
Lima belas menit kemudian.
Hesron keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
Ia melihat Zhinta sudah berbaring diatas ranjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
Dengan sorot mata yang terus menatap Zhinta dengan tatapan buas, Hesron berjalan mendekati ranjang.
Melihat tatapan buas Hesron padanya, Zhinta menelan salivanya kasar, degup jantungnya sudah berdetak tidak jelas.
"Apa kau sudah siap?" Tanya Hesron saat dirinya sudah sampai disamping Zhinta.
Zhinta menganggukkan kepalanya sambil tangannya mencengkram erat selimut.
SREEEEET... Dengan sekali tarikan Hesron menarik selimut yang menutupi tubuh Zhinta.
Mata Hesron membulat seketika melihat penampakan tubuh Zhinta yang sejak tadi Zhinta tutupi dengan selimut. Ternyata Zhinta sudah membuka piyama serba panjangnya dan hanya menyisakan penutup dua gundukan daging dan segitiga kain penutup Mbak Vera.
"Jangan menatap ku seperti itu! Aku malu!" Protes Zhinta sambil menarik selimutnya lagi, tapi Hesron menahannya dan malah membuangnya kelantai.
"Ternyata ini yang kau maksud dengan persiapan, hah?" Tanya Hesron. Matanya tak berhenti menatap tubuh Zhinta.
"Aku suka dengan persiapan mu ini Sayang! Aku rasa kau tak perlu membeli lingerie, karena aku lebih suka melihat mu seperti ini." Kata Hesron lagi.
Blush. Wajah Zhinta merona malu mendengar kata-kata Hesron.
__ADS_1
Dan melihat penampakan tubuh Zhinta, jelas saja membuat Mas Jaka makin meronta dan ngences-ngences.
Hesron yang sudah tidak dapat menahan pergejolakan Mas Jaka langsung naik keatas ranjang dan menindih tubuh Zhinta.
"Son..." Lirih Zhinta saat Hesron menindih tubuhnya.
"Mulai sekarang jangan panggil aku dengan namaku." Protes Hesron.
"Lalu kau mau aku panggil apa?"
"Panggil aku 'Suamiku' dan aku akan memanggil mu 'Istriku'." Jawab Hesron.
Zhinta yang sudah gugup karena menahan sundulan kepala Mas Jaka dibawah sana hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Ya Suamiku." Jawab Zhinta.
"Aku sudah tidak tahan. Mari kita lakukan sekarang." Ucap Hesron.
Hesron pun mendaratkan bibirnya di bibir Zhinta dan melu*mat lembut bibir manis itu.
Zhinta memejamkan matanya dan melingkarkan tangannya di leher Hesron dan membalas lu*matan bibir Hesron.
Lu*matan yang tadinya lembut semakin lama semakin ganas dan panas. Tangan Hesron pun juga tidak bisa lagi di kondisikan dan meraba punggung Zhinta untuk membuka pengait penutup dua gundukan daging Zhinta.
Karena tangan Hesron bukan tangan profesional, maka pengait itu agak susah Hesron buka.
__ADS_1
Karena susah dibuka, Hesron pun melepas tautan bibirnya dengan bibir Zhinta.
"Ini bagaimana sih buka-nya!" Dumel Hesron.
"Sini biar aku yang buka." Balas Zhinta.
Cletak. Pengait pun terbuka.
"Jangan lagi kau pakai benda ini kalau sedang bersama ku!" Gerutu Hesron kesal. Ia kesal karena merasa harga dirinya jatuh karena tak bisa membuka pengait penutup dua gundukan daging padahal suasana sedang panas-panasnya.
Hesron pun menarik penutup dua gundukan daging yang menurutnya benda laknat perusak suasana ke sembarang arah.
Rasa kesalnya seketika menguar begitu Hesron melihat dua gundukan daging yang terpampang nyata di depannya.
"Jangan melihat seperti itu! Aku malu!" Protes Zhinta dan hendak menutup dua gundukan daging yang sudah polos itu dengan tangannya. Tapi lagi dan lagi Hesron menahan tangan Zhinta.
Tanpa basa-basi, Hesron langsung melahap salah satu daging yang tak habis-habis itu dengan mulutnya sambil sesekali lidahnya memilin secuil daging yang tumbuh diatas puncak gundukan daging itu dan secara bergantian, Hesron melahap dua gundukan daging yang tak habis-habis itu.
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1