
Kini Hesron dan Zhinta sudah dalam perjalanan pulang menuju rumah Zhinta setelah mengantar Mama Bratt dan Dan pulang.
Tak ada Bratt di rumahnya, entah kemana dia membawa Alea. Ponselnya juga tak bisa di hubungi, ingin menghubungi Alea tapi Alea tidak membawa barang-barangnya. Malah Zhinta lah yang menyusun barang-barang Alea. Sangat merepotkan memang, susah merepotkan orang, senang juga merepotkan orang.
Berkali-kali Hesron menguap karena sudah sangat lelah dan mengantuk.
"Sini aku yang nyetir." Tawar Zhinta.
"Gak usah, aku aja." Balas Hesron.
"Kamu kan lagi ngantuk, nanti kita kecelakaan!"
"Masih kuat kok, lagian sebentar lagi juga sampai."
Zhinta pun diam.
Lima belas menit kemudian.
Mobil yang Hesron kendarai pun sampai juga di depan rumah Zhinta.
Mereka pun turun dari dalam mobil, Hesron ingin mengantar Zhinta sampai depan rumah Zhinta.
"Menginaplah malam ini dirumah. Bahaya kalau kau mengendarai mobil dalam keadaan seperti ini." Tawar Zhinta.
"Aku tidak pa-pa." Tolak Hesron.
"Kalau kau tidak mau, paling tidak istirahat lah sebentar." Tawar Zhinta lagi.
"Baiklah kalau kau memaksa." Balas Hesron pasrah.
Mereka pun masuk kedalam rumah dan langsung berjalan keruang tengah.
"Aku buatkan kopi yah." Tawar Zhinta.
Hesron menganggukkan kepalanya dan Zhinta pun meneruskan langkahnya menuju dapur.
Tak lama Zhinta pun datang kembali keruang tengah dengan secangkir kopi untuk Hesron.
__ADS_1
"Ini, minumlah." Ucap Zhinta sambil meletakkan secangkir itu di hadapan Hesron.
Setelah meletakkan cangkir kopi itu, Zhinta pun hendak berjalan ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya karena merasa gerah, tapi Hesron langsung menangkap tangan Zhinta dan mendudukkan Zhinta keatas pangkuannya.
"Iiikh, aku mau ganti baju dulu, panas!" Protes Zhinta.
Hesron tak memperdulikan protes Zhinta, ia malah memandang sangat dalam wajah Zhinta sambil tangannya mengelus pipi kekasihnya itu.
"Zhin..."
"Hemh.."
"Terimakasih yah sudah bersabar beberapa hari ini." Ucap Hesron.
Zhinta menganggukkan kepalanya.
"Aku merindukan mu Zhin."
"Aku juga." Balas Zhinta.
Perlahan tapi pasti, Hesron mendekatkan wajahnya ke wajah Zhinta lalu mendaratkan bibirnya ke bibir Zhinta. Ciuman panas pun tak bisa terelakkan.
Merasakan tangan Hesron hendak menyentuh dua gundukan daging miliknya, cepat-cepat Zhinta menangkap tangan Hesron.
"Jangan Son." Ucap Zhinta.
"Kenapa? Apa kau tidak percaya dengan ku?" Tanya Hesron.
"Bukan tidak percaya, tapi aku merasa ini tidak benar kalau kita melakukannya sekarang. Aku harap kau mau bersabar sampai kita sudah sah menjadi suami-istri." Jawab Zhinta.
Hesron menghela nafasnya kasar.
"Baiklah kalau itu mau mu. Aku akan bersabar." Balas Hesron lalu memindahkan Zhinta dari atas pangkuannya ke atas sofa.
"Aku pulang dulu kalau begitu." Pamit Hesron.
"Kau marah?"
__ADS_1
"Tidak. Aku hanya tidak ingin berlama-lama disini. Semakin lama aku disini, semakin aku tidak bisa menahan hasrat ku. Jadi lebih baik aku pergi dari sini." Balas Hesron.
"Sekali lagi aku minta maaf." Ucap Zhinta.
"Kau tidak salah. Justru aku yang harus berterimakasih padamu karena sudah mengingatkan ku." Balas Hesron.
Cup. Hesron mengecup kening Zhinta.
"Aku pulang dulu." Pamit Hesron sekali lagi sambil menenggak kopi yang tadi Zhinta suguhkan.
"Hati-hati." Ucap Zhinta.
Ia pun mengantarkan Hesron sampai di depan pintu, setelah mobil Hesron pergi barulah Zhinta masuk kedalam rumah.
*
*
*
Bandung.
Ternyata Bratt tidak langsung membawa Alea pulang ke Jakarta, ia membawa Alea ke salah satu hotel mewah di Bandung.
Beberapa hari tidak bertemu dengan Alea membuat Bratt tidak sabar untuk menumpahkan rasa rindunya diatas ranjang.
"Ah.. Bratt, pelan-pelan!!" Ringis Alea yang merasakan kesakitan di bagian bawah perutnya karena Bratt menghentakkan Abang Jagonya sangat kencang.
"Sabar sayang, sebentar lagi." Balas Bratt sambil menahan pinggul Alea.
"Berhenti dulu Bratt, ini sakit!!" Teriak Alea yang sudah tidak bisa menahan rasa sakit di bagian bawah perutnya.
"Sedikit lagi, tahan!" Balas Bratt. Bratt pun makin mempercepat hentakan Abang Jagonya.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...