
'Kisah yang dialami tiap individu pasti berbeda beda.Bisa berbeda alurnya,latarnya ataupun beda tiap endingnya.Namun intinya,tiap kisah memiliki makna tersembunyi masing masing.'
**
Sang surya memang tak memutar,ia diam menetap ditempatnya.Namun bumi,ia memang bergerak mengitari sang surya.Begitu pula dengan pertumbuhnya tiap unit didalanya.Lahir,berkembang dan tumbuh hingga menutup usia.Hari hari silih berganti,begitu pulang angin musim yang selih berganti.Ada banyak jiwa yang lahir dan tumbuh berkembang,siap menyongsong masa depan dengan berbagai ukiran takdir yang siap dilaluinya.
\=\=12 Tahun kemudian....
Bukan angka yang dapat dibilang sedikit.Bukan pula karena bilangan genap yang habis dibagi dua,nyatanya.Dalam dua belas tahun itu banyak yang berlalu,banyak pula yang berubah dan tumbuh.Begitu pula dengan kehidupan mereka yang siap menyongsong masa depan.
"Itu,yang itu maa..."
"Yang mana sayang?"
"Yang itu tuh,yang pakai topi kupluk warna abu abu gelap ma."
Celoteh gadis cilik berseragam sekolah dasar tersebut antusias.
Merasa ada yañg menatapnya intens,sipemilik manik tajam bak elang dengan bingkaian rupa rupawan itu menoleh.Matap sekelilingnya,apakah benar ada yang tengah menatapnya secara intens hingga membuatnya risih.
Dua hari yang lalu,ia baru saja menginjakkan kakinya ditanah air tempat lahir ayah dan bundanya.Pemuda tampan ini memang sudah tidak tinggal lagi dengan orang tuanya,karena ia harus menimba ilmu diperguruan tinggi di candridge, massachusetts,Amerika Serikàt.Terpatnya di Harvard University,semenjak satu tahun belakangan.
Berkat program akselerasi,pemuda tampan ini berhasil lompat kelas karena kejeniusanya.
"Kamu mau minta fhoto sama kakak itu?"
Tanya wanita baya tersebut.
"I-iya ma."
Cicit gadis kecil tersebut.
"Ok"
Wanita baya itu memberanikan diri mengajak sang putri untuk memenuhi keinginan sang putri yang ingin berfhoto dengan pemuda tampan yang terlihat baru saja selesai berolahraga tersebut.
"Permisi,dek boleh minta bantuanya tidak?"
Ucap si ibu.
Pemuda tampan itu menoleh,walaupun enggan menanggapi,tetapi ia tetap menjawab pertanyaan siibu.
"Bantuan apa bu?"
Ucapnya datar-sudah keturunan keknya guys.
"Boleh tidak adek fhoto sama putri saya.Soalnya putri saya ini-"
Jeda sang ibu terlihat ragu ragu untuk menlanjutkan perkataanya.
Si ibu itu memberanikan diri mendekat,membisikkan sepatah kata yañg membuat pria dihadapanya itu terkejut.
"Yasudah,ayo dek."
Ucapnya se-lembut dan se-tulus mungkin.
Cekrek
Cekrek
"Yeyyy,makasih ya kak!"
Senang gadis berseragam merah putih itu.
"Hm"
Jawabnya datar,sambil tersenyum kecil.
"Yang kuat ya dek,kamu pasti bisa sembuh."
Ucapnya sambil tersenyum kecil lalu pamit pergi.
"Kakaknya baik ya mam!"
"Iya."
Pemuda tampan itu berlalu.Niatnya hanya rehat sejenak menuntaskan dahaganya selepas berolahraga,siapa sangka ia akan dimintai fhoto oleh gadis yang tengah mengidap kanker darah.Miris,padahal gadis itu masih kecil pikirnya.
Langkahnya kembali mengencang,hingga membawanya menepi kesebuah rumah megah berdominasi warna cat putih dan abu.
"Assalamualaikum,Abang handsome pulang."
Salamnya riang,sambil memasuki rumah tersebut.
Berbeda halnya dengan sikap datarnya tadi.Kini ia menjelma menjadi sosok yang lebih humble jika tengah berhadapan dengan wanita yang dicintainya ini.
"Bundaaa."
Rajuknya kesal,pasalnya wanita yang disayanginya itu tidak menghiraukan keberadaanya apalagi menjawab salamnya.
"Oh,abang sudah pulang.Gimana lari paginya,seru?"
Tanya sang bunda,yang kini masih sibuk mengikatkan dasi dikerah baju suami tercintanya.
"Bunda,abang salam gak dijawab.Bunda malah sibuk nguŕusin big baby!"
Ketusnya,sambil memeluk tubuh sang bunda dari belakang.
"Hey,ayah bukan big baby ya boy!"
Protes pria berusia 47 tahun tersebut.
"Ayah pasang dasi aja masih sama bunda,manja."
Ejek sisulung.
"Biarin,bunda kan istri ayah."
Jawab sang ayah tak mau kalah.
"Bun,ayah tuh.Masa sama abang gak mau ngalah.Abangkan kangen sama bunda."
Kesal sisulung,sambil melepaskan pelukanya.
"Udah ya,kenapa sih abang sama ayah ini ribut mulu.Ini masih pagi loh?"
Lerai wanita cantik berhijab syar'i tersebut.
Diusianya yang sudah meninjak kepala empatpun,wajah baby facenya tetap terlihat terawat dan cantik alami tanpa polesan make up berlebihan.
"Udah udah,sekarang kita kemeja makan buat sarapa ya?"
Ajaknya.
"Ayo abang,ayah."
Ucapnya lagi,yang langsung diikuti oleh kedua pria yang disayanginya itu.
"Kuliah abang gimana disana?"
Tanya sang bunda,sambil menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya.
"Alhamdulillah,lancar bun."
Jawabnya datar,kembali ke mode datar bin dinginya.
__ADS_1
"Bunda gak suka ya,kalau abang sampai main main gak bener disana.Ayah sama bunda sekolahin abang biar jadi anak yang pintar,dunia dan akhirat.Bukan jadi beban pertanggung jawaban ayah dan bunda diakhirat nanti."
Ucapnya lembut,sambil menyodorkan sepiring roti bakar isi selai kacang almond pafovit sang putra.
"Abang ngerti maksud bunda kan?"
"Iya kapten."
Jawabnya mantap,sambil menatap sang ayah.Mengerti jika ayahnya itu ada yang ingin disampaikan kepadanya.
"Ayah,ada yang mau dibilangin ke abang?"
Tanyanya.
"Ayah cuma minta kamu jadi lelaki yang bertanggung jawab.Atas janji kamu terhadap ayah dan bunda,juga terhadap masa depan kamu.Belajar dari kesalahan ayah,jangan ikuti yang buruk dari ayah.Tapi ikuti yang menurut kamu baik."
Tutur sang Ayah mengingatkan,pasalnya putra sulungnya ini sudah beranjak dewasa.
Masa masa dimana seorang manusia tengah beranjak dari masa kanak kanak beralih ke masa dewasa.Masa masa rentan pencarian jati diri yang juga rentan akan rasa penasaran yang juga kadang menjerumuskan kehal hal yang terlarang.
"Iya yah,Insaallah Abang bakal pegang janji abang."
Ucapnya mantap.
"Good boy."
"Ayah,bundaaa."
Teriak suara melengking yang berasal dari gadis cantik berseragam putih biru tersebut.
"Dek,jangan lari lari.Nanti jatuh."
Larang pemilik suara berat tersebut.Mengikuti gadis kecil tadi dari belakangnya.
"Ayah,bunda,abang,selamat pagi."
Sapanya semangat,sambil menciumi pipi kanan setiap orang yang dicintainya tersebut.
"Abang gak nih?"
Koreksi pemuda yang sama sama berseragam putih biru tersebut.
"Abang Van'ar kan udah duluan tadi."
Celotehnya kecil,sambil menarik kursi disamping sang ayah.
"Bunda,Lunar mau roti pakai selai kacang kayak abang Anzar."
Celotehnya riang sambil mengembangkan senyuman manisnya.
"Sini,biar sama abang aja bun.Bunda duduk aja."
Sela si abang,yang langsung dihadiahi keterkejutan dari sang bunda.
"Biàr bunda aja,abang Van'ar duduk aja."
Tolak halus sang bunda.
"Biar abang aja,lagipula bunda juga cepek habis
gadang sama ayah."
Glek
"Uhuk,uhuk."
Batuk sang ayah yang tiba tiba tersedak.Mengerti arah pembicaran putranya yang jenius satu ini.
"Aduh hati hati yah,ini minum dulu."
Sedangkan si sulung terlihat menahan tawanya,melihat efek dari kejujuran sang adik.Van'ar memang terkenal akan kejujuran juga kedisiplinanya yang diturunkan dari kakeknya-Ibra yang notabenenya mantan anggota militer.Pemuda berusia 12 tahun itu juga terkenal akan kejeniusanya,terutama dimapel matematika.
"Bunda capek kan,jadi biar abang aja yang siapin."
Ucapnya datar tak betekspresi.
Van'ar memang sosok yang paling datar dan susah mengeķspresikan dirinya.Oleh karena itu ia juga menjadi cucu kesayangan Ibra,karena kesamaan sifat mereka tentunya.
Wanita cantik itu mengalah,membiarkan putra keduanya mengambil alih kegiatanya tadi.Dari ketiga buah hatinya,si tengah Van'ar lah yang sifatnya sangat tidak bisa dibantah.Kedisiplinan yang terpatri kuat,jiga keyakinan yang tertancap kuat.
Juga kejujuranya yang cenderung ceplas ceplos saking tidak bisa menyembunyikan kebohongan sedikitpun.
"Buh,yah,abang udah pikirin soal permintaan kakek."
Kedua orang yang dipanggil itu menoleh,menatap putranya penuh selidik.
"Abang bakal masuk sekolah militer."
Ujar Van'ar mantap soal penawaran yang diajukan sang kakek tempo hari.
"Abang yakin?"
Tanya sang bunda ragu ragu.
"Abang yakin bun.Tekad abang sudah bulat."
Tuhkan,pemuda berusia 12 tahun ini memang lebih dewasa dari usianya.
"Gimana yah,ayah sama bunda ngijinin abang?"
Tanyanya lagi.
"Hm."
Ayahnya menimang sejenak.Kegigihan putranya ini memang patut diacungi jempol,Ibra sekali.
"Kalau itu yang terbaik buat abang silahkan.Tapi ayah titip,sekali abang ambil keputusan harus konsisten jangan sampai abang mùndur ditengah jalan."
Ucapnya mengingatkan.
"Insaallah yah,abang yakin dengan keputusan abang."
Tuhkan lagi,pemuda ini sudah dewasa melebihi usianya.
"Yasudah."
Ucap sang ayah mengalah.
Berbeda dengan sang bunda yang terlihat masih enggan meyanggupi keinginan sang putra.Bukan apa apa,sebagai seorang ibu ia masih sulit untuk melepas putranya masuk kedunia militer.
"Bunda."
Lirih Van'ar
"Bunda gak ngijinan abang?"
Wanita cantik itu masih enggan menjawab.Rasanya ia benar benar belum rela melepas putra mudanya ini.
"Bun,percaya sama abang.Semuanya bakal baik baik aja."
Ucap Van'ar bijak.
Sang kakak-Kevanzar Radityan Khutbi menatap adiknya kagum.Walaupun berbeda lima tahun denganya,tetapi adiknya itu memiliki pemikiran dewasa yang terkadang menohok sebagian jiwanya.
"Bunda ngijinin kok,yang penting abang selalu bisa jaga kesehatan abang.Ingat pulang,karena ada bunda,ayah,abang sama adik yang nunggu abang Van'ar pulang."
Lirih wanita tersebut mencoba tegar.
__ADS_1
Bukan apa apa,karena Ibra sang mertua sendiri sudah menyampaikan niatnya untuk memasukkan sang cucu kesekolah militer.Tentu dengan pengawasan dan dibawah binaanya secara langsung.Namun sebagai seorang ibu,Kia-tetaplah wanita yang memiliki ketàkutan lebih jika menyangkut keluarganya.Tetapi bagaimana lagi,Van'ar memang dari kecil dekat dengan Ibra juga mewarisi beberapa bakat menonjol dari sang kakek.
"Bunda ikhlas abang masuk militer."
Ucapnya yakin,yang langsung mendapat hadiah pelukan dari sang putra.
Putra putrinya kini sudah beranjak dewasa.Sekuat apapun ia mengekangnya,mereka tetaplah akan berkembang besar dan mencari jalanya sendiri.Jika sisulung sudah menentukan jalanya dengan mengambil kuliah diluar negri setahun lalu,mungkin kini saatnya sang adik mengikuti jejak sang kakak.Meninggalkan rumah demi mengembangkan mutu kualitasnya demi masa depanya dikemudian hari.Cuma sibungsu yang belum terlihat akan memilih jalan mana.Mungkin karena Lunar perempuan,oleh karèna itu tekadnya tak se menggebu gebu kedua kakak lelakinya.
Pada akhirnya pun,kita sebagai orang tua harus iklas.Melepas luaskan putra putri kita jauh dari jangkauan,tujanya tentu agar mereka belajar.Belajar merasakan betapa pedihnya meraih cita cita,jauh dari orang tua,hingga belajar dari tiap individu yang akan ia temui dalam pengembaraanya nanti.
Begitupula Arkia-wanita itupun pada akhirnya harus membeiarkan putra
putrinya mengejar mimpi mereka setinggi langit,ataupun sejaùh arungan samudra.Ia harus iklas dan tentunya berdoa agar Allah selalu menyertakan keselamatan dan lindundungan kepada ktiga buah hatinya.
"Abang pergi ya bun."
Pamit Anzar.
Iya,dia-Kevanzar Radityan Khutbi sisulung,si tampan yang kini menjelma menjadi lelaki dewasa penuh pesona juga penuh mimpi.Setahun lalu ia lepas dari keluarganya,terbang ke negri Adikuasa,Amerika serikat untuk menuntut ilmu juga mencari sebangak mungkin pengalaman agar ia memiliki kemampuan yang memadai untuk menjalankan perusahaan keluarganya kelak.
Diraihnya punggung tangan sang bunda,sebelum dikecupnya lembut.
"Ayah sama bunda yang sehat disini,jangan lupa istirahat yah.Bunda juga,kalau diajak gadang mulu jangan mau."
Godanya sambil tertawa kecil.
"Dasar,anak nakal."
Koreksi sang ayah.
"Nakal gimananya,orang good boy gini?"
Ucapnya percaya diri.
"Udah ya bun,jangan menangis.Kan abang nanti kalau libur juga insaallah pulang."
Wanita cantik bergamis toska itu mengusap air matanya yang hendak jatuh.Lalu tersenyum meyakinkah kearah sang putra.
"Bunďa gak papa kok."
Ucapnya sebelum memeluk tubuh tinggi sang putra.
"Ingat,jaga kesehatan disana bang."
Ucapnya yang dijawab anggukan sang putra dalam pelukanya.
"Istirahat yang cukup,vitamin c nya jangan lupa diminum.Yang lima waktu juga,jangan sampai telat.Ingat juga,jangan dulu main cewek kalau abang masih mau fokus kuliah."
Ucapnya mewanti wanti.
"Iya bunda sayang."
"Bunda sayang abang,hati hati disana ya."
Kata Kia diakhir perkataan dan pelukanya.
"Iya bun."
Setelah memeluk kedua adiknya,bundanya dan sekarang giliran sang ayah yang masih dalam posisi tenangnya dalam balutan setelan formalnya.
"Abang pamit yah,doain abang supaya bisa mencapai apa yang abang cita citakan."
Ucapnya dikala pelukanya dengan sosok idolanya sejak kecil-sang ayahnya sendiri.
"Doa terbaik ayah selalu menyertaimu.Ingat janji kamu,ayah yakin kamu tidak akan mengecawakan ayah dan bunda."
"Isaallah yah,abang janji."
"Good boy,ayah pegang janjimu."
Dengan segala keikhlasan yang tentu juga kesedihan dikala perpisahanya,pemuda tampan itu kembali meninggalkan keluarga yang telah membesarkanya.Walaupun berat,ia harus melakukan ini demi masa depanya kelak.Bersakit sakit dahulu bersenang senang kemudian.Ia yakin,perpisahan ini akan terbayar impas dengan segala hasil kerja kerasnya dikemudian hari.
Tanpa sengaja,manik elamg tajamnya bertabrakan dengan manik hazel cantik yang tersembunyi milik gadis berhijab dan bercadar yang duduk dikursi pesawat dua baris dihadapanya.Manik cantik yang mampu memikatnya dalam sekejap,sebelum siempunya memutuskan tatapan mereka.
Ah,sayang seķali.
Meninggalkan ketertarikanya,pemuda itu tersenyum kecil namun miris.Hari ini hingga bebetapa tahun kedepan ia pasti akan merindukan keluarganya.Tapi biarlah,seperti Van'ar sang adik dengan tekad bajanya.Ia juga harus mantap akan tekadnya.
"Good bye Indonesia,see you again."
Ucapnya lirih.
Sama halnya dengan Anzar,ada orang lain yang juga harus mengalami perpisahan terlebih dahulu demi meraih sebuah kesuksesan dikemudian hari.
"Sampai jumpa beberapa tahun kedepan Didi,mama.Aurra pasti akan rindu."
Lirih gadis bercadar yang kini menatap langit cerah Jakarta dari jendela pesawat disampingnya.
(Yang penasaran ini Aurra Putri Haidan)
Bagaimanapun juga,sesuatu akan dapat diraih jika kita melewati prosesnya dari awal.Adanya perpisahan untuk memulai sebuah awal adalah proses menuju kesuksesan dikemudian hari.
"Doa terbaik dari bunda selalu menyertai kamu,Anzar."
Lirih wanita cantik itu pilu.
"Udah ya bun,kita pulang sekarang."
Ujar sang suami mengingatkan.
"Iya mas."
Bagaimanapun juga kehidupan akan terus bertumbuh.Tumbuh,besar hingga siap lepas mengarungi jalan hidupnya sendiri.Begitupun yang kini Arkia harus lalui,ia harus ikhlas melepas putranya yang hendak menimba ilmu,atau putra lainya yang hendak mengabdi didunia militer.Ia harus siap akan segala resikonya.Karena bagaimanapun yang dilakukan oleh putra putrinya itu adalah jalan hidup yang akan mereka tempuh.
Diakhir kisah,ia dan sang suami adalah sepasang orang tua yang harus mengikhlaskan dan mendoakan putra putri mereka dalam setiap jalan yang mereka pilih.Ia hanya berharap kesalahan dan kepedihan dimasalalu tak akan pernah menimpa putra putrinya kelak.Karena bagaimanapun,seorang orang tua hanya ingin yang terbaik untuk putra putrinya.
"Terimakasih sudah menjadi pendamping hidupku.Menjadi ibu yang hebat bagi putra putriku.Hingga rambut ini lebat oleh ubanpun,aku akan tetap bersamamu,mencintaimu dan menyayangimu.Menghabiskan waktu menua bersamamu,hingga melihat putra putri kita membangun keluarga kecilnya kelak.Please stay with me,Arkia Shalfira mubarak.Dan terimakasih atas kesetiaan yang selama ini kamu berikan.Aku mencitaimu karena Rabb-ku,istriku."
"Terimakasih atas segala rasa yang kamu kenalkan dalam hidupku.Bagiku,pahit manisnya hidup yang kuarungi bersamamu adalah bumbu pelengkap bagi hubungan kita.Terimakasih karena telah datang kedalam hidupku.Tidak pernah ada yang salah dari khitbahmu kala itu,aku malah bersyukur karenanya.Hingga kedua kaki ini tak bisa berjalanpun aku akan setia berjalan disampingmu.Hingga deru napas terakhirpun,aku akan sètia mendampingimu.Terimakasih atas segala rasa yang kau berikan kepadaku,suamiku.Aku mencintaimu karena Allah,Keevano Radityan Khutbi."
\=\=\=\=SELESAI\=\=\=\=
**Alhamdulillah,selesai sudah karya keduaku yang ini.Senang rasanya bisa ditemani hingga part terakhir oleh readers yang masih setia nunggu update.
Terimakasih buat yang selama ini mau meluangkan waktunya buat vote,komen,kritik ataupun saranya.
Terimakasih pokoknya😙😙❤❤
Ok,pertanyaan terakhir dari Author!
A)Mau dibuat part 2 atau
B)cerita tentang anak anak Kia nih?
Kalau yang jawab B ada klunya,aku mau kasih judul 'Bukan salah Jodoh' gimana?
Yokk....dikomennn.
Yaudah,selam perpisahan deh dari Kia dan Vano.Sampai jumpa di cerita berikutnya🖑🖑
Sukabumi 05/April/2020.
1**4.47
2452 kata
__ADS_1