
Zhinta sudah pergi kerja, dan tinggal lah Alea sendiri di rumah.
Sebagai manusia yang tahu diri, Alea pun membersihkan rumah Zhinta sambil menunggu waktu temu dengan pengacaranya.
Setelah kurang lebih satu jam Alea membersihkan rumah Zhinta, Alea pun membersihkan tubuhnya.
Lima belas menit kemudian, Alea pun keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit tubuhnya.
Tok.. tok.. tok. Suara ketukan pintu rumah saat Alea hendak memutar handle pintu kamar.
Mendengar suara ketukan pintu, Alea tak langsung membuka pintu rumah, melainkan masuk terlebih dahulu ke dalam kamarnya untuk memakai pakaiannya. Dan itu membuat orang yang ada di depan pintu rumah semakin kencang menggedor pintu rumah Zhinta.
"Apa itu Kak Zhinta?" Gumam Alea yang mengira itu Zhinta karena Alea juga mengunci pintu dengan selot jadi otomatis Zhinta tidak bisa membuka pintu rumah dengan kunci yang ia miliki.
Mendengar suara ketukan pintu semakin kencang, Alea pun buru-buru memakai pakaiannya tanpa menggunakan pakaian dalam.
"Iya tunggu." Sahut Alea sambil keluar dari dalam kamar.
Dengan setengah berlari, Alea pun berjalan menuju pintu depan rumah. Tanpa melihat dari jendela siapa yang datang, Alea langsung saja membuka pintu itu.
Ceklek.
Mata Alea membulat sempurna saat melihat Bratt di depan pintu rumah Zhinta.
"Tu-tuan Bratt.." lirih Alea kaget.
*** FLASHBACK ON ***
Pagi ini disaat semua karyawan-nya masih sedikit yang datang, Bratt sudah berada di kantornya dan sedang berada di ruang cctv untuk memantau kedatangan Alea. Karena sudah dua hari Bratt menunggu Alea, jadi jika hari ini Alea tidak masuk juga, Bratt harus mencari Alea.
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.15, semua karyawan juga sudah pada berdatangan, begitu pun Zhinta yang Bratt lihat baru memasuki gedung Bratt Creative Digital.
__ADS_1
"Sudah jam segini, Alea belum datang-datang juga. Aku yakin hari ini Alea tidak masuk kerja lagi." Gumam Bratt dalam hati.
Karena pesimis dengan kedatangan Alea, Bratt pun keluar dari ruang cctv untuk menghubungi Dan, tanpa meminta operator ruang cctv memutar ulang rekaman cctv di hari-hari sebelumnya. Padahal kalau saja rekaman cctv tiga hari sebelumnya di putar, Bratt akan tahu kemana Alea pergi.
Bratt menjauhi ruang cctv dan berjalan sambil menghubungi Dan. Sudah tiga kali Bratt menghubungi Dan tapi Dan tak kunjung menjawab panggilan Bratt.
"Kemana sih anak ini!" Dumel Bratt.
"Selamat pagi Tuan Bratt." Sapa manager personalia.
"Selamat pagi Pak Rudi." Balas Bratt ramah.
Melihat manager personalia, Bratt pun penasaran apakah Alea ada mengajukan surat pengunduran diri ke bagian personalia.
"Oh iya Pak Rudi, apa bulan ini ada yang mengajukan pengunduran diri?" Tanya Bratt.
"Bulan ini?" Pak Rudi mengernyitkan keningnya nampak berpikir.
"Dari bagian design grafis? Siapa itu Pak?" Tanya Bratt lagi.
"Alea, Tuan."
"Kapan Alea mengajukan cuti?"
"Bukan Alea yang mengajukan cuti, tapi Bu Zhinta yang mengajukan permohonan atas nama Alea. Karena katanya Alea sedang mengalami masalah rumah tangga dan ingin melakukan penyembuhan mental atas masalah rumah tangganya."
"Aku harus tanya Zhinta. Dia pasti tau dimana Alea sekarang." Gumam Bratt dalam hati.
Karena feeling Bratt mengatakan tidak mungkin Alea pulang ke apartemennya.
"Oh.. begitu. Ya sudah, silahkan dilanjutkan pekerjaannya." Ucap Bratt.
__ADS_1
Pak Rudi pun berlalu dari hadapan Bratt dan Bratt juga kembali melanjutkan langkah kakinya menuju lift, tujuannya sekarang mencari Zhinta.
Ting. Pintu lift terbuka.
Dengan langkah panjang Bratt menghampiri meja kerja Zhinta.
"Selamat pagi Tuan Bratt." Sapa Zhinta.
"Dimana Alea?" Tanya Bratt tanpa basa-basi.
"Hah? Kenapa Anda bertanya pada saya Tuan?"
"Karena kamu yang mengajukan permohonan cuti Alea. Jadi saya rasa, kamu tahu dimana Alea sekarang."
"Umm.." Zhinta ragu mengatakan pada Bratt keberadaan Alea.
"Katakan, atau kamu saya pecat karena sudah mengajukan permohonan cuti untuk Alea tanpa persetujuan dari saya!" Ancam Bratt.
Zhinta membulatkan matanya mendengar ancaman Bratt. Walaupun sebenarnya apa yang Zhinta lakukan tidak salah dan tidak melanggar aturan perusahaan karena Alea adalah anak buahnya tapi tetap saja mendengar kata pecat, Zhinta pun ketar-ketir. Apalagi mengingat banyaknya cicilan yang harus ia bayar.
Mau tak mau Zhinta pun memberitahu pada Bratt keberadaan Alea dah memberikan alamat rumahnya pada Bratt.
*** FLASHBACK OFF ***
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1