
Rumah Bratt.
Alea pulang kerumah sudah jam sepuluh malam. Berulangkali ia mengirim pesan pada Bratt untuk di jemput karena sudah malam, tapi Bratt tidak membalas pesannya atau mengangkat teleponnya. Alhasil, Alea baru sampai di rumah Bratt pukul sepuluh karena harus mencari taksi online yang mau mengantarnya ke arah rumah Bratt.
Sesampainya dirumah, ia tak melihat mobil yang tadi Bratt pakai bekerja.
"Apa Bratt belum pulang?" Gumam Alea dalam hati.
Alea pun masuk kedalam rumah lalu naik ke lantai atas menuju kamar mereka. Sesampainya di dalam kamar, Alea juga tak menemukan Bratt.
"Kemana dia?" Monolog Alea bertanya-tanya.
Alea pun kembali menghubungi Bratt, dan hasilnya tetap sama, Bratt tidak menjawab telponnya.
"Apa Bratt sedang bersama klien? Tapi kenapa dia tidak mengabari ku?" Monolog Alea bertanya-tanya.
"Ah.. sudah lah, mungkin dia tidak dengar." Monolog Alea lagi. Ia berusaha berpikiran positif pada Bratt.
Alea pun membuka pakaiannya dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Alea pun memilih menunggu Bratt pulang diruang tengah.
Tapi sayang, sampai pagi hari menjelang Bratt tidak pulang-pulang.
*
*
*
Pukul 06.00 pagi.
Alea mengerjapkan matanya saat mendengar bunyi alarm di ponselnya.
__ADS_1
Ia meraba meja untuk mengambil ponselnya lalu melihat jam yang ada di ponselnya.
Melihat jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, Alea langsung terduduk.
"Bratt!!" Pekik Alea saat mengingat Bratt.
Ia pun berdiri dari sofa dan berlari menapaki anak tangga untuk mencari Bratt ke kamar mereka.
Braaakk. Alea membuka pintu kamar itu dengan kasar.
"Bratt." Panggil Alea sambil berjalan masuk kedalam kamar.
Melihat tidak ada Bratt di ruang tidur, Alea pun berjalan menuju kamar mandi lalu membuka pintu kamar mandi dengan kasar. Kosong. Bratt juga tidak ada di kamar mandi.
Alea kembali mencari Bratt diruang ganti. Kosong. Bratt juga tidak ada diruang ganti.
"Apa Bratt tidak pulang semalaman?" Lirih Alea.
Saat otaknya sedang memikirkan Bratt, tiba-tiba saja ia merasa perutnya mual.
Alea pun langsung berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya di wastafel.
Uweek.. uweek..
Setelah semua isi perutnya keluar, Alea pun bersandar lemas di dinding kamar mandi.
"Sepertinya aku masuk angin!" Lirih Alea.
"Atau mungkin karena aku tadi bangun langsung lari? Makanya aku perutku jadi mual seperti ini?" Kata Alea lagi.
"Sepertinya aku harus merendam tubuh ku dengan air hangat." Alea pun mulai membuka pakaiannya lalu mengisi bath up dengan air hangat.
Setelah bath up terisi setengah, Alea pun masuk kedalam bath up dan merendam tubuhnya untuk beberapa saat.
__ADS_1
*
*
*
Setengah jam kemudian.
Setelah kurang lebih dua puluh menit merendam tubuhnya dengan air hangat, kini Alea merasa tubuhnya sudah terasa lebih enak.
Alea pun keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan menuju ruang ganti.
Ia membuka lemari pakaian untuk mengambil pakaiannya. Namun saat ia hendak mengambil pakaiannya, ia melihat satu bungkus pembalut berukuran besar yang ia beli dua bulan lalu belum terbuka.
"Kok ini belum terbuka?" Gumam Alea. Alea pun mulai mengingat-ingat kapan dirinya terakhir datang bulan.
Tak lama mata Alea membulat sempurna.
"Apa jangan-jangan aku hamil?" Gumam Alea.
"Aku harus periksa ke dokter." Gumam Alea lagi.
Alea pun mengambil pakaiannya lalu memakainya, setelah selesai memakai pakaiannya, Alea pun menghubungi Zhinta untuk meminta izin datang terlambat dengan alasan ingin kerumah sakit melakukan check-up kesehatan bulanan.
Dan untungnya Zhinta memberi izin Alea untuk datang terlambat.
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1