Bukan Sekedar Obsesi

Bukan Sekedar Obsesi
Bab 87 : Mendatangi Finola


__ADS_3

BRAAK. Dan membuka kasar pintu ruang kerja Bratt.


Bratt yang sedang menandatangi berkas-berkasnya pun menoleh kearah pintu.


"Apa-apaan kau membanting pintu ruang kerja ku!" Omel Bratt.


"Aku izin pulang! Ada yang hal penting yang harus aku kerjakan!" Ucap Dan dengan entengnya.


"Apa kau bilang?!" Kaget Bratt.


"Tidak bisa! Enak saja main pulang, jam sepuluh saja belum, kau sudah mau pulang! Kau lupa dengan kesepakatan kita, hah! Kau disini bekerja menggantikan Hesron, walau tugas mu tidak sebanyak Hesron!"


"Tapi aku disini kan sudah dari jam tujuh, lagi pula pekerjaan ku juga sudah beres semua!"


"Itu urusan mu, salah sendiri kenapa kau datang jam tujuh! Siapa bilang pekerjaan Hesron hanya menganalisis data-data untuk aku tanda tangani! Kau juga harus membuat materi presentase untuk memenangkan tender!" Balas Bratt.


"Ini perusahaan mie instan sedang mencari perusahaan advertising untuk membuat iklan produknya! Pikirkan materinya lalu rapatkan dengan divisi design grafis!" Kata Bratt lagi sambil menunjukkan email masuk.


"Haish!!" Geram Dan sambil membaca email masuk yang ada di laptop Bratt.


"Kau baca saja di laptop mu! Email ini sudah ku teruskan ke email yang ada di laptop Hesron!" Ucap Bratt.


"Ini makanya aku malas bekerja di perusahaan!" Dumel Dan. Mau tak mau Dan keluar dari ruang kerja Bratt dan berjalan menuju ruang kerjanya sambil terus mengomel tidak jelas.


*


*

__ADS_1


*


Jam kerja pun berakhir. Sejak tadi ini lah jam yang ditunggu-tunggu Dan. Ia ingin mencari Finola ke alamat yang ia dapatkan dari salah satu CS saat jam makan siang tadi.


Cepat-cepat Dan membenahi meja-nya lalu keluar dari ruang kerjanya.


"Dan..." Panggil Bratt yang baru keluar dari ruang kerjanya juga.


"Apa?"


"Kau mau kemana? Kenapa buru-buru sekali?"


"Kan sudah aku bilang dari tadi pagi kalau aku ada urusan penting!" Jawab Dan kesal.


"Aku pergi dulu! Dan kau, jangan menghubungi ku karena jam kerja ku sudah berakhir!" Ucap Dan memberi peringatan pada Bratt.


Setelah mengatakan itu, Dan pun berlari menuju lift meninggalkan Bratt yang sebenarnya juga ingin berjalan ke lift.


Kini Dan sudah berada di parkiran.


Dengan menunggangi motor besarnya, Dan pun meluncur ke alamat Finola yang tadi ia dapatkan.


Dua puluh menit kemudian.


Dan sudah sampai di alamat Finola.


Bukan apartemen atau komplek perumahan melainkan gedung rumah susun tertua di kota Jakarta.

__ADS_1


"Apa benar Finola tinggal di rumah susun ini?" Gumam Dan. Ia masih tidak percaya dengan keadaan Finola yang sekarang. Sangat berbanding terbalik dengan kehidupan Finola sepuluh tahun lalu.


Dan pun berjalan memasuki gedung yang tak memiliki lift itu. Karena tak memiliki lift mau tak mau Dan harus menaiki anak tangga sampai dirinya sampai di lantai dimana unit rumah susun Finola berada.


Setelah menaiki berpuluh-puluh anak tangga, akhirnya Dan pun sampai di lantai dimana unit rumah susun Finola.


Dan mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum dirinya melanjutkan langkah untuk mencari unit rumah susun Finola.


Setelah beberapa menit mengatur nafas, Dan pun berjalan menyusuri lorong sambil matanya melihat nomor-nomor yang ada di pintu dan mencocokkannya dengan nomor yang ada di selembar kertas yang ia pegang.


"F 15." Lirih Dan saat melihat nomor pintu yang kini ada di hadapannya. Nomor yang sama seperti yang tertulis di selembar kertas itu.


"Sepertinya memang ini unitnya." Gumam Dan.


Dan pun menghela nafasnya kasar sebelum mengetuk pintu rumah itu.


Tok.. tok.. tok.


Ketukan pertama tidak ada yang merespon dari dalam. Dan pun mengetuk lagi sedikit lebih keras dari ketukan yang pertama.


Ceklek. Tak lama pintu rumah pun terbuka.


"Finola. Danendra." Lirih Dan dan Finola bersamaan.


*


*

__ADS_1


*


Bersambung...


__ADS_2