
Jam operasional kantor pun berakhir, tapi tidak untuk divisi design grafis yang harus lembur malam ini. Tak terkecuali Alea.
Karena malam ini harus lembur, Alea pun mengirim pesan pada Bratt sekedar memberitahu kalau dirinya lembur. Ya, walau sebenarnya tanpa Alea beritahu Bratt juga tahu.
Pesan pun berhasil terkirim, tapi sayangnya lima menit Alea menunggu balasan pesan dari Bratt, pesannya tak kunjung berbalas.
"Alea, sini!" Panggil salah satu rekan kerja Alea meminta Alea untuk bergabung dengan mereka di meja bundar, meja yang biasa tim design grafis pakai saat sedang berembuk membahas konsep design.
Alea menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, lalu berdiri dari tempat duduknya sambil memasukkan ponsel ke kantong blazer-nya lalu berjalan mendekati rekan kerjanya yang lain yang sudah berkumpul di meja itu.
*
*
*
Meninggalkan Alea yang sedang lembur, ada Bratt yang sudah berada dalam mobil menuju apartemennya. Malam ini, ia berniat tidak pulang ke rumah, karena ingin mulai menghindari Alea.
Bratt juga sudah membaca pesan dari Alea, tapi sayang-nya laporan baca dan pemberitahuan online Bratt non-aktifkan, agar Alea tidak tahu kalau Bratt sudah membaca pesan dari Alea.
Kini Bratt sudah sampai di apartemen-nya. Apartemen yang sudah tiga bulan tidak Bratt datangi. Namun meski sudah tiga bulan Bratt tidak datangi, apartemen itu tetap terjaga kebersihannya karena seminggu sekali Bratt selalu memanggil jasa kebersihan untuk membersihkan apartemen-nya.
Bip.. bip.. bip. Ceklek.
Pintu unit apartemen Bratt pun terbuka.
Bratt pun masuk kedalam unit apartemennya dan langsung berjalan menuju kamar tidurnya.
__ADS_1
Sesampainya di kamar tidur, ia langsung membaringkan tubuhnya kasar diatas ranjang yang sudah lama tidak bergoyang.
Ia memejamkan matanya, rasa bimbang kembali merasuki hati dan pikirannya. Tak lama Bratt kembali membuka matanya.
"Ini sudah tidak benar!! Aku harus segera mengakhiri hubungan ini dengan Alea!" Lirih Bratt lalu mengubah posisinya menjadi duduk.
Untuk menghilangkan rasa penat dan rasa aneh dalam hatinya, Bratt pun memilih untuk pergi ke klub malam. Ia ingin mencari mangsa yang akan ia lempar ke atas ranjang apartemennya malam ini.
Bratt pun berdiri dan membuka semua pakaian-nya lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum pergi ke klub malam.
*
*
*
Pukul 23.00.
Sesampainya di dalam apartemen, Bratt langsung menggiring wanita itu kedalam kamar. Dan sesampainya di dalam kamar, Bratt pun duduk disofa.
"Mulai lah. Beri aku kepuasan!" Perintah Bratt sambil merentangkan kedua tangannya di sandaran sofa.
Wanita pemuas hasrat itu pun mulai membuka pakaiannya satu persatu hingga kini dirinya sudah dalam keadaan polos.
Setelah dirinya dalam keadaan polos, wanita itupun mendekati Bratt dan naik keatas pangkuan Bratt. Wanita itu pun mulai mencumbu Bratt dengan bibir dan tangannya.
Bratt memejamkan matanya untuk menikmati cumbuan yang di berikan wanita itu, hingga akhirnya Abang Jago pun berhasil bangun dari tidurnya.
__ADS_1
Merasa Abang Jago Bratt sudah bangun, wanita itu pun membuka celana Bratt hingga mengeluarkan Abang Jago dari sangkar kainnya dan hendak memasukkan Abang Jago kedalam goa bergiginya.
Tapi baru sampai di depan pintu goa bergigi, Bratt menahan wanita itu. Tiba-tiba hasratnya terjun bebas kala wajah Alea terlintas dalam pikirannya.
"Stop, hentikan!" Ucap Bratt sambil memasukkan lagi Abang Jago kedalam sangkar kain.
"Pakailah lagi pakaian mu!" Perintah Bratt.
"Kenapa? Kita kan belum mulai!" Protes wanita itu.
"Cumbuan mu terlalu biasa! Membuat ku muak!!" Balas Bratt.
"Tapi kau belum merasakan goyangan ku!"
"Tidak perlu dirasakan! Abang Jago ku sudah tidak berselera!" Balas Bratt.
Bratt pun mengambil dompet dari saku celananya lalu mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribu.
"Ini ongkos taksi mu! Cepat lah pergi dari sini!" Ucap Bratt sambil meletakkan uang itu di sofa lalu mengangkat bokongnya dari sofa dan mengambil rokok dan pemantik api dari dalam saku celananya.
Dengan sebungkus rokok dan pemantik api ditangannya, Bratt berjalan menuju balkon dan menghi*sap rokoknya disana.
Sedangkan wanita pemuas hasrat itu, mau tak mau memakai pakaiannya kembali. Terpaksa ia harus pulang tanpa merasakan tubuh Bratt.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...