
'Dia adalah milikku,hartaku,hidupku.'
~Dima Barack Alhaidan~
JL.XXX.09.BLOK.03XX.SINGAPURA.
PUKUL : 20.30 MALAM.
TERLAMBAT SEDIKIT SAJA,JANGAN HARAP KAMU BISA MENEMUI AURRA.
Setelah menerima pesan tersebut,Dimas langsung bergegas mencari penerbangan tercepat menuju Singapura.
Hatinya cemas,mengingat sang putri tidak bersamanya saat ini.
'Aurra tunggu Ayah ya,ayah pasti akan datang!' Batinya berdoa.
Ditempat lain,seorang pria tampan yang tengah terduduk dikursi roda terlihat sedang mengamati tiap inchi mimik wajah bayi dihadapanya.
Mata hazel mirip wanita yang pernah dicintainya,namun hidung,bibir,rambut dan senyumnya tidak.Tidak mirip pula denganya,apa benar bayi ini bukan putrinya.
Ketika diingat ingat kembali,sepulangnya Wanita itu dari Jerman,mereka sering melakukanya tanpa pengaman.
Hingga ketika dia mengatakan tengah hamil anaknya,ia tentu percaya 100%.Tapi memang,saat melakukanya ia tidak menemukan tanda tanda virgin dari sang wanitanya.
Tapi sekarang,apa apaan dengan fakta bahwa wanita itu hamil anak dari pria lain.
"Tuan,ini informasi yang tuan minta tentang hubungan Dr.Dimas dengan Nona Aurrin."
"Letakkan disana!"
Tanpa mengubris perkataan bawahanya itu,Vano-pria itu kembali kepada aktivitasnya mengamati bayi cantik yang tengah berceloteh ria dengan boneka mainan itu.
"Apa kamu memang bukan putriku?"
Gumanya pelan.
"Di....dzi....dzi..."
Celoteh Aurra kecil sambil tertawa kecil.
Deg
"Kenapa aku tidak merasakan debaran aneh dihatiku?"
Gumanya,sambil menyentuh dadanya.
Dengan memutar roda kursi rodanya,Vano bergerak menuju meja kaca yang diatasnya tertinggal sebuah map yang berisi informasi yang dimintanya.
AURRIN ANASTASYA JAMES
DIMAS BARACK ALHAIDAN
Dua nama yang tengah mengisi otaknya dengan berbagai pertanyaan itu,terpangpang jelas dihadapanya.
Baris demi baris kata mulai dibacanya.
Alisnya mulai bertaut ketika semakin banyak membaca kebawah.
DIMAS BARACK ALHAIA AYAH BIOLOGIS DARI AURRA PUTRI HAIDAN.
Deg
Hati seakan akan berti berdekat pada porsinya ketika membaca untaian kalimat tersebut.
"Jadi kamu bukan putriku?"
Lirihnya,sambil melirik Aurra.
"Dzi...di...dzi .."
"Arrgg....jadi selama ini Aurrin menipuku?"
Bentak Vano ke-udara.
Bentakan keras itu tentu mengejutkan sikecil Aurra,karena saking kerasnya.
Bayi cantik tersebut mulai berkaca kaca,sebelum bibir mungilnya mulai merengek.
Oeeekk
Oeeekk
"DIAM,DIAM KAMU ANAK SI*LAN!!"
Umpat Vano tanpa sadar.
Bagaimanapun Aurra tak bersalah disini.
Walaupun kehadirànya karena kesalahan satu malam antara Dimas dan Aurrin.
Aurra tak bersalah sedikitpun disini namun keadaan emosi yang tengah memuncak membuat Vano buta mata saat ini.
Oeeekk
Oeeekk
"Diam.X bawa bayi ini keluar." Perintahnya.
"Siap boss!"
Kini Aurra berpindah tangan keseorang lelaki berkacamata tersebut.
"Sialan,berani beraninya kalian menupuku.
Tunggu saja pembalasanku!" Kata Vano sambil menyunggingkan evil smirk-nya.
**
"Ya-Allah,semoga aku belum terlambat!"
Doa Dimas dalam hati.
Penerbanganya menuju Singapura harus terhambat karena delay 40 menit lebih.
Kini pria tampan yang pernah mengenyam bangku pendidikan atas disini itu,kembali menginjakkan kakinya di negara ini.
Denģan tergesa gesa,dirinya mencari taxi yang akan membawanya kealamat yang ditujunya.
"Aurra...Aurra...." Teriaknya,ketika ia sudah sampai ditempat yang megah mirip dengan sebuah mansion tak berpenghuni tersebut.
"Aurra...."
Bugh
"Apa yang-"
Bruk
Belum sempat Dimas melangkah lebih jauh,namun tiba tiba kepalanya dipukul dengan benda tumpul dari belakangnya.
Hingga membuat kesadaranya langsung down.
"Bawa kemarkas bawah!" Perintah seorang pria berkepala plontos tersebut kepada kedua rekanya.
Arrgg...
Rintih Dimas ketika merasa ada beban berat yang hinggap dikepalanya.Dengan pelan,manik coklatnya mengerjap lalu menyesuaikan dengan cahaya ditempatnya tergeletak.
"Sudah bangun Hm?" Tanya pria bersuara bariton tersebut.
Manik coklat Dimas menangkap sayup sayup pria yang duduk dikursi roda.Disampinya terdapat seorang pria yang tengah mengendong putrinya.
"A-aurra...."
__ADS_1
Panggilnya pelan sambil berjalan hendak meraih tubuh putrinya yang tengah tersenyum.
"Dzi...di...dzi..."
Celotehnya riang,saat melihat sang ayah datang menghampirinya.Namun belum sempat Dimas meraih sang putri,pria lain dari belakanya memukul perutnya keras sehingga membuat tubuhnya kembali terpelanting.
BRAK
"Ahk..."
Rintihnya tertahan,dengan cairan merah yang menguar dari pelipis kananya.
"Dzi....di..."
"I-iya sayang,i..ini ayah didi..." Lirihnya sambil mencoba menggapai sang putri lagi.
Ketika pria yang tadi memukulnya hendak melayangkan pukulan berikutnya,tangan pria yang duduk dikursi roda tersebut terangkat,mengisyaratkan untuk berhenti.
"Sakit bukan? Tapi itu tidak sesakit apa yang saya rasakan Dr.Dimas yang terhomat!" Ucapnya menyindir.
"A-aurra tidak salah apa apa,dia...t-tidak bersalah." Lirih Dimas sambil mencoba meraih sang putri.
"Tidak bersalah? Bukanya dia lahir dari hubungan gelap kalian berdua? One stand night,saya tidak percaya jika seorang Dr.Dimas yang terhormat terjebak dalam lingkaran tersebut." Cibinya sarkasme.
"Lalu...anda mau dia putri menjadi kandung
Anda yang lahir dengan selingkuhan anda.
Sedangkan Arkia istri sah anda dicampakan begitu saja.Itu yang anda inginkan tuan keevano?" Tanya Dimas balik,sambil berdiri tegap.
Deg
Manik tajam milik vano memincing,menatap tak suka pada lawan bicaranya.
"Anda yang mengkhianati Arkia.Menjadikan dia tameng demi menutupi hubungan gelapmu.Ingat tuan keevano,saya dan Aurrin dipertemukan dalam keadaan sama sama tengah mabuk berat.Sama sama patah hati,mendengar orang yang kita cintai akan menikah dengan orang lain." Tutur Dimas sambil berjalan kearah vano.
"Dengar tuan Keevano,dari awal anda yang salah disini.Anda yang tiba tiba mengkhitbah Kia,dan menjadikanya pion anda tanpa peduli sedikitpun tentang perasaanya.
Dan anda pula.....yang telah membuat Aurrin meninggalkan putrinya!"
Tangan vano mengepal menahan amarahnya.
Ia tidak terima jika disalahkan sepenuhnya disini,dia juga tersakiti disini.
"Anda yang salah karena telah memainkan dua wanita secara tidak adil disini.Anda-"
"DIAM!!" Bentak Vano sambil memejamkan mata kelamnya sejenak.
Jika saja kakinya bisa berfungsi baik saat ini,pasti pria bermanik cokĺat dihadapanya itu akan binasa sekarang juga.
Tanganya bergerak sejenak,lalu keempat bodyguard disana muĺai menghajar Dimas membabi buta.
BUGH
BUGH
BUGH
"Arrgg...."
DUK
DUK
"Arrgg....A-aurra....."
"Dzi...dzi....di...."
Celoteh Aurra,meronta seakan akan tahu jika sang ayah tengah kesakitan.
"Shit.....buat bocah itu diam X!"
Titah Vano geram.
Gugup sipria bernama X tersebut.
"Hey....diam ya gadis kecil!" Bentaknya.
Yang langsung membuat Aurra kecil menangis kencang.
Oeekk
Oeekk
Oeekk
"X,BUAT DÌAM BOCAH SI*LAN ITU!!" Bentak vano geram.
"Ck.....bocah ngerepotin!" Gumam X sambil menyumpal muluk Aurra kecil dengan tangan lebarnya,hingga Aurra berhenti menangis karena kesusahan berñapas dan berceloteh.
"A-aurra.....tenang s-sayang....Didi a..kan menyelamatkan ka..mu!" Lirih Dimas saat melihat putrinya yang mulai lemas.
Sebagai dokter ia tahu apa yang tengah dialami sang putri saat ini.
Putrinya kesulitan bernapas,dan hal itu bisa memicu terjadinya Aritmia karena jantung tidak mendapat oksigen yang cukup dan otak merespon dengan kecemasan berlebihan.
"Ja_ngan....ssakiti....Aurra..."
Ditengah kesakitan yang menimpa tubuhnya,hati Dimas lebih lara saat melihat keadaan mengkhawatirkan sang putri.
Putrinya itu mulai melemas,tubuhnya terlihat memucat.Penderita kelainan jantung seperti Aurra memang rawan terhadap ritme jantungnya.
Terlalu lemah ritme jantunngnya membuat
sipenderita terancam bahan,berdetak dengan ritme tak karuan juga bisa mengakibatkan sipenderita terkena Aritmia.
"B-boss!"
Gugup X saat bayi mungil dalam gendonganya dalam keadaan yang mengkhawatirkan.
"Ada apa?" Datar Vano sambil melirik sejenak.
"B-bayinya t-tuan."
Gugup X sambil memperlihatkan keadaan Aurra kecil.
Deg
Bayi mungil yang sedari tadi berceloteh itu kini terdiam lemas.Tubuhnya lemas dan pucat.Deru napasnya beritme pelan dan lemah.
"K-kenapa dia?" Kaget Vano.
Tak dapat dipungkiri jika ia cemas setengah mati melihat keadaan bayi mungil disampingnya itu.Tubuhnya mulai gemetar,ia jadi teringat akan peristiwa yang membuat Kia harus kehilangan bayinya.Jika hal ini terjadi kepada Dimas,apa yang akan Vano lakukan sekarang.
"A-aurra...."
Lirih Dimas.
Setetes demi setetes air matanya mulai berjatuhan saat melihat keadaan sang putri.
Ia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi putrinya.
Ia merasa menyesal karena telah teledor menjaga putrinya.
Dengan tubuh penuh lebam dan luka,Dimas menyeret tubuhnya dengan sekuat tenaganya untuk mendekati sang putri.
Para bodyguard Vano memang tidak memukulinya lagi,cukup bagi mereka membuat Dimas seburuk ini.
"Berikan....b-berikan putriku padaku...." Lirihnya sambil memegangi kedua kaki X yang tengan memangku putrinya yang sudah lemas tak berdaya.
X akhirnya memberikan Aurra yang sudah lemas hampir tak sadarkan diri,kepada Dimas.
"Aurra....sayang,i-ini Didi sayang...." Lirih Dimas sambil mengecek ritme napas sang putri.
__ADS_1
'Ya-Allah,detak jantung Aurra lemah.'
Batinya cemas.
"Tolong saya,tolong antarkan saya kerumah sakit keevano!" Pinta Dimas sambil memohon didepan kaki Vano.
Deg
Hati Vano tertegun untuk sejenak.
Dari manik coklat yang terlihat tidak berdaya itu,ia melihat kecemasan dan kesedihan yang amat kentara.
"Tolong....PUTRI SAYA TENGAH KRITIS BR*NGSEK!!" Bentak Dimas murka.
Didekapnya tubuh sang putri tak terlalu erat,sambil sesekali mengecek keadaannya.
"APA KAU TULI KEEVANO RADITYAN KHUTBI?" Teriak Dimas lagi frustasi.
Vano tersadar,lalu dengan sedikit cemas ia menjawab pertanyaan pria yang sudah tersulut emosi dihadapanya tersebut.
"Cepat siapkan mobil,kita akan kerumah sakit sekarang!" Titah Vano
Sepanjang jalan menuju Rumah sakit,Dimas tak pernah sekalipun mengalihkan perhatianya dari sang putri.
Dipeluknya sang putri sayang,sambil membantu pernapasan sang putri sesuai prosedur pertolongan pertama yang ia pelajari.
Semua itu tak luput dari manik jelaga milik vano.Begitu besar kasih sayang yang Dimas miliki untuk putrinya.Dan dengan bodohnya,ia telah berusaha memisahkan keduanya.
Hatinya ditimpa ribuan beban penyesalan saat ini.Jika benar gadis kecil itu sampai tak terselamatkan,vano tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
"Sayang....bertahanya,didi ada disini!"
Lirih Dimas sambil menciumi pipi gembul sang putri.
Ketika sampai dirumah sakit,bayi Aurra langsung mendapatkan perawatan dengan cekatan dari tim medis.
Dua setelah menunggu dengan cemasnya,Dimas,Vano dan beberapa bodyguardnya dibuat tertegun oleh pernyataan dokter yang baru saja menangani Aurra.
"Maaf tuan,kami sudah berusaha semaksimal mungkin.Putri anda,Aurra putri Haidan menghembuskan napas terakhirnya pukul 20.12 malam,waktu singapura."
Deg
"Ti-tidak mungkin,Aurra....tidak mungkin pergi." Lirih Dimas.
Tubuhnya lurus seketika kelantai dingin Rumah sakit.Air matanyanya mengalir dengan bebas dari manik coklatnya.
Semua orang yang menyaksikan itu pasti bisa merasakan kesedihan yang dialami Dimas.
Sreeth
"Puas kamu sekarang? Puas HAH??" Kata Dimas marah sambil meraih kerah baju Vano,sehingga tubuh pria bermanik jelaga itu ikut terangkat.
"Saya-"
"KEMBALIKAN PUTRI SAYA SEKARANG? KEMBALIKAN!!" Teriaknya marah yang langsung dilerai oleh bodyguard dan dokter yang menyaksikanya.
"Tenangkan diri anda Dr.Dimas.Ini rumah sakit,tidak seharusnya anda melakukan ini."
Lerai dokter tersebut.
Dokter yang siapa sangka salah satu temanya waktu mengenyam pendidikan dinegri ini.
"Dr.Helene,apa saya boleh melihat putri saya?"
Lirih Dimas,mulai bisa mengendalikan emosinya.
"Silahkan,lewat sini."
Yang pertama kali dapat dilihat oleh manik coklanya adalah adalah sang putri yang tergeletak tak begerak diatas brangkar khusus bayi.Tubuhnya dingin,pucat,dan tidak ada napas hangat darinya.
Tidak ada lagi celotehan yang seakan.memanggil manggil namanya.
"Aurra....sayang.....ini Didi nak?"
Lirih Dimas sambil meraih tubuh ringkih putrinya itu kedalam dekapanya.
"Kamu tidak boleh ninggalin ayah sayang.
Ayah sudah janji sama bunda kamu kalau....." Jedanya sejenak karena tak kuasa menahan air matanya.
".....kalau ayah akan jaga Aurra sampai besar nanti." Lanjutnya dengan air matanya yang seakan akan tak ada habisnya.
"Didi sayang Aurra.Didi mohon.....kembalilah sayang.Demi....Didi!" Pinta Dimas sambil mengecupi pipi gembul sang putri.
Hatinya tak terima,buah hatinya yang belum puas ia peluk telah tiada.
Putrinya yang belum puas ia beri kasih sayang telah tiada.
Ia tak terima dengan takdir menyakitkan ini.
"Kembalilah sayang.....Aurra....kembalilah putri ayah." Lirihnya hingga terduduk lemas diatas lantai.
Dokter dan para perawat yang melihat semua itu tak kuasa menahan tangisnya,melihat seorang pria dewasa begitu terpukul akan kehilangan putri kecilnya.
Namun,tiba tiba sebuah cerakan kecil menghentikan sejenak tangisan Dimas.
"A-aurra....apa barusan tangan ini bergerak?" Tanyanya,hampir membuat semua orang disana menganggapnya amat shok hingga menganggap putrinya hidup kembali.
"Gerakan.....lagi sayang,buat orang orang disini percaya?" Lirihnya sambil mengecup pipi gembul putrinya.
Namun semua itu nihil,Aurra benar benar tak bergerak sedikitpun.
Vano yang melihat semua itu dari ambang pintupun sampai sampai dibuat sedih karenanya.Hingga tanpa sadar,airmatanya mengalir dari sudut matanya.
"Aurra....jangan tinggalkan ayah sayang....."
Ucap Dimas sedih sambil menciumi tiap inchi wajah mungil sang putri.
"Aurra.....ayah sayang Aurra...."
"Aurra....." Lirihnya tanpa lelah.
Tapi,
"Dzi...."
Celotehan kecil yang lolos dari bibir mungil dalam dekapanya itu langsung membuat semua orang membeku.
"Dzi...di..."
"A-aurra...."
TBC
@@@
Huhuhu😭😭😭
Cung yang nangis?? Yang kesel sama Aothoor?? Yang pengen lanjut?? Yang baper??? Ayo cung....cung....
Jangan lupa vote,komen dan like ya😊
Jangan lupa follow akun aku di mangatoon atau noveltoon ya🤗🤗
Sampai jumpa lagi🖑🖑
Sukabumi 06/12/19
19.34
Besok Hari terakhir UAS😃😃
YEAYYY😆
__ADS_1