Bukan Sekedar Obsesi

Bukan Sekedar Obsesi
Bab 44 : Hesron Mengomel


__ADS_3

Kini mereka sudah berada di dalam rumah Bratt.


Otak Alea langsung travelling melihat ruang tengah.


"Kenapa bengong? Apa otak mu sedang mengingat percintaan panas kita di meja biliar?" Tanya Bratt.


"Akh.. tidak! Aku tidak sedang mengingat tentang itu." Jawab Bratt.


"Bilang saja iya. Kalau kau mau kita mengulang kejadian malam panas itu, aku selalu siap." Goda Bratt lagi.


"Tuan, aku mohon jangan membahas soal itu lagi. Aku malu." Balas Alea.


"Baiklah. Aku tidak akan membahasnya, tapi bisa kan kalau aku mengulangnya lagi lagi dan lagi." Goda Bratt lagi.


"Tuan..." Rengek Alea.


"Iya.. iya.. iya." Kekeh Bratt kecil.


"Ayo kita ke kamar." Ajak Bratt sambil menarik tangan Alea.


"Kita tidur sekamar Tuan?" Tanya Alea.


"Iya. Agar aku tidak susah mencari mu saat Abang Jago bangun." Jawab Bratt.


"Ta-tapi Tuan.."


"Jangan menolak ku Alea. Kau yang sudah memulainya dan sekarang kau juga yang harus bertanggung jawab mensejahterakan Abang Jago ku." Ucap Bratt tegas.


Alea diam dan tertunduk malu. Ini juga salahnya karena mabuk dan menggoda Bratt.

__ADS_1


Ceklek. Bratt membuka pintu kamarnya.


"Susun lah pakaian mu di lemari yang ada sisi kiri." Ucap Bratt sambil menyerahkan koper Alea yang sejak tadi ia pegang.


Alea pun mengambil koper itu dan berjalan menuju ruang ganti untuk menyusun pakaiannya di lemari yang Bratt tunjukkan.


Sambil menunggu Alea selesai menyusun pakaian, Bratt duduk di sofa dan membuka ponselnya yang sejak tadi sengaja ia nonaktifkan.


TRING..


TRING..


TRING..


TRING..


Bunyi notifikasi pesan beruntun masuk ke ponsel Bratt.


Bratt menghela nafasnya kasar saat melihat ada sepuluh pesan dari Hesron. Bratt pun membuka pesan itu satu persatu dan isinya hanya lah omelan dari Hesron yang meminta Bratt untuk segera datang ke kantor.


Tanpa membalas pesan dari Hesron, Bratt meletakkan ponsel itu di atas nakas yang ada disamping sofa. Tapi baru beberapa detik ponsel itu tergeletak di atas nakas tiba-tiba ponsel Bratt berbunyi.


Bratt melihat nama si pemanggil.


Hesron. Itulah nama yang tertera di layar ponsel.


"Hish mau apa sih dia?!" Gerutu Bratt.


Bratt mengambil ponsel itu dan menggeser tombol hijau.

__ADS_1


"A-.."


" Dimana kau? Kenapa baru aktif ponsel mu?" Belum selesai Bratt bicara Hesron sudah mengomel.


"Aku dirumah." Jawab Bratt santai.


"Apa kau tahu banyak sekali dokumen yang menunggu untuk kau tanda tangani! Ini sudah tanggal 24, berkas untuk gaji karyawan belum kau tanda tangani, bagaimana orang keuangan mau mencairkan gaji karyawan kalau kau belum menandatangani berkas-berkasnya?!" Hesron terus mengomel.


"Iya.. iya.. iya, besok akan aku tanda tangani semua berkas-berkasnya sampai habis, sampai jari-jari ku keriting!" Balas Bratt.


"Tuan.. kalau sepatu ku ini harus ku letakkan dimana?" Tanya Alea tiba-tiba dengan suara yang cukup keras. Alea tidak tahu kalau sekarang Bratt sedang bertelepon dengan Hesron.


Dan suara Alea itu terdengar sampai ke telinga Hesron di seberang telepon.


"Apa itu Alea?" Tanya Hesron.


Karena tak mau sampai Hesron tau kalau wanita yang bicara itu adalah Alea, Bratt pun langsung mengakhiri panggilan telepon itu sepihak.


"Huuh.. hampir saja! Habis aku kalau dia sampai tahu kalau aku membawa Alea kesini. Bisa-bisa dia dan Dan akan menceramahi ku lagi." Gumam Bratt sambil bernafas lega.


Bratt kembali menonaktifkan ponselnya agar Hesron tidak menghubunginya lagi lalu meletakkan ponsel itu diatas nakas.


Setelah itu barulah Bratt beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang ganti menghampiri Alea.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2