
'Dia adah permata saya,yang lebih berharga dari apapun.Ketika kamu datang mengkhitbahnya,maka tanggung jawab seorang ayah jatuh kepunggungmu,sebagai seorang suami.'
**Halim Mubaraq As~Sadiq**
Sshhh
"Sakit mi,pelan pelah atuh!"
Rintih pria berkaus biru dongker tersebut.
"Lagian abang ini,sudah jadi bapak anak satu,perbuatanya masih kayak ABG aja!"
Sindir wanita baya tersebut,sambil membersihkan luka disudut bibir putranya.
"Maaf mi,tadi ezka emosi pas lihat Kia ketakutan gara gara dia!"
"Tapi bukan gitu juga caranya Ka,ini rumah sakit.Bukan tempat buat rusuh,ini tempat orang sakit Ka."
Jelas Salma-wamita baya yang tengah menasehati putranya tersebut.
"Kia gimana keadàanya,mi?"
Tanya Ezka penasaran.
Pasalnya sejak masuk kedalam ruang rawat inap Kia,wanita itu terlihat tengah terlelap karena pengaruh obat penenang.
"Kia,masih sama ki!"
Lirih Salma,sambil menatap sang putri sendu.
Tidak pernah terpikirkan sedikitpun olehnya,putrinya akan mengalami semua ini.
Dokter bilang Kia trauma berat pasca peristiwa buruk yang menimpannya,mengingatkan sekaligus membuka luka yang lama kembali.
Salma tidak pernah menyangka,karena permintaan ayahnya untuk menerima khitbah dadakan dari cucu sahabatnya waktu itu,akan membuat hidup Kia hancur.
Vano datang menorehkan luka baru,dan membuka luka lama.
Siapa sangka,jauh sebelum pelecehan secara paksa yang dialami oleh Kia,Kia hampir pernah menglami hal yang sama ketika duduk dibangku SD.
Kia kecil yang mencolok karena kecantikanya yang berbau bau Turki dan Jawa,membuatnya populer di SD tempatnya menuntut ilmu.
Kejadian mengerikan itu terjadi,tepat saat Kia memasuki kelas lima SD.Kia kecil yang suka membaca kala itu tengah membaca buku cerita diperpustakaan yang cukup sepi.Namun siapa sangka,pelecehan seksual yang menimpanya kala itu berasal dari orang yang selalu dekat denganya.
Pria berinisial Y tersebut adalah guru bahasa Asing,sekaligus guru BK disekolah Kia.Dengan tercelanya,pria berusia 42 tahun tersebut mencoba melecehkan Kia.
Untung saja saat itu Ezka yang diminta untuk mengembalikan buku paket IPA,mendengan suara rintihan yang familiar ditelinganya.
Manik hitam milik bocah sebelas tahun itu memerah,wajahnya mengeras kala melihat kembaranya berada dalam kondisi mengenaskan.
Seluruh kancing seragam putihnya sudah terbuka,rok merahnya hampir merosot dari tempatnya,lenganya terikat dasi,pipinya lebam lebam dengan air mata yang tak henti hentinya mengalir.
Ezka kecil naik pitam dibuatnya,pantas saja sedari pagi ia sudah memiliki perasaan tidak enak.Tampa mempedulikan status pria dihadapanya,ezka kecil yang sudah naik darah memukul Y dengan stik bisbol yang ada dimeja penjaga perpus,hinga membuat luka parah dikepala Y.
Dengan baju seragam berlumuran darah,Ezka kecil mengendong Kia untuk pergi dari perpustakaan.
'Tenang ya ki,aku ada disini kok,buat jagain kamu!'
Itu kata kata penyemangat untuk Kia yang selalu Ezka lontarkan.Semenjak saat itu Ezka menjadi pribadi yang posessive akan kembaranya.Intuisi dan firasat yang dimilikinya karena keterikatanya dengan Kia,membuatnya mampu merasakan apa yang tengah dialami kembaranya.
Semenjak saat itu,Ezka lebih possesive dan membatasi pergaulan Kia.
Setelah bertahun lamanya,ia menjaga kembaranya dari bayangan hitam masalalu,Vano datang dengan brengseknya membuat luka baru dan membuka luka lama dihati Kia.
Salma tahu,jika putra putrinya ini adalah satu hati yang terpisah.
Jika Kia sakit,maka Ezka akan merasakanya.
Jika Ezka risau,Kia yang akan merasakanya dan tak bisa tinggal diam.
Oleh karena itu Salma hafal betul jika putranya ini naik darah semata mata karena,ia bisa merasakan kesakitan yang kembaranya alami.
Mereka adalah satu hati yang terbagi dua.
Mereka adalah satu jiwa yang terpisah dalam dua gender.
Kecenderungan kareña kepekaan perasaan membuat ikatan keduanya erat.
Hubungan mereka solid,saling menjaga,melengkapi,dan mengerti.
Jika mereka tidak saling mengerti akan timbul kecemburuan sosial,irì berlebihan,bahkan merasa tersaingi.
Namun keduanya adalah kesatuan yang saling melengkapi dan mengerti.
Melengkapi kekurangan masing masing,dan mengerti keadaan masing masing.
"Ezka sayang sama kia mi!"
Lirih Ezka,meneteskan sebutir air matanya.
"Umi tahu,umi tahu ezka sayang Kia."
Lirih Salma.
"Ezka sayang Kia mi,sayang mi!"
Lirih Ezka lagi sambil memeluk tubuh sang umi,terisak dipelukan wanita yang telah melahirkanya itu.
Menumpahkan rasa sesak yang dialaminya saat melihat keadaan kembaranya.
Rasanya rasa sakit itu seakan akan terbagiuntuk dirinya sendiri.
"Ezka sayang Kia mi!"
@@@
__ADS_1
Pria baya yang terlihat sudah berumur itu terlihat diam dengan menatap lurus pria muda dihadapanya.
Manik hitamnya menatap lurus kearah pria yang tengah sibuk menunduk,menyembunyikan wajahnya.
"Keevano!"
Panggilnya dengan suara bass berat khas miliknya.
"Iya,ada apa bi?"
Tanya Vano sedikit ragu,saat mengangkat kepalanya menatap manik pria dihadapanya.
"Kenapa kamu kembali?"
Deg
Vano membeku seketika,sungguh tak percaya jika mertuanya ini akan menanyakan pertanyaan ini.
"Maksud abi? Saya masih suami kia,sudah sepantasnya saya berada disisinya."
Tutur Vano,tanpa sadar.
'Bodoh,bodoh,apa yang kamu katakan barusan bodah?'
Batin Vano merutuki perkataanya.
Sedetik kemudian pria itu tersenyum kecil,namun Vano bisa melihat ekspresi menertawakanya disana.
"Suami?? Lalu dimana seorang suami,jika istrinya tengah hamil besar?"
Deg
Lidah Vano kelu seketika,ketika mendengar kalimat yang terlontar dari bibir mertuanya itu.Halim memang tipe pria yang tidak suka bicara banyak,namun ia lebih suka to the point dan langsung.
"Lalu dimana seorang suami itu,ketika istrinya tengah ngidam dipagi hari atau malam hari?"
Vano,masih terdiam.
"Seorang suami tidak akan meninggalkan istrinya,demi wanita lain.Suami suami tidak akan membiarkan istrinya menanggung kebohongan suaminya sendiri." Ucap Halim diakhir kalimatnya.
Ekspresi pria berdarah turki tersebut tetap tenang,namun setiap kalimat yang terlontar dari bibirnya seakan akan siap menikam hati Vano.
"Saya kecewa denganmu kamu,Keevano."
Deg
Satu kalimat,namun tentunya mampu membuat hati Vano bergemuruh.
"Abi.....saya,minta maaf"
Lirih Vano,entah mengapa menghadapi pria yang sabar seperti Halim ini,seakan akan membuat hatinya lemah.
"Abi sudah memaafkan kamu,keevano."
Katanya tenang,dengan masih dalam ekspresi tenang namun manik hitamnya terlihat penuh kekecewaan.
Vano mendongkrak,menatap langsung manik hitam milik mertuanya tersebut.
"Apa permintaan abi,jika saya bisa memenuhinya,saya pasti akan melakukanya." Kata Vano mantap.
Padahal dalam hati ia berdebar debar.
Jika pria baya dihadapanya ini meminta untuk menceraikan putrinya,dia pasti akan menolaknya mentah mentah.
"Jauhi Kia dan Anzar."
Deg
"Pergi dari hidup Kia,jangan pernah memperlihatkan dirimu didepan Kia maupun Anzar.Biarkan Kia hidup bahagia dengan putranya." Kata Halim to the point.
Vano mematung,hatinya memburu.
Walaupun bukan permintaan untuk bercerai,namun permintaan ini pun amat berat untuk Vano.
"Biarkan Kia hidup bahagia,tanpa kamu disisinya.Itu adalah permintaan abi."
Vano menoleh sejenak,otaknya benar benar blank ketika mendengar ucapan mertua laki lakinya ini.
"Maaf bi."
Lirih Vano.
"Saya tidak bisa melepaskan Kia lagi.
Saya tidak bisa hidup jauh darinya,apalagi menjauhinya.Saya tidak bisa bi,apalagi setelah saya tahu saya tèlah memiliki seorang putra yang tidak pernah saya ketahui keberadaanya.Saya tidak bisa bi,saya sudah terlanjur jatuh cinta sama putri abi,Arkia."
Tutur Vano,mencoba menjelaskan tentang apa yang dirasakanya.
"Kamu tidak bisa egois,keevano.Jika eegoisanmu itu hanya menyakiti Kia."
Vano kembali kalah telak.
Memang benar,jika keegoisanya itu selalu menyakiti hati wanitanya.
"Maaf bi,tapi saya benar benar tidak bisa."
Kekeuh Vano.
"Pria itu bukan perkataanya yang harus dipercayai,tetapi kepastian dan tanggung jawabnya.Apa kamu sudah melakukan keduanya?? Belum bukan?"
Vano mulai terpojok,dikala hatinya yang sudah mulai meletup letupkan emosinya,pria dihadapanya ini malah masih terlihat tenang dan terkontrol.
"Saya sudah terlalu bayak memberimu tanggung jawab atas Kia,putri saya.Sebaiknya sekarang,saya mengambil tanggung jawab itu kembali."
Tutur Halim,sambil beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
Deg
"Bi..."
"Saya masih bisa memegang tanggung jawab atas Kia,kamu tenang saja,keevano.
Setelah ini,kamu tidak perlu repot repot lagi peduli terhadap Kia atau Anzar." Final Halim sambil berlalu.
Bruk
"Bii....saya mohon,beri saya satu kesempatan lagi!" Lirih Vano,tak kuasa menahan air matanya lagi.
Ia tak peduli,jika orang orang mengatainya cengeng.Yang terpenting,kepercayaan mertuanya ini tak jadi hilang.
Pria bàya berkemeja panjang itu berbalik,menatap pria muda yang tengah bersimpuh dilantai kantin rumah sakit.
"Bii,Saya tidak bisa.Saya tidak bisa hidup tanpa Kia.Jadi tolong,beri saya kesempatan satu kali lagi,bii.
Saya janji,saya akan memperbaiki semuanya."
Bujuk Vano.
Vano pun tidak tahu dengan dirinya yang saat ini.Dulu,dia tidak pernah mengemis ngemis cinta pada para mantan kekasihnya,termasuk Aurrin sampai seperti ini.Namun dalam hal ini,beda kasusnya.
Vano sudah jatuh cinta,mungkin cinta mati kepada istrinya sendiri Arkia.
Oleh karena itu,Vano akan berusaha memperjuangkan kembali cinta yang pernah diabaikanya dahulu.
Halam,pria berusia baya itu berbalik,kembali melangkan mendekati menantunya.
Dari bibirnya terbit sebuah lengkungan kecil nantipis yang menarik ujung bibirnya.
"Bangun Keevano,dimana harga dirimu sebagai seorang pria?" Ucap Halim penuh penekanan,kepada pria yang masih menunduk sambil tersedu tersebut.
Dalam hati dia bertanya tanya,mana putra kebanggaan Ibra Radityan yang teekenal itu?
Kemana hilangnya CEO RADITYAN'S GROUP yang terkenal dingin,tak kenal mengemis ngemis cinta dan angkuh itu?
Pria itu ada disini,berbeda 180° dari perkataan publik diluaran,Vano mematahkan berbagai asusmi tentangnya yang tak akan rela mengemis ngemis cinta.Dan Arkia telah membuktikanya,membuat pria itu jatuh kedalam titik terberat dalam hidupnya,hanya karena urusan wanita.
"Harga diriku telah hilang bi,harga diriku telah hilang setelah menyakiti fisik serta fsikis istriku.Harga diriku telah hancur,setelah menelantarkan istri dan anakku.Harga diriku telah hilang bi!"
Jawab Vano parau,dikala isakanya.
"Kaĺau kamu merendahkan dirimu seperti itu lagi,abi akan benar benar membuat kamu tidak pantas untuk menjadi suami Kia."
Deg
Pria berambut hitam jelaga itu mendongkrak,memastikan jika apa yang didengarnya itu tidak salah.
Dan,yang dilihatnya itu tidak salah kali ini.
Ia bahkan mengerjap ngerjapkan manik jelaganya berkali kali,dan ekspresi tidak berubah.Pria itu,pria yang berdiri dengan gagahnya dihadapanya itu,tengah tersenyum hangat kepadanya.
"Bangun Keevano,karena saya butuh menantu yang kuat dan tangguh untuk menjaga permata sàya." Katanya sambil menatap Vano,penuh kehangatan.
Vano beranjak dari posisinya,tanpa ragu lagi kini ia berdiri tepat dihadapan ayah dari wanitanya.
Grep
"Saya ingin kamu menjaga Kia dan Anzar dengan baik mulai saat ini,jika tidak saya yang akan mengambil mereka dari sisimu."
Ucap Halim pelan,setelah mendekap putra dari sahabatnya tersebut.
Pria bermanik hitam itu dibuat terbelalak,oleh pebuatan ayah mertuanya.
Hatinya juga menghangat secara bersamaan,hingga tanpa disadari olehnya,air matanya berhasil lolos dari manik jelaganya.
"Pasti bi,saya janji.Saya akan menjaga Kia dan putra saya.Saya janji."
TBC
@@@
Huup......
Cung yang terhura,eh....terharu😅😅
Yang baper???
Terkejat,ehh....terkejut😆😆
Cung yang setuju dan ngarep Kia sama Vano baikan??
Cuss....komen ya guys🤗🤗
Maaf ya guys,kalau update nya lama.
Soalnya kemarin gak bisa nulis,karena disini kena hujan buassaar....dan petir menggelegar.Jadi gak bisa nulis,mana mati lampu😑
Sekali lagi maaf ya kalau aku terlambat update.
Pasti kalian semua bosen dapat permintaan maaf dariku😅😅
Tp ya mau gimana lg,soalnya aku gak tega PHP-in readers setia aku.
Demi lanjutin novel ini,novel yang lain dibreak dulu.
Karena aku kewalahan nulisnya,mana tugas akhir semester lg numpuk.
Jd tolong dimaklum ya🙏🙏
Ok,kalau gitu sampai jumpa dipart berikutnya.
Sukabumi 12/12/19
__ADS_1
17.11