
Keesokan harinya.
Pukul 07.00
Dengan telaten Bratt menyuapi bubur buatan rumah sakit untuk sarapan Alea.
"Biar aku saja Bratt, aku bisa makan sendiri." Entah sudah berapa kali Alea menolak untuk Bratt suapi karena merasa tidak enak.
"Sudah jangan banyak protes. Aku menyuapi mu sekalian menyuapi anak-anak ku, jadi jangan berisik. Kau tinggal membuka mulutmu, menelan makanannya agar anak ku juga makan!" Balas Bratt.
Alea hanya bisa menghela nafasnya kasar.
BRAAAK. Tiba-tiba pintu kamar rawat Alea terbuka.
Sontak Alea dan Bratt pun menoleh ke arah pintu.
"Mama." Lirih Bratt saat melihat Mama-nya yang ternyata membuka pintu.
Mendengar Bratt menyebut kata Mama, mata Alea membulat sempurna.
"Kau kok tidak langsung memberitahu Mama kalau calon menantu Mama masuk rumah sakit?" Omel Mama Bratt sambil berjalan menuju ranjang Alea.
"Mama tahu darimana Alea masuk rumah sakit?" Tanya Bratt.
"Hesron yang memberitahu Mama!" Jawab Mama Bratt ketus.
"Bagaimana kondisi mu, kenapa kau bisa sampai masuk rumah sakit? Apa anak nakal ini menyakiti mu?" Kini pandangan Mama Bratt beralih pada Alea.
"Sudah lebih baik Tante." Jawab Alea.
"Kok manggilnya Tante? Panggilnya Mama dong. Kan kamu calon menantu Mama."
__ADS_1
"Kok calon menantu sih Ma! Alea itu menantu Mama!" Protes Bratt.
"Masih calon! Kan kalian belum resmi menikah!" Balas Mama Bratt.
"Maafkan anak Mama yah Sayang karena sudah membuatmu sakit hati." Ucap Mama Bratt.
"Kok Mama yang minta maaf, harusnya saya yang minta maaf karena kita bertemu dalam keadaan yang seperti ini." Balas Alea.
"Ini semua gara-gara anak nakal ini, coba saja kemaren-kemaren dia langsung mengakui perasaannya pada mu, pasti masalah ini tidak akan terjadi. Pasti kamu stress kan karena masalah yang kemaren?"
"Alea masuk rumah sakit bukan karena itu Ma!"
"Lalu karena apa?"
Bratt dan Alea terdiam dan saling lirik, dua orang itu seketika salah tingkah di depan Mama Bratt.
Melihat Bratt dan Alea salah tingkah, Mama Bratt pun langsung paham.
"Oh.." Mama Bratt membulatkan mulutnya.
"Dasar kau! Bercocok tanam saja kau tahu! Sudah tahu Alea sedang hamil muda, janinnya masih sangat rentan untuk keguguran! Jadi jangan kau jenguk dulu anak mu!" Omel Mama Bratt.
"Kata dokter gak pa-pa kok, asal pelan-pelan!" Balas Bratt.
"Tapi kau mainnya kasar kan! Makanya Alea sampai masuk rumah sakit?"
"Bratt kan kemaren tidak tahu!" Balas Bratt.
"Haish!!! Lalu bagaimana keadaan cucu Mama, dia baik-baik saja kan?"
"Bukan dia Ma, tapi mereka."
__ADS_1
"Mereka? Maksudnya, cucu Mama kembar?"
Bratt menganggukkan kepalanya.
"Serius?"
Bratt kembali menganggukkan kepalanya.
"Aaakkhh... Mama akan punya cucu kembar!!" Teriak Mama Bratt senang sambil memeluk Alea erat-erat.
Melihat Mama-nya memeluk Alea erat-erat, Bratt pun langsung memisahkan Mama-nya dari Alea. Ia takut anak-anaknya sesak karena ulah Mama Bratt.
"Jangan erat-erat meluknya Ma, nanti anak-anak Bratt sesak nafas!" Protes Bratt.
Mama Bratt memutar bola matanya malas sambil menaikkan sudut bibirnya.
"Kalian harus segera meresmikan hubungan kalian ke jenjang pernikahan!" Perintah Mama Bratt.
"Bratt juga berpikir seperti itu Ma, tapi takutnya saat resepsi nanti Alea kelelahan."
"Tidak usah resepsi dulu. Menikah secara agama dan negara saja dulu, untuk resepsinya, nanti kalau kandungan Alea sudah masuk tujuh bulan sekalian acara tujuh bulanan!" Saran Mama Bratt.
Bratt menganggukkan kepalanya setuju dengan saran Mama-nya.
"Bagaimana Sayang, kau mau kan kalau kita menikah secara agama dan negara dulu, nanti kalau sudah tujuh bulan baru kita resepsi?" Tanya Bratt pada Alea.
Tanpa disangka Alea menggelengkan kepalanya.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...