Bukan Sekedar Obsesi

Bukan Sekedar Obsesi
Bab 88 : Cerita Sedih Finola


__ADS_3

"Ka-kamu tau darimana aku tinggal disini?" Tanya Finola kaget.


"Selagi kamu masih ada di planet bumi, menemukan kamu bukan hal yang sulit buat aku." Jawab Dan sombong.


"Bunda..." Teriak Fritz dari dalam rumah.


"Kamu gak mau nyuruh aku masuk?" Tanya Dan.


"Silahkan masuk." Ucap Finola sambil membuka pintu lebar-lebar.


Dan pun masuk kedalam rumah dan berjalan menuju ruang tamu sekaligus ruang tengah dimana Fritz sedang bermain.


"Bunda, kenapa Om itu ada disini?" Tanya Fritz.


"Ini temen Bunda. Ayo kenalan sama temen Bunda." Jawab Finola.


Fritz pun berdiri dan mendekati Dan. Dengan gaya seperti pria dewasa, Fritz menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Dan.


"Hai Om, kenalkan nama saya Fritz." Ucap anak kecil itu dengan lidah yang masih cadel.


"Hai Fritz, kenalkan nama Om, Dan." Balas Dan. Mereka pun berjabat tangan.


Setelah beberapa detik berjabat tangan, Fritz langsung melepaskan tangannya dari tangan Dan.


"Silahkan duduk. Aku buatkan minum dulu." Ucap Finola lalu berjalan menuju dapur.


Sedangkan Dan duduk di lantai yang sudah di alasi karpet. Tidak ada sofa atau kursi plastik di ruangan itu.


Sambil menunggu Finola datang, Dan pun ikut bergabung dengan Fritz bermain.


"Hai bro, sudah berapa umur mu?" Tanya Dan.


"Bunda bilang sudah tiga." Jawab Fritz sambil mengacungkan lima jarinya.


"Tiga atau lima?" Tanya Dan bingung.


"Tiga." Jawab Finola dari arah belakang sambil membawa nampan yang berisi secangkir teh untuk Dan.

__ADS_1


Sontak Dan menoleh ke arah Finola yang sedang mendekatinya.


"Maaf yah duduk melantai." Ucap Finola sambil meletakkan cangkir di depan Dan.


"Suami kamu mana?" Tanya Dan. Ia pikir Finola sudah menikah karena Fritz memanggil Finola dengan panggilan Bunda.


"Aku belum menikah." Jawab Finola.


"Lalu Fritz?" Tanya Dan ragu. Dan pun kembali berpikir kalau Fritz adalah anak di luar nikah.


"Fritz, bisa masuk ke kamar dulu Nak? Bunda sama Om mau membicarakan masalah orang dewasa." Ucap Finola.


Fritz menganggukkan kepalanya lalu memasukkan mainannya kedalam keranjang untuk ia bawa kedalam kamar.


Setelah mainan masuk ke keranjang, Fritz pun berjalan menuju kamar sambil menyeret keranjangnya.


"Jangan keluar sebelum Bunda suruh keluar yah Nak." Kata Finola lagi.


"Oke Bunda." Jawab Fritz.


"Sebenarnya, Fritz itu keponakan aku. Dia anaknya Kak Frissen dan Kak Tzania." Ucap Finola.


"Lalu kenapa Fritz memanggil kamu Bunda? Memangnya orangtuanya kemana?"


"Mereka meninggal saat Fritz masih berusia tiga bulan." Jawab Finola sambil menundukkan wajahnya. Rasa sedih kembali menusuk relung hatinya karena harus kehilangan empat orang yang ia cintai dalam satu hari.


"Maaf." Ucap Dan merasa tidak enak hati.


"Gak pa-pa." Balas Finola.


"Jadi kamu yang merawat Fritz dari umur tiga bulan?"


Finola menganggukkan kepalanya.


"Maaf, kalau aku boleh bertanya, memangnya orangtua mu kemana sampai kamu yang merawat Fritz sendirian?" Tanya Dan berhati-hati.


"Mama-Papa, Kak Frissen dan Kak Tzania meninggal di hari yang sama karena kecelakaan yang di duga karena mobil mereka di sabotase. Waktu itu mereka sedang dalam perjalanan ke Puncak untuk menghadiri acara family gathering yang perusahaan Papa adakan, aku gak ikut karena waktu itu aku sedang tidak enak badan."

__ADS_1


"Lalu orang yang melakukan sabotase sudah tertangkap?"


Finola menggelengkan kepalanya.


"Sampai saat ini aku tidak tahu siapa yang menyabotase mobil mereka. Bahkan kasus ini pun ditutup begitu saja padahal belum ada satu bulan penyelidikan." Jawab Finola.


"Lalu perusahaan Papa kamu gimana? Siapa yang memegang perusahaan Papa kamu sekarang?"


"Perusahaan Papa di pegang oleh Om Saka, adik tirinya Papa." Jawab Finola.


"Kok bisa? Kan harusnya kamu yang megang perusahaan Papa kamu, kan kamu anak kandungnya!"


"Aku juga bingung. Tapi itulah wasiat yang tertulis di surat wasiat Papa, yang ditunjukkan langsung oleh pengacara Papa."


"Aneh." Lirih Dan pelan namun masih bisa di dengar Finola.


"Bukan kamu aja yang merasa aneh. Aku sendiri juga aneh, karena bukan hanya perusahaan saja yang diwariskan atas nama Om Saka, tapi semua aset milik Papa termasuk rumah juga diwariskan atas nama Om Saka."


"Kamu udah pernah nyoba nuntut?"


"Sudah. Tapi mental."


"Apa ada orang yang kamu curigai?" Tanya Dan. Karena feelingnya mengatakan ini semua adalah ulah Om Saka. Penyabotase mobil dan pengalihan hak waris.


"Om Saka. Aku yakin ini semua ulah Om Saka. Tapi aku gak bisa apa-apa, karena sepertinya Om Saka sudah menyuap petugas-petugas penegak hukum untuk tidak memproses apapun jenis laporan ku."


"Mau aku bantu?"


*


*


*


Bersambung...


*** Maaf yah Kakak-kakak, Bunda-bunda, aku sekalian bikin part-nya Dan, biar gak ada yang nanya nasib Dan gimana. 🤭🤭 🙏🙏🙏 ***

__ADS_1


__ADS_2