
"Zhin...." Panggil Hesron memecah keheningan dalam mobil.
"Hemh.." balas Zhinta sambil menoleh kearah Hesron.
"Maaf yah, pengunduran diri ku terpaksa aku tunda dulu sementara sampai urusan Bratt dan Alea selesai. Kau tidak marah kan?"
Zhinta hanya menganggukkan kepalanya. Walau sebenarnya hatinya ada sedikit rasa kecewa karena harus menjalani hubungan diam-diam lagi yang entah sampai kapan.
Meski Zhinta menganggukkan kepalanya, melihat raut wajah Zhinta, Hesron tahu kalau Zhinta pasti kecewa.
Hesron pun mendekatkan wajahnya pada Zhinta lalu menarik kepala Zhinta dan menaruh kepala Zhinta di pundaknya.
"Aku janji tidak akan lama. Jadi tetaplah percaya padaku." Ucap Hesron sambil mengelus kepala Zhinta.
Zhinta kembali menganggukkan kepalanya dan Hesron pun mencium puncak kepala Zhinta.
Mencium aroma rambut Zhinta, hasrat lelaki Hesron pun terpancing.
"Zhin...."
"Hemh.." balas Zhinta sambil mendongakkan wajahnya melihat Hesron.
Dan tanpa siapa sangka, Hesron langsung mendaratkan bibirnya di bibir Zhinta.
Mendapat ciuman mendadak jelas saja Zhinta langsung mendorong tubuh Hesron.
"Kenapa?" Tanya Hesron. Karena ini bukanlah pertama kali mereka berciuman.
"Kita sedang di mobil, kalau Alea tiba-tiba datang bagaimana?"
"Sebentar saja, aku sangat merindukan mu." Balas Hesron. Dan tanpa meminta persetujuan Zhinta, Hesron kembali mendaratkan bibirnya di bibir Zhinta lalu menahan tengkuk Zhinta agar Zhinta tidak bisa melepas tautan bibir mereka.
Zhinta yang awalnya menolak, lama kelamaan pun membalas ciuman Hesron. Dan mereka pun berciuman panas di dalam mobil.
__ADS_1
Sampai akhirnya...
Tok... Tok... Jendela mobil terketuk.
Sontak Hesron dan Zhinta langsung melepaskan ciuman mereka.
Zhinta menyeka sisa saliva Hesron yang ada di bibirnya, begitu juga dengan Hesron. Lalu membuka kaca jendela mobilnya.
"Maaf, aku ganggu yah?" Tanya Alea tak enak hati. Walau kaca mobil Hesron hitam, tapi jika Alea mendekatkan wajahnya ke kaca, pasti terlihat juga aktifitas yang sedang di lakukan orang yang ada di dalam mobil.
"Kamu ngomong apa sih?! Udah cepet masuk!" Perintah Zhinta.
"Tolong buka bagasi-nya Pak Hesron." Ucap Alea.
Hesron pun membuka bagasi mobilnya lalu Alea memasukkan kopernya kedalam bagasi mobil Hesron.
Setelah koper masuk ke dalam bagasi, barulah Alea masuk kedalam mobil.
"Alea, matikan ponsel kamu!" Perintah Hesron begitu Alea masuk ke dalam mobil.
"Sudah Pak." Ucap Alea.
"Jangan pernah kau aktifkan ponsel mu sebelum Bratt mendatangi mu! Kau paham!" Ucap Hesron.
Alea menganggukkan kepalanya paham.
"Sudah, ayo kita berangkat." Ajak Zhinta.
Hesron pun menyalakan mesin mobilnya lalu melajukan mobilnya ke tempat yang di usulkan Zhinta.
*
*
__ADS_1
*
Bandung.
Setelah kurang lebih tiga jam dalam perjalanan, akhirnya mobil yang Hesron kendarai sampai juga di Bandung.
Bukan di kota-nya namun disebuah perkampungan yang masih sangat asri dengan pemandangan sawah yang terhampar luas.
Karena rumah yang dituju tidak bisa di masuki mobil, mau tak mau mereka harus turun dari mobil lalu meneruskan dengan berjalan kaki untuk sampai ke rumah tujuan yang Zhinta rekomendasikan.
Setelah lima belas menit berjalan, akhirnya mereka pun sampai di depan rumah semi permanen dengan halaman rumah yang sangat luas.
"Ini dia rumah-nya." Ucap Zhinta.
"Ini rumah siapa?" Tanya Hesron.
"Ini rumah calon nenek mertua mu." Bisik Zhinta tapi masih bisa di dengar Alea karena sekarang Alea berdiri tepat di belakang Zhinta dan Hesron.
Mata Hesron membulat.
"Serius kamu! Kok kamu gak bilang kita mau kerumah Nenek kamu? Kalau tahu begitu tadi di jalan kita beli oleh-oleh dulu!" Omel Hesron.
"Gak pa-pa. Nanti pulang kasih aja salam tempel, pasti Nenek seneng." Balas Zhinta lagi sambil menyengir.
"Ekhem.." Alea berdehem agar Hesron dan Zhinta menyadari keberadaannya.
"Apa kita sudah bisa masuk? Saya lelah." Ucap Alea. Selain lelah fisik karena perjalanan yang cukup jauh dan lelah hati karena sepanjang jalan terus memikirkan kata-kata Bratt dan takut apa yang mereka rencanakan salah, Alea juga lelah mata karena melihat tingkah Zhinta-Hesron yang sepanjang jalan saling curi-curi pandang.
Ingin sekali rasanya Alea berteriak pada Hesron dan Zhinta untuk bersikap terbuka saja kalau memang mereka pacaran. Toh Alea juga sudah melihat mereka berciuman panas tadi.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...