketika,saat menangkap siluet begamis milo itu tengah berdiri dan berkutat dengan panci penggorengan.
Grep
"Astagfiruulah haladzim,mass."
Ucapnya terkejut akan pelukan tiba tiba tersebut.
"Kamu baru pulang??"
Tanya Kia lembut,sambil mengusap lengan kokoh yang melingkar di pinggangnya.
Bukanya menjawab,Vano malah sibuk menghiru aroma khas sang istri serakus rakusnya.
"Mas,kalau baru pulang itu langsung mandi.Nanti baru kita makan malam bersama.Ayo,mandi dulu."
Lirih Kia,sambil melanjutkan acara mengaduk tumis brokoli dan daging yang tengah dimasaknya.
"Sayang,maaf."
Lirih Vano,disela sela pelukanya.
Kia menyerngitkan sejenak alisnya,bingung atas perkataan sang suami.Sedangkan Vano-ia berpikir jika istrinya ini tak berhasil ditemukan oleh wanita gila itu,syukurlah.
"Mas,tadi aku bertemu Raylie."
Deg
Manik hitam Vano membulat seketika,jadi istrinya itu benar telah bertemu dengan wanita gila itu.
"Sayang,apa kamu terluka? Apa dia menyakiti kamu? Apa saja yang dikatakan wanita gila itu?"
Berondong Vano bertubi tubi,sambil menatap kedua bola mata indah milik sang istri.
"Mas,tanyanya satu satu!"
Kesal Kia.
"Dia tidak melukaimu kan? Dia tidak-"
"Ssstt,dia tidak melukaiku mas,dan tentang apapun yang dikatakanya,"
Jeda Kia sejenak,seulas senyum manis tersungging di bibirnya.
"Aku tidak percaya sama sekali.Karena bagiku,suamiku adalah imam yang harus aku percayai,jadi aku tidak pernah meragu."
Jawabnya tulus tanpa beban.
"Aku tahu seberapa besar cinta mas untukku,juga untuk anak anak kita.Jadi,untuk apa aku ragu lagi terhadap suamiku,saat aku punya keyakinan penuh atas cintanya. "
Senyum bahagia merekah indah dibibirnya,dipeluknya erat kembali tubuh mungil sang istri.Sungguh bahagia luar biasa,memiliki istri seperti Arkia.Subhanallah,ciptaanmu yang satu ini hatinya.
"Terimakasih.Terimakasih,karena telah mempercayaiku sayang."
Ucap Vano,sambil mrngecup pucuk khimar
Sang istri penuh cinta.
"Aku sungguh beruntung bisa memiliki cinta sebesar itu darimu,Arkia Radityan Khutbi."
Pàda dasarnya,hubungan itu terbentuk karena adanya rasa dan saling mempercayai.Kuatkan saja tembok kepercayaanmu,niscaya hubungan itu insaAllah akan berjalan dengan semestinya.
Tak mudah goyah,apalagi retak jika pondasinya kokoh.
**
**To Be Continue.
Hoii...hoiii🖑🖑
Gimana kabar readers semua nih??? sehatt?
Gak jawab Sombong😋😋
Gimana buat part ini?
Yang minta jangan ada pelakor,gimana komentarnya?
Cus Ah komennnn🤗🤗
Ok,segitu dulu ya buat part kali ini🤗🤗
Sampai jumpa di part berikutnya🖑🖑
Sukabumi 28 Maret 2020
__ADS_1
07.11
(2662**)