
Setelah selesai menyusun barang-barangnya, Alea keluar dari dalam kamar Bratt dan turun kelantai bawah, untuk mencari Bratt. Ternyata Bratt sudah ada di dapur.
"Anda bisa masak juga Tuan?" Tanya Alea sambil berjalan mendekati Bratt.
Bratt menoleh sebentar.
"Kenapa? Memangnya salah kalau laki-laki bisa masak?" Tanya Bratt.
"Tidak. Saya pikir Anda hanya pintar dalam bidang advertising saja Tuan." Jawab Alea.
"Cih.. enak saja kau bilang aku hanya pintar dunia advertising saja. Selain bisa masak dan pintar dalam dunia advertising, aku juga pintar yah membuat mu mendes*ah hanya dalam waktu beberapa detik saja." Balas Bratt.
"Ya.. saya akui itu." Balas Alea tak sadar.
Namun tak lama, "Oops." Alea langsung menutup mulutnya karena sudah mengakui kehebatan Bratt yang satu itu.
"Jadi kau mengakui kehebatan ku kan?" Goda Bratt pada Alea yang wajahnya sudah memerah.
"Tidak.. aku tidak ada bilang begitu." Jawab Alea. Karena malu, Alea pun berlalu dari hadapan Bratt.
"Mau kemana kau? Sini bantu aku masak!!" Teriak Bratt.
"Mau mandi!!" Jawab Alea.
Bratt terkekeh kecil melihat tingkah Alea.
Setelah Alea tidak kelihatan lagi, Bratt pun lanjut memasak.
*
__ADS_1
*
*
Setengah jam kemudian.
Dua steak sapi dan dua piring spaghetti pun sudah tersaji di meja. Tinggal menunggu Alea turun dan mereka pun menyantap makan malam bersama.
Sengaja Bratt membuatkan spaghetti juga, karena takut Alea tidak kenyang jika hanya memakan steak, maklum, Alea orang Indonesia asli, tidak kenyang kalau lambung belum dimasuki nasi.
Lima menit Bratt menunggu Alea turun, tapi yang ditunggu tidak turun-turun juga.
"Kenapa dia tidak turun-turun? Apa jangan-jangan di berendam di bath up lalu ketiduran?" Monolog Bratt bertanya-tanya.
Penasaran dengan apa yang Alea lakukan, Bratt pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju tangga.
Tapi baru saja kakinya menginjak anak tangga pertama, bel rumah berbunyi.
Meski sudah tidak tinggal bersama sang Mama dan sang Mama juga sudah memiliki keluarga baru, tapi sebulan atau dua bulan sekali pasti Mama Bratt akan mengunjungi Bratt di rumah itu.
"Apa itu Mama?" Gumam Bratt bertanya-tanya.
Untuk menjawab rasa penasarannya, Bratt pun berjalan mendekati pintu rumah. Ia tak langsung membuka pintu melainkan melihat terlebih dulu di layar monitor siapa yang datang.
Mata Bratt membulat seketika saat melihat orang yang tengah berdiri di depan pintu.
Hesron. Dialah yang sedang berdiri di depan pintu.
"Mau apa dia kesini?" Gerutu Bratt.
__ADS_1
Bratt menoleh ke arah tangga untuk memastikan Alea belum ada tanda-tanda ingin turun.
Dirasa aman, baru lah Bratt membuka pintu rumahnya, itupun hanya setengah.
"Mau apa kau kesini?" Tanya Bratt dengan suara pelan.
"Kenapa kau? Memangnya aku tidak boleh kesini lagi?" Hesron malah balik bertanya.
"Untuk sementara waktu rumah ku tidak menerima kedatangan mu dan Dan! Pergi kau sana!" Usir Bratt.
"Apa ada Alea di dalam?"
"Ssst.. jangan keras-keras suara mu!"
"Jadi benar ada Alea di dalam? Kau membawanya...."
"Ada siapa Tuan?" Tiba-tiba Alea bersuara.
Mendengar Alea bersuara, Bratt menghela nafasnya pasrah sambil memejamkan matanya "benar-benar habis aku di ceramahi kali ini." Lirih Bratt pelan tapi Hesron masih bisa mendengar.
BRAAK. Hesron membuka lebar pintu rumah dengan kasar.
Mata Alea langsung membulat sempurna saat melihat sosok Hesron.
"Mati aku!!" Lirih Alea.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...