Bukan Sekedar Obsesi

Bukan Sekedar Obsesi
Bab 64 : Kecurigaan Mama Bratt


__ADS_3

"Bratt rasa semua sudah terlambat Ma." Ucap Bratt pesimis.


"Tidak ada kata terlambat untuk memperjuangkan cinta Bratt. Mama akan bantu kamu jika kamu memang perlu bantuan Mama. Asal, yang kamu rasakan pada wanita itu memanglah rasa cinta bukan hanya sekedar obsesi mu semata. Makanya, pastikan pada hati mu sekali lagi apa yang sebenarnya kamu rasakan pada wanita itu." Balas Mama Brat.


Bratt kembali diam, tapi otaknya kembali memutar memori kebersamaan diirinya dengan Alea. Meski sudah menyadari getaran-getaran aneh dalam dirinya adalah rasa cinta, tapi mendengar nasehat Mama-nya ia ingin memastikan sekali lagi kalau apa yang ia rasakan memanglah cinta untuk Alea.


*


*


*


Malam harinya.


Pukul 20.00


Sudah sejak sore tadi Bratt keluar dari rumah sakit. Sebenarnya dokter masih belum mengizinkan Bratt untuk keluar dari rumah sakit, tapi karena Bratt memaksa ingin keluar dari rumah sakit, mau tak mau dokter pun mengizinkan Bratt untuk keluar dari rumah sakit.


Setelah selesai makan malam berdua saja dengan Mama-nya, Bratt kembali ke kamarnya sedangkan Mama-nya juga masuk ke kamar tamu. Mama Bratt memutuskan untuk tinggal beberapa hari menemani Bratt sampai kondisi Bratt benar-benar pulih, khususnya kondisi mental Bratt yang menurut Mama-nya sedang tidak baik-baik saja karena ditinggal Alea.


Sesampainya di dalam kamar, Bratt mengambil ponselnya dan menghubungi Dan, untuk menanyakan perkembangan pencarian Alea.


Tuut.. tuut.. tuut.


"Halo Bratt." Jawab Dan.


"Dimana kau? Kenapa kau tidak datang tadi sore saat aku keluar dari rumah sakit?" Tanya Bratt.


"Bukan kah kau menyuruhku mencari Alea! Kalau aku kerumah sakit, itu berarti aku tidak mengerjakan tugas ku dengan baik!" Jawab Dan beralasan. Tapi yang sebenarnya terjadi, Dan tidak kerumah sakit karena harus mengantar makanan yang diidamkan Alea ke Bandung.

__ADS_1


Menyusahkan memang, bukan Dan yang menanam saham, tapi Dan yang harus pulang-pergi Jakarta-Bandung.


"Lalu bagaimana hasilnya, apa kau sudah menemukan Alea dimana?"


"Belum."


"Apa kau sudah mengecek ke terminal, bandara, pelabuhan?"


"Sudah tapi tidak ada nama Alea di daftar penumpang." Jawab Dan.


"Aku curiga Alea memakai identitas palsu." Ucap Dan.


"Aku tidak mau tahu, pokoknya kau harus segera menemukan Alea segera!" Balas Bratt.


"Jangan hanya tahu menyuruh! Kau juga harus ikut mencari! Kan Alea pergi juga karena ulah mu!" Balas Dan.


"Haish!! Makin lama kau makin cerewet saja, sama seperti Hesron!" Balas Bratt lalu mengakhiri panggilan teleponnya dengan Dan dan melempar kasar ponselnya ke atas ranjang.


"Aaargh.. kenapa begini lagi sih!!" Geram Bratt setelah selesai mengeluarkan isi perutnya.


Ia pun keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh yang lemas lalu berjalan mendekati nakas untuk mengambil air minum yang tadi ia bawa kedalam kamar.


Tok.. tok.. tok..


"Bratt, Mama masuk yah." Teriak Mama Bratt dari depan pintu kamar-nya.


"Iya Ma." Balas Bratt


Ceklek. Mama Bratt pun masuk kedalam kamar sambil membawa teh chamomile untuk Bratt.

__ADS_1


"Ini, Mama bawakan teh chamomile untuk mu. Teh ini bagus untuk meredakan asam lambung mu." Ucap Mama Bratt sambil memberikan teh itu pada Bratt.


"Cepat minum, mumpung masih hangat." Kata Mama Bratt lagi.


Bratt pun mengambil teh itu dari tangan Mama-nya dan meminumnya sedikit demi sedikit sampai habis lalu memberikan gelas kosongnya pada Mama-nya.


Setelah memberikan gelas kosongnya, Bratt langsung membaringkan tubuhnya kasar diatas ranjang.


"Tidak baik langsung tiduran Bratt, duduk dulu sebentar!" Tegur Mama Bratt.


"Sebentar Ma, tubuh Bratt lemas sekali." Jawab Bratt.


"Makanya kalau masih lemas, kenapa memaksakan pulang! Atau kau mau kita balik lagi kerumah sakit?" Tanya Mama Bratt.


"Tidak! Bratt tidak mau kembali kerumah sakit!" Tolak Bratt tegas.


"Ya sudah, Mama balik ke kamar dulu kalau begitu." Mama Bratt pun memutar tubuhnya dan hendak keluar dari dalam kamar Bratt.


Tapi baru Mama Bratt melangkah beberapa langkah, tiba-tiba Bratt bangun dari atas ranjang dan berlari menuju kamar mandi. Ia memuntahkan kembali isi perutnya di wastafel.


Melihat itu, Mama Bratt pun menyusul Bratt ke kamar mandi dan membantu memijat tengkuk Bratt. Karena sebelumnya Bratt sudah memuntahkan isi perutnya, jadi kali ini hanya cairan putih yang Bratt muntahkan.


"Aneh, kenapa teh chamomile tidak mempan untuk Bratt. Padahal aku selalu mengkonsumsi teh ini saat asam lambung ku naik." Gumam Mama Bratt sambil memijat tengkuk Bratt.


"Apa jangan-jangan...."


*


*

__ADS_1


*


Bersambung...


__ADS_2