
Bratt tidak memperdulikan permohonan Alea, ia menciumi leher Alea dan memberikan jejak kepemilikannya disana.
"Tuan, jangan begini Tuan, saya mohon." Mohon Alea lirih.
Bratt tidak memperdulikannya dan malah tangannya sudah merayap ke balik baju Alea dan menggapai dua gundukan daging dengan put*ing yang tadi sempat menggoda iman-nya yang lemah.
"Saya mo-hon Tuan." Ucap Alea sambil terisak.
Mendengar isak tangis Alea, Bratt pun berhenti menciumi leher Alea dan mengeluarkan tangannya dari balik baju Alea.
"Apa kau tidak ingin mengulangi malam panas itu Lea?" Tanya Bratt sambil melihat wajah Alea.
"Ini salah Tuan."
"Aku tahu. Tapi jujur lah pada dirimu sendiri, apakah kau menyesal telah melewati malam panas dengan ku?"
Alea diam.
"Jawab Alea. Apa kau menyesal? Kalau kau menyesal, aku tidak akan meneruskannya. Dan aku minta maaf karena sudah melakukan ini pada mu." Ucap Bratt.
Alea masih diam. Ia juga bingung harus menjawab apa. Satu sisi, ia sama sekali tidak menyesal dan ingin mengulangi percintaan panas mereka lagi, tapi disisi lain, ia sadar kalau ini salah.
Karena Alea tak kunjung menjawab, Bratt pun menarik diri dari atas tubuh Alea.
__ADS_1
"Tuan." Alea menahan tangan Bratt saat Bratt hendak berdiri.
"Aku tidak menyesal." Jawab Alea.
"Mari kita lakukan lagi." Kata Alea lagi.
Mendengar itu tak perlu ditanyakan apa yang Bratt lakukan selanjutnya. Bratt kembali menindih tubuh Alea dan kembali memberi sengatan di tubuh Alea.
"Ssh... Ah.." tak sampai tiga menit, Alea pun mengeluarkan suara des*ahan-nya bahkan tubuh Alea pun ikut membusur merasakan sengatan yang Bratt berikan.
Mendengar suara des*ahan keluar dari mulut Alea, Bratt pun berhenti menciumi leher Alea, ia beralih ke bibir Alea. Bratt menciumi bibir Alea dengan sangat lembut. Alea yang sudah berhasil Bratt taklukan itu pun juga membalas ciuman yang Bratt berikan.
Ciuman semakin panas, namun baru beberapa menit mereka berciuman panas, tiba-tiba Bratt melepaskan ciuman mereka.
Alea pun menganggukkan kepalanya dan Bratt pun beranjak dari atas tubuh Alea lalu berjalan menuju pintu depan rumah dan menguncinya.
Setelah selesai mengunci pintu, Bratt kembali ke ruang tengah.
Sesampainya di ruang tengah, tepat di depan sofa tempat Alea masih berbaring, Bratt melepaskan semua kain yang menempel di tubuhnya di depan Alea. Sedangkan Alea hanya menggigit bibir bawahnya sambil menelan salivanya susah payah saat melihat Bratt sedang membuka pakaiannya.
Kini Bratt sudah dalam keadaan polos.
Bratt menarik tangan Alea untuk mengubah posisi Alea menjadi duduk. Setelah Alea duduk, Bratt mengarahkan tangan Alea untuk memegang Abang Jagonya yang sudah berdiri tegak.
__ADS_1
Tanpa perlu di beritahu apa tujuan Bratt mengarahkan tangan Alea memegang Abang Jagonya, Alea langsung memijat lembut Abang Jago yang sudah membuatnya sangat terpuaskan.
Setelah satu menit memberi pijatan pada Abang Jago, Alea pun ancang-ancang untuk memasukkan Abang Jago ke goa bergiginya.
Tapi baru Alea membuka mulutnya dan mengarahkan Abang Jago untuk masuk ke goa bergiginya, Bratt menahannya.
Tanpa berkata-kata, Bratt mengambil gelas yang berisi sirup cocopandan lalu mendongakkan wajah Alea.
"Buka mulut mu." Ucap Bratt dan Alea pun menurut.
Setelah mulut Alea terbuka, Bratt pun mengarahkan Abang Jagonya tepat didepan mulut Alea yang menganga, lalu menuangkan sedikit demi sedikit sirup cocopandan itu ke Abang Jagonya hingga sirup cocopandan itu mengucur tepat di mulut Alea.
Melihat mulut Alea sudah hampir dipenuhi sirup cocopandan, Bratt pun meletakkan kembali gelas itu lalu mengarahkan Abang Jagonya untuk masuk ke dalam goa bergigi Alea.
Dengan sirup cocopandan yang ada di dalam mulutnya, Alea pun mulai memaju-mundurkan kepalanya untuk bermain dengan Abang Jago.
Karena tubuh Abang Jago yang begitu kekar dan berotot, otomatis sirup yang ada di mulut Alea sedikit demi sedikit keluar dari dalam mulut dan ada juga yang tertelan hingga akhirnya sirup itu habis.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...