
"Kau ingin bercerai?" Tanya Bratt kaget. Ia takut Alea bercerai dari Jonas karena Alea ingin serius dengan Bratt sama seperti yang Malika lakukan waktu itu.
Dengan mantap Alea menganggukkan kepalanya.
"Apa keputusan mu ini ada kaitannya dengan ku?" Tanya Bratt hati-hati.
Alea terkekeh kecil.
"Tidak Tuan. Apa mungkin seorang istri yang sudah melihat langsung suaminya menunggangi wanita lain akan tetap bertahan?"
"Tapi kita kan juga melakukan itu disaat kau masih sah menjadi istri orang."
"Apa yang aku lakukan tidak sebanding dengan yang dia lakukan. Karena dia menunggangi wanita sebagai pekerjaan, dia itu gi*golo Tuan."
"Lalu apa yang kau pikirkan tentang kita?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu Tuan." Jawab Alea. Ia tidak berani mengatakan pada Bratt kalau ia ingin mempunyai hubungan yang serius dengan Bratt.
Mendengar jawaban Alea, barulah Bratt bernafas lega.
"Apa kau mau aku membantu mengurus perceraian mu?"
"Tidak perlu Tuan, biar aku urus sendiri." Balas Alea.
Alea pun melihat jam yang ada didinding ruang tengah.
"Astaga!!" Pekik Alea sambil mengubah posisinya menjadi duduk. Karena jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang.
"Kenapa?" Tanya Bratt.
"Saya harus siap-siap Tuan, saya ada janji temu dengan pengacara." Jawab Alea lalu beranjak dari atas sofa.
Tapi belum sampai kaki Alea menyentuh lantai, Bratt langsung menarik tangan Alea hingga Alea jatuh dalam pelukan Bratt.
"Tuan.."
__ADS_1
"Mari kita mandi bersama." Ucap Bratt lalu mengangkat bokongnya dari sofa dalam posisi Alea dalam gendongannya.
"Tu-an.." lirih Alea sambil menatap wajah Bratt.
Bratt tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengerlingkan sebelah matanya genit.
Melihat itu, Alea tahu apa maksud Bratt.
"Kamar mandinya disana Tuan." Tunjuk Alea sambil membenamkan kepalanya di dada Bratt.
Dan mereka pun kembali melakukan percintaan panas mereka di dalam kamar mandi yang tidak berukuran besar itu.
*
*
*
Kini Bratt dan Alea sudah sama-sama siap untuk keluar rumah. Alea juga sudah membersihkan jejak percintaannya dengan Bratt agar tidak ketahuan sang pemilik rumah.
"Jam dua, di kantor pengacaranya." Jawab Alea.
Bratt melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Masih ada waktu. Ayo kita makan siang dulu, baru nanti ku antar kau ke kantor pengacara itu." Balas Bratt.
Alea pun menganggukkan kepalanya.
Dan mereka pun keluar dari dalam rumah Zhinta menuju restoran ayam geprek yang ada di dekat rumah Zhinta.
Setelah kurang lebih mereka mengisi perut mereka di restoran ayam geprek, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju kantor pengacara yang akan membantu perceraian Alea.
Setengah jam kemudian.
Mobil yang Bratt kendarai sudah berada tepat di depan kantor pengacara.
__ADS_1
"Tidak pa-pa kan kalau aku hanya mengantar?" Tanya Bratt.
"Tidak pa-pa Tuan." Jawab Alea.
Bratt memang tidak berniat untuk menemani Alea karena dia harus kembali ke kantor sebelum Hesron meneriaki dirinya karena sudah banyak berkas-berkas yang menumpuk yang harus dia tanda tangani.
"Terimakasih Tuan." Ucap Alea sambil melepas sabuk pengaman.
Bratt menganggukkan kepalanya.
"Kalau ada kendala, katakan padaku biar aku membantu mu." Tawar Bratt.
Alea menganggukkan kepalanya lalu keluar dari dalam mobil.
"Alea..." Panggil seorang pria begitu Alea keluar dari dalam mobil.
Alea pun menoleh, ternyata teman SMA-nya yang memanggil dirinya.
Melihat teman lamanya jelas saja Alea senang, Alea pun langsung menghampiri pria itu dengan senyum yang merekah.
Dan itu membuat Bratt yang belum melajukan mobilnya dari depan kantor pengacara itu memanas saat melihat Alea tersenyum pada laki-laki lain.
Apalagi saat ini Bratt melihat Alea dan pria itu sangat akrab sekali.
"Siapa pria itu? Kenapa Alea sangat akrab dengan pria itu?!" Geram Bratt sambil menceng*ram setir mobilnya.
Jika tadi saat di rumah Zhinta api gai*rah yang menggelora, sekarang api cemburu lah yang menggelora dalam dada Bratt.
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1