
"Alea pergi. Dia sudah tidak ada lagi di kamarnya." Ucap Nenek Zhinta pura-pura kaget.
"Apa!!!" Teriak Bratt sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Alea hanya meninggalkan surat ini di meja kamarnya." Ucap Nenek Zhinta.
Bratt pun mengambil surat itu dari tangan Nenek Zhinta.
Kaki Bratt pun melemas setelah selesai membaca surat dari Alea untuk Nenek Zhinta, sangking lemasnya Bratt sambil berlutut di lantai. Ia menangis sambil meracau mengungkapkan rasa penyesalannya.
"Alea, beri aku kesempatan sekali lagi Alea, aku mohon. Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan mu. Aku menyesal sudah membuat mu sakit hati. Aku mohon Alea beri aku kesempatan, kembali lah Alea.. kembali lah. Aku mencintai mu Alea, sangat mencintai mu." Racau Bratt.
Melihat anaknya seperti itu, Mama Bratt menjadi tidak tega. Ia mendekati Bratt untuk menenangkannya. Tapi baru Mama Bratt mengangkat bokongnya dari sofa, tiba-tiba..
"Aku juga mencintai mu Bratt." Alea masuk keruang tamu dan melihat sendiri dengan mata kepalanya penyesalan Bratt.
Mendengar suara Alea, sontak semua orang yang ada diruang tamu menoleh ke arah Alea.
"Lea..." Lirih Bratt lalu berdiri dan menghampiri Alea.
"Kau benar Alea kan, Alea ku." Bratt masih belum percaya dengan wanita yang ada di hadapannya, ia takut ini hanya halusinasinya saja.
"Iya Bratt, ini aku Alea." Balas Alea.
Bratt pun langsung memeluk Alea dengan sangat erat.
"Aku sangat merindukan mu Alea, jangan pergi lagi dari ku." Ucap Bratt.
__ADS_1
"Tergantung. Kalau aku tahu kau hanya mempermainkan ku, maka aku akan pergi lagi dari mu dan tidak akan pernah memaafkan mu!" Jawab Alea.
"Tidak akan pernah! Kali ini aku benar-benar serius dengan mu, aku sangat mencintai mu, Lea."
"Cih!! Kenapa lambat sekali kau menyadarinya! Menyebalkan!"
"Maaf, maaf, maaf, maafkan aku yang terlalu lama menyadari perasaan ku untuk mu." Bratt pun melepaskan pelukannya dari tubuh Alea, kala ia mengingat Alea yang sedang hamil.
"Apa little Bratt baik-baik saja di dalam sini?" Tanya Bratt sambil mengusap perut Alea.
Alea tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Bratt menurunkan wajahnya sampai didepan perut Alea.
"Hai little Bratt, ini Daddy." Bratt menyapa calon anak-nya sambil terus menciumi perut Alea.
Setelah puas menciumi perut Alea, Bratt pun kembali menyejajarkan wajahnya dengan wajah Alea.
Dengan tidak tahu malu dan tidak tahu tempat, Bratt langsung menarik tengkuk Alea dan mendaratkan bibirnya di bibir Alea. Melu*mat pelan bibir yang sudah menjadi candu baginya.
Dan aksi mendadak Bratt itu jelas membuat Alea kaget. Alea pun meronta agar Bratt melepaskan tautan bibir mereka.
Bratt tidak menghiraukan rontaan Alea dan baru melepaskan tautan bibirnya setelah merasa asupan oksigen dalam paru-parunya menipis.
"Kau! Gara-gara kau kita jadi bahan tontonan mereka!" Lirih Alea setelah tautan bibir mereka terlepas sambil menunjuk orang-orang yang ada di belakang Bratt.
Bratt pun menoleh ke belakangnya.
__ADS_1
Semua orang yang ada di belakang Bratt hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka melihat kelakuan Bratt.
Dasar Bratt memang tidak tahu malu, bukannya merasa bersalah, Bratt malah menggendong Alea ala bridal style.
"Aakh... Bratt turunkan aku!!" Ronta Alea. Tapi Bratt tidak memperdulikan rontaan Alea dan malah keluar dari rumah Nenek Zhinta.
"Mau kemana kau Bratt?!" Teriak Mama Bratt.
"Mau membawa Alea pulang dan menyekapnya didalam kamar tiga hari tiga malam!" Balas Bratt tak kalah berteriak.
"Astaga anak itu!!" Lirih Mama Bratt melihat kelakuan Bratt.
Sedangkan Hesron dan Zhinta saling pandang dan tersenyum.
"Akhirnya masalah mereka terselesaikan juga." Ucap Zhinta.
Hesron menganggukkan kepalanya.
"Sekarang giliran aku mengurus hubungan kita. Sabar sedikit lagi yah." Balas Hesron.
Zhinta menganggukkan kepalanya dan Hesron pun mencium kening Zhinta penuh kasih sayang.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...