
"Kalian berdua terlihat sangat akrab." Sindir Hesron.
Sebenarnya Hesron menyindir Zhinta tapi laki-laki itu salah mengartikan kalimat Hesron. Laki-laki itu berpikir pasti saat ini Hesron mengira dirinya dan Zhinta sedang menjalin hubungan. Dan itu jelas membuat laki-laki itu ketir.
"Tidak terlalu kok Pak, kebetulan tadi Bu Zhinta tidak dapat meja kosong, jadi saya menawarkan untuk duduk disini." Jawab laki-laki itu gugup.
"Oh..." Hesron membulatkan mulutnya.
"Saya permisi kalau begitu Pak." Ucap laki-laki itu.
"Loh, itu makanannya belum habis." Bals Hesron.
"Tiba-tiba saya sakit perut Pak. Saya permisi dulu." Pamit laki-laki itu sekali lagi.
Laki-laki itu pun langsung pergi dari hadapan Hesron dan Zhinta.
"Kau kenapa tidak dilanjutkan makannya?" Tanya Hesron pada Zhinta.
"Sedang apa kau disini? Kau mau satu perusahaan tahu dengan hubungan kita?!" Tanya Zhinta dengan suara berbisik.
"Karena aku ingin makan siang! Bukannya tadi kau yang mengingatkan ku untuk makan siang!"
"Tumben sekali kau makan siang disini!"
"Itu semua karena mu, siapa suruh kau tak membalas pesan ku! Makanya aku jadi kesini."
"Ya sudah sana pesan makan siang mu!"
__ADS_1
"Aku sudah tidak selera, mood ku sedang berantakan karena melihat mu lebih memilih duduk semeja dengan laki-laki lain ketimbang dengan ku!"
"Kau bicara apa sih! Kan tadi sudah di jelaskan!"
"Tetap saja mood ku masih berantakan! Kecuali kau datang keruangan ku membawakan makan siang ku dan menyuapi ku, baru mood ku akan kembali normal!" Setelah mengatakan itu, Hesron pun berdiri dari duduknya dan pergi dari hadapan Zhinta.
"Haish!! Sungguh kekanak-kanakan!" Gerutu Zhinta yang paham akan arti kata-kata Hesron.
Zhinta pun cepat-cepat menyelesaikan makanannya dan beranjak dari tempat duduknya lalu keluar dari gedung perusahaan untuk membeli makan siang untuk Hesron di rumah makan yang tak jauh dari perusahaan.
Dengan satu bungkus makan siang untuk Hesron, Zhinta pun kembali ke perusahaan dan naik kelantai empat dimana ruang kerja Hesron berada.
Tok.. tok.. tok. Zhinta mengetuk pintu ruang kerja Hesron.
Tapi tak ada yang menjawab dari dalam ruangan. Karena tak ada yang menjawab dari ruangan, Zhinta pun memberanikan diri untuk membuka pintu ruang kerja Hesron.
Ceklek. Setelah pintu terbuka, Zhinta tak langsung masuk kedalam. Ia menyembulkan kepalanya terlebih dahulu untuk melihat apakah Hesron ada di dalam atau tidak.
Kosong. Tak ada Hesron didalam ruang kerjanya.
"Kemana dia?" Monolog Zhinta bertanya-tanya.
Zhinta pun masuk kedalam ruang kerja Hesron, niatnya ingin meletakkan nasi bungkus yang ia bawa diatas meja.
Tapi baru Zhinta masuk, pintu ruang kerja Hesron langsung tertutup. Ternyata Hesron bersembunyi di belakang pintu.
Sontak Zhinta menoleh kebelakang.
__ADS_1
Setelah menutup pintu ruang kerjanya, Hesron langsung memeluk Zhinta erat-erat.
"Ish.. nanti ada orang yang masuk!" Protes Zhinta.
"Ini masih jam istirahat! Tidak akan ada yang masuk kesini. Lagi pula kalau mereka mau kesini, mereka pasti mengetuk pintu dulu." Balas Hesron.
"Iiikh tetap aja gak boleh begini! Ini kantor!" Protes Zhinta.
"Sebentar aja Sayang, aku sangat lelah hari ini. Aku ingin mendapat energi baru dengan memeluk mu." Balas Hesron.
Zhinta pun diam dan malah membalas pelukan Hesron.
Setelah kurang lebih lima menit memeluk Zhinta, Hesron pun melepaskan pelukannya dari Zhinta lalu menangkup wajah Zhinta dengan kedua tangannya.
"Maaf yah tadi aku cemburu melihat mu satu meja dengan laki-laki lain. Mungkin karena tadi aku sangat lelah ditambah kau juga tidak membalas pesan ku, pikiran ku jadi yang aneh-aneh pada mu." Ucap Hesron.
Zhinta menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
"Ya sudah ayo makan. Memeluk dan memandangi wajah ku saja tidak akan membuat mu kenyang!" Balas Zhinta.
Mereka pun duduk di sofa lalu membuka nasi bungkus yang tadi Zhinta beli. Dan dengan manjanya Hesron meminta Zhinta untuk menyuapinya.
Meski harus menjalani hubungan diam-diam di kantor, tapi bukan menjadi halangan untuk mereka bermesraan.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...