Bukan Sekedar Obsesi

Bukan Sekedar Obsesi
Bab 42 : Mulai Posesif


__ADS_3

Mau tak mau Bratt pun mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Zayn.


"Aku tidak menyangka kalau kau sekarang jadi pengacara." Ucap Alea pada Zayn.


"Ya, aku sendiri tidak menyangka." Balas Zayn.


"Ekhem.. apa di kantor ini tidak disediakan minuman untuk tamu?" Sindir Bratt.


"Astaga. Maaf saya lupa." Balas Zayn.


"Apa kau masih suka lemon tea Lea?" Tanya Zayn.


"Tidak!! Sekarang dia lebih suka cocopandan!" Malah Bratt bertanya.


Mata Alea membulat, wajahnya juga memerah mendengar jawaban Bratt.


"Benarkah?" Tanya Zayn pada Alea karena merasa kurang yakin dengan jawaban Bratt.


"Benar! Sudah sediakan saja sirup cocopandan dua." Lagi dan lagi, Bratt yang menjawab.


"Oke, tunggu sebentar." Ucap Zayn lalu berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari ruangannya.


Setelah Zayn keluar, Bratt menoleh ke arah Alea yang ada disampingnya.


"Kenapa wajahmu begitu?" Tanya Bratt.


Alea tak menjawab dan malah memutar bola matanya malas lalu mengalihkan pandangannya dari Bratt.


"Apa aku salah? Memang minuman kesukaan mu sekarang cocopandan kan?" Tanya Bratt.


Sontak Alea menoleh dan memukul lengan Bratt pelan.


Melihat itu Bratt hanya terkekeh kecil, seandainya sekarang mereka bukan di kantor orang, sudah di pastikan Bratt akan menerkam Alea lagi.


Tak lama Zayn pun datang lagi dengan dua gelas cocopandan untuk Bratt dan Alea.


"Apa di kantor ini tidak mampu membayar OB? Sampai-sampai Anda sendiri yang mengantar minuman untuk kami?" Sindir Bratt.

__ADS_1


"Tuan.." lirih Alea pelan sambil menyikut lengan Bratt.


"Ada Tuan, tapi karena Alea adalah tamu istimewa, jadi saya rela membawa minuman ini sendiri." Balas Zayn sambil tersenyum pada Alea dan Alea pun membalas senyuman Bratt.


Bratt menggertakkan giginya saat melihat Alea membalas senyuman Zayn.


Zayn dan Alea pun mulai membicarakan tentang masa-masa SMA mereka dan pastinya membahas masa-masa SMA membuat Zayn dan Alea senyum-senyum dan sesekali tertawa apalagi saat membahas kejadian lucu.


Sangking serunya membahas masa lalu, mereka sampai lupa dengan Bratt yang sudah kepanasan.


Mendengar cerita Zayn dan Alea semasa SMA, Bratt mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya untuk menahan emosi.


*


*


*


Setengah jam kemudian.


Menunggu Pak Arifin selama setengah jam, bagi Bratt sama seperti setengah abad. Karena Alea dan Zayn asyik membahas masa-masa SMA mereka sampai mereka lupa dengan keberadaan Bratt, bahkan deheman Bratt pun tidak di hiraukan Alea.


Mereka pun pindah keruangan Pak Arifin. Sesampainya diruang kerja Pak Arifin, Alea langsung berkonsultasi tentang masalah rumah tangganya dengan Jonas.


Setelah setengah jam berkonsultasi, Pak Arifin pun bersedia membantu Alea mengurus perceraiannya, bahkan Bratt langsung menyerahkan bukti video Jonas yang sedang menunggang Nona Edeline.


Setelah kata sepakat terucap, Bratt dan Alea pun meninggalkan gedung kantor pengacara.


Kini mereka sudah di dalam mobil Bratt.


"Kau jangan terlalu dekat dengan pria itu! Ingat kau belum bercerai! Jangan sampai Jonas menyerang mu balik!" Ucap Bratt.


"Maksud Anda Zayn?" Tanya Alea.


"Hemh."


"Aku kan baru bertemu dengannya Tuan setelah sekian lama, jadi mana mungkin si breng*sek itu menuduhku berselingkuh dengan Zayn.

__ADS_1


"Kan aku hanya mengingatkan saja! Pokoknya kalian berdua jaga jarak!" Balas Bratt. Padahal harusnya Alea menjaga jaraknya dengan Bratt bukan dengan Zayn.


"Kalau Zayn saja bisa di jadikan bahan Jonas menyerang balik saya. Lalu bagaimana dengan kita Tuan." Lirih Alea.


"Dia tidak akan berani membawa-bawa namaku untuk menyerang balik dirimu. Jadi kalau dengan ku, kau tidak perlu khawatir." Balas Bratt membela dirinya.


Alea hanya diam sambil memanyunkan bibirnya.


"Mau kemana kita sekarang? Apa kau mau langsung pulang ke rumah Zhinta?" Tanya Bratt.


Alea menggeleng.


"Tuan, bisa kah Anda menemani saya ke apartemen saya? Saya ingin mengambil barang-barang saya." Jawab Alea.


"Saya takut si breng*sek itu ada di apartemen Tuan."


"Kau mau mengambil pakaian mu?" Tanya Bratt.


Alea menganggukkan kepalanya.


"Tidak usah! Kita beli saja yang baru!"


"Tapi ada barang penting yang harus saya ambil Tuan." Balas Alea.


"Barang apa?" Tanya Bratt penasaran.


"Rahasia Tuan. Saya tidak bisa memberitahu Anda, karena itu privasi saya." Balas Alea.


"Baik lah, kita ke apartemen mu kalau begitu." Balas Bratt lalu melajukan mobilnya meninggalkan arena gedung kantor pengacara.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2