
'Tuhan memberiku nyawa,menentukanku mati.Berari ketika diri-Nya memberi kesempatan kedua untukku hidup,ini adalah kesempatan untuk menebus dosaku yang terlampau banyak menyakiti orang.'
~Keevano Radityan Khutbi~
Kakinya gemetar seketika,tubuhnya lemas.
Air matanya sudah tumpah ruah tak karuan ketika dilihatnya kain putih menutupi sesosok manusia diatas brangkar.
Dari kain putih itu terlihat darah segar mengalir,menyebarkan bau amis yang menyengat.
Dunianya runtuh seketika,bumi tempatnya berpijak terasa roboh ketika mendapati kenyataan ini.
"Mas....Radithh!"panggilnya terisak.
Hatinya hancur tak tersisa lagi,ketika melihat kenyataan bahwa pria yang dicintainya telah meregang nyawa dengan tragisnya.
Lalu jika Vano meninggal,bagaimana dengan anaknya kelak.Ia saja sampai saat ini tinggal menghitung hari harinya didunia,karena kanker yang dideritanya sudah menyebar kemana mana.
Terlebih Leukeumia yang diidapnya.
Jika bukan Vano,siapa lagi yang akan mengurusnya? Keluarga Radityan,mana sudi mereka menerima darah daging pelakor sepertinya,ingat perkataan Ibra waktu itu.
Lalu siapa,Arkia? Tidak mungkin Arkia mau merawat bayi dari wanita yang telah menghancurkan kehidupanya.
Lalu siapa? Orang tua Arin? Tidak mungkin.
Orang tuanya sudah cukup dengan ulahnya yang mepermalukan keluarga dengan segudang kasusnya di Jerman.Apalagi jika mereka disuruh merawat bayinya,tidak akan sudi sedikitpun mereka.
Ingatlah,sebelum kabur keIndonesia,Aurrin telah dibuang oleh keluarga besar James.
Karena bagi mereka memiliki putri seperti Arin hanyalah pembawa Aib keluarga.
Lalu,siapa yang akan merawat anaknya nanti?
Dalam kesedihan dan kebingunganya itu,sebuah tepukan dibahu membuatnya mendongkrak.
Dapat dilihat oleh manik matanya,seorang dokter muda yang tak jauh seusianya menghampirinya.
"Sedang apa anda disini nyonya Keevano?" tanyanya ramah.
"Dokter Dimas,suami saya....hiks....suami saya sudah...." kata Arin terputus putus oleh isakanya.
"Suami nyonya sudah sudah dipindahkan keruangan yang lebih intensif."tuturnya sambil membantu Arin untuk berdiri.
"Su-suami saya? Bukanya itu-"
Perkataan Arin terpotong,ketika menatap mayat yang masih berada diatas brangkar tersebut.
"Itu korban kecelakan beruntun diruas tol nyonya.Saat dibawa kerumah sakit nyawanya sudah tidak tertolong lagi."tuturnya.
"Itu,bukan suami saya?"tànya Arin takut takut.
Dimas tersenyum kecil."Bukan.Suami nyonya sudah dipindahkan keruang rawat inap!"katanya memberi tahu.
"Mari saya antar kesana!"
Arin pun langsung mengekor dibelakang Dimas,didalam hati ia berdoa supaya apa yang dikatakan dokter muda ini benar adanya.
"Lihatlah,suami nyonya masih belum sadarkan diri.Setengah jam lalu,pihak medis telah menyelamatkan nyawanya dengan cepat dari kecelakaan tersebut.
Tuan Keevano mengalami patah tulang dilengan kiri,cidera spinal(tulang belakang),cidera ringan dileher,dan yang paling parah ada dibagian kakinya." tutur Dimas sejelas mungkin.
Pasca kecelakaan maut itu,Keevano memang mengalami banyak luka parah.
Tim medis yang menanganinya saja sampai dibuar takjub dengan kehendak tuhan yang masih berbaik menyelamatkan Vano walaupun kecelakaan yang dialaminya sangat fatal.
"Kemungkinan besar,kedua kaki tuan Keevano akan mengalami kelempuhan sementara akibat kecelakaan tersebut."
Deg
"Lumpuh?"ulang Arin dengan air matanya yang mulai mengalir lagi.
"Iya,saya turut berduka atas apa yang dialami oleh suami nyonya.Nyonya hanya perlu sabar dalam menemani suami nyonya,dan perbanyak doa kepada tuhan.Karena bagaimanapun tuhanlah yang tahu jalan hidup setiap umatnya!"nasihat Dimas.
Setelah mengatakan itu Dimas pamit undur diri,karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikanya.
Sepeninggalanya Dimas,tubuh Arin luruh kelantai.
Hatinya terasa sesak dengan hantaman kenyataan kenyataan pahit yang terus menimpanya.
Tuhan mungkin tengan menertawakan kesedihanya saat ini.
Dulu dia sangat optimis,setelah menikah dengan Vano semuanya akan baik baik saja.
Tètapi kenyataanya tidak sesuai harapan.
Tak salah memang untuk meraih kebahagiaan,namun cara yang dilakoninya salah.
Dengan langkah gontai,wanita itu menyeret besi tiang infusnya untuk mendekati sang suami.Nampak oleh manik hazelnya,pria tampan itu tengah terlelap dengan alat bantu pernapasan dihidungnya.
Wajahnya pucat pasi,dengan goresan luka sana sini.Dilehernya terpasang bidai leher berwarna biru yang menyangga lehernya.
Tangan kirinya diperban,dengan luka sobek dilengan kanan.Kemudian matanya beralih ke kedua kaki sang suami.
'Lumpuh'
Lirihnya sambil terisak,bagaimana jadinya perasaan vano jika mengetahui kakinya tak dapat digerakkan lagi.
Dengan air mata yang masih mengalir deras,dan meratapi kisah hidupnya dengàn sang suami akhir akhir ini,Arin menyerah.
Ia sudah tak kuat dengan berbagai cobaan ini.Bukan saja tubuhnya yang terus dihinggapi rasa nyeri,hatinya pun jauh lebih banyak merasa nyeri.
__ADS_1
Hingga ngantuk tanpa permisi mulai merenggut kesadaranya.Arin pun tertidur disamping sang suami yang masih terbaring tak berdaya.
Biarlam malam ini ia tidur dengan sang suami,ia ingin menemani pria yang dicintainya untuk keadaan terburuknya sekalipun.
@@@
Seorang gadis berkhimar pasmina berwarna milo itu,terlihat mencolok diantara lalu lalang pengguna jalan lainya.
Wajah cantiknya yang tengah serius dengan pembicaraanya melalui telpon itu tak mengurangi pesonanya.
Pemandangan itu tak luput dari manik hitam pekat seorang pria tampan berdarah Turki-Jawa tersebut.Ya,dialah Dezka Halim mubaraq.Pemuda tampan itu pulang kembali ketanah air untuk mengambil beberapa surat penting yang sempat tertinggal disana.
Rasa bersalah memang sempat menerpa hati kecilnya,karena kepergianya tak mengijinkan dirinya untuk bertemu dengan gadis yang telah berhasil memikat hatinya.
Tak pernah terbayangkan sekalipun olehnya ia akan jatuh cinta semudah ini.
Tak dapat dipungkiri jika ia merindukan gadis yang berdiri beberapa meter darinya itu.Namun apa daya,dari pada harus menyakiti perasaanya,Ezka lebih memilih
Menjauh lagi.
Merasa ada yang memperhatikanya,gadis yang mengenakan atasan tunik bunga bunga itu membalikkan badanya,namun manik coklat beningnya tak dapat menangkap hal aneh apapun.Kemudian ia kembali melangkah,dan perlahan hilang dikeramaian.
'Maaf,saya cuma tidak mau menyakiti kamu dengan kepergian saya!'batin ezka yang terus menatapi kepergian gadis yang berhasil memikat hatinya,yang tak lain salah satu sahabat dari kembaranya,Arkia.
@@@
Setelah bangun dari tidur panjangnya,Vano menatap kosong kearah langit langit tempatnya dirawat.
Tak ada ekspresi yang ditunjukanya.
Wajah pucatnya datar,tak memperlihatkan apapun.Tatapanya kosong,tak terlihat cahaya kehidupan apapun.
Setelah bangun setengah jam lalu,yang Vano lakukan hanyalah diam.
Tak ada sepatah katapun yang diucapkanya,setelah mendengarkan kenyataan pahit yang telah menimpanya.
Dia menyerah,dengan keadaanya saat ini semakin sulit untuk mencari istrinya,Arkia.
Dengan kondisinya saat ini,yang ia lakukan hanyalah membebani orang lain.
Sebutir air mata berhasil lolos dari manik hitam tajamnya yang kini meredup,seiring dengan meredupnya semangat hidupnya.
"Mas...."
Lirih wanita disampinya,mengiba.
"Ini adalah balasan untuk saya.Ini balasan Allah untuk semua kesalahanku!"lirinya dengan tatapankosong.
Arin sedih melihat kondisi suaminya.
Begitu besarkah pengaruh seorang Arkia dihidupnya? Jadi benar adanya,jika selama ini cinta seorang Keevano telah berpindah kelain hati.
"Arkia.....maafkan saya.Maafkan saya Kia!"lirihnya kembali sambil berderai air mata.
Deg
"Arkia.....maafkan aku!"
Ia memejamkan matanya sejenak,keputusanya sudah bulat sekarang.
Ia akan memperbaiki kesalahanya,sebelum maut menjemput.
Walaupun ia juga ragu,kesalahan yang dibuatnya masih bisa diperbaiki.
'Aku akan pertemukan kamu dengan dia mas,jika ini keinginanmu!'batinya teriris.
Bagaimanapun juga,ia masih amat mencintai vano.Maka tak ada salahnya jika ia ingin cintanya ini hidup bahagia,walaupun dirinya harus tersakiti.
"Dokter,apa keadaan bayi saya baik baik saja? Kenapa saya tidak pernah mersakanya menendang nendang seperti ibu hamil pada umumnya?"tanya Arin ketika chack up kandunganya.
Ketika memasuki bulan ke-8 pun ia belum pernah mersakan bayinya menendang.
"Apa leukeumia dan carsinoma yang saya idap berganggu pada bayi saya?"tanyanya lagi.
"Ibu yang tenang ya.Sesuai hasil pemeriksaan,sepertinya bayi ibu mengalami Congenital heart disease."tutur sidokter.
Deg
Hati Arin kembali dihamtam oleh pahitnya kenyataan.Sambil menahan air matanya,wanita cantik itu kembali bertanya.
"Congenital heart disease itu apa dok?"
"Congenital heart disease itu adalah kelainan struktur jantung bawaan sejak lahir.Kelainan ini dapat mengakibatkan gangguan pada aliran darah menuju dan keluar jantung.Kelainan ini bisa diturunkan secara Genetik,atau karena beberapa hal yang lainya."papar sidokter.
Seingat Arin keluarganya tidak memiliki riwayat jantung,apalagi keluarga Vano yang pengnut vegan berat yang selalu menjaga kesehatanya.
Tuhan kembali mengujinya,lewat bayinya.
Bayinya yang tak bersalah dan tak tahu apa apa.
"Oleh karena itu bayi ibu tidak seaktif bayi pada umumnya.Selain itu,posisi bayinya juga belum menghadap kejalan yang seharusnya,oleh karena itu saya menyarankan untuk melakukan operasi cesar untuk jalan yang terbaik ketika ibu lahiran."
Detik demi detik kini seakan akan mengguncang hidup seorang Aurrin.
Setiap menitnya penyesalan selalu mencekiknya.
Pedihnya balasan mulai mengikis semangat hidupnya.
"Hiks....hiks....kenapa,kenapa harus bayiku ya-Alla!"gumamnya lirih sambil terisak.
"Kenapa harus dia yang tidak berdosa ya-Allah!"
__ADS_1
Pria bersnelli doter yang manatap sendu wanita rapuh tersebut dari ambang pintu.
Entah mengapa,hatinya tergerak untuk mendekati wanita tersebut.
Memang benar adanya,rasa kemanusiaan yang besar seorang doctor mampu mengikis kebencian sebesar apapun.
Besarnya kebencian dan dendam tidak menyurutkan seorang pria berprofesi dokter itu untuk menolong fasienya.
Untuk menolong seseorang kita tidak perlu membeda bedakan mereka.
Seperti sifat Humanity atau keinginan untuk memberikan pertolongan tanpa membeda bedakan korban.
Pada sebuah organisasi palang merah.
Seorang dokter harus bisa mengesampingkan masalah pribadinya,karena bagi mereka keselamatan pasien adalah yang paling utama.
"Tenangkan dirimu nyonya,menangis terus menerus tidak akan baik untuk kondisi kesehatanmu juga bayimu!"ucap Dimas yang sudah berdiri tepat disamping Arin.
Wanita yang tengah menangis itu mendongkrak,lagi lagi pria ini yang selalu datang ketika ia tengah terpuruk.
Laki laki ini pula yang selalu setia menyunggingkan senyuman hangat untuknya.
"Doter Dimas,a-apa yang harus....saya lakukan sekarang? Bayi saya_"
Jeda sejenak,Arin kembali menitihkan air matanya.
"Bayi saya kesakitan didalam sini hiks..."tangisnya kembali pecah,sambil kembali memeluk perut buncitnya sendiri.
"Tenanglah nyonya Arin,anda pasti bisa melewatinya.Anda wanita hebat!"kata Dimas menyemangati.
"Apa boleh,saya meminta bantuan anda dokter?"pinta Arin sambil sesenggukan.
"Silahkan,selama saya bisa memberikanya saya akan memenuhi permintaan Anda."tulus Dimas.
Ia memang berniat memantu Arin mewujudkan keinginanya diakhir hayatnya.
"Apa dokter mau menjaga bayi saya kelak? Bayi dari wanita pendosa ini? Bayi dari wanita perebut suami orang ini? Bayi yang sudah didiagnosa mengidap Congenital heart disease sejak dalam kandungan? Apa anda mau merawat bayai saya ini?"tanyanya sambil menatap lekat manik coklat milik dokter muda dihadapanya ini.
"Saya......"
@Ankara 07.02 pagi.
"Selamat pagi calon umi,kenapa sih ngelamun mulu pagi pagi gini?"sapa pria tampan yang datang membawa sepiring pancake kurma dan kismis tersebut.
"Nih,tadi umi bilang kamu mau pancake kurma.Ayo cepat dimakan,mumpung masih hangat!"ucapnya lembut sambil menyodorkan piring berisi pancake tersebut.
"Terimakasih mas Bara."balas Kia sambil tersenyum menyambut pancake nya.
Sudah hampir empat bulan Kia menetap disini,termasuk pria dihadapanya ini.
Bahkan Bara sudah memiliki pekerjaan tetap disini,yaitu sebagai salah satu Lawyer disalah satu firma hukum yang cukup ternama disana.
"Ki"panggilnya pelan.
"Ya,ada apa mas Bara?"
"Boleh saya pegang?"tanya Bara ragu.
"Pe-pegang apa?"kikuk Kia.
"Hm.....jagoan kecil kamu!"ucapnya sambil menggaruk tengkuknya grogi.
Kia yang merasa terkejut atas permintaan Bara itu,lalu tersenyum kecil saat melihat kegugupan diwajah tampan pria berusia 24 tahun itu.
"Boleh kan?"
Ulangnya lagi.
"Silahkan!"ucap Kia mantap,sambil tersenyum kecil.
Jagoanya juga harus tahu,siapa sosok dibalik semua permintaanya yang selalu terkabul.
"Ah....hai jagoan calon abi?"sapa Bara ketika tanganya mulai bersemayam diperut buncit kia yang tertutup oleh dress longgarnya.
Rasa haru kini mulai menyelimuti Bara.
Ia takjub dengan kehidupan didalam sana yang selama ini dilindungi banyak orang keberadaanya.
"Yang sehat ya didalam sana,jangan repotkan umimu.Nanti calon abi yang repot,hehe!"katanya sambil terkekeh.
Tak dapat dipungkiri,jika keberadan Baramem buat Kia tidak kesepian.
Namun bukan berarti kehadiranya dapat menggantikan posisi seorang Keevano dihatinya.
Tidak untuk sekarang,entah jika nanti.
●●●
Hidup untuk penebusan🎼
Huahhh.....hari terakhir leha leha.
Bismillah.....
Hari ini aku UASSS😏😏
Harus menghafal pemirsa☺
Menurut kalian gimana nih part selanjutnya??
Ayo,komentarnya ditunggu ya🤗🤗
__ADS_1
Sukabumi 02/11/19
04.56