Bukan Sekedar Obsesi

Bukan Sekedar Obsesi
Bab 59 : Hesron Lelaki Gentleman


__ADS_3

Kini mereka sudah berada di dalam rumah Nenek Zhinta.


"Kok kalian gak bilang, mau datang? Kan Nenek bisa siapin makanan enak buat kalian." Ucap Nenek Zhinta.


"Dadakan Nek. Lagian Zhinta kesini cuma mau nitip Alea aja." Balas Zhinta.


"Memangnya ada apa dengan Alea sampe dititip kesini? Buronan?"


"Bukan Nek, cuma Alea ada sedikit masalah dengan suaminya. Kalau masih di kota kan gampang di temuin, makanya kita bawa Alea kesini." Jawab Zhinta.


"Oh..." Nenek Zhinta hanya membulatkan mulutnya.


"Tapi Neng Alea-nya gak pa-pa tinggal di gubuk Nenek ini?" Tanya Nenek Zhinta merendah.


"Gak pa-pa Nek. Lagian rumah Nenek ini gak gubuk kok, masa rumah se-asri ini di bilang gubuk." Balas Alea.


"Terus kalau yang ganteng ini siapa? Pacar kamu Zhin?" Tanya Nenek Zhinta yang sejak tadi penasaran dengan Hesron.


Walau Hesron sudah memperkenalkan dirinya sebagai teman Zhinta, tapi menurut Nenek Zhinta, hubungan Hesron dan Zhinta bukan hanya sekedar teman.


"Mmm... bu-bukan Nek, ki-ta..." Zhinta gugup.


"Gak pa-pa Kak Zhinta, bilang aja kalau Kak Zhinta sama Pak Hesron sedang menjalin hubungan spesial. Saya gak akan kasih tau siapa-siapa kok, kecuali kalian berdua yang mempublikasikan hubungan kalian." Potong Alea.


"Kamu tau?" Tanya Zhinta kaget.

__ADS_1


"Kan tadi saya lihat kalian.." jawab Alea sambil memajukan bibirnya.


Disaat Zhinta dan Alea sedang sibuk bicara, dengan gentle-nya Hesron berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati Nenek Zhinta.


"Kenalin Nek, pacar-nya Zhinta." Ucap Hesron sambil menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Nenek Zhinta.


Nenek Zhinta tersenyum sambil menyambut uluran tangan Hesron.


"Nah gitu dong, jadi laki-laki harus berani mengakui hubungannya. Kalau kamu gak berani mengakui hubungan kamu dengan cucu Nenek, itu berarti kamu gak serius sama cucu Nenek. Masa pacaran bilangnya cuma temen." Ucap Nenek Zhinta.


"Maaf Nek, saya bukannya ingin merahasiakan hubungan dengan Zhinta, tapi karena peraturan perusahaan yang melarang karyawan untuk menjalin hubungan dengan satu kantor, jadi mau gak mau untuk sementara waktu kami merahasiakan hubungan kami." Balas Hesron.


"Maksud Pak Hesron sementara waktu apa? Maksud-nya Pak Hesron atau Bu Zhinta akan keluar dari Bratt Creative Digital gitu?" Tanya Alea.


Hesron dan Zhinta kompak menganggukkan kepalanya.


"Tidak jadi masalah, yang penting jangan sampai keterusan merahasiakan hubungan. Karena hanya akan menimbulkan kesalahpahaman." Sahut Nenek Zhinta.


Lagi dan lagi, Hesron dan Zhinta kompak menganggukkan kepalanya. Mereka setuju dengan pendapat Nenek Zhinta karena sebelumnya mereka juga pernah merasakan hal yang sama, putus hanya karena salah paham dan ego yang tinggi.


*


*


*

__ADS_1


Malam harinya.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


Nenek Zhinta, Zhinta, Hesron dan Alea kini sedang duduk lesehan di ruang makan untuk menikmati makan malam mereka.


"Kok gak dimakan Neng? Masakan Nenek gak enak yah?" Tanya Nenek Zhinta.


"Ah.. bukan Nek. Enak kok Nek, cuma gak tau aja kenapa baru makan dua suap udah langsung kenyang." Jawab Alea tak enak hati.


"Nek, Alea lagi hamil muda. Makanya begitu." Timpal Zhinta.


"Oh.. Tapi Neng Alea gak mual-muntah kan?" Tanya Nenek Zhinta.


"Tadi pagi sih sempet Nek, tapi sekarang gak. Tapi kalau makan baru dua-tiga suap pasti langsung berasa kenyang aja."


"Oh.. bagus deh. Anaknya gak ngerepotin Mama-nya kalau gitu. Mungkin dia tahu Mama-nya udah susah, jadi gak mau di bikin susah lagi." Balas Nenek Zhinta.


Mereka tidak tahu saja, sekarang mual dan muntah yang harusnya dialami Alea beralih pada Bratt.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2