Bukan Salah Khitbah (R1)

Bukan Salah Khitbah (R1)
Baru sadar


__ADS_3

'Ada sebagian dari hati ini yang kehilangan dirimu,andai aku bisa mengulang waktu,untuk memperbaikinya,Arkia.'


Semenjak mengetahui kabar tentang keguguran yang dialami Arkia,Vano berubah drastis.


Dia jadi mudah marah,suka berteriak teriak dan membentak tak karuan.


Dokter bilang Vano mengalami depresi ringan.


Sudah dua hari Vano badrest dirumah sakit,dan hari ini keadaan Vano sudah jauh lebih baik.


Fakta tentang kehilangan bayinya dengan Arkia sanggup membuat hati seorang Keevano diguncang penyesalan yang amat mendalam.Ditambah lagi fakta tentang dibuangnya dirinya dari keluarga besar RADITYAN.


Semua tekanan batin itu membuat Keevan mengalami depresi ringan.


"Dith...kamu makan dulu ya?"ujar Arin lembut.


Iya dengan sabar dan telaten merawat sang suami.Tatapan pria bermanik elang itu kosong,ekspresinya datar.


Seakan akan semangat hidupnya telah dicabut paksa dari tempatnya.


BRAK


"Aku tidak mau makan.Apa kamu tidak dengar perkataanku Aurrin?"sinis Vano dengan nada dinginya,setelah melempar piring berisi sarapanya itu hingga tak berupa.


"Nanti kamu bisa sakit kalau gak makan dith!"lirihnya tak pantang menyerah.


"Saya bilang saya tidak lapar.KAMU TIDAK MENGERTI APA YANG SAYA KATAKAN?"bentak Vano mulai naik pitam.


"Tapi mas-


Ucap Arin terpotong.


"KELUAR KAMU DARI SINI.SAYA MAU SENDIRI!"titah Vano final.


Dengan hati yang terluka,Arin menyerah lalu undur diri dari tempat sang suami.


Wanita itu menangis,tak pernah sedikitpun terpikir olehnya akan jadi seperti ini.


Bisnisnya mulai terbengkalai karena tidak diurusnya dengan benar.


Hari harinya dihabiskan untuk menjaga Vano dirumah sakit yang mengalami depresi ringan dan cidera dibeberapa bagian tubuhnya.


Sungguh tak pernah terpikir olehnya,hidupnya akan seperti ini.


Dalam pikiranya,semuanya akan baik baik saja saat Vano mau menikahinya dan menyayangi bayi dalam perutnya.


Namun,hidup itu terkadang seperti roda berputar.Terkadang diatas terkadang dibawah.


Itulah yang kini telah berlaku,tuhan sepertinya sudah mulai menyicil karma untuknya.


Siang harinya,Arin menyempatkan diri sejenak untuk pulang kerestonya untuk mengambil pakaian bersih vano dan juga mengontrol keadaan bisnisnya yang terbengkalai akhir akhir ini.


'Gak nyangka,cantik cantik ternyata pelakor ya?'


'Iya,udah rumus kali kalau pelakor itu ular bertopeng malaikat.'


'He'em,padahal kita juga tahu kalau Arkia itu baik hati dan solehah.Bisa bisanya dia harus ngalamin yang kayak gitu ya!'


'Iya,kasihan Kia ya.'


Bisik bisik dari para karyawan ketika ia tiba,cukup membuatnya risih.


Belum lagi sebagian besar dari mereka meng-judge yang tidak tidak untuknya.


PLAK


Bunyi tamparan keras yang melayang tiba tiba dipipi kanan Arin itu.


Wanita yang kena tampar itu terbelalak,sambil mengusap pipinya yang mulai dijalari rasa panas dan perih.


"Arini,apa yang kamu_"


PLAK


Belum sempat ia menyelesaikan ucapanya,tamparan keras lainya mampir dipipi kirinya.


"Huh....udah lama saya mau lakuin ini kekamu!"ucap gadis berambut hitam sepunggung itu.


"A-rini,apa yang kamu lakukan?"


Tanya Arin terkejut,bukan karena dua tamparan keras itu saja,namun ekspresi dan gaya bicara yang diperlihatkan temanya dari dulu ini.


"Ck....saya gak nyangka kamu sehina ini rin.Mengambil suami orang,berzinah dengan suami orang,merenggut nyawa bayi kia.Saya gak nyangka!"ungkapnya datar.


Perdebatan keduanya ini tentu menjadi tontonan gratis untuk para pelanggan yang berkunjung dan staf disana.


"Arini,apa maksud kamu? Kamu tahu sendiri aku dan Radith sudah saling mencintai sejak dulu!" Bela Arin.


"Yayaya.....saya tahu,tapi seharusnya kamu juga sadar diri.Dia sudah punya istri,seharusnya kamu bisa melupakanya.Bukan bertekad untuk kembali merebutnya!"jedanya sebentar.


"Saya kecewa atas perbuatan kamu.Bisa bisanya kamu lakuin itu sama gadis sebaik Arkia."lanjutnya.


Deg


'Arkia lagi,Arkia lagi.Aku benci wanita itu!' batin Arin kesal.


"Mulai hari ini saya mengundurkan diri.Selamat menikati kebahagiianmu dengan suami bekas orang!"cibirnya sarkasme.


Gadis itu berlalu setelah melemparkan surat pengunduran dirinya didepan Arin.


"Ahh....ingatlah,Allah maha adil.Jika mahluknya yang berhati sebaik malaikat seperti Kia diuji dengan beratnya,apalgi dengan pendosa sepertimu!"


ucapnya sinis sambil belalu.


Hati Wanita itu nyeri,bukan sekalì atau satu orang narasumber yang mencemoohnya,bahkan rasanya seluruh dunia terasa mencibir dirinya saat ini,menertawakanya,bahkan memandang jijik kearahnya.


"Ahkk....aku bukan pelakor!"teriaknya keras.


Setelah kejadian itu,kondisi Arin drop.


Kepalanya berdenyut nyeri,tubuhnya lemas dan demam.Belum lagi hidungnya yang terasa nyeri dan perih,belum lagi cairan kental berwarna merah yang keluar dengan tak henti hentinya dari sana.


'Pasti aku cuma butuh istirahat,setelah itu aku pasti sembuh!'batinya positif thingking.


Pasalnya selama 26 tahun hidupnya,Arin tidak pernah mengidap penyakit berat.


Kini fokusnya kembali kepada kesehatan sang suami,tanpa mendengarkan cemoohan orang orang tentangnya.


Toh.....itu pendapat mereka,selagi ia yakin akan apa yang dijalaninya,semua orang tidak akan dapat mempengaruhi keputusanya.

__ADS_1


Keras kepalan,bukan?


Hari demi hari ia lalui dengan setia menjaga dan merawat sang suami.Kehamilanya pun sudah memasuki bulan ke-8.


Dua bulan telah ia lalui dengan suka duka,cemoohan,cibiran,rasa jijik orang orang kepadanya dan masih banyak lagi.


Vano,pria itu sudah kembali sehat seperti semula.Namun itu dengan fisiknya,bukan hatinya.Pria itu menjadi lebih pendiam,gampang marah,dingin dan cuek.


Sebulan belakangan Vano tengah kembali membangun bisnisnya,sejalan dengan pencarian untuk menemukan keberadaan istri pertamanya.


'Huft.....mimisan lagi!'batin Arin saat wanita itu melihat cairan merah kental itu mengalir dari hidungnya.


Dua bulan ini kondisi fisiknya memang terasa semakin memburuk.


Tubuhnya mudah lelah,mudah demam,mudah mimisan,mudah sakit kepala berat,dan lainya.


Namun ia tak berani memeriksakan dirinya kedokter.Bukan takut,tapi krisis keuangan yang tengah dialaminya membuat dirinya tidak bisa chack up kehamilan,apalahi chack up kesehatan.


Uang tabunganya selama ini hampir terkuras untuk biaya pengobatan vano,sisanya ia sisihkan untuk biaya persalinan dan modal usahanya.


Karena kondisi keuangan vano belum stabil,jadi mau tak mau dia harus membiayayai semuanya sendiri.


Tanganya kini terulur mengelus perut buncitnya.Selama memasuki bulan ke delapan,ia tidak pernah merasakan gerakan dari jabang bayinya.


Biasanya pada ibu hamil pada umumnya,mereka bisa merasakan calon bayi mereka menendang nendang,tapi tidak denganya.


Ia juga sempat cemas dan khawatir.


Namun ia tepis semua itu jauh jauh.


'Mungkin kamu lagi bobok disana ya baby!'lirinya menghibur diri sendiri.


Terkadang ia merasa tuhan tengan menyicil untuk memberinya azab.


Terbukti dari banyaknya beban berat yang dialaminya akhir akhir ini.


"Buk,hidung ibu_"


Lirih salah seorang pegawai yang berhasil membuyarkan lamunanya.


"Ada apa?"bingung Arin sambil menyentuh hidung bangirnya.


"Berdarah bu!"


Lanjut pegawai tersebut.


Dalam sehari Arin memang bisa sampai lima kali mimisan.Badanya pun terasa lemas sekarang,dengan pening yang mulai menerjang kesadaranya.


Dan tiba tiba saja kesadaranya terenggut oleh sakit yang amat luar biasa mengenai kepalanya.


Bruk


"Buk....bangun buk!!"teriak pegawai wati itu terkejut.


"Tolong.....tolong...."


Teriaknya histeris agar dapat memanggil simpati seseorang yang maunolongnya.


●●●


Dibelahan dunia lain,wanita itu sudah mulai beradabtasi dengan baik ditempat tinggal barunya.Khimar longgar berwarna coklat kalem yang digunakanya terlihat bertebaran terkena hembusan angin.


Matanya menatap teduh pemandangan dua bocah kecil yang tengah bermain dihadapanya.


'Umi harap kamu sehat didalam sana.Umi benar benar sudah tidak sabar menunggumu lahir kedunia.'batinya bahagia.


Arkian sudah mencoba ikhlas akan segala cobaan yang menimpanya.Ia tidak boleh selamanya terpuruk,ia harus bangun.


Ada nyawa yang dititipkan tuhan padanya,sebuah kehidupan yang terus berkembang dalam rahimnya.


"Kia" panggil pria bersuara bas berat dari arah depan sana.


Pria tampan berpakaian casual itu terlihat menyunggingkan senyuman hangatnya.


Kia tersenyum manis menyambut pria itu.


Dengan senang ia langsung berdiri dari tempat duduknya.Tanganya terulur dengan senyumannya yang merekah dibibir mungilnya.


Pria itu tahu,wanita dihadapanya ini bukan mau memeluknya.Namun mau mengambil apa yang dibawa ditangan kananya ini.


"Ini calon istri,pesananya!"godanya sambil tersenyum jahil.


Kia-wanita cantik itu cemberut,memberikan tanda bahwa ia tak suka digoda dengan embel embel calon istri.


"Udah jangan ngambek.Nih,makan dulu nasi gorengnya!"titah pria tampan bermanik elang itu.


Manik yang sama yang selalu mengingatkan Kia pada sosok pria yang telah menorehkan banyak luka dihatinya.


Dengan senang hati wanita itu mengambil kantong kresek berisi pesananya.Setelah melapazdkan doa mau makan,diarahkanya satu suap nasi goreng dengan topping orek tempe itu.


Nasi goreng dan orek tempe,gak salah tuh?


Yups,pria tampan nan jangkung itu dibuat geleng geleng kepala dengan keinginan wanita yang dicintainya ini.


Dinegeri bulan sabit merah ini,dia meminta nasi goreng khas Indonesia dengan topping orek tempe.Aneh bukan?


Ini bukan yang pertama bahinya untuk memenuhi ritual 'ngidam' itu.


Sebelumnya ia juga pernah diminta membuat bubur manado dengan topping teri nasi,martabak pandan dengan topping durian,belum lagi makanan dan permintaan aneh lainya.


Semua itu ia lakoni dengan tulus,setulus cintanya pada wanita yang telah mengisi hatinya sejak bangku SMP tersebut.


"Pelan pelan dong calon umi makanya,nanti kesedak loh!"ucapnya sambil membersihkan sudut bibir Kia dengan tissu.


Kia tersentak,apa katanya tadi?


"Calon umi?"ulanya.


Pria itu tersenyum lembut.


"Iya,calon istri katanya gak mau.Yaudah,calon umi dari calon anak anakku saja.Mau ya?"pintanya sambil memperlihatkan puppy eyesnya.


Kia tertawa kecil,sungguh keberadaan pria ini semenjak dua bulan lalu membuat hari harinya lebih berwarna.


"Apaan sih mas Bara,gak lucu tau gak?"elaknya.


Bara-pria tampan itu tersenyum penuh arti.


Menemani wanita yang dicintainya selama kehamilanya membuatnya amat bahagia.

__ADS_1


Dirinya merasa bisa menjaga Kia dari apa yang harus ia jaga semenjak dulu.


"Iya iya.Sekarang habisin dulu ya nasi gorengnya,nanti keburu dingin!"titahnya lembut.


Kia menganggung menuruti.


Setidaknya adanya sosok Bara disini,dapat menggantikan sosok itu untuk sementara.


Karena bagaimanapun,Ezka adalah sosok yang lebih dominan menjaga Kia,apalagi dari pencarian 'calon mantan suami Kia'.


Adanya Bara disini dapat membantu Kia melewati masa masa sulit yang tengah dialaminya.


Butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka dihati.Perlu waktu lebih lama lagi untuk menghilangkan bayang bayang seseorang yang kita cintai,termasuk orang itu.


Seiring berjalanya waktu,ia pasti bisa melupakanya.Karena sakit hati apapun,waktu adalah salah satu obat paling ampuh.


●●●


"Aarrgg.....kemana perginya kamu ki? Aku ingin bertemu denganmu!"gumamnya frustasi.


Sudah hampir sebulan ini ia mencari dimana keberadaan istri tercintanya itu.


Tercinta?


Ya,Vano telah menyadarinya walaupun semua itu sudah terlambat sekarang.


Istrinya telah pergi dari sisinya,dari jangkauan matanya,dari hidupnya.


"Arkia......aku merindukanmu!"batinya bergemuruh.


Ia tahu ia salah,ia juga menyesali segala perbuatanya itu.


Ia benci dirinya yang telah dibutakan oleh cinta dari masa lalunya.


Ia mengutuk dirinya karena telah menyianyiakan istri solihahnya,dan calon anaknya.


Ia baru sadar,mereka sangat berarti untuknya.


Ia baru sadar,ia telah jatuh cinta pada istri solihahnya itu.


Ia baru sadar,jika selama ini dia bukan mencintai Arin,melainkan hanya ego masalalu semata.


Ia menyesali kesalahanya,merutuki kebodohanya.


"Arrgg......kumohon tuhan,pertemukan aku denganya.Satu kali saja,aku ingin bertemu denganya!"ucapnya frustasi sambil kembali menenggak minuman beralkohol tersebut.


Ia kembali kepada titik beratnya,melampiaskanya kepada minuman haram itu.Hingar bingar dunia malam kembali menjadi pelarianya.


Ketika frustasi,ia akan kembali ketempat ini.Menenggak berbagai minuman beralkohol untuk mengurangi beban pikiranya.


Tanpa tahu dan peduli akan istri keduanya yang tengah terbaring di bangkar rumah sakit tak berdaya.


Derrt


Derrt


Bunyi getaran dari notifikasi dismartphonenya.


My Arin💕


Nama kontak yang tertera dilayar smartphonenya.


Bukanya diangkat,pria itu lebih memilih untuk mengabaikanya.


Derrt


Derrt


Bunyi detaran berikutnya.


'Shit.....m*ti saja sana!'umpatnya dalam hati kesal,sambil menon-aktifkan smartphonenya.


Padahan jauh disana,diruangan yang berbeda denganya,seorang wanita yang tengah hamil tua terbaring tidak berdaya diatas ranjang rumah sakit.


Matanya sembab,dibalik wajah cantiknya yang memucat.Ia butuh seseorang sekarang.Butuh seseorang yang mampu menenangkanya,memeluknya,


menghiburnya.


Ia butuh suaminya disisinya.Namun pria itu tak kunjung datang,telpon darinya diabaikan begitu saja olehnya.


Ia butuh seseorang yang bisa menguatkan dirinya saat ini.


Kini tanganya terulur mengelus perut buncitnya,mengusapnya sayang.


Setelah mendengar diagnosa dokter tentang penyakit yang diidapnya,dunianya runtuh seketika.


Hatiya hancur,hidupnya terasa berada diujung tanduk saat ini.


'Leukemia'


Lirihnya pilu ketika mengingat diagnosa doker tentangnya tadi.


Tuhan telah benar benar memberinya balasan saat ini.Balasan yang juga nantinya akan membahayakan bayinya.


●●●


Luka🎵


Leukeumia \= Kanker darah


Masih kurang gak penyakitnya?


Nanti kita tambah lagi atau kurang??


Ayo dukung tim favorit kamu reader🤗


A : Arkia & Vano


B : Arkia & Bara


C : Arkia & Dimas


D :Arin & Vano


E : Arin & Dimas


Silahkan dipilih ya😊


Jangan lupa vote,komen,like dan share ya🤗🤗

__ADS_1


Sukabumi 30/11/19


08:07


__ADS_2