Bukan Sekedar Obsesi

Bukan Sekedar Obsesi
Bab 89 : Cara Licik Dan Membantu Finola


__ADS_3

"Mau aku bantu?" Tanya Dan.


"Memangnya kamu bisa?" Finola balik bertanya.


"Jawab saja, mau atau tidak. Kalau kau jawab mau, jangan pernah meragukan keahlian ku." Balas Dan.


Finola dia sejenak memikirkan tawaran Dan. Tak lama Finola menganggukkan kepalanya.


"Aku mau. Aku harus mendapatkan kembali perusahaan Papa aku, demi masa depan Fritz yang sebentar lagi masuk sekolah." Ucap Finola.


"Aku janji, secepatnya perusahaan Papa mu akan kembali pada mu." Ucap Dan mantap.


*


*


*


Setelah satu setengah jam dirumah Finola, Dan pun pulang.


Ia pulang ke apartemennya terlebih dulu untuk membersihkan tubuhnya sebelum ia menemui seseorang yang akan menjadi batu loncatan untuknya mengambil alih perusahaan Papa Finola.


Kini Dan sedang berdiri di bawah guyuran shower menikmati air yang membasahi dirinya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.


Dan memejamkan matanya untuk mengingat wajah Finola, cinta pertama-nya yang tidak kesampaian.


Finola adalah gadis paling cantik di sekolah waktu SMA. Cantik, kaya, populer, jelas sangat tidak sebanding dengan Dan yang saat itu cupu dan berasal dari keluarga sederhana. Dan hanya bisa menyukai Finola dalam hati.


Dan menyukai Finola karena selain Finola cantik, Finola juga adalah gadis yang sangat ramah, ia tak pernah memilah-milih teman. Tidak seperti gadis-gadis cantik dan kaya yang lainnya.


Namun karena Finola saat itu sudah memiliki pacar, membuat Dan hanya bisa memendam perasaannya untuk Finola dalam hati.


Setelah tamat SMA, Finola melanjutkan pendidikannya di luar negri dan mulai saat itu Dan tidak pernah lagi melihat atau sekedar mendengar kabar tentang Finola. Apalagi Dan juga tidak pernah ikut reuni SMA karena semasa SMA, Dan sama sekali tidak memiliki teman, dan itu membuatnya benar-benar kehilangan kabar tentang Finola.

__ADS_1


"Aku rindu senyum mu yang dulu Fi. Aku janji akan buat kamu tersenyum seperti dulu lagi saat aku pertama kali jatuh cinta sama kamu." Lirih Dan.


*


*


*


Setengah jam kemudian.


Kini Dan sudah bersiap pergi menemui Tuan Herlangga, orang yang akan membantunya merebut perusahaan Papa Finola.


Bukan membantu, tapi lebih tepatnya terpaksa membantu Dan karena Dan masih memegang video asusila putrinya dengan Jonas waktu di klub malam waktu itu. Iya, putri Tuan Herlangga itu tak lain tak bukan adalah Edeline.


Dengan menggunakan jaket kulit hitam dan celana skinny jeans hitam, Dan keluar dari unit apartemen sederhana miliknya. Meski sederhana dan tak semewah apartemen milik Bratt dan Hesron tapi apartemen tempat tinggal Dan itu sudah milik-nya sendiri yang ia beli dari hasil membantu orang-orang yang membutuhkan jasa-nya untuk menemukan sebuah informasi, baik informasi tentang keberadaan seseorang maupun informasi tentang data seseorang.


Selain mencari informasi, ada juga beberapa orang besar yang meminta jasa Dan untuk membobol keamanan data lawan bisnis mereka, dan pastinya bayaran Dan untuk melakukan itu tidak lah murah.


Kini Dan sudah sampai di restoran Jepang tempat dirinya dan Tuan Herlangga janji bertemu.


Dengan gaya cool-nya, Dan berjalan dengan diantar pelayan menuju room VIP dimana Tuan Herlangga sudah menunggu-nya.


Sreek. Pelayan membuka pintu geser itu untuk Dan.


"Silahkan masuk Tuan." Ucap pelayan.


Dan pun masuk kedalam ruangan itu.


"Selamat malam Tuan Herlangga." Dan menyapa Tuan Herlangga yang sedang melihat ke arahnya.


Tuan Herlangga tak membalas sapaan Dan dan malah mengalihkan pandangannya.


"Cepatlah katakan apa yang kau mau! Waktu saya tidak banyak!" Ucap Tuan Herlangga ketus.

__ADS_1


Dan pun duduk di depan Tuan Herlangga.


"Mau saya gak banyak. Saya hanya ingin perusahaan minyak goreng Filima kembali pada ahli waris yang sebenarnya." Jawab Dan to the point.


"Memangnya siapa ahli waris yang sebenarnya?" Tanya Tuan Herlangga.


Dan pun menceritakan pada Tuan Herlangga apa yang tadi Finola ceritakan padanya.


"Bagaimana, apa Anda bisa mengembalikan perusahaan itu pada ahli waris yang sebenarnya?" Tanya Dan setelah selesai bercerita.


"Hapus dulu video itu baru saya akan membantu mu!"


"No! Saya akan memberikan video itu pada Anda kalau perusahaan Filima sudah berada di tangan Finola."


"Apa kau bisa di percaya?"


"Tenang saja Tuan, saya orang yang sangat bisa di percaya."


"Baik, saya akan membantu mu! Tapi ingat, kau harus menjaga jangan sampai video Edeline tersebar!"


Dan menganggukkan kepalanya.


"Tunggu saja kabar dari saya!" Ucap Tuan Herlangga lalu berdiri dari duduknya dan keluar dari ruangan itu.


Dan pun tersenyum sumringah karena berhasil membuat kesepakatan dengan Tuan Herlangga.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2