
Mama Bratt pun menyingkir dari tempat Alea dan Bratt berada.
Sedangkan Alea menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia terharu dan terkejut dengan aksi Bratt, bahkan air mata haru yang sejak tadi menggenang tak sanggup lagi ia bendung dan akhirnya mengalir begitu saja membasahi pipinya.
"Alea, will you marry me?" Tanya Bratt sekali lagi.
Alea pun menganggukkan kepalanya mantap.
"Ya aku mau." Jawab Alea.
Mendengar jawaban Alea, Bratt pun berdiri lalu memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah Alea.
"Ayo kita kesana." Ajak Bratt sambil menarik tangan Alea menuju kursi yang sudah di persiapkan untuk pengucapan janji suci dimana sudah ada pemuka agama ditempat itu.
Bratt pun mendudukkan Alea di kursi itu baru dirinya yang duduk di kursi sebelah Alea.
"Ada apa ini?" Tanya Alea. Ia masih belum menyadari kalau malam ini dirinya bukan hanya di lamar melainkan langsung menikah dengan Bratt.
"Ini pemuka agama yang akan menikahkan kita." Bisik Bratt.
Sontak Alea menoleh kearah Bratt dengan mata yang membulat.
Alea tak bisa berkata-kata, ia hanya menganga sambil menatap Bratt.
"Sudah, jangan kaget. Kau kan tahu aku orang yang tidak suka bertele-tele. Jadi malam ini sekalian saja kita menikah." Bisik Bratt lalu memutar kepala Alea agar menatap pemuka agama.
*
*
*
__ADS_1
Pengucapan janji suci dan pencatatan pernikahan Bratt dan Alea pun selesai. Bratt dan Alea pun sudah resmi menjadi suami-istri.
Setelah resmi menjadi suami-istri, Bratt dan Alea pun diminta untuk berfoto di gapura bunga.
"Pantas tulisannya wedding day Bratt dan Alea." Lirih Alea pelan namun masih bisa didengar oleh Bratt. Bratt hanya tersenyum kecil mendengar kata-kata Alea.
Setelah acara foto bersama, acara pun berlanjut ke ramah tamah, dimana Bratt pihak restoran sudah menyiapkan menu terbaik di restoran itu.
Saat para tamu undangan sibuk menikmati jamuan makan malam yang disediakan pihak restoran serta Alea dan Bratt sedang berkeliling menyapa para tamu undangan yang notabene adalah karyawan Bratt Creative Digital, Hesron menggunakan kesempatan itu untuk kabur dari acara.
Dan tentu saja, ia tidak kabur sendiri melainkan membawa Zhinta bersamanya.
Hesron tidak membawa kabur Zhinta keluar dari restoran, ia hanya membawa Zhinta ke room VIP. Karena restoran itu sudah Bratt booking, otomatis tidak ada pengunjung lain selain tamu undangan.
"Untuk apa aku membawa ku kesini?" Tanya Zhinta.
Hesron tidak menjawab, ia malah langsung berlutut di depan Zhinta dan mengeluarkan kotak beludru berwarna merah dari dalam kantongnya, lalu membuka kotak itu dimana ada dua cincin di dalamnya.
"Mau kah kau menikah dengan ku?" Tanya Hesron sambil menyodorkan kotak yang berisi cincin itu pada Zhinta.
"Kenapa? Apa kau tidak mau menikah dengan ku?" Tanya Hesron karena Zhinta tak kunjung menjawab.
"Kau tidak seperti Tuan Bratt kan, yang akan langsung mendudukkan ku di depan pemuka agama?"
Mendengar pertanyaan Zhinta, Hesron pun berdiri.
"Sepertinya itu ide bagus, mumpung pemuka agama dan petugas catatan sipil belum pulang, lebih baik kita sekalian menikah saja lalu resepsinya belakangan."
"Tidak! Aku tidak mau!"
"Kenapa? Kau tidak mau menikah dengan ku?"
__ADS_1
"Mana mungkin aku menikah tidak didampingi orangtua ku?"
"Oh.. hanya karena itu? Baiklah, aku tinggal menelpon orangtuamu dan menyuruh orang menjemput mereka, bagaimana, kau setuju tidak?"
"Son!!!" Baru Zhinta ingin protes, Hesron sudah membungkam mulut Zhinta dengan bibirnya beberapa detik.
"Aku sudah tidak sabar ingin menjadikan mu Nyonya Hesron Mahendra, Zhin. Jadi kau mau yah kita menikah malam ini juga." Ucap Hesron.
Melihat sorot mata Hesron, Zhinta seperti terkena hipnotis. Tanpa pikir panjang, Zhinta pun menganggukkan kepalanya.
"Yes!!" Ucap Hesron senang. Hesron pun membawa Zhinta keluar dari room VIP itu dan kembali ke taman.
Hesron mengambil gelas lalu mendentingkan gelas itu menggunakan sendok agar semua tamu beralih memandangnya.
Setelah semua tamu memandang-nya, dengan lantang Hesron pun mengatakan akan mengadakan pengucapan janji suci dengan Zhinta.
Semua pengunjung pun bertepuk tangan sambil bersorak sorai mendengar pengumuman yang Hesron berikan.
Sedangkan Bratt, ia membulatkan matanya lebar-lebar mendengar pengumuman yang Hesron katakan.
"Yang benar saja, masa aku baru resmi menikah, harus kerja rodi tanpa asisten selama enam bulan!" Gerutu Bratt dalam hati.
*
*
*
Bersambung...
*** Kakak-kakak, Bunda-bunda, mampir ke novel aku yang ketiga juga yah judulnya I'm Not A Bi*tch, menceritakan tentang seorang wanita yang bekerja sebagai DJ, karena pekerjaannya itu, banyak orang menganggap dirinya wanita murahan. Untuk tahu cerita selengkapnya, silahkan baca langsung di novel ketiga aku itu. Terimakasih. 🙏🙏🙏 ***
__ADS_1
Yang begini yah covernya Kakak-kakak, Bunda-bunda. 🙏🙏🙏