
Mama Bratt pun masuk kedalam rumah dan diikuti Hesron dan Dan dari belakang.
Mereka langsung ke ruang tengah.
"Astaga Bratt!! Kok kamu minum minuman alkohol lagi sih! Kamu kan belum sembuh total Bratt!!" Omel Mama Bratt saat melihat Bratt sedang menenggak minuman beralkohol di bar mini.
"Bratt ingin tidur nyenyak Ma, malam ini. Biar besok ada tenaga untuk mencari Alea." Balas Bratt.
"Tidak dengan cara ini Bratt! Kau kan bisa menyalakan aroma terapi dikamar mu!" Balas Mama Bratt.
"Bratt aku menemukan posisi Alea!" Ucap Dan tiba-tiba.
Sontak Bratt pun turun dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri Dan yang ada di dekat meja biliar.
"Yang benar kau?! Dimana dia?" Tanya Bratt bersemangat.
"Di Bandung." Jawab Dan.
"Kenapa dia bisa di Bandung, bukan kah kau sudah memeriksa semua terminal?" Tanya Bratt aneh.
"Kan bisa saja Bratt dia menggunakan identitas palsu, atau dia meminta temannya untuk menjemputnya ke Jakarta." Sahut Hesron memberi alasan.
"Teman? Apa temannya laki-laki? Atau jangan-jangan temannya itu Zayn? Atau jangan-jangan Alea sekarang ada di rumah Zayn?" Bratt langsung berpikiran negatif pada Alea.
"Buang jauh-jauh pikiran negatif mu itu Bratt!! Ingat pesan Mama waktu itu!" Tegur Mama Bratt.
"Daripada menebak-nebak, lebih baik cepat kau susul dia kesana!" Kata Mama Bratt lagi.
__ADS_1
"Benar itu Bratt!" Timpal Hesron dan diangguki oleh Dan.
"Baiklah, ayo kalau begitu!" Ajak Bratt, tenaganya sudah terisi penuh, ia bersemangat sekali.
Bratt dan Dan pun masuk dalam mobil Bratt sedangkan Hesron dan Mama Bratt masuk dalam mobil Hesron.
Tak lupa Hesron menghubungi Zhinta, memberitahu pada Zhinta untuk segera bersiap karena Hesron akan menjemput Zhinta agar mereka bersama-sama ke rumah Nenek Zhinta di Bandung. Setelah menghubungi Zhinta, Hesron pun menghubungi Alea dan memberitahu Alea kalau mereka sekarang sedang dalam perjalanan menuju Bandung bersama Bratt.
*
*
*
Bandung.
Alea pun meminta Nenek Zhinta untuk membantunya, Alea dan Nenek Zhinta pun berkonspirasi lagi untuk mengerjai Bratt.
Tiga jam kemudian.
Akhirnya rombongan Bratt pun sampai di perkampungan tempat tinggal Nenek Zhinta.
"Kalau Tuan Bratt tahu ini rumah Nenek ku bagaimana?" Bisik Zhinta pada Hesron.
"Tenang, ada aku disamping mu. Ini semua kan rencana ku, jadi biar aku yang bertanggung jawab. Lagi pula aku rasa Bratt tidak akan kepikiran sampai disana. Percayalah, begitu melihat Alea, pasti Bratt akan membawa kabur Alea." Jawab Hesron.
Zhinta pun bernafas lega mendengar jawaban kekasihnya itu.
__ADS_1
Setelah berjalan beberapa meter dari tempat mereka memarkirkan mobil, kini mereka sudah sampai di depan rumah Nenek Zhinta. Alea yang ada di dalam rumah pun langsung bersembunyi di kamar Nenek Zhinta.
Setelah memastikan Alea berada ditempat yang aman, Nenek Zhinta pun keluar dari dalam kamar dan membuka pintu rumahnya.
Ceklek.
"Ale-" Bratt yang tadinya bersemangat tiba-tiba lemas saat melihat orang.yanv membuka pintu ternyata bukan Alea.
"Siapa kalian?" Tanya Nenek Zhinta pura-pura tidak mengenal Zhinta, Hesron dan Dan.
"Alea mana?" Tanya Bratt to the point.
"Yang sopan Bratt!! Kamu sedang bicara dengan orangtua!" Tegur Mama Bratt sambil menepuk pelan lengan anaknya.
"Maaf Bu, apa di rumah ini ada wanita yang bernama Alea? Karena dari petunjuk yang kami dapatkan, Alea ada dirumah ini." Tanya Mama Bratt mengambil alih.
"Oh Alea.. ia disini. Silahkan masuk, biar saya panggilkan dulu." Ucap Nenek Zhinta lalu membuka pintu rumahnya lebar-lebar.
Nenek Zhinta pun berjalan menuju kamar yang Alea tempati sambil berpura-pura memanggil Alea.
Tak lama Nenek Zhinta kembali lagi ke ruang tamu sambil membawa secarik kertas tulisan tangan Alea. Surat yang berisi ucapan terimakasihnya pada Nenek Zhinta karena sudah menampungnya selama beberapa hari sekaligus surat untuk berpamitan pergi dari rumah Nenek Zhinta.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...