Bukan Salah Khitbah (R1)

Bukan Salah Khitbah (R1)
Kecanggungan Para Mantan


__ADS_3

-Bagaimana jadinya jika mahluk yang namanya 'mantan' itu dipertemukan dalam sebuah acara yang menyatukan mereka-


**


Mentari pagi kembali menyambut cerianya pagi hari keluarga kecil ini.Dengan sinar hangatnya yang memberi efek nyaman juga memberikan asupan vitamin D,kedua bayi mungil berusia 2 bulan itu menggeliat dibawahnya.Dengan santainya,pria berdada bidang yang kini tengah menemani kedua anaknya itu membalik tubuh mungil keduanya.Dengan cekatanya pria tampan diusianya yang sudah menginjak usia 35 tahun itu menjaga putra putrinya yang tengah melakukan rutinitas mereka dipagi hari,berjemur dibawah sang surya.


"Hm,anak anak ayah tenang sekali ya berjemurnya." Celotehnya kecil,sambil sesekali mencolek pipi gembul bayi kembarnya.


"Ayak ayah lucu ya kalau lagi bobok gini!"


Gemasnya,sambil berganti menjadi menciumi pipi gembul putra putrinya.


"Kalian bikin ayah gemes."


Celotehnya riang.


Siapa yang menyangka,dibalik sosok pria tampan berkespresi datar bergelar CEO ini memiliki pribadi yang lembut jika sudah menyangkut dengan keluarga kecilnya.


"Mas,kalau diciumin mulu Keevan'Ar sama Lunarnya nanti bangun."


Sela suara lembut yang berasal dari wanita cantik bergamis baby gray tersebut.


Pria tampan itu tersenyum,sebelum kembali melancarkan aksinya menganggu kedua putra putrinya.


Oeeekk


Oeeekk


"Mas,mereka jadi nangis kan?"


Lerai Kia sambil mencubit lengan kokoh sang suami.


"Habisnya mereka gemes,anak siapa sih ini?"


Gemasnya,sambil menoel pipi sibungsu-Lunar.


"Mass."


Lerai sang istri,sambil meraih kedua putrinya untuk ia genďong.


"Abang Van'ar sama adek Lunar haus ya?"


Lirihnya.


Dengan cekatan,wanita berhijab syar'i itu memberi sang buahati asi.Dengan penuh kasih wanita cantik itu memberi sang putra asi yang tadi sempat ia ambil kemudian memasukkanya kedalam botol bayi.Sedangkan sibungsu-Lunar meminum asi langsung dari sumbernya.Karena sering kewalahan dengan banyaknya asi yang dimilikinya,Kia biasanya mensiasatinya dengan memompanya agar bisa diberikan kepada si kembar,tanpa harus membuat sikembar berebut ketika harus menyusui.


Senyuman pria tampan itu merekah ruang,kala menatap setiap gerakan cekatan sang istri dalam mengurus kedua buah hatinya.


Cup


Cup


Kecup Vano gemas,mulai menjatuhkan kecupan kecupan ringan diwajah cantik sang istri.Tanpa peduli lirihan penolakan dari sang istri.


"Mass,nanti kalau ada yang lihat gimana?"


Keluh sang istri.


Bukanya risih dengan perlakuan manis suaminya ini,tetapi ia lebih cenderung malu jika diperlakukan manis seperti ini.


Cup


Cup


"Cantik."


Lirih Vano,sambil kembali menjatuhkan kecupan kecupan ringan di wajah cantik sang istri,dari mulai kening,kedua kelopak mata cantiknya,hidungnya,kedua pipi mulusnya,hingga berhenti tepat dibibir ramun sang istri yang sudah ia rindukan lebih dari 2 bulan belakangan ini.


Eghh


Lembut,juga penuh perasaan dibingkai manisnya perlakuan Vano,membuat ibu tiga orang anak itu tidak dapat menolak perlakuan manis sang suami.


"M-mmass"


Cicitnya kecil.


"Hm"


Jawab Vano,asik dengan aksi buka puasanya.


"Mass,kalau Anzar lihat gimana?"


Gugup sang istri,ketika pria tampan itu baru saja melepas kecupanya.


"Anzar lagi kesupermarket sama Leon sayang."


Pria tampan itu menatap sang istri penuh minat,sambil memegang kedua sisi pipi mulusnya.


"Aku buka puasa dulu sayang,aku udah puasa berbulan bulan.Butuh buka."


Ucapnya lirih penuh permintaan.


"Tap-tapi-"


Belum sempat Kia melanjutkan perkataanya,suara bel rumah yang menggema langsung menyelamatkanya.


"Aku titip Van'ar sama Lunar dulu ya mas,aku mau buka pintu."


Ucapnya sambil membaringkan putrinya yang sudah terlelap disamping Van'ar yang juga sudah terlelap.


"Sayang."


Lirih Vano lemas.


Baru saja nafsunya hampir membuatnya memuncak keubun ubun,kini harus dipaksa turun hingga keujung kaki.Niatnya ingin buka puasa setelah berbulan bulan menahan segala hasrat biologisnya,acara bukanya ternyata harus terganggu hanya karena bunyi bel rumah mereka.


"Arrgg."


Geramnya kecil frustasi.


Didepan pintu utama kediamanya,wanita cantik itu melirik sejenak penampilanya,takut takut jika ada yang tidak terpasang dengan benar karena ulah hampir lepas kendali sang suami.


"Waalaikumsalam,iya sebentar."


Jawabnya pelan,sambil tergesa gesa membuka pintu.


"Hallo mbak Kia,apa kabar?"


Sapa wanita yang tentu berwajah fàmiliar dihapanya itu.


"Ana,Ezka.Silahkan masuk."


Ajaknya gembira,sambil mempersilahkan adik kembarnya itu masuk bersama istri dan putrinya.


"Aunty....auntyy..."


Celoteh sikecil Ezkana yang kini berada digendongan sang ayah.


"Hallo Ezkana cantik,apa kabar?"


"Ba-ik aunty..."


Jawab sikecil bermanik percis seperti milik ayahnya itu,yàng langsung dihadiahi senyuman ketiga orang dewasa didekatnya.


Kia selanjutnya membawa mereka masuk keruang tamu,sebelum meninggalkanya karena pintu utama rumahnya kembali diketuk.


"Waalaikum salam,iya sebentar."


Jawabnya sopan.


Kemudian manik coklatnya menangkap dua pasang suami istri yang tengah tersenyum ramah kearahnya.


"Mbak Kia,apa kabar?"


Sapa riang wanita muda yang terlihat tengah mengandeng erat lengan suaminya tersebut.


"Baby."


Ucap Kia riang,sambil mempersilahkan mereka masuk.


Sesekali ia juga melirik kedua pria gagah dihadapanya,yang terlihat begitu merindukanya dari balik tatapan mereka.


"Apa kabar Ki?"


Sapa salah satunya.


"Baik mas,mas Bara sendiri gimana kabarnya?"


Tanya kepada pria bermanik coklat tersebut.


"Alhamdulillah baik."


Jawab siempunya nama,sambil mengulurkan tanganya hendak menyeñtuh pucuk khimar Kia,sudah kebiasaannya memang.


Sebelum sebuah suara dehaman mengurungkan niat awalnya.


"Hmmm,apa kabar ki?"


Sapanya basa basi namun dengan tutur kata khasnya yang lembut dan bersahabat.


"Baik mas.Mas Dimas juga gimana kabarnya?"


"Alhamdullah seperti yang kamu lihat,aku baik."


Jawab siempunya nama,sambil tersenyum penuh keyakinan kearah Kia.


Baik Sayla-istri Dimas ataupun Baby-istri Bara menjadi bingung sendiri melihat kecanggunan suami merea dengan mantan wanita dari masalalu mereka tersebut.


Akward-rasanya.


"Hm,kalau gitu kita masuk dulu yuk!"


Ajak Kia sambil mempersilahkan mereka masuk keistana miliknya.


Diruang tengah,mereka kembali mengobrol kecil sambil bersalaman dan berpelukan setelah sekian lama tak berjumpa.Kecanggungan kembali terasa,saat pria yang kini berstatus sebagai suami Kia itu hadir diantara mereka sambil membawa sikembar.


"Wah,sikembar sudah besar ya mbak?"


Tanya Baby,sambil menoel pelan pipi gembul milik Lunar..


"Cantik dan tampan seperti orang tuanya.Aku jadi pingin punya satu."


Celotehnya pelan,tanpa menghiraukan tatapan penuh tanya dari sang suami-Bara.


"Bukanya kita juga akan segera memilikinya,Bubu."


Pria bermanik coklat itu angkat bicara,sambil memeluk bahu mungil wanitanya.

__ADS_1


"Tunggu dengan sabar kelahiran baby kita,tujuh bulan lagi."


Lanjutnya yang langsung dihadiahi ucapan penuh syukur mendengar berita kehamilan Baby.


Bunyi bell rumah mereka kembali menyela.Vano dan Kia sontak berdiri bersamaan,hendak membuka pintu untuk tamu mereka.


"Biar aku aja yang buka pintunya mas!"


Inisiatif sang istri.


"Biar aku aja,kamu disini sambil jaga sikembar."


"Tapi mas-"


"Biar aku aja sayang,palingan itu Erick sama istrinya."


Sela Vano,sambil mengecup pucuk khimar sang istri mesra,sengaja.


Ia sengaja,karena pria itu ingin saja menunjukkan rasa cintanya yang tak kalah besar dari cinta saudara dan para mantan rivalnya di masalalu.


'Pamer.'


Batin Bara.


'Kayaknya sih mau mengumbar umbar keharmonisan dia.'


Dimas,ikut membatin.


'Halah,suami possesive.'


Kini giliran Ezka yang batinya bermonolog.


Sementara itu didepan pintu,Vano menghembuskan nafasnya gusar.Belum selesai rasa kesalnya karena gagal buka puasa,ia juga kesal karena lupa akan acara reuniaan ala sang istri yang diadakan hari ini.Mengundang jajaran mantan mantan teman dekat prianya,begitu kurang lebih pikir vano.


"Waalaikum salam.Rick-"


Belum sempat pria itu menyelesaikan perkataanya,ia sudah terlebih dahulu dibuat terkejud dengan tamu yang kini berdiri didepan pintu rumahnya.


Bukan sang sahabat beserta keluaga kecilnya,namun sasang adik dan adik iparnya yang datang bertandang.


"Mas Vano,apa kabar?"


Sapa hangat Vanya-sang adik yang datang membawa serta putri dan suaminya.


"Baik."


Jawab Vano datar.


'Ck,sama adik sendiri datar amat bang!'


Batin Vanya ketus.


"Kita gak bakal diizinin masuk nih,yakin?"


Sindir Vanya.


Pria tampan itu sedikit tersinggung,tetapi cepat cepat kembali keekspresi datarnya.


"Silahkan masuk."


Ucap Vano datar,sambil pergi terlebih dahulu meninggalkan tamunya.


"Ish ngeselin,punya kakak lempeng amat."


Gerutu wanita cantik bermanik sama dengan milik Vano tersebut.


"Sabar,mommy."


Lirih sang suami lembut,sambil memeluk pinggang sang istri.


"Habisnya,udah nikah juga masih lempeng itu muka.Kalau aku sih gak akan tahan sama sikap datar kakakku!"


Ketusnya.


"Udah sayang,gitu gitu juga kakakmu."


Lerai Aditama.


"Hm"


"Mommy,daddy where are you doing? Kitta u_udah ditunggu!!"


Sela Q dengan pengucapan baha Indonesianya yang kurang lancar.


"Iya sayang."


Ketiganya pun menyusul Vano yang sudah terlebih dahulu gabung dengan yang lain diruang tamu.


"Mbak Kia,apa kabar?"


Sapa Vanya lembut sambil memeluk tubuh wanita cantik berkhimar dihadapanya.


"Alhamdulillah,aku baik.Kalau kamu gimana kabarnya?"


Dengan senang hati,wanita berkhimar syar'i itu membalas pelukan adik iparnya.


"Baik mbak."


Jawab Vanya sambil mengurai pelukanya.


"Q sayang,salam dulu sama mama bang Anzar."


"C'mon princess."


Titah Aditama-ikut angkat bicara.


"Assalamualaikum mamma babang Anzar."


Salah sikecil Q,sambil mengecup puggung tangan Kia.


"Waalaikumsalam cantik."


Pembicaraan lima keluarga kecil itu berlanjut dengan topik topik yang lebih ringan.Setidaknya dengan cara itu,mereka tidak merasa canggung dengan pasangan masing masing juga terhadap kisah masalalu yang pernah terjadi diantaranya.


Beranjak siang hari,kelima wanita itu beralih kearah pantry yang didominasi warna putih dan baby blue yang menonjolkan kesan bersih juga segar.Mengarah langsung kepemandangan laut lepas yang nampak cantik.Dari pantry juga,mereka bisa mengawasi buah bati mereka yang tengah bermain di ruang bermain indoor yang diperuntukan untuk anak anak mereka.


"Kita masak apa mbak?"


Tanya Baby yang terlihat sangat antusias untuk memasak.


Ibu hamil yang masih muda ini terlihat sangat antusias untuk melakukan aktivitas yang memang jarang dilakukanya semenjak ia mengandung.


"Hm,mas Bara masih suka kepiting saus lada hitam kan?"


"Hm,kayaknya iya mbak.Soalnya mas Bara tidak terlalu pemilih soal makanan."


Jawab Baby ragu,pasalnya ia juga belum hafal betul makanan paforit sang suami.


"Hm,mas Dimas masih suka dendeng sambel ijo kan Sayla?"


Tanya Kia memastikan.


Wanita cantik bermanik coklat gelap itu tersenyum mengiyakan.Ternyata benar kata orang,sahabat perempuan terdekat suaminya inu memang tahu betul tentang Dimas,suaminya.


"Iya mbak Kia."


"Kalau Ezka sih dari dulu suka capcay daging sapi,gak pernah berubah.Iyakan na?"


"Iya ki,kamu betul."


Jawab Ana membenarkan,dari dulu ia juga sempat cemburu akan kedekatan keduanya yang terlahir kembar.Tetapi terlepas dari semua itu,Ana sudah memakluminya.Mereka itu dekat memang karena jalinan persaudaraan,tak lebih.


"Kalau Adi,aku sudah lupa.Dulu waktu SMA sih sukanya Makanan yang simple.Kayak omlet pakai kornet sapi sama sosis sama sup buntut yang banyak wortelnya.Kalau sekarang sih,aku gak tahu seleranya."


Ucap Kia pelan.


"Mas Adi masih sama kok mbak,suka omlet.Dia juga suka sup buntut yang banyak wortelnya.Selera dia gak pernah berubah."


Jawab Vanya membenarkan dengan senyuman tipisnya.


"Yasudah,kita masak kepiting saus lada hitam,dendeng sambel ijo,capcay daging sapi,omlet,sup buntut,sama tambahan sup jagung dan ayam bakar madu kesukaan mas Vano.Ada yang mau dimasak lagi tidak?"


Ucap kia memecah keheningan dan canggungan diantara kelimanya.


"Udah mbak itu aja!"


Jawab Baby.


"Iya Kia,udah itu aja."


Lanjut Ana.


"Yasudah,kita bagi bagi tugas ya."


Keempat wanita itu tersenyum hangat,kemudian saling membagi tugas untuk memulai acara memasak mereka.


Mengerjakanya dengan santai diiringi dengan obrolan ringan diantara mereka.


"Sebentar ya,Kia tinggal dulu."


Ucap Kia pamit.


"Iya ki."


Jawab Ana mewakili.


Sementa itu diruang tengah,tepatnya diruangan yang kini ditempati oleh lima pria rupawan yang sedang asik dengan dunianya sendiri.Vano sang pemilik rumah asik berceloteh riang dengan kedua buah hatinya.Bara yang sibuk dengan koran bisnis ditanganya,atau Dimas yang sok sibuk dengan smartphone ditanganya.Ada pula Ezka yang tengah sibuk dengan secangkir kopi panas ditanganya,atau Aditama yang sibuk dengan pikiranya.


"Aduh,kok pada gini sih?"


Cicit Kia kecil,bingung dengan suasana akward yang nampak jelas dihadapanya.


Wanita cantik itu berucap lirih,sambil duduk tepat disamping sang suami yang tengah menjaga putra putrinya.


"Abang sama adek Lunar haus ya? Maaf ya,bunda sibuk didapur jadi lupa kasih kalian Asi."


Lirihnya lembut,sambil mengambil kedua buah hatinya untuk diberi asing dengan dua botol bayi yang ia bawa.


Kedatangan Kia ini tentu saja menarik perhatian kelima pria dihadapanya.Membuat dirinya menjadi objek utama bagi manik mereka yang tak dapat dialihkan pesonanya.


"Ini pada kenapa sih,kok canggung begini?"


Tanyanya memecah keheningan disela sela kegiatanya memberikat botol susu berisi Asi ke sikembar


"Allah saja bisa memaafkan umatnya.Masa kita sebagai umatnya tidak bisa memaafkan sesama?"


"Yang sudah terjadi dimasalalu ya sudah berlalu,semua itu sudah kehendak Allah subhana wataala.Jadi sekarang lebih baik kita juga melupakan kenangan pahit dimasalalu.Sekarang kita bisa berbaikan dengan masalalu untuk menjalani masadepan kita dengan pasangan masing masing."

__ADS_1


Ucap Kia sambil menatap kelima secara bergantian.


"Mulai sekarang Kia harap tidak ada kecanggungan diantara kita semua."


Lanjutnya,sambil tersenyum hangat menyambut usapan sang suami diujung khimarnya.


"Yasudah,Kia tinggal dulu ya."


Ucapnya sambil memberikan Van'ar kepada Ezka dan Lunar kepada Bara.


"Van'ar sama lunar wajib tahu orang orang yang berjasa dihidup bundanya."


Ucapnya sebelum berlalu.


Sepeninggalanya kia,Kelimanya mulai tergerak untuk saling membuka pembicaraan.


'Matanya mirip Kia,teduh dan menenangkan.'


Gumam Bara sambil tersenyum kecil kearah bayi mungil yang kini berada dipangkuanya.


'Mata tajamnya mirp bapaknya,tapi senyumnya mirip Kia.Perpaduan yang komplit ya?'


Batin Ezka sambil menoel pipi gembul Van'ar.


"Saya minta maaf."


Ucap pria bersuara barithon itu angkat bicar.Membuat empat pasang mata kini beralih kepadanya.


"Saya minta maaf atas semua perbuatan buruk saya dimasalalu.Atas semua perbuatan brengsek saya kepada perempuan yang kalian sayangi juga."


Ucapnya to the point,sambil menatap mereka penuh keyakinan.


"Saya mencintainya dengan segenap hati.Saya sudah berjanji kepada Allah,jika saya tidak akan menyianyiakanya lagi.Sekarang saya berbicara didepan kalian berempat,saya berjanji akan membahagiakan Kia selama saya masih diberi napas dan kekuatan untuk menjaganya."


Ucapnya mantap,terutama kearah tiga penjaga yang dulu menjadi prajurit terdepan yang siap menghadang dirinya jika menyakiti Kia.


"Aku percayakan Kia kepadamu bang,jangan sampai dia menangis lagi.Karena air matanya terlalu berharga untuk kami."


Ucap Ezka angkat bicara.


"Baik"


Jawab Vano mantap.


"Sekali lagi kamu buat Kia menangis,aku siap merebutnya man."


Ujar Bara jenaka yang langsung disambut gelak tawa.


"Tidak akan saya biarkan semudah itu,man."


Jawab Vano sambil terkekeh kecil.


"Jika ibunya sudah di cancel oleh Ezka dan Bara,saya siap mengencel ketiga buah hati kalian Vano.Dengan itu,Aurra jadi punya banyak adik."


Sela Dimas ikut menimbrung.


"Tidak bisa begitu bapak dokter,tidak ada yang boleh membawa ketiga harta paling berharga milik saya."


Kekeuh Vano tak terbantahkan.


Keempatnya kembali tertawa renyah,beda hal dengan Aditama yang masih ada unek unek yang menganjal dihatinya.


"Saya juga minta maaf."


Ucapnya memecahkan tawa renyah mereka.


Tatapan keempatnya langsung mengarah kepadanya.Dengan gugup,pria itu kembali berucap.


"Saya minta maaf karena dulu saya penyebab Kia patah hati hingga bertahun tahun lamanya.Sungguh,tidak ada niatan sedikitpun untuk meninggalkanya apalagi menyakitinya."


Ucapnya penuh penyesalan.


Pluk


Tepukan pelan mampir dibahu kirinya.Ia melirik pria disampingnya.


"Santai saja Di,mungkin semuanya sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah,sehingga kita berlima jatuh kehati yang sama.Tapi sayangnya,pemilik hati itu cuma satu orang." Ucap Bara santai.


"Mungkin sudah jalanya kita begini.Tapi pada akhirnya,kita juga harus bisa move on dan menerima.Lagi pula Allah juga tidak akan pernah lupa akan janjinya,jika manusia itu diciptakan berpasang pasangan."


Lanjutnya bijak.


"Iya Bar,terimakasih."


Ucap Adi lega.


Setidaknya ia sudah merasa beban dihatinya berkuang setelah mengungkapkan unek uneknya.


"Bang,saya-"


Belum sempat ia menyelesaikan perkataanya,tubuhnya sudah dirangkul dari samping.


"Sudah saya maafkan,asal kamu jangan pernah menyakiti adik saya Vanya.Apalagi melirik istri saya,Kia."


Ucap pria yang dimaksud Adi,sedikit bergurai.


"Tidak perlu khawtir bang,Vanya dan Q adalah harta terindah bagi saya.Sedangkan Kia,adalah permata indah milik abang."


Ucap Aditama mantap.


"Saya pegang janjimu."


Ucap Vano sambil melepas rangkulanya.


"Jadi sekarang,kita ini friends man?"


Tanya Dimas sambil melemparkan tatapan penuh tanyanya.


"Just friend,really?"


Tanya Bara.


"Kita Teman,sahabat juga keluarga."


Ucap Ezka menjawab.


"Jadi mulai sekarang jangan ada kecanggungan dianta kita berlima."


Vano ikut angkat bicara.


"Tentu."


Jawab keempatnya mantap.


"Mungkin suatu saat nanti kita juga bisa berbesanan."


Celetuk Dimas yang langsung diangguki keepatnya disusul tawa renyah mereka yang ikut pecah.


Wanita cantik bermanik hitam teduh itu tersenyum senang.Pemandangan manis kelima pria itu memang tak luput dari penglihatanya.Tak dapat disangkal lagi,hatinya menghangat melihat persahanatan yang baru saja terjalin kembali tersebut.


"Mbak Kia memang hebat."


Kata Vanya,angkat bicara.


"Cuma mbak Kia doang yang bisa menyatukan mereka."


Lanjutnya berkaca kaca sambil memeluk tubuh mungil Kia.


"Mbak Kia memang yang paling the best."


Komentar Baby sambil ikut memeluk tubuh Kia yang sama mungilnya dengan miliknya.


"Dulu aku sering iri sama mbak Kia,karena punya lima pandawa yang selalu siap memperebutkan mbak.Tapi sekarang,aku sadar ternyata mbak Kia itu wanita hebat yang memang pantas mendapatkan semua itu."


Ungkap Sayla,sambil berjalan kearah mereka.


"Sekarang aku yakin gak bakal iri lagi,karena setiap pandawa itu sekarang punya satu orang bidadari masing masing dihati mereka."


Ucapnya lagi sambil ikut memeluk Kia.


"Terimakasih dan maaf mbak.Terimakasih sudah menyatukan mereka,dan maaf sudah pernah menaruh iri kepada mbak."


Ucapnya tulus,sambil menitihkan air matanya.


"Iya sudah,tidak ada kata maaf diantara keluarga."


Ucap Kia penuh kelembutan.


"Dari zaman dulu,kamu itu memeng idola aku ki."


Komentar Ana,sambil ikut bergabung keacara pelukan ala teletubis mereka.


"Kamu memang wanita terbaik yang pernah aku temui.Rasanya aku juga perlu belajar banyak dari kamu."


Ungkap Ana lirih.


"Kita belajar sama sama ya,belajar jadi ibu yang baik,juga seorang istri yang baik bagi suami kita."


"Iya mbak."


Jawab mereka serempak.


Tidak ada yang paling indah,selain melihat kebahagiaan sebuah keluarga yang utuh dan harmonis.Tidak ada kecanggungan dari masalalu,ataupun status yang kemudian berubah dikemudian hari.Semuanya akan terasa indah jika kesalahpahaman tak kembali meliputi.


Hubungan yang nyaman didasari oleh berbagai macam unsur positif yang tentunya akan menghadirkan rasa nyaman untuk setiap individu didalanya.Unsur terpenting salah satunya adalah kejujuran.Karena,efek dari kejujuran bukan saja membuat hati tenang dan nyaman namun juga akan membuat kita dipercaya oleh orang lain,terlebih lagi jika menyangkut individu dalam sebuah hubungan.


Hubungan yang positif penuh elemen positif yang tentu juga membawa efek baik bagi setiap individu.


*See you


\=\=\=\=\=\= **Cuap Cuap dari penulis.


Terimakasih readers setia,karena telah setia menunggu dan menemani kisah Arkia dan Vano dalam setiap bagianya.


Terimakasih atas kritik,saran juga dukunganya.Karena semua itu,Authoor jadi semangat menulisnya.Terimakasih dan maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisan kata/kalimat.Semoga readers semua suka dan senang dengan karya karya hasil imajinasiku ini.


Terimakasih sudah mau menanti kisah Kia dan Vano sampai selesai.


Terimakasih atas dukungan,kritik dan saranya😊😊


*NRisma


See you next story**


Sukabumi 05 April 2020


11.42

__ADS_1


3026 kata


__ADS_2