
Cukup lama Bratt berada diruang ganti menyesal karena sudah menahan perasaannya untuk Alea.
Sempat ingin menyerah dengan perasaannya sendiri, tapi akhirnya bisikan malaikat kembali menyemangati Bratt.
Bratt pun berdiri dari duduknya lalu keluar dari dalam kamarnya dan turun kelantai bawah. Ia ingin mengambil ponselnya yang ketinggalan di dalam mobil.
Dengan ponsel yang ada ditangannya, Bratt pun masuk lagi kedalam rumah. Lalu melakukan panggilan ke nomor Alea.
"Shiit!!!" Umpat Bratt saat ponsel Alea tidak aktif.
Bratt tidak putus asa. Bratt pun menghubungi Dan untuk membantu mencari Alea.
Tuuut.. Tuuut.. Tuuut.
"Ha-" belum selesai Dan mengatakan kata Halo, Bratt sudah memotong dengan memberikan perintah padanya.
"Dimana kau? Cari Alea sekarang!" Perintah Bratt.
"Cih." Decih Dan diseberang telepon.
"Bukannya Alea bersama mu? Kenapa kau menyuruh ku mencari-nya!" Tanya Dan pura-pura tidak tahu apa yang terjadi.
"Dia pergi! Dia pergi dari ku Dan! Dia meninggalkan ku!" Jawab Bratt dengan suara bergetar.
"Bukan kah itu yang kau mau! Jadi untuk apa sekarang kau menyuruhku mencari-nya!"
"Kenapa kau cerewet sekali, hah!! Cepat cari saja Alea sekarang!!" Bentak Bratt emosi.
"Baiklah! Nanti aku kabari kalau aku menemukannya!" Balas Dan malas.
Dan pun langsung mengakhiri panggilan telepon-nya dengan Bratt.
"Sudah begini saja marah-marah!!" Dumel Dan begitu panggilan telepon-nya berakhir.
__ADS_1
Kembali ke Bratt.
Setelah menghubungi Dan, Bratt pun berjalan memasuki ruang tengah, niatnya ia ingin mengambil salah satu koleksi minuman beralkohol-nya dari mini bar-nya.
Namun saat melihat selembar kertas dengan pena diatas-nya, pena yang sangat ia kenal karena pena itu milik Alea yang ada meja biliar, Bratt pun memutar haluan-nya menuju meja biliar.
Ia mengambil selembar kertas itu lalu membaca tulisan yang ada dalam kertas itu.
Sambil membaca surat itu, tak terasa air mata Bratt kembali mengalir membasahi pipi-nya.
"LEAAAA...." Teriakkan Bratt terdengar sangat pilu memanggil nama Alea setelah ia selesai membaca surat yang berisi isi hati Alea.
Tiba-tiba saja pandangan Bratt menjadi gelap. Dan..
BRUUUK. Bratt pun ambruk seketika dilantai di dekat meja biliar dengan tangan yang masih menggenggam erat surat dari Alea.
*
*
*
Setelah selesai makan malam, Hesron dan Zhinta pun memutuskan untuk pulang ke Jakarta.
Sebenarnya Zhinta ingin bermalam dirumah Nenek-nya, tapi Hesron melarang. Bukan karena Hesron tak suka Zhinta bermalam dirumah Nenek Zhinta, hanya saja jika Zhinta tidak pergi ke kantor besok, ia takut Bratt akan curiga kalau Alea pergi bersama Zhinta. Dan pastinya itu akan membuat Bratt menjadi mudah menemukan Alea sebelum Bratt benar-benar sadar dengan perasaannya sendiri.
Dan demi melancarkan rencana Hesron, mau tak mau Zhinta harus ikut pulang dengan Hesron ke Jakarta.
KRIIING... KRIIING...
Bunyi nada dering di ponsel Hesron.
Kini mereka sudah berada di pertengahan jalan menuju Jakarta.
__ADS_1
Hesron melirik sesaat ponsel yang ia letakkan di holder yang menggantung di dashboard mobil.
Dan. Nama yang tertera di layar ponsel.
"Siapa Dan?" Tanya Zhinta yang juga melihat nama si pemanggil.
"Teman ku." Jawab Hesron.
Hesron menepikan dulu mobilnya sebelum menjawab panggilan dari Dan.
"Halo." Jawab Hesron.
"Dimana kau? Aku sedang berada di depan apartemen mu sekarang." Ucap Dan.
"Aku sedang di jalan pulang. Ada apa?"
"Bratt tadi menghubungi ku, ia meminta aku mencari Alea."
"Ya sudah, lakukan saja sesuai rencana."
"Tapi aku tidak tega Son, tadi sewaktu dia menelpon ku, suara-nya bergetar seperti sedang menahan tangis."
"Cih!!! Jangan menggunakan perasaan Dan, ingat misi kita! Ini semua demi kebaikan Bratt!" Balas Hesron.
"Ya, ya, ya!! Kalau begitu cepat lah kau pulang!"
"Satu jam lagi aku sampai. Kau masuk lah dulu ke apartemen ku! Tapi ingat, jangan mengotori dapur ku! Ku patahkan tanganmu nanti kalau sampai aku pulang dapur ku berantakan!" Ancam Hesron.
Panggilan pun berakhir dan Hesron pun kembali melajukan mobilnya.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...