Bukan Salah Khitbah (R1)

Bukan Salah Khitbah (R1)
Serpihan hati


__ADS_3

'Hati seorang wanita itu rapuh,mudah retak apalagi pecah.'



~Arkia Shalfira Mubaraq~


Hadirnya seorang malaikat kecil diantara hati yang yang mulai merengģang,terkadang dapat mengikat kembali sebuah ikatan.


Terkadang pula,dapat menjadi boomerang diantara kedua belah pihak.


"Yah....jangan puyang....jangan puyang ya?"


Rengek bocah tampan yang sudah mengenakan piama tidur tersebut.


Pria tampan bermanik hitam kelam itu tersenyum kecil,sambil mengubah posisinya untuk menyamakan posisinya dengan sang putra.


"Hey boy,aya harus pergi sekarang.


Anzar disinikan sama bunda,jadi jangan menangis lagi ya!"


Pintanya,sambil pucuk kepala putranya tersebut.


"Gak mau.....Anzal mau yayah dicini.


Bobo....cama Anzal cama unda!"


Pinta sikecil,dengan manik jelaanya yang hampir meneteskan air mata.


Perhatian pria itu kemudian teralih,kearah wanita cantik yang tengah berdiri diambang pintu,mengirimkan isyarat memohon bantuanya.


"Anzar,ayah harus pergi sekarang.


Sekarang Anzar tidur sama bunda ya,besok ayah kesini lagi."


Bujuk Kia,kini angkat bicara.


Wajah tampan bocah berusia tiga tahun kurang itu tak kunjung berubah,air matanya kini mulai lolos satu persatu.


Tak tega,itulah yang dirasakan Kia maupun Vano.


"Sayang,ayah harus pergi kerja sekarang.


Anzar jangan nangis lagi ya!"


Pinta sang bunda.


"Yayah....kelja kelja mulu.Anzal pokoknya mau bobok sama yayah...hiks...hiks!"


Rintihnya sambil memeluk tubuh tegap Vano.


Sungguh hati pria berusia awal 30-an tahun itu terasa menghangat,namun miris pula bersamaan.Hangat rasanya kala putranya begitu menyayanginya,walaupun keberadaanya selama ini terabaikan.


Miris rasanya karena ia merasa menjadi orang tua yang tak pantas,karena tidak memberikan kasih sayang yang cukup untuk putranya.


"Anzar!"


Nada bicara Kia mulai naik,ia mulai kesal mendengar rengekan sang putra.


"Ki,kumohon.Dia putra kita."


Lirih Vano.


Deg


'Putra kita?' Bolehkan Kia mencibir?


Lalu kemara perginya dia ketika putranyà itu masih dalam kandungan.


Kemana dirinya saat ia mempertaruhkan nyawanya diruang persalinan.


Pantaskah Vano menyebut dirinya ayah dari putranya yang selama ini ia abaikan keberadaanya.


Wanita itu menghela napas gusar,disamakanya tinggi badanya dengan sang putra yang masih setia memeluk tubuh pria dihadapanya.


"Anzar berhenti nangis ya,iya.Ayah malam ini bobok sama Anzar."


Lirihnya sambil mengusap,rambut legam sang putra,sayang.


Manik jelaga milik pria dihadapanya itu dibuatnya terbelak.Hatinya terasa sedikit lega,saat menemukan keihklasan dari wanita yang dicintainya.Ini hanya demi putranya sèmata,itulah yang Kia yakini dalam hati.


Karena bagaimanapun Vano adalah ayah dari putranya.


"Yeyy....Anzar bobok sama yayah...."


Antusias bocah tampan berusia tiga tahun tersebut.


Tanpa disadari oleh keduanya,terdapat sepasang manik hitam yang tengah menatap interaksi tersebut dengan senyum yang merekah.


'Semoga kesempatan yang saya berikan,dapat kamu gunakan dengan baik.'


**


Cangung....


Itulah yang kini tengah meliputi dua orang dewasa berbeda gender tersebut.


Kia yang tengah mempersiapkan putranya untuk pergi tidur,terdiam sejenak saat ingatanya tertuju pada sosok lain yang akan tidur diruangan yang sama denganya.


Ckrieeet


Decitan pintu kamar mandi yang terbuka,menampilkan sesosok pria tampan yang muncul dengan balutan piama tidurnya yang berwarna dongker.


Sejam yang lalu,X tangan kanan Vano telah mengantarkan baju ganti,juga piama untuk tuanya.


Entah kebetulan atau memang ikat ayah dan anak yang kuat,namun Kia juga dibuat bingung dengan kesamaan pilihan piama ayah dan anak ini.


"Wow...baju yayayh....cama kayak punya Abang!" Senang bocah tampan yang mengenakan piama dongker bergambar bintang tersebut.


Pria bermanik jelaga itu tersenyum sambil menatap putranya sayang.


Entah mengapa,rasanya hatinya lengkap saat ini.Ia seperti merasa memiliki keluarga kecil yang sempurna saat ini.


Istri cantik yang baik hati dan putra tampan yang pandai,lengkap sudah.


"Anzar tidur yang nyenyak ya,jangan lupa baca doa sebelum tidur dulu!"


Perintah wanita yang mengenakan gamis berwarna hitam yang dipadukan dengan kerudung istant berwarna dongker pula.


Kebetulan yang manis bukan??


"Udah unda!"


Jawab bocah tampan yang siap mengarungi dunia mimpi tersebut.


Disampinya Vano,sang ayah sudah siap diposisi duďuknya sambil memembacakan sebuah buku cerita anak.


"Kalau gitu sekarang abang tidur ya,selamat malam kesayangan bunda."


Cup


Setelah mengucapkan selamat malam ďan Kia pun beralih megecup singkat dahi sang putra.


Vano yang melihat kedekatan antara putranya dengan wanita yang dicintainya itu,tak dapat dipungkiri jika hatinya menghangat seketika.


Ia bahkan kini berharap benda tipis tak bertulang itu mengenai pelipisnya juga,sambil mengucapkan selamat malam.


Bolehkan ia mengkhayal,tak salah bukan?

__ADS_1


Melihat vano yang tidak perlihatanya darinya sedikitpun,membuat Kia risih.


Setelah mengatakan itu,ia pun bergegas beranjak pergi dari posisi awalnya.


"Ndaa...."


Belum sempat tanganya meraih knop pintu,lirihan suara bariton kecil khas milik sang putra itu,berhasil menghentikan langkahnya.


"Iya,ada apa sayang?"


Tanya Kia setelah membalikkan tubuhnya.


"Unda mau kemana,unda gak tidur cama Abang cama yayah ya?"


Skat mat


Rencana Kia yang akan tidur diruang kerja abinya itu berhasil diketahui sang putra.


Putranya itu memang pandai,dalam satu tebakan Anzar kecil bisa tahu jika bundanya


Itu tidak bersedia tidur denganya dan Vano.


"Bunda-"


"Bunda gak cayang ama yayah ya,kok unda gak mau bobok cama yayah?"


Duardd


Kia yang mendengar perkataan putranya itu hanya bisa membelalakkan matanya.


Belajar dari mana coba putra tampanya itu??


Lain halnya dengan pria tampan yang berbaring disamping sang putra,tanpa ia sadari pria tampan itu mengulum senyum kecilnya dibibir kissablenya.


'Dari mana putraku belajar kata kata ini,pintar sekali kamu boy.Ayah bangga sekali padamu.' Batin Vano senang.


"Unda gak cayang cama abang juga ya,kok....unda hiks...gak mau bobok cama abang lagi hiks....hiks...unda jaaat..."


Rintih sikecil Anzar yang mulai terisak.


Bukan hanya Kia yang dibuat terkejut dengan isakan tiba tiba putranya itu,namun Vano juga.


"Hey....boy,hari ini abang tidur sama ayah ya,jadi bunda biar tidur sendiri ya!"


Bujuk Vano,sambil meyakinkan sang putra.


"Nanti ayah ceritakan donģeng yang seru ya,mau ya??" Bujuknya lagi.


"Abang gak mau hiks.....Abang mau bobok cama ayah dan bunda,huaaahh....."


Tangis Anzar yang kembali pecah.


Pertahanan wanita cantik berkhimar dongker itu runtuh seketika.


Ia lebih mengeyampingkan egonya sejenak,tanpa harus mengorbankan keceriaan putranya.


Dan kini mereka bertiga disini,berbaring dìatas ranjang yang sama.


Siwanita terlihat mencoba mengalihkan pandanganya,menuju objek lain.


Sedangkan sipria,terlihat menggaruk tengkuknya frustasi.


Lain halnya dengan sang putra yang terlihat bahagia,tidur diapit oleh kedua orang tuanya.


Hingga sang putra terlelapun,kedua orang dewasa yang masih bersatu dalam mahligai rumah tangga itu masih terjaga,dengan kebisuan yang menyelimuti keduanya.


Ketika sudah yakin putranya telah terlelap dengan nyenyak,ia beranjak dari tidurnya.


Berniat untuk meningalkan kedua lelaki yang memiliki tempat dan opsi masing masing dihatinga.


"Ki,saya mohon.Malam ini saja,saya mau kita seperti keluarga kecil yang utuh tanpa celah." Lirìh Vano,mencoba menghentikan wanita yang tengah dalam mode menghindarinya tersebut.


"Baik,malam ini saja."


Putus Kia,sambil kembali membaringkan tubuhnya disamping sang putra lagi.


Vano tersenyum senang.


Setidaknya,wanita itu masih mau menuruti permintaanya.Malam ini saja mereka seperti keluarga kecil yang harmonis,mungkin nantinya akan ada malam malam berikutnya.


Malam ini adalah malam yang sudah sedari lama sudah Vano tunggu,dan kini malam ini terwujud juga.Malam yang melegakan bagi Vano,hingga tanpa disadari kantuk mulai menggerayangi penglihatanya.


Membawanya menuju alam mimpi,menyusul putra-nya dan wanita-nya.


Dalam malam nyaman penuh kehangatan itu,menyatukan keluarga kecil yang selama ini telah terpisah sekian lamanya.


Kumandang adzan mulai beradu gurau,sinar sang surya yang belum nampak samar dari celah celah tirai mulai menganggu tidur dua insan yang masih bergemul didalam selimut yang sama tersebut.


Keduanya tidur dengan nyaman,dengan posisi berpelukan,saling membagi kehangatan.


Kelopak mata yang menyembunyikan manik hitam teduh itu mulai mengerjap,menandakan bahwa siempunya akan bangun dari tidurnya.


Tak lama kemudian,manik hitam itu terbebas dari kurunganya.


Mengerjap nerjap menyesuaikan cahaya yang masuk dari retina matanya.


Wajah cantik wanita yang baru saja terbangun itu menyergit bingung,saat posisi bangunya tidak sesuai dengan posisi tidurnya semalam.


Deg


Ketika terbangun,ia tertidur dalam pelukan pria tampan yang masih terlelap dengan damai disampingnya.Lengan kokohnya entak sejak kapan,menjadi bantal empuknya.


Dada sandarable-nya entah sejak kapan menjadi tempat yang nyaman dan hangat yang menenangkan Kia.


Blush


Pipi wanita berhijab itu merona sempurna,jika mereka tertidur dalam posisi seperti ini semalaman.


Dalam sejenak,kebencian dan ketakutan itu hilang.Ada rasa yang hadir dan tidak bisa ditepis olehnya.


Bohong rasanya,jika serpihan rasa yang sudah tumbuh sejak lama itu tidak tersisa.


Jauh didalam hatinya,rasa cinta itu masih ada.Walaupun tinggal serpihan serpihan kecil hati,yang membutuhkan perekat ulang.


Ditatapnya dengan seksama,wajah tampan pria yang selalu mempesona dimatanya,sekaligus menyakitinya tersebut.Rambut hitamnya yang lebat,alis hitamnya yang terbentuk dengan rapihnya.Kelopak mata yang ditumbuhi bulu mata lentik,menyembunyikan manik jelaga miliknya.Hidung bangirnya dan jangan lupakan bibir penuhnya yang kissable.


Dibingkai sempurna oleh rahang kokoh yang menggodanya untuk menyentuhnya.


Menyusuri tiap pahatan sempurna tuhan tersebut.


Eughh


Lenguh siempunya yang merasa terganggu dengan gerakan jemari mungil yang menyusuri wajah tampannya.


Deg


'Se-sejak kapan ini,astagfirullah....lancang sekali tangan ku ini ya-Allah!'batinya gugup.Entah sejak kapan,yang pasti jemari mungil miripnya kini sudah tersimpan sempurnya menelusuri rahang kokoh pria dihadapanya.


Logikanya memang menolak keras,namun tak sejalan dengan hatinya yang masih belum seutuhnya melepaskan.


Hatinya saja masih berdebar dengan lancangnya,ketika berada sedekat ini denganya.


Ketika merasa siempunya akan bangun,bukanya cepat cepat bangun dari posisinya,Kia lebih memilih menutup matanya.Mencoba pura pura tertidur kembali,malu mungkin jika terciduk tengah menikmati wajah tampan pria yang berstatus sebagai suamiya tersebut.


'Bodoh....bodoh kamu ki!' Batinya merutuki kesalahanya.


Tak lama kemudian,pria bermanik hitam jelaga tersebut terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


Manik hitamnya menangkap sosok wanita berhijab yang tengah tertidur dipelukanya,hatinya menghangat seketika.


Ketika bangun bangun ia disuguhi wajah menenangkan sang istri yang masih terlelap dengan damainya.


Ia terbangun karena ada gerakan kecil diwajahnya,ia pikir wanita cantiknya ini yang menjadi dalang dari semua itu.


Namun nyatanya,lihatlah dia masih terlelap dengan nyenyak.


Cantik


Gumamnya pelan ketika memandangi dengan lekat wajah damai sang istri.


Sungguh hatinya berbunga bunga ketika bangun pagi ini.Diliriknya jam dinakas,pukul 04.38 pagi.Pantas saja ia sayup sayup mendengar adzan subuh berkumandang.


Dengan gerakan kecil,ia melepaskan pelukanya ditubuh sang istri agar wanitanya tak terbangun.Ketika merasa Kia tidur dengan nyaman,Vano memposisikan tubuhnya untuk duduk disamping ranjang.


Seulas senyuman kembali menggembang dengan jelasnya dibibir kissablenya.


Ada rasa berbunga bunga yang meletup letup dihatinya.


Cup


"Ini adalah momen yang kutunggu tunggu sejak tiga tahun lalu." Gumamnya kecil setelah memgecup pelipis Kia lama.


"Maaf,untuk semua kesalahanku selama ini.


Tapi sungguh,aku.....mencintaimu ki." Lanjutnya.


"Aku ingin kita kembali bersama,membina keluarga kecil kita.Walaupun itu hanya angan anganku,namun aku masih berharap besar ki." Humam Vano pelan yang masih bisa didengar oleh Kia dengan jelas.


Cup


"Aku sayang kalian ki,kamu dan Anzar."


Setelah mendaratkan kecupan kedua ditempat yang sama,pria itupun beranjak dari tempatnya duduk menuju kamar mandi,untuk mandi sekaligus mengambil air wudhu.


Tanpa ia sadari,sebutir air mata berhasil lolos dari ujung kelopak mata wanita yang tengah pura pura tertidur tersebut.


Entah mengapa hatinya terasa sakit,saat mendengarkan tiap kalimat yang terlontar dengan penuh kesungguhan tersebut.


Hatinya seakan akan tercabik cabik oleh keegoisanya selama ini.


Apa ia egois karena belum bisa memaafkan pria yang masih berstatus suaminya itu??


Apa ia egois karena tidak mau memperbaiki segalanya??


'Aku tidak egois ya-Rabb,hambamu ini cuma butuh lebih banyak waktu untuk meyakinkan hati yang banyak ia lukai.'


**


Sementara itu,sepasang suami istri yang sudah baya tersebut dikejutkan oleh kedatangan sang cucu yàng mengetuk pintu kamar mereka dipagi pagi buta.


"Anzar...."


"Umii....abang....bobok dicini ya!"


Pinta bocah tampan nan menggemaskan itu,sambil mengucek ngucek matanya.


Kedua orang itu,Halim dan Salma saling berpandangan sejenak.Lalu beranjak membawa cucu tampanya itu masuk.


"Memangnya kenapa abang mau tidur disini?" Tanya salma lembut,setelah membaringkan tubuh mungil cucunya tersebut ditengah tengah ranjang.


Diliriknya sejenak,ternyata masih pukul 03.02 pagi.


"Tadi abang mau pipis...hoammm"


Cerita sikecil Anzar sambil menguap.


Salma dengan setia menunggu cerita cucu menggemaskannya ini,sambil menepuk nepuk punggung Anzar pelan agar cucunya itu tertidur lagi,sudah menjadi kebiasaan anzar memang.


"Pac abang dali kamal mandi,yayah...cama unda tidulnya peyuk peyukan....hoamm...jadii...abangya...gak bisa tidul dicana...."


Celita Anzar,sambil sesekali menguap.


'Pelukan?'


Salma yang mendengarkan penuturan cucu kecilnya itu menjadi penasaran dibuatnya.


Dia memang sempat membenci Vano,namun melihat tekadnya untuk memperbaiki hubunganya,membuat Salma setuju dengan keputusan sang suami untuk memberikan kesempatan kedua untuknya.


"Umi mau kemana?"


Tanya pria baya yang datang dengan segelas susu hangat tersebut.


Sebelumnya,Anzar memang meninta susu kepada Salma.Namun Halim yang juga kebetulan ingin minum,sekalian saja membuatkan susu pesanan sang cucu.


"Astagfirullahaladim,abi.Bikin umi kaget aja!"


"Memangnya umi mau kemana? Anzar udah tidur,kok ditinggal sendiri?"


Tanya Halim sambil memasuki kamarnya dan sang istri.


Dilihatnya sang cucu yang sudah terlelap dengan damainya.


Kemudian ia kembali berbalik,menatap sang istri,seolah olah bertanya 'umi mau kema?'.


"Abi jagain Anzar ya,umi mau lihat Kia sebentar."


Katanya sambil berlalu.


"Astagdirullahaladzim,umi.....umi,ternyata penasaran toh!" Kekeh pria baya tersebut.


Krieeett


Decitan pintu yang terbuka tidak terlalu lebar tersebut.Ketika terbuka,manik kehitamanya langsung menangkap dua sosok yang tengah tertidur sammbil berpelukan diatas ranjang.Seulas senyuman terpatri dibibirnya,melihat momen manis tersebut.


'Semoga kali ini kamu tidak mengecewakan Kia lagi,Vano.'


TBC


@@@


Hallo....guyss🖑🖑


Minggu pagi,maaf ya kemarin gak up.


Soalnya kemarin ada kumpulan forum OSIS Kab Sukabumi (FOKSI) dari pagi sampai sore.Jadi gak ada waktu nulis,ditambah lagi keadaanku yang kurang fit.


Sehari sebelumnya aku drop,sakit tipes.


Kecapean katanya😅


Padahal aku gak cape cape amat,buktinya masih kuat gadang buat nulis.


Padahal tubuhnya yang udah gak kuat😅😅


Tapi pasti aku banyakin up lagi,kalau kondisiku udah mendukung.


Jadi gimana,masih mau Kia sama Bara??


Atau Kia sama Vano??


Jangan lupa vote💯komen💬like🖒and share⛖


Sampai jumpa dipart berikutnya


Sukabumi 15/12/19

__ADS_1


09.56


__ADS_2