
Tak tahan melihat kedekatan Alea dengan pria lain, Bratt pun mematikan mesin mobilnya lalu keluar dari dalam mobil.
"Lea!!" Panggil Bratt saat Alea dan pria itu hendak memasuki gedung kantor.
Sontak Alea dan pria itu pun menoleh kebelakang.
"Tuan Bratt." Lirih Alea pelan namun masih bisa didengar oleh Zayn.
Dengan langkah panjang Bratt menghampiri Alea.
"Ada apa Tuan?" Tanya Alea.
"Aku akan menemani mu." Jawab Bratt dan langsung menarik tangan Alea sambil berjalan memasuki gedung kantor meninggalkan Zayn di belakang.
"Bukannya Tuan sibuk?" Tanya Alea.
"Tidak lagi. Aku ingin memastikan kalau pengacara yang kau pilih adalah pengacara yang terbaik.
Alea diam, meski bingung dengan sikap Bratt yang aneh, tapi Alea tak lagi melontarkan pertanyaan pada Bratt. Dan mereka pun berjalan menuju meja receptionist.
"Selamat siang ada yang bisa dibantu?" Tanya salah seorang receptionist.
"Apa Pak Arifin ada?" Tanya Alea.
"Oh.. kalian mau bertemu dengan Pak Arifin?" Tanya Zayn tiba-tiba dari arah belakang Bratt dan Alea.
Sontak Alea dan Bratt pun menoleh.
__ADS_1
Alea menganggukkan kepalanya. Sedangkan Bratt memutar bola matanya malas.
"Apa kau klien yang ingin konsul tentang perceraian itu?" Tanya Zayn lagi.
Alea kembali menganggukkan kepalanya.
"Pas sekali, tadi aku diminta Pak Arifin untuk menemui kliennya yang ingin konsul tentang perceraian." Ucap Zayn.
"Lalu mana si Arifin itu?" Tanya Bratt tak suka saat mendengar Zayn yang di minta untuk menemui Alea.
"Pak Arifin sedang dalam perjalanan Tuan, tadi sidang perceraian berjalan alot, makanya Pak Arifin datang terlambat." Jawab Zayn ramah.
"Ayo Lea, kita keruangan ku." Ajak Zayn.
Alea pun menganggukkan kepalanya dan hendak berjalan bersama Zayn, tapi Bratt langsung menahan tangan Alea.
Zayn merespon dengan senyuman tipis lalu berjalan lebih dulu, lalu disusul Bratt dan Alea di belakang mereka.
Gedung kantor pengacara tak memiliki lift dan hanya menggunakan tangga. Karena bentuk gedung ini seperti dua ruko yang di gabungkan menjadi satu dan hanya memiliki dua tingkatan.
Kini mereka sudah berada di lantai atas.
Ceklek. Zayn membuka pintu ruang kerjanya.
"Silahkan masuk." Ucap Zayn sambil mempersilahkan Bratt dan Alea masuk terlebih dahulu kedalam ruangan.
Alea dan Bratt pun masuk dan berjalan menuju sofa.
__ADS_1
"Silahkan duduk." Pinta Zayn lagi.
Bratt pun mendaratkan bokongnya di salah satu sofa panjang, melihat Bratt sudah duduk di sofa yang sebenarnya ingin ia duduki juga, Alea pun mengalah dan hendak berjalan menuju sofa panjang yang ada didepan Bratt, tapi baru selangkah Bratt langsung menarik tangan Alea agar mereka duduk disofa panjang yang sama.
"Duduk disebelah ku!" Ucap Bratt. Bratt takut kalau Alea duduk di sofa panjang yang ada di didepannya, nanti Zayn akan duduk disebelah Alea.
"Sambil menunggu Pak Arifin, kita ngobrol di ruangan ku saja. Tidak pa-pa kan?" Tanya Zayn pada Alea sambil mendaratkan bokongnya di single sofa.
"Cih.. membuang waktu!!" Jawab Bratt. Padahal yang ditanya Alea.
"Hish, Tuan." Geram Alea sambil memukul lengan Bratt pelan.
"Tidak pa-pa Zayn." Barulah Alea menjawab.
"Oh.. iya, ngomong-ngomong apa Tuan ini suami mu?" Tanya Zayn.
"Bukan. Ini atasan ku, Tuan Bratt." Jawab Alea.
"Oh.. perkenalkan Tuan, saya Zayn." Ucap Zayn sambil menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Bratt, tapi Bratt tidak kunjung membalas uluran tangan Zayn.
Melihat Bratt tidak membalas uluran tangan Zayn, Alea langsung menyenggol lengan Bratt seolah memberi kode pada Bratt untuk membalas jabatan tangan Zayn.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...