
Keesokan paginya.
Bratt Creative Digital.
Pukul 09.00
Kini Bratt sudah berada di kantornya.
Sepertinya saat ini istilah cuti menikah tidak berlaku untuk Bratt yang notabene adalah pemilik perusahaan. Bagaimana dirinya mau cuti menikah kalau asisten laknatnya sudah cuti dan yang lebih parahnya si asisten laknatnya itu meminta cuti enam bulan.
Selain karena Hesron cuti, dirinya juga belum bisa menjamah Alea yang masih dalam masa recovery.
"Awas saja kau Hesron, setelah kau kembali nanti, giliran aku yang cuti! Akan aku ambil cuti satu tahun!" Gerutu Bratt sambil berjalan menuju ruang kerjanya.
Namun baru beberapa langkah ia melewati ruang kerja Hesron yang saat ini menjadi ruang kerja Dan sementara, Bratt kembali mundur sampai tepat di depan pintu ruang kerja Hesron.
"Apa anak itu sudah datang?" Gumam Bratt.
Bratt pun membuka pintu ruang kerja Hesron.
Kosong. Tak ada Dan didalam.
"Haish!! Kemana anak itu! Sudah kerjanya tak seberat Hesron, sekarang malah datang terlambat tapi gaji minta disamakan dengan Hesron!" Dumel Bratt.
Bratt pun mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Dan.
Namun belum juga panggilan tersambung, ia mendengar suara tawa Dan dari ruangan staf-nya yang juga ada di lantai itu.
Bratt menutup panggilan yang belum tersambung itu dan berjalan perlahan menuju ruangan staf-nya yang lain, dimana di ruangan itu hanya ada enam orang yang keenam-enamnya semua wanita.
__ADS_1
"Dasar musang padang pasir!! Sudah ku bilang jangan tebar pesona di kantor ku!!" Geram Bratt saat melihat Dan sedang asyik membual dengan keenam karyawatinya.
"Ekhem.." Bratt berdehem agar keenam karyawati dan satu musang padang pasir itu menyadari keberadaannya yang ada di depan pintu ruangan kaca itu.
Menyadari kalau itu suara deheman bos besar mereka, sontak keenam karyawati itu langsung pindah ke meja kerja mereka masing-masing dan kembali bekerja.
Saat keenam karyawati itu ketar-ketir, Dan justru terlihat biasa saja. Dipikirnya, untuk apa ketar-ketir, orang Bratt adalah sshabatnya.
"Hai Bratt." Sapa Dan tanpa dosa.
"Bratt, Brett, Bratt, Brett!! Sini kau, ikut aku!" Omel Bratt lalu berjalan lebih dulu menuju ruang kerjanya.
"Nanti kita mengobrol lagi, oke!" Pamit Dan pada keenam karyawati itu lalu menyusul Bratt yang sudah sampai di depan ruang kerja Bratt.
*
*
*
Dengan tidak tahu malunya dan tidak berdosa-nya Dan langsung duduk di sofa tepat di depan Bratt.
"Wajah mu kenapa? Masih pagi sudah cemberut!" Tanya Dan.
"Kau tanya aku kenapa? Aku begini gara-gara kau bodoh!" Jawab Bratt emosi.
"Memangnya aku kenapa? Perasaan kita baru bertemu pagi ini bahkan mengobrol saja baru ini." Balas Dan.
"Kau tidak sadar dengan kesalahan mu, hah!"
__ADS_1
Dan menggelengkan kepalanya polos.
"Kau itu..!!" Geram Bratt. Ingin sekali Bratt memukul kepala sahabatnya itu.
"Kan sudah ku bilang, kau jangan terbar pesona dengan karyawati ku!! Kenapa masih pagi kau sudah tebar pesona dengan staf ku, hah! Bukannya mengecek pekerjaan mu!" Kata Bratt.
"Siapa yang tebar pesona! Aku tadi hanya ingin berkenalan saja kok!" Jawab Dan santai.
"Asal kau tahu, aku sudah ada di kantor dari jam tujuh, lalu mengecek pekerjaan yang Hesron tinggalkan untuk ku. Dan semuanya sudah beres ku kerjakan! Dan semua berkas-berkas yang harus kau tanda tangani sudah aku periksa dan sudah ku taruh diatas meja mu!" Ucap Dan menyombong.
"Tuh.. kau lihat saja meja kerja mu kalau tidak percaya!" Kata Dan lagi sambil menunjuk meja kerja Bratt.
Bratt pun menoleh kearah meja kerjanya. Dan benar saja, sudah ada tambahan dua tumpukan lagi diatas meja kerjanya.
"Kau yakin sudah kau periksa semua itu?" Tanya Bratt curiga.
Dan menganggukkan kepalanya.
"Periksa saja kalau kau tidak percaya." Kata Dan.
"Awas kau kalau pekerjaan mu tidak becus!" Ancam Bratt lalu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja kerjanya.
Bratt pun mengambil salah satu berkas dan memeriksa-nya, dan benar saja berkas itu sudah layak untuk Bratt tanda tangani.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...