
Keesokan harinya.
Bratt dan Alea sudah kembali ke rumah Bratt.
Dan karena Bratt berencana akan melamar Alea keesokan harinya, jadi Bratt melarang Mama-nya untuk pulang kerumahnya. Dan Mama Bratt juga melarang Bratt untuk tidur sekamar dengan Bratt.
Jadi mau tak mau, Alea tidur dengan Mama Bratt di kamar tamu sedangkan Bratt tidur sendiri di kamarnya.
Rencananya besok bukan hanya sekedar lamaran, tapi juga sekaligus pengucapan janji suci dan pendaftaran pernikahan Bratt dan Alea.
Semuanya sudah diatur oleh Bratt dan Mama-nya, bahkan Mama Bratt juga sudah menghubungi pemuka agama dan petugas catatan sipil untuk hadir di acara lamaran yang akan nanti akan diadakan di salah satu restoran. Dan demi lancarnya acara lamaran sekaligus pengucapan janji suci serta pencatatan pernikahan besok, Bratt sampai menyewa satu gedung restoran itu.
Bratt hanya mengundang orang-orang terdekatnya saja, bahkan saksi untuk pihak Alea saja, ia meminta Nenek Zhinta yang menjadi saksi pengucapan janji sucinya nanti.
Semua persiapan untuk besok pun sudah beres tinggal menunggu hari eksekusi untuk menjalankan rencana.
*
*
*
Cup. Bratt mengecup kening Alea.
"Aku kekantor dulu yah." Pamit Bratt.
Sebenarnya ia malas kekantor dan hanya ingin berada di samping Alea, apalagi mereka juga baru setengah jam sampai di Jakarta.
Tapi karena Hesron berulangkali menghubungi Bratt dan meminta Bratt untuk segera kekantor, mau tak mau Bratt pun harus berangkat ke kantor, sebelum Hesron benar-benar mengamuk dan menjual Bratt Creative Design pada pada kompetitor.
Alea menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Mau aku bawakan apa kalau aku pulang nanti?" Tanya Bratt.
"Nanti saja ku telepon kalau aku menginginkan sesuatu." Jawab Alea.
"Ya sudah aku pergi yah." Pamit Bratt sekali lagi.
"Ma, aku titip Alea. Hubungi aku segera kalau terjadi sesuatu dengan Alea." Kata Bratt pada Mama-nya.
Mama Bratt menganggukkan kepalanya.
Bratt pun keluar dari dalam kamar tamu lalu keluar dari dalam rumahnya.
Kini Bratt sudah berada di kantornya.
Dengan langkah panjang dan gaya-nya yang kharismatik Bratt berjalan menuju lift yang akan mengantarnya ke lantai empat.
Ting. Pintu lift terbuka.
Ceklek. Bratt membuka pintu ruang kerja Hesron.
Hesron yang sedang fokus memeriksa berkas-berkas sontak menoleh ke pintu.
"Akhirnya kau datang juga!" Omel Hesron.
"Apa kau begitu merindukan ku makanya kau memaksa ku untuk cepat-cepat datang ke kantor!" Balas Bratt sambil mendaratkan bokongnya di sofa.
"Cih! Ini kantor mu atau kantor ku! Kau yang punya kantor tapi kau tidak pernah ada di kantor! Apa kata karyawan mu kalau mereka tahu kau tidak pernah kekantor karena sedang bucin!" Balas Hesron.
"Cih!! Cepatlah katakan, apa jadwal ku hari ini? Apa aku ada meeting yang mengharuskan kehadiran ku, hah?!" Tanya Bratt.
Hesron beranjak dari kursi kebesarannya dan berjalan mendekati Bratt sambil membawa amplop putih ditangannya.
__ADS_1
"Ini." Hesron menyerahkan amplop putih itu pada Bratt.
"Apa ini?"
"Bukalah!" Perintah Hesron.
Bratt pun membuka amplop itu dan mengeluarkan selembar surat yang ada di dalam amplop.
Bratt membaca isi surat itu. Tak lama matanya membulat sempurna. Bratt pun berdiri dari duduknya.
"Apa maksud mu ini! Kau ingin mengundurkan diri, hah!" Bentak Bratt sambil melempar surat itu ke wajah Hesron.
"Iya." Jawab Hesron tegas.
"Tidak, aku tidak mengizinkannya!"
"Aku memberikan surat pengunduran diri ku bukan untuk mendapat izin mu, aku hanya ingin memberitahu mu!" Balas Hesron tegas.
*
*
*
Bersambung...
*** Kakak-kakak, Bunda-bunda, mampir ke novel aku yang ketiga juga yah judulnya I'm Not A Bi*tch, menceritakan tentang seorang wanita yang bekerja sebagai DJ, karena pekerjaannya itu, banyak orang menganggap dirinya wanita murahan. Untuk tahu cerita selengkapnya, silahkan baca langsung di novel ketiga aku itu. Terimakasih. 🙏🙏🙏 ***
Yang begini yah covernya Kakak-kakak, Bunda-bunda. 🙏🙏🙏
__ADS_1