
Mansion Bratt.
Pukul 04.30.
"Ssh.. ah.. aku mencintai mu Bratt." Racau Alea diatas tubuh Bratt.
"Oh.. uh.. Aku juga mencintai mu Sayang." Balas Bratt.
Mereka sedang melakukan olahraga subuh.
Sekarang usia kandungan Alea sudah memasuki bulan ke empat. Aktifitas ranjang mereka pun juga sudah kembali seperti biasa, setiap hari. Meski setiap hari menjenguk anak kembarnya tapi Bratt selalu melakukannya dengan pelan dan lembut. Dan itu membuat Alea kadang jengkel dengan Bratt. Walaupun dengan cara lembut dan pelan pun Bratt berhasil mengantar Alea di puncak kenikmatan, namun ia merindukan hentakan yang keras dan dalam dari Bratt.
Dan untuk memancing Bratt melakukan itu, Alea pun memaksa mengambil alih permainan untuk membuat Bratt hilang kesadaran, karena Alea tahu Bratt paling suka jika Alea yang memimpin permainan seperti saat ini.
Alea pun mempercepat gerakan pinggulnya, lalu membenamkan wajah Bratt dalam dua gundukan dagingnya.
"Oh... Shiit!!" Umpat Bratt saat Eneng Tembem menghapit Bang Jago-nya.
"Ayo Bratt, lakukan seperti dulu. Aku merindukan hentakan kasar mu." Racau Alea.
Tak sampai satu menit, dengan tubuh yang masih menyatu, Bratt berdiri dari atas sofa dan membawa Alea ke meja rias.
PRAAANG. Bratt menyingkirkan benda-benda yang ada di meja rias lalu mendudukkan Alea diatas meja rias.
Gantian, sekarang Bratt lah yang menghentak Bang Jago di dalam rumah Eneng Tembem.
Hentakan yang belum terlalu keras tapi sanggup membuat tubuh Alea menggelinjang hebat.
"Kau suka Sayang?" Tanya Bratt ditengah-tengah hentakannya.
__ADS_1
"Suka. Tapi bisa kah kau lebih cepat dan kasar dari ini Bratt? Buat aku puas Bratt, ayo buat aku puas." Balas Alea.
"Baiklah kalau itu yang kau mau. Jangan pernah menyesal dan meminta ku berhenti." Balas Bratt.
Bratt menarik sejenak Bang Jago-nya lalu menurunkan Alea dan mengubah posisi Alea menjadi memunggunginya. Ia menaikkan satu kaki Alea di atas kursi yang ada di depan meja rias, lalu kembali mempertemukan Bang Jago-nya dengan Eneng Tembem.
Seperti permintaan Alea, Bratt pun mulai menghentakkan Bang Jago-nya dengan cepat, kasar dan tak beraturan. Alea berhasil membuat Bratt lupa dengan anak-anak mereka.
"Oh.. lebih cepat lagi Bratt, aku sudah mau sampai." Racau Alea.
"Sama-sama Sayang, aku juga sudah mau sampai." Balas Bratt.
Bratt pun mempercepat hentakannya lagi agar sampai di puncak kenikmatan bersama-sama dengan Alea.
Tiga menit kemudian.
"Aaarrrgh..." Mereka pun mengerang bersamaan, tanda kalau mereka sudah sampai di puncak kenikmatan bersama-sama.
*
*
*
Satu minggu kemudian.
Hari ini adalah ulangtahun Finola.
Seperti yang sudah Dan rencanakan, rencananya hari ini Dan akan memberitahu Finola kalau perusahaan Papa-nya sudah berhasil Dan dapatkan dan juga sudah di balik nama menjadi nama Finola.
__ADS_1
Demi memberi kejutan pada Finola, Dan sampai meminta bantuan Bratt dan Alea, sayang sekali Hesron dan Zhinta tidak ada, kalau ada pasti sudah Dan ajak untuk repot.
Dan menghubungi Bratt yang sudah lebih dulu di PT. Filima.
Tuuut... Tuut...
Baru dua kali nada sambung berbunyi, Bratt langsung menjawab telepon Dan.
"Dimana kau? Kenapa lama sekali datang, hah!!" Bratt langsung mengomel.
"Sabar! Finola baru selesai mengerjakan pekerjaannya." Jawab Dan.
"Bagaimana disana? Apa semua-nya sudah siap?" Tanya Dan.
"Sudah dari satu jam yang lalu! Cepat kau datang! Semakin lama aku disini, semakin naik darah tinggi ku!" Jawab Bratt.
"Kau tidak tahu kan rata-rata karyawan disini laki-laki! Dan saat ini Alea sedang tebar pesona dengan para karyawan laki-laki, alasannya bawaan bayi, menjengkelkan!" Keluh Bratt.
"Woaaah... Sepertinya si kembar nanti akan seperti mu, tukang tebar pesona!" Ejek Dan.
"Bukan aku yang tukang tebar pesona! Tapi kau yang tukang tebar pesona!" Balas Bratt.
"Cepatlah kau datang! Nanti anak ku jadi mirip dengan para karyawan laki-laki disini!" Perintah Bratt.
Tanpa menunggu jawaban dari Dan, Bratt langsung mengakhiri panggilan teleponnya dengan Dan.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...