Bukan Sekedar Obsesi

Bukan Sekedar Obsesi
Bab 48 : Bratt Yang Aneh


__ADS_3

Ting. Pintu lift terbuka tepat di lantai tiga.


Terlihatlah Alea dan Zhinta yang sedang berdiri di depan pintu begitu pintu lift itu terbuka.


Alea dan Zhinta pun masuk kedalam lift.


Alea berdiri di depan Hesron sedangkan Zhinta berdiri di depan Bratt.


Aksi saling lirik pun tak bisa di hindari, Alea melirik Bratt dan Hesron melirik Zhinta.


"Kalian mau makan dimana?" Tanya Hesron memecah keheningan dalam lift.


"Di kantin Pak." Jawab Alea.


"Apa kalian tidak mau ikut makan siang dengan kami?" Tanya Hesron, modus. Padahal secara tidak langsung ia ingin makan siang dengan Zhinta.


Mendengar tawaran Hesron pada Alea dan Zhinta, sontak Bratt menoleh ke arah Hesron lalu memberi pelototan tajam pada Hesron.


"Tidak Pak, terimakasih. Kami makan dikantin saja." Tolak Zhinta.


Mendengar penolakan Zhinta, raut wajah berbinar Alea dan Hesron pun memudar seketika, sedangkan Bratt, ia langsung bernafas lega.


Ting. Pintu lift terbuka.


Mereka berempat pun keluar dari dalam lift.


"Kami kantin dulu Tuan Bratt, Pak Hesron." Pamit Zhinta sopan.

__ADS_1


Bratt dan Hesron pun kompak menganggukkan kepala mereka.


"Ayo." Zhinta pun menarik tangan Alea dan berjalan menuju kantin.


"Bratt kenapa? Kenapa dua hari ini sikapnya dingin sekali?" Gumam Alea bertanya-tanya dalam hati. Karena sudah dua hari ini, Bratt tidak pernah menjamah-nya padahal Alea sedang tidak datang bulan. Jangankan menjamah, tidur saja selalu membelakangi Alea.


*


*


*


Kini Bratt dan Hesron sudah berada di sebuah restoran Jepang yang tak jauh dari kantor.


"Tumben kau makan disini? Bukannya kau tidak pernah suka makan makanan Jepang?" Tanya Hesron.


"Aneh." Lirih Hesron sambil menggelengkan kepalanya.


Karena Hesron tak tahu harus memesan apa, karena ia juga tidak terlalu suka dengan makanan Jepang, maka Hesron juga ikut memesan ramen seperti yang Bratt pesan.


Tak sampai sepuluh menit mie ramen pesanan Bratt dan Hesron pun datang.


Dengan sangat lahap Bratt memakan ramen-nya, seperti orang sudah lama tak makan.


Hesron menganga melihat cara makan Bratt yang sangat tidak elegan itu.


"Pelan-pelan makan-nya Bratt!!" Tegur Hesron.

__ADS_1


"Kalau sedang makan jangan bicara! Makan saja ramen mu!" Balas Bratt tak suka dengan teguran Hesron.


Mau tak mau Hesron diam dan mulai memakan ramen-nya sambil matanya terus memperhatikan cara Bratt makan.


Tak sampai lima menit satu mangkok ramen milik Bratt pun habis. Merasa belum puas, Bratt memesan satu mangkok lagi. Dan itu makin membuat Hesron ternganga.


"Ini orang lapar atau sedang kesurupan jin sumo?" Gumam Hesron dalam hatinya.


Apa yang di lakukan Bratt saat ini sangat berbanding terbalik dengan Alea.


Menu makan siang Alea kali ini, nasi + ayam kecap + capcay. Saat melihat ayam kecap + capcay, air liur Alea sampai menggenang, tapi baru tiga suap Alea makan, perutnya langsung terasa begah.


"Kok gak dihabisin?" Tanya Zhinta.


"Kenyang Kak." Jawab Alea. Sekarang Alea memanggil Zhinta dengan panggilan Kak, itupun jika mereka hanya berdua.


"Baru tiga sendok kok udah kenyang? Habisin, nanti laper loh. Kita kan mau lembur hari ini." Ucap Zhinta.


Mau tak mau Alea pun menyendokkan lagi nasi + lauk pauk yang ada di piringnya sedikit demi sedikit.


Ya, walaupun ujung-ujungnya tetap tidak habis juga setidaknya lebih banyak makanan yang masuk ke lambung Alea.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2