Bukan Sekedar Obsesi

Bukan Sekedar Obsesi
Bab 74 : Hesron Cemburu


__ADS_3

Tanpa disangka Alea menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Kau tidak mau kita menikah?" Tanya Bratt.


"Aku tidak mau menikah dengan mu sebelum kau melamar ku dengan resmi!" Ucap Alea.


Mendengar alasan Alea, Bratt dan Mama-nya yang tadi sempat tegang akhirnya bisa bernafas lega.


"Baik, persiapkan saja dirimu, aku akan melamar mu secara resmi! Tapi ingat kau harus langsung menerima lamaran ku!" Balas Bratt.


*


*


*


Bratt Creative Design.


Pukul 12.00


Hesron memijat-mijat tengkuknya yang sudah sangat pegal.


Gara-gara Bratt yang masih harus stay di rumah sakit menemani Alea, kini dirinya harus mengganti Bratt untuk bertemu klien sana-sini serta menandatangani dokumen yang tidak mengharuskan untuk Bratt tanda tangani.


Apalagi sejak mengurus masalah Alea dan Bratt, ia selalu menyisakan setengah pekerjaannya. Dan hasilnya sekarang pekerjaannya menggunung.


TRING. Bunyi notifikasi pesan masuk di ponsel Hesron.

__ADS_1


Hesron pun melirik ponsel yang ia letakkan diatas meja sebelah dokumen-dokumen yang menumpuk.


Zhinta, nama si pengirim pesan.


Hesron mengambil ponselnya lalu membuka pesan yang Zhinta kirimkan.


Zhinta : Sudah jam makan siang. Jangan sampai telat makan.


Begitulah isi pesan Zhinta untuk Hesron.


"Astaga, sudah jam makan siang ternyata!" Desis Hesron.


Hesron meletakkan pena-nya lalu membuka kacamata baca-nya dan meletakkan diatas meja.


"Aaargh Bratt!! Cepatlah kau kembali, kepala ku sudah mau meledak! Memikirkan pekerjaan, memikirkan hubungan ku dengan Zhinta!" Jerit Hesron dengan suara pelan.


Hesron : Kau dimana? Ayo kita makan siang bersama diluar.


Lima detik, sepuluh detik bahkan sampai lima menit Hesron menunggu Zhinta membalas pesannya, tapi pesan balasan tak kunjung muncul.


"Apa dia sudah makan dikantin?" Gumam Hesron.


Hesron pun berdiri dari kursi kebesarannya dan keluar dari ruang kerjanya.


Dengan menaiki lift, ia turun kelantai dasar dimana kantin kantor berada.


Ting. Pintu lift terbuka, Hesron pun keluar dari dalam lift dan berjalan menuju kantin.

__ADS_1


Sesampainya di kantin, mata Hesron langsung berkeliling mencari keberadaan Zhinta.


Rahangnya mengeras, tangannya juga mengepal melihat Zhinta sedang satu meja sambil menyantap makan siang mereka dengan karyawan pria dari divisi berbeda. Mereka terlihat sangat akrab dengan mengobrol sambil tertawa kecil.


"Pantas saja pesan ku tidak di balas! Ternyata kau sedang makan siang dengan laki-laki lain!" Geram Hesron dalam hati.


Hesron yang emosi langsung memutar tubuhnya dan hendak pergi dari kantin, tapi baru beberapa langkah, ia kembali teringat akan janji-nya pada Zhinta untuk tidak egois dalam hubungan mereka kali ini.


Hesron pun menurunkan emosinya dan kembali memutar tubuhnya lalu menghampiri Zhinta dan laki-laki yang sedang duduk semeja dengan Zhinta.


"Apa saya boleh gabung dengan kalian?" Tanya Hesron.


"Boleh Pak, silahkan duduk." Jawab laki-laki itu sambil mengangkat bokongnya hendak pindah kesebelah Zhinta.


"Eits.. kau disitu saja. Biar saya disini." Hesron langsung menahan laki-laki itu agar tidak pindah lalu mendaratkan bokongnya disebelah Zhinta.


Jelas saja kehadiran orang nomor dua di perusahaan Bratt Creative Design itu membuat Zhinta dan laki-laki itu gugup.


Zhinta melirik ke-kanan dan kirinya untuk melihat tatapan orang-orang yang ada di kantin, hanya sekedar memastikan apa mereka memandang biasa saja, atau sedang berbisik-bisik menggosipi mereka.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2