
“Sesungguhnya mata akan meneteskan air dan hati akan bersedih. (Akan tetapi) kami tidak akan mengatakan kecuali apa yang akan diridhai Rabb kami dan sesungguhnya kami sungguh sangat sedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim.” (HR. al-Bukhari)
Dua garis merah.
Bukan judul film itu ya,ini hanya dua garis merah yang tertera diatas benda pipih panjang yang diberikan Renata tempo hari.
Setelah pertemuan mereka waktu itu,Renata yang notabenenya seorang dokter obgyn memerikan dua buah alat tes kehamilan padanya.
Awalanya sempat ragu untuk mrncoba benda tersebut,mengingat tidak ada tanda tanda kehamilan yang sempat ia alami.
Positif
Namun benda itu berbanding terbalik dengan ekspetasinya.Pikiranya pun kembali menerawang,menerka nerka apakah ia mengalami gejala umùm yang biasanya dialami ibu hamil pada umumnya,namun nihil.
Ia normal normal saja selama ini.
Hoeekk
Hoeekk
Namun suara muntahan yang hampir tiap pagi ia dengar akhir akhir ini,memuat pikiranya kembali berpikir.Jangan jangan tanda tanda kehamilan itu tidak terjadi kepadanya,karena sang suami yang mengalaminya.
"Jadi mas Vano mengalami morningsickness selama ini?" Gumamnya kecil sambil tersenyum penuh makna.
Kalimat penuh syukur kini tak henti hentinya diucapkan wanita berhijab syar'i tersebut atas segala rahmat yang telah diberikan tuhanya.Terlebih lagi kini ada sebuah nyawa yang kembali dititipkan sang pencipta didalam rahimnya.
"Alhamdulillah ya-Rabb,terimakasih atas semua rahmat dan karuniamù selama ini.Hambamu ini pasti akan menjaga titipanmu dengan sepenuh hati!"
Pagi itu,pagi yang cukup mendung di-Ankara.Mengingat sedari pagi awan kelabu terus menutupi langit dimana mana.
Malam nanti,Kia rencananya akan mengadakan makan malam bersama keluarganya dirumah orang tuanya.
Ia juga bahkan sudah mengundang adik lelakinya-Ezka dan istri serta putrinya.
Oleh karena itu,sore ini wanita berhijab syar'i berwarna gray tersebut tengah sibuk memilih bahan makan untuk menu nanti malam.
Rencananya,Kia juga akan mengatakan kabar bahagia tentang kehamilanya pasca makan malam keluarga itu berlangsung.
"Iya,kasihan sekali nak Bara!"
"Pasti dia sedih sekali saat ini!"
"Saya dengar Bara cuti selama satu bulan?"
"Iya pak,sampai menjelang empat puluh hari
Nanti!"
Untuk sejenak,kia dapat mendengar samar samar pembicaraan dua orang wanita dan pria paruh baya berpakaian formal yang tengah menunggu pembayaran dikasir tersebut.
"Iya,saya juga turut berduka atas kehilangan yang dialaminya.Semoga Almarhum dikhusnul khotimahkan meninggalnya!" Lanjut pria tersebut sebelum berlalu setelah membayar belanjasnya.
'Siapa yang meninggal?'
Batin Kia,menerka nerka.
Terakhir kali ia bertemu dengan Bara adalah sekitaran dua bulan yang lalu.
Tepatnya setelah penolakan yang ia utarakan untuk kesekian kalinya,setelah itu Bara pamit.Benar benar pamit tanpa kembali lagi kekehidupanya.
Hmmm
Terdengar hembusan napas lelah dari wanita cantik tersebut,terkadang ia berpikir mengapa begitu pelik kehidupan asmaranya.
Dulu ada sosok Aditama yang dicintainya penuh kasih,namun mencampakkanya tanpa kepastian.Kemudian ada Bara dan Dimas yang membuatnya harus terjebak cinta segi tiga dan friendzone.Jika tentang Ezka-jangan ditanya lagi,karena mereka hanya sebatas Brotherzone.
Peliknya kisah asmara tersebut bahkan berlanjut hingga kia mulai membina rumah tangganya dengan Vano.Semuanya bagaikan slide show dari powerpoint yang tak ada habisnya jika terus ditekan enter.
Ada lagi,lagi,dan lagi cerita yang bermunculan dengan tema dan alur yang berbeda.
Mencoba mengabaikan kabar burung tersebut,Kia memilih melanjutkan acara berbelanjanya mengingat sebentar lagi sudah hampir maghrib waktu Ankara.
Selepasnya melaksanakan shalat magrib dan isya,seluruh keluarga besar Mubaraq telah berkumpul.Jamuan makan malam juga tengah dinikmati bersama sama,keadaan canggung yang akan mengiringi acara dinner malam itu,nyatanya berbanding terbalik dengan realitanya.Semuanya berjalan secara natural dan semestinya,keberadaan Vano juga sudah diterima dengan baik oleh semuanya,termasuk Ezka.
Derrrtt
Derrrtt
Bunyi getaran ponsel Ezka yang tentu mencuri fokus seluruh orang yang tengan menikmati makan malamnya tersebut.
"Aku angket telpon dulu!"
Pamit pria jangkung tersebut.
Lama,itulah yang semua orang pasti pikirkan ketika Ezka mengangkat telpon yang entah dari siapa.Sekembalinya Ezka,pria itu seperti berubah raut wajahnya.
Cemas
Itu yang dilihat dan dipikir orang dewasa
Yang melihat perubahan raut muka Ezka.
"Ada apa bi?"
Lirih Ana,yang tengah memangku putrinya tersebut.
"Kita harus pulang sekarang,abi ada urusan penting!" Titah pria tampan berdarah campuran Turkey tersebut sambil pamit tergesa gesa.
'Ezka kenapa?' Batin Kia.
"Eh,ini bukanya handphone Ana ya?"
Lirih Salma saat melihat benda pipih berwarna gold tersebut teronggok diatas meja makan.
"Astagfirullahaladzim,iya mi.Itu ponsel punya Ana,biar Kia kembalikan dulu!"
Wanita berhijab syar'i tersebut langsung bergegas menuju luar rumah untuk memberikan handphone milik sahabat sekaligus saudari iparnya tersebut.
"Iya mi,mamanya Bara-Tante Ranti meninggal tujuh hari yang lalu!"
__ADS_1
Deg
"Innalillahi wainnllalilahi roji'un!"
"Katanya Bara gak sempat ngasih kabar,soalnya dia benar benar down pasca meningggalnya tante ranti!"
Tutur Ezka pelan.
"Hm,Kia kenapa tidak dikasih tahu,bukanya mereka-"
"Bara menolak untuk memberitahu Kia!"
Deg
Tanpa mereka sadari,wanita yang ingin mereka sembunyikan tentang berita tersebut berada tepat dibalik pintu utama.
Tubuhnya bergetar hebat,air matanya telah bercucuran tak terbendung.Bagaimanapun sosok almarhum Ranti adalah sosok yang sudah seperti uminya sendiri.
"Astagfirullahaladzim,kenapa mas Bara tega melakukan ini?" Gumam Kia pelan.
"Abi mau langsung pergi ke Indonesia malam ini?" Terdengar suara Ana kembali mengintrupsi.
"Iya,setidaknya abi harus menemui Bara!"
Kata Ezka kembali terdengar.
"Kita pulang seka-"
Brukk
"Astagfirullahaladzim,Kia kamu kenapa?"
Pekikan suara sang umi setelah suara benda jatuh tersebut sontak langsung membuat keduanya menoleh.
"Asagfirullah,Ki!"
Histeris Ana yang melihat kakak iparnya itu tergeletak tak berdaya didepan pintu.
"Astagfirullahaladzim ki,ayo bawa masuk istrimu vano!"
Titah halim mengintrupsi.
Ezka dan Ana yang hendak pulangpun mengurungkan niatnya sejenak karena melihat Kia yang tiba tiba pingsan.
"Istri saya kenapa dok?" Tanya Vano cemas.
Setengah jam yang lalu,Halim telah menelpon salah satu dokter kenalanya
Yang berasal dari Indonesia.
"Istri anda baik baik saja.Kia cuma kelelahan dan sedikit stres,itu tentu tidak baik untuk bayinya.Terlebih lagi Kia kekurangan darah,itu sebabnya dia pasti merasa lemas dan pening ketika terbangun nanti." Tutur dokter wanita yang sudah baya tersebut.
"Ini resep obatnya dapat ditebus diapotek!"
Lanjut sidokter
"Tunggu,bisa anda mengulagi kata kata anda tadi dok?" Sela Vano penasaran.
"Ba-bayi? K-kia hamil?"
Sela Vano yang juga diangguki kebingungan oleh yang lain.
"Iya.Kandungan Kia sudah memasuki minggu ke-9,saya pikir kalian sudah mengetahuinya."
Papar Dokter Reni-wanita baya yang sudah menetap diturki semenjak menikah dengan suaminya.
"Istri saya hamil?"
Ulang Vano kembali.
Sugguh pria tampan berusia 30 tahunan itu tak menduga dengan datangnya kabar bahagia ini.Siapa sangka,dalam rahim istrinya itu tengah tumbuh buah hatinya kembali.Sudut bibir kissablenya kini terangkat membentuk sudut sabit yang mengembang.
Kebahagiaan itu sungguh terpancar dari raut wajah tampanya.Sepeninggalanya dokter Reni,semua keluarga Mubaraq tak henti hentinya mengucapkan syukur dan selamat atas kehamilan putri sulung mereka.
"Yayah,nda kenapa? Unda cakit ya?"
Tanya sikecil Anzar yang kini tengah berada digendongan sang ayah.
Pria tampan bermanik elang itu tersenyum,lalu mengecup pucuk kepala putranya sayang.
"Bunda gak lagi sakit sayang,tapi bunda cuma kelelahan.Jadinya sekarang bunda harus istirahat!"tutur Vano yang langsung diangguki oleh sang putra.
"Abang!"
Panggil vano melirik sang putra yang kini turun dari gendonganya,ikut serta merebahkan dirinya disamping sang bunda.
"Abang mau temenin unda tidul ya! Kacian unda tidul cendili,undakan lagi cakit!"
Ucap Anzar kecil sambil memeluk tubuh sang bunda.
Pria berjambul hitam itu tersenyum bahagia,salah satu tanganya terulur menyentuh perut datar sang istru yang tertutup oleh gamis panjangnya.
"Abang,disini ada adik bayi yang lagi bobok.Nanti abang yang sayangnya sama adik abang!" Tutur Vano lembut.
"Jadi dicini ada adik bayi?"
"Iya sayang,disini ada adiknya abang!"
"Dipelut unda?? telus kapan adek bayinya kelual?"
"Hm....ya,nanti.Masih tujuh bulan lagi!"
Tutur Vano sambil mengusap perut datar sang istri,sayang.
Sungguh,tidak ada secuilpun kebahagiaan yang disembunyikanya saat ini.Hatinya benar benar bahagia,walaupun calon bayinya tersebut hadir karena keegoisanya,tetap saja baginya itu adalah anugrah terindah dalam hidupnya.
Semua kebahagiaan itu juga nampak jelas diraut wajah semua anggota keluarga Mubarq.Namun semua itu tak berlangsung lama,karena setelah Kia bagun-wanita itu langsung menangis tersedu sedu dan ingin segera pulan ke-Bandung.
Permintaan itu tentu ditolak mentah mentah oleh vano terutama,mengingat keadaan Kia yang tengah berbadan dua dan kondisinya juga belum stabil.
__ADS_1
Karena kabar duka itu,Kia sampai sampai terus menangis tersedu sedu karena tidak dapat mengunjugi kota kelahiranya tersebut,sekedar untuk berta'ziyyah keakam Ranti.
📃satu minggu telah berlalu.....
Kepulangan sang mama kehadapan sang ilahi,tentu membawa begitu banyak dampak kepada Bara selaku putra sematawayangnya.
Bara-pria tampan bermanik coklat terang itu,kini terlihat tengah berdiam diri dihadapan kolam ikan koi dibelakang rumahnya.
Tempat tersebut adalah tempat favorit sang mama ketika menjelang sore hari.
Wanita baya itu selalu senang duduk disana sambil memberi pakan ikan koi miliknya.
Bram memang sengaja membangun kolam ikan koi khusus untuk sang istri yang menyukai ikan tersebut.Kini tempat itu juga yang sering mengingatkan mereka akan kesukaan Ratna.
Dari saku baju kokonya,pria tampan bersurai hitam agak kecoklatan tersebut mengeluarkan sebuah amplop putih yang berisi surat dari sang mama.Papanya memberikan surat tersebut saat kematian sang istri menginjak hari ketujuh.
Bara masih enggan membuka surat yang katanya 'surat wasiat' tersebut.Biarlah surat itu menjadi keñgan terakhir dari sang mama.Kenangan yang akan selalu dikenangya untuk mengingat sosok sang mama.
Pluk
Pria tampan itu menoleh,menatap tak minat pemilik tangan yang singah dibahunya tersebut.
"Kalau mau peluk silahkan,tapi jangan lama lama!" Katanya sambil terkekeh kecil.
"Ka,loe dateng?"
Panggil Bara kecil.
'Lah udah loe-gue lagi,pasti lagi down abis ni anak!' Batin Ezka saat melihat perubahan sahabatnya itu kembali kesosok beberapa tahun kebelakang.
"Kenapa loe?"
Tanya Ezka mulai menggunakan bahasa in-formalnya.
"Gue gini gini aja,masih sama seperti selama ini!" Jawab Bara sambil menatap sendu ikan ikan koi dihadapanya.
Hmmm
Helaan napas lelah terdengar dari bibir pria beranak satu tersebut.Melihat sahabatnya dalam keadaan seperti ini ,hatinya tentu tak enak juga.
"Masalah gak akan selesai kalau cuma dipendam Bar,loe pasti tahu itu!"
Ucap Ezka sambil menatap objek yang sama dihadapannya,kolam ikan koi.
"Gue dijodohin ka."
Deg
"Gue bingung harus gimana.Gue-"
Semua cerita yang selama ini Bara pendampun mengalir begitu saja tanpa dusta.Bebas tanpa ada halangan pula.
Ezka yang setia mendengarkan keluh kesah sang sahabatpun akhirnya mengerti alur masalahnya.
"Gue bingung ka,dan pernikahan itu diadakan satu bulan lagi!" Sambung Bara sendu.
"Loe udah dewasa bar,sebenarnya loe bisa nyelesain semua ini sendirin.Namun terkadang kita juga butuh masukan dari orang lain untuk menguatkan keyakinan."
Ucap Ezka sambil beralih menatap Bara.
"Allah gak akan keliru kok ngasih jodoh buat loe.Jadi jangan khawatir,intinya kalau dia jodoh loe Allah pasti deketin.Kalau bukan dia,berarti Allah ganti dengan yang lain.Udah selesai,jodohmah ditangan Allah.
Umatnya siapa yang tahu."
Selepas mengatakan itu,Ezka beranjak dari duduknya.
Sebelum pergi pria tampan berdarah turki itu mengulurkan tanganya,mengajak sang sahabat untuk segera beranjak.
"Udah lama gak berjama'ah sama loe!"
Ucapnya to the point.
"Yuk,keburu komat nanti!"
Serunya kembali.
Pria bermanik coklat tersebut mengangguk,lalu menerima uluran tangan sang sahabat.
"Yuk lah!"
Setidaknya setelah mendekatkan diri kepada sang Ilahi nanti,semuanya akan terasa lebih ringan dari pada sebelumnya.
"Sedekat-dekat seorang hamba kepada Tuhannya yaitu ketika ia sujud, maka perbanyaklah berdo’a di dalam sujud.” (HR. Muslim).
TBC
@@@
Maaf tlat update guys🙏🙏
Hari ini aku nginap disaudara yang lagi hajatan,sekalian chak up aku kedokter.
Jadi maaf kemarin gak update.
Maaf juga karena part ini kurang kenak feel-nya😭😭😭
Aku juga gak bisa nulis kalau otaknya gak singkron,mana mumet ni kepala😩😩
Belum juga apa apa,berat badan udah turun 2kg😂😂
Atuh mamake marahe banyak tenan😅😅
Pokoknya minta bantuanya ya readers,besok terakhir kalinya aku lomba nulis novel nasional.Semoga kalian semua mau membantu kerja kerasku dengan dukungan kalian semua ya🤗🤗
Ok,terimakasih buat kalian yang masih mau menunggu up😙😙
Terimakasih,dan sampai jumpa.
__ADS_1
Sukabumi 30/12/19
17.24