Bukan Sekedar Obsesi

Bukan Sekedar Obsesi
Bab 71 : Kau Harus Baik-Baik Saja, Little Bratt!


__ADS_3

Satu menit kemudian.


"Aaargh..." Erangan panjang keluar dari mulut Bratt. Abang Jago berhasil memuntahkan cairan kentalnya di dalam rumah Eneng Tembem.


Bratt pun tumbang diatas tubuh Alea. Ini adalah ronde kedua mereka.


"Ssh... aaauw.. sa-kit." Ringis Alea.


Mendengar Alea meringis, Bratt pun mengangkat tubuhnya.


"Kau kenapa?" Tanya Bratt. Ia melihat wajah Alea sudah sangat pucat ditambah sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.


"Pe-rut ku sa-kit Bratt." Ringis Alea.


Bratt pun memegang perut Alea, dengan tangannya sendiri, Bratt merasakan perut bawah Alea yang mengencang.


Bratt pun panik seketika.


Bratt langsung turun dari atas ranjang, memakai pakaiannya lalu memakaikan pakaian untuk Alea. Setelah selesai memakaikan pakaian untuk Alea, Bratt pun menggendong Alea dan cepat-cepat keluar dari dalam kamar, ia ingin membawa Alea kerumah sakit.


Kini mereka sudah berada dalam mobil, Bratt pun memundurkan sandaran tempat duduk agar Alea bisa berbaring. Setelah membaringkan Alea, Bratt pun memasangkan sabuk pengaman.


"Bratt.. sakit Bratt.." ringis Alea.


"Iya sayang, tahan yah, kita akan kerumah sakit." Balas Bratt.


Cup. Sempat-sempatnya Bratt mengecup kening Alea sebelum ia menutup pintu mobil disamping Alea.


Setelah itu dengan setengah berlari Bratt memutari mobil menuju pintu bagian kemudi, ia masuk kedalam lalu menyalakan mesin mobil. Tanpa menunggu mesin mobil panas, Bratt langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


*


*


*

__ADS_1


Lima belas menit kemudian.


Mobil yang Bratt kendarai pun tiba juga dirumah sakit yang jaraknya lebih dekat dari hotel.


Bratt memberhentikan mobilnya tepat didepan pintu UGD lalu keluar dari dalam mobil sambil meneriaki suster agar menolongnya.


Mendengar teriakan Bratt, para perawat pun keluar dari dalam untuk membantu Bratt. Ada juga perawat yang datang sambil membawa brankar.


Bratt pun mengeluarkan Alea dari dalam mobil lalu membaringkan Alea diatas brankar.


"Tolong istri saya Sus, ia mengeluh perutnya sakit." Ucap Bratt.


"Iya Pak, Bapak tenang yah." Balas perawat yang di ajak bicara oleh Bratt.


Setelah mendorong brankar dari depan pintu UGD, sampailah kini mereka di bangsal pemeriksaan.


Dokter jaga pun langsung menghampiri bangsal tempat Alea berada.


"Bapak disini dulu yah, biar dokter periksa dulu keadaan istri Bapak." Ucap perawat lalu menutup tirai penyekat bangsal pemeriksaan.


Tak sampai lima menit, satu perawat keluar dari bangsal itu.


Bratt yang sejak tadi mondar-mandir di depan bangsal pun langsung menghampiri perawat itu.


"Bagaimana istri saya, Sus?"


"Masih dalam penanganan Pak, sabar yah." Jawab perawat lalu berlari entah kemana. Tapi tak lama perawat tadi itu pun datang lagi dengan membawa cairan infus dan beberapa obat-obatan dan alat medis lainnya lalu masuk lagi kedalam bangsal periksa.


Bratt yang panik pun hanya bisa mondar-mandi di depan bangsal Alea sambil mulutnya komat-kamit mendoakan keselamatan Alea.


Sepuluh menit kemudian tirai bangsal pun terbuka. Dokter yang memeriksa Alea pun memanggil Bratt untuk masuk kedalam bangsal.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Bratt.


"Sudah kami tangani Pak. Istri Bapak mengalami kejang perut. Kami sudah memberikan obat pereda nyeri dan memasukkan cairan infus agar istri Bapak tidak dehidrasi." Dokter menjelaskan.

__ADS_1


"Lalu kandungannya bagaimana dok?"


"Kalau itu nanti biar dokter kandungan yang memeriksa. Karena saya hanya dokter umum. Sebentar lagi dokter kandungannya datang." Jawab dokter.


Setelah memberikan penjelasan pada Bratt dokter itu pun pergi meninggalkan Bratt.


Bratt pun duduk di kursi yang ada disebelah ranjang Alea.


"Masih sakit?" Tanya Bratt sambil memegang perut Alea.


Alea menggelengkan kepalanya lemah.


"Maafin aku yah, harusnya aku tadi berhenti saat kamu ngeluh kesakitan." Ucap Bratt menyesal.


"Sudah lah, jangan di bahas lagi." Balas Alea dengan suara lemah.


"Aku gak akan maafin diri aku kalau sampai anak kita kenapa-kenapa!"


"Bratt, itu namanya belum rejeki kita."


"Tapi nanti kamu ninggalin aku kalau anak kita kenapa-kenapa!"


"Aku gak akan ninggalin kamu Bratt, kecuali kamu yang minta aku ninggalin kamu!" Balas Alea.


Bratt mendekatkan wajahnya ke perut Alea.


"Little Bratt, kau baik-baik saja kan? Kau harus baik-baik saja oke, agar Mommy-mu tidak meninggalkan Daddy. Daddy bisa gila tanpa Mommy-mu." Ucap Bratt lalu memberi kecupan bertubi-tubi pada perut Alea.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2