Bukan Salah Khitbah (R1)

Bukan Salah Khitbah (R1)
Masalalu Kia,masa depan Bara


__ADS_3

'Takdir tentang masalalu bukan kita yang menentukan.Kita tidak tahu,serumit apa kisah masalalu yang muncul dikemudian hari. '


"Apa-"


Cup


Pria bermanik coklat bening itu mematung seketika ditempatnya.Manik coklatnya membulat sempurna,ketika perbuatan gadis mungil dihadapanya membuat kinerja otaknya blank seketika.Jantungnya memburu dua kali lipat dibuatnya.


'Astagfirullahaladzim,bibir saya....tidak suci lagi!'


"Aku gak mau pergi.Sekuat apapun kamu mengusirku,aku akan tetap tinggal disini."


Kata gadis bermanik emerald tersebut,sambil menyentuh dada bidang milik pria dihadapanya.


"Pokonya Baby bakal terus ada disini,TITIK!"


Katanya penuh penekanan,seiring dengan derasnya derai air matanya.


**


"Astagfirullahaladzim,kenapa bayangan gadis itu selalu muncul dibenakku!"


Gumam pria yang tengah duduk dibalkon kamarnya tersebut.


Menatap indahnya langit malam yang gelap,tanpa cahaya rembulan.Ini sudah seminggu berlalu,semenjak perginya gadis manis berambut bob tersebut dari hidupnya.


Seminggu yang lalu,Bara menepati janjinya.


Membiarkan orang suruhan ayah dari gadis bermanik emerald tersebut membawanya.Membawa gadis berambut sepunggung itu dengan paksaan dan penuh air mata.


Risma bahka tak tega melihat gadis yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri dibawa dengan paksa.


Bara pikir,setelah kepergianya hidupnya akan kembali normal.Bara pikir,setelah kepergianya dirinya akan terbebas dari segala sesuatu tentangnya.Namun semua itu salah,buruknya lagi Bara malah dibuat urig uringan tiap pagi karena pikiranya terus tertuju pada gadis bermanik emerald tersebut.


Bukanya hidupnya kembali normal dan tentram benderang,kini Bara malah seakan akan dihantui perasaan bersalah dan kehilangan sekaligus.


Arrggg......


Geramnya frustasi,sambil menguyar rambutnya kasar.


"Hati hati Bar,kata Dylan rindu itu berat.Kamu gak akan kuat!"


Ledek pria bermanik hitam yang mengenakan pakaian casualnya tersebut.


"Apaan sih Dim,siapa juga yang rindu!"


Elak Bara.


Jawaban Bara tersebut,malah mengundang kekehan kecil dari pria yang tengah membaca jurnal kedokteran disampingnya.


"Marah itu tandanya cinta Bar,Rindu itu berarti kamu belum benar benar bisa melupakan 'gadis kecil' itu."


Ujar Dimas,sambil membenarkan letak kacamata baca yang bertengger apik dihidung bangirnya.


"Aku-"


"Perasaan menyesal karena membuatnya menangis,dibayang bayangi wajahnya,rindu akan sikap kekanak kaakanya,kepala kosong isinya cuma dia,males makan bawaanya pingin lihat dia.Sepi,rasanya ingin lihat suara melengkingnya berceloteh.Itu namanya apa ya?"


Tutur Dimas,seolah olah bertanya pada diri sendiri.


"Kamu mungkin belum sadar Bar,tapi dulu aku juga gitu sama almarhum bundanya Aurra.Tanpa sadar......aku mulai suka sama dia." Ucapnya pelan sambil mengalihkan pandanganya kearah langit lepas.


"Cinta datang dengan tak diundang.Pergipun kadang tanpa permisi.


Hati hati Bar,sekarang kamu menyangkal semua itu.Tapi nanti,aku yakin kamu akan menyesal jika melihat dia menjadi milik pria lain." Tutur Dimas.


Deg


'Menjadi milik pria lain?' Bara bergumam.


Membayangkanya saja ia tidak pernah,apalagi jika semua itu menjadi kenyataan.Apa jadinya dia,coba?


"Aku cuma mau bilang Bar,kita terlalu lama menyayangi dan mengejar satu orang wanita.Sampai kita lupa,bagaimana memberi opsi agar wanita lain dapat menggantikanya dihati kita."


Perkataan Dimas itu bukan tanpa dasar,namun semua itu berdasarkan atas semua pengalamanya.Memperebutkan satu orang wanita walaupun memang secara sehat,tetap saja ia menjadi tidak pernah memberikan wanita lain untuk menyentuh hatinya.


"Dari yang aku lihat,gadis itu baik dan sudah cukup dewasa bagimu.Walaupun usia kalian terpaut 9 tahun,perbedaan usia bukanlah jaminan Bar.Sekali lagi,aku cuma mengingatkan jika dia pantas berada disampingmu." Ucap Dimas sambil menepuk bahu sang sahabat.


"Sesekali,pria dingin macam kutub es seperti kita memang butuh gadis kecil yang agresif." Bisiknya pelan sambil terkekeh.


Sedangkan pria yang mendengar ucapan absurd dari sahabatnya itu langsung terdiam dibuatnya.


'Agresif? Jangan jangan dimas....?' Batinya menerka nerka.


"JADI KAMU LIHAT YANG WAKTU ITU DIM?" Teriaknya keras ketika mendengar tawa menggelegar sang sahabat dari dalam rumah.


"LIFE STREAMING BAR,GAK BOLEH DILEWATKAN.HAHAHA" Sahut Dimas sambil tertawa renyah.


Sedangkan Bara,pria itu sudah bak kepiting rebus dibuatnya.Wajahnya merah saking malunya.


'Setidaknya aku sekarang yakin,jika gadis kecil itu adalah masa depan yang perlu kukejar saat ini.' Tekadnya dalam hati.


Bara memang selalu mendengarkan apapun nasihat dan kedua sahabatnya,Dimas dan Ezka.Karena baginya keduanya adalah tempat paling manjur untuk mencari solusi.


Setidaknya,dari pencerahan yang diberikan Dimas,Bara mampu meyakinkan tekadnya akan apa yang harus ia lakukan.Hingga tekad itu membawanya berdiri disini,didepan pintu gerbang utama kediaman keluarga besar gadis kecilnya tinggal.

__ADS_1


"Per-"


"Cepat,kalian tidak tahu jika nona Baby kabur lagi.Bagaimana kalau nona sampai hilang lagi,tuan besar pasti marah besar."


Deg


Jantung pria berbalut setelan formal itu seakan akan berhenti seketika,kala mendengar seorang pria berpakaian seperti bodyguard berbicara kepada sesama rekanya.


'Baby kabur lagi,Astafirullahaladzim,kemana perginya dia!' Batinya cemas.


Bara yang tadinya ingin menanyakan tentang keberadaan Baby,lebih memilih menguping pembicaraan kedua bodyguard bertubuh kemar tersebut.


"Lapor bos,tadi mata mata tim B melihat nona muda dibandara Mùnic Internasional Airport boss." Tutur pria berseragam serba hitam tersebut.


"Bandara Mùnic Internasional Airport,sudah diselidiki nona muda pergi kemana?"


"Siap,sudah tuan.Nona muda terbang ke Turki,menurut informasi yang kami dapat,nona pergi menemui tuan muda yang tengah berada di Ankara." Papar pria yang diyakini bawahan dari pria satunya lagi tersebut.


'Ankara,jadi Baby pergi ke Turki?'


Tanpa babibu lagi,Bara langsung kembali kekediaman Dimas untuk mengambil paspor miliknya untuk terbang ke Turki,mengejar sang pujaan yang kini mulai diklaim sebagai miliknya.


°•°•°•°


Lain tempat,lain pula posisinya.Disini,tepatnya diruang keluarga milik apartemen Vano.Kedua pria dewasa dan seorang wanita dewasa itu terliat saling mendiami.


Sesekali pria bermanik jelaga tersebut,melirik wanita cantik berhijab yang berstatus sebagai istrinya,kemudian bergantian melirik pria dihadapanya yang berstatus sebagai suami dari adiknya.


Sebenarnya Vano bingung,otaknya pun masih menerka nerka.Ia tahu jika istrinya dan adik iparnya ini memiliki hubungan sehingga mereka berdua sudah saling mengenal.


"Apa kalian berdua mau berdiam diri seperti ini terus? Apa menurut kalian diamnya kalian mampu menutupi rasa penasaranku?"


Vano angkat bicara.


Sungguh ia sudah muak melihat keduanya yang saling mendiami satu sama lain ini.


Padahal ia juga tahu,ada rasa rindu yang nampak dari tatapan keduanya.


Bolehkah Vano cemburu sekarang??


Melihat istrinya sendiri memandang pria lain dengan kerinduan amat mendalam,dan rasa cinta mendalam yang amat kentara walaupun ia mencoba menyembunyikanya.


"Baik,jika kalian tidak mau bicara jika ada saya,saya akan keluar sekarang."


Ujar Vano formal.


Ia sudah muak dengan keterdiaman keduanya.Apalagi ia sudah mengganti kata 'aku' yang ditunjukan jika menyebut dirinya dihadapan orang orang tetdekatnya,dengan 'saya' yang selalu digunakanya untuk seseorang selain keluarga.


"Silahkan bicara sepuasnya,jika itu membuat kalian lega."


Padahal hati kecilnya nyeri menahan percikan api cemburu yang mulai menguap.


Istrinya itu pasti memiliki hubungan yang cukup rumit dengan adik iparnya ini.


Mungkin Vano juga harus merasa buruk sekarang ini.


Dulu ada Ezka,Dimas dan Bara.


Yang setia menjaga kia,menyayanginya sepenuh hati,bahkan mencintainya dengan tulus.Mereka bertiga adalah pria baik baik yang tentu saja tidak brengsek sepertinya.Kini,adik iparnya sendiri ternyata merupakan salah satu bagian dari masalalu sang istri.


Jika boleh merasa minder,Vano pasti akan merasa minder.Diantara nama keempat pria tersebut,dari segi fisik memang ia unggul.Dari segi hartapun,ia dapat diunggulkan.Namun,dari segi tanggung jawab,iman,pengorbanan dan kesabaran ia kalah telak jika bersanding dengan keempatnya.


Oleh karena itu,Vano mulai menyadari tempatnya kini dibagian mana.Dengan hadirnya pria dari masalalu kia ini,membuatnya juga tahu dimana letak dirinya dihati wanita bermanik teduh tersebut.


Grep


"Mass....tunggu!"


Lirih pelan wanita cantik tersebut,sambil menahan lengan kokoh milik suaminya tersebut.


Vano menatap nanar wanita yang berstatus sebagai istri dan ibu dari anaknya tersebut.


Manik hitam meneduh itu terlihat begitu rapuh,banyak kebingungan dari sorotanya.


Ada pula luka dan rasa kekecewaan dimasalalu yang nampak dimatanya.


"Tetap disini,Kia mohon"


pintanya memohon,agar sang suami tak pergi dari sisinya.


Kia tak mau masalah masalalunya ini berlarut larut.Bagaimanapun semua ini berasal darinya,maka dialah juga yang harus menyelesaikanya.


"Kia mohon mas."


Aditama,pria tampan itu menatap sendu wanita yang dulu ia beri janji muluk muluk.


Wanita yang dulu seorang gadis berseragam putih abu,yang membuatnya jatuh cinta setiap hati.


Wanita pertama yang dulu menguasai sebagian besar hatinya,selain ibu dan adiknya.


Iya,wanita pertama yang ia janjikan sebuah ikrar pernikahan walaupun nyatanya tak kunjung ia tepati hingga tahun kesepuluh.


"Hm"


Hingga lamunanya buyar akan persetujuan Vano.Pria tampan bermanik jelaga itu kembali duduk disamping Kia.

__ADS_1


Sebenarnya Adi pun tak tahu jika kakak iparnya itu adalah wanita yang dulu amat dicintainya.Wanita yang sama pula,yang telah diberinya ikrar untuk setia hingga sepuluh tahun lamanya tanpa kepastian.


Kini wanita itu menjadi milik pria yang berstatus sebagai kakak iparnya,kakak dari istrinya Vanya.


"Jadi,siapa yang akan menjelaskan keheningan ini?"


Tanya Vano to the point.


Sebenarnya ia bisa saja mati karena dua hal saat ini.Pertama karena penasaran,kedua karena cemburu tentunya.Namun ia mencoba menahan semua ego untuk menjadi frontal,bagaimanapun segala sesuatu masih dapat dipecahkan tanpa emosi yang meluap luap.


"Hm...maaf bang,tapi untuk yang pertama kali,saya mau minta maaf kepada Fira."


Ucap Aditama angkat bicara.


Sesekali ia melirik Kia yang masih menunduk dihadapanya.Jemari mungilnya meremas kuat ujung khimarnya.


"Maaf,untuk apa?"


"Maaf untuk ikrar selama sepuluh tahun ini yang tak kunjung saya tepati.Maaf karena menghilang tanpa kabar bagaikan pecundang.Maaf karena bukanya meminang Kia,saya malah menjadikan wanita lain ratu dihati saya." Tutur Aditama,tanpa melepaskan tatapanya dari wanita dihadapanya.


Ya,10 tahun bukan waktu yang sebentar.Ia juga tahu jika dalam sepuluh tahun itu banyak yang harus Kia alami,terlepas dari kepastian yang tak pernah diberikanya.


"Maaf ki,karena saya tidak bisa menepati semua ikrar yang pernah saya buat."


Ada nada penyesalan amat dalam disana.


Wanita cantik yang sedari tadi menunduk itu akhirnya berani mendongkrakkan wajahnya.Senyum kecil terbit dibibirnya,bersamaan dengan jemarinya yang menggang tangan milik sang suami erat.


Kia mencoba mencari kekuatan dari genggaman tersebut.Bagaimanapun juga masalalu ini datang begitu tiba tiba,ditengah tengah kebahagiaan yang baru didapatkanya.


"Kia sudah memaafkan mas Adi.Dari dulu,jadi mas Adi tidak perlu khawatir."


Vano dan Adi menatap wanita bermanik hitam teduh yang terlihat tegar tersebut.


Walaupun belum jelas bagi Vano,apa yang membuat keduanya berpisah jika saling mencintai.Namun hatinya juga lega,jikalau benar adanya jika istrinya ini sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap pria dari masa lalunya.


"Kia sudah memaafkan mas Adi.Untuk masalah ikrar,Kia sudah ikhlas.10 tahun memang bukan waktu yang singkat bagi Kia,namun bukan waktu yang lama juga untuk Kia belajar mengikhlaskan.


Jika pun kita tidak berjodoh,karena itu semua kehendak Allah.


Jikapun Kia tidak perlu menunggu sepuluh tahun tanpa kepastian,Kia tidak akan bertemu mas Vano.Kia tidak akàn menikah dengan mas Vano,dan menjadi seoeang ibu dari putra hebat seperti Anzar.


Semua sudah atas kehendak Allah.


Kia sebagai manusia hanya harus ikhlas menerima,dan menjalani setiap takdir yang dituliskan-Nya untuk Kia.


Kia ikhlas mas,lahir dan batin.Soal ikrar pernikahan kita,hubungan kita atau cinta kita.Kia ikhlas ĺillahi ta'ala." Ungkapnya dengan mantap.


Vano dan Aditamapun sama sama dibuat tercengang oleh apa yang diutarakan oleh wanita berkhimar syar'i ini.


Keihklasan hatinya telah terbuktikan,10 tahun tanpa kepastian ia ikhlaskan semata mata karena semua itu kehendak dari Allah SWT.


Jika pada umumnya,seorang wanita ditinggalkan dengan janji hingga bertahun tahun tanpa kepastian,pasti ia kan merasa kecewa amat luar bias,benci bahkan tak sudi lagi untuk melihatnya.


Namun semua itu lain bagi Kia.Dengan ikhlasnya ia memaafkan pria yang dulu amat dicintainya,yang dulu menberinya ikrar sebuah pernikahan,yang dulu meninggalkanya tanpa kepastian.


"Kia ikhlas tentang hubùngan asmara kita yang harus kandas ditengah jalan.


Kia juga mau berterimakasih kepada mas Adi,karena hikmah dari penantian tanpa kepastian yang tak berujung itu,membuat Kia bertemu dengan mas Vano." Kata Kia lembut,sambil memperkuat tautan tanganya dan sang suami.


"Terimakasih,karena mas juga Kia akhirnya bisa merasakan menjadi seorang istri dari pria yang hebat seperti mas Vano,dan menjadi seorang ibu bersamaan."


Vano sungguh sudah tak kuasa lagi menahan harunya,ternyata ketakutan akan pilihan Kia yang akan lebih condong kemasalalunya salah besar.Wanita itu memilihnya,bersyukur atas pertemuan mereka,juga pernikahan mereka.Vano sungguh bersyukur telah diberi seorang istri yang bukan saja cantik jelita,namun juga ahlaknya pun luar biasa baik.


Grep


"Terimakasih,karena telah hadir dihidupku ki.Terimakasih karena telah menjadi istri dan ibu yang hebat untuk keluarga kecil kita.Dan terimakasih untuk cinta dan kesetiaanya,aku mencintaimu Arkia."


Ungkap Vano penuh cinta,sambil merengkuh tubuh mungil sang istri.


Memeluknya erat seakan akan takut kehilangan.Sesekali menghujani wajah cantik istrinya dengan kecupan kecupan kecil,tanpa peduli akan seorang pria yang menatap sendu kearah keduanya.


"Maaf ki,dan semoga kamu bahagia dengan keluarga kecilmu." Gumamnya pelan,sambil beranjak setelah pamit secara pelan pula.


Hari ini,sebuah hati kembali patah karena kesetiaan cinta dari seorang Arkia.


Adi memang sudah mewanti wanti jika suatu saat nanti bertemu Kia,masalalu terindahnya tersebut.Namun tak pernah terpikirkan sedikitpun olehnya jika mereka akan dipertemukan dalam status serumit ini.


TBC


@@@


Hohoho.....gimana???


Maaf tlat update,lagi sibuk packing buat PKL Nih😊😊


Semoga selalu betah ya saya karya karyaku.Pokoknya jangan bosan bosan buat kritik dan komen ya🤗🤗


Jangan lupa komen,komen,komen.Butuh suntikan semangat nih😅


Ditunggu.....


Ok,sampai jumpa lagi ya🖑🖑


Sukabumi 23/12/19

__ADS_1


16:35


__ADS_2